Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 Darurat
Hari-hari telah di lewati Zivanna dan bahkan ini sudah sampai minggu ke 4 dia berada di desa tersebut. Zivanna sudah mulai bersosialisasi dan menjalani semuanya dengan sangat baik.
Semakin dekat dengan warga-warga di desa, semakin mendapat banyak pengalaman dan semakin menikmati hidup di desa tersebut dengan serba kekurangan.
Saat ini Zivanna bersama dengan rekan-rekan medis lainnya mengobati penyakit menular yang terjadi di desa tersebut. Cukup menegangkan situasinya.
Kesibukan para rekan medis dan juga tentara yang ikut membantu, membuat tempat isolasi agar penyakit tersebut tidak semakin menular, anak-anak lebih rentan dalam penularan penyakit itu.
Gejalanya mual-mual dan demam tinggi, lalu beberapa saat akan timbul benjol-benjol di tubuh dan lebih banyak di bagian area tangan.
Dokter Irfan saat ini sedang berada di posko dan baru saja mengangkat panggilan telepon.
"Benar Dokter, kami membutuhkan pasokan obat dan terlebih lagi antibiotik, vitamin yang banyak untuk mengatasi penyakit menular di desa ini, dalam seminggu belakangan ini penyakit ini terus saja menyebar dan bahkan satu lansia meninggal dunia," ucap Dokter Irfan memberi informasi pada layanan pusat kota melalui telepon umum.
"Baiklah Dokter Irfan, saya akan mengirim obat dan vitamin. Kemarin para petinggi rumah sakit sudah rapat dan saya juga ikut dalam menghadiri rapat tersebut. Tinggal menunggu persetujuan rumah sakit yang belum siap yang dibangun di desa tersebut bisa dijadikan sementara untuk tempat isolasi, saya akan mengirim persetujuannya untuk segera dijadikan," ucap Dikta yang ternyata menjadi teman dari Dokter Irfan dalam berkomunikasi.
"Ada apa Dokter Zivanna?" Dikta mendengar Dokter Irfan menyebutkan nama Zivanna yang tiba-tiba saja membuat jantung Dikta berdebar kencang.
"Dokter, saya ingin mengambil antibiotik terakhir," ucap Zivanna.
Suaranya terdengar begitu jelas dari saluran telepon tersebut. Entah sudah berapa lama suara itu tidak pernah di dengar Dikta, ternyata seringnya mereka bertengkar dan tiba-tiba saja berpisah membuat Dikta merasa ada yang kurang di dalam hidupnya.
Dikta terus diam dan mendengarkan obrolan Zivanna dengan dokter tersebut, bukan obrolan yang ingin diketahui Dikta, tetapi bagaimana suaranya yang begitu khas.
"Maaf Dokter Dikta," lamunan Dikta terbuyar dari mendengarkan suara tersebut sampai akhirnya Dokter itu kembali berbicara padanya.
"Saya harus memotong pembicaraan kita karena tadi Dokter Zivanna menemui saya," ucap Dokter Irfan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Dikta dengan suara rendah.
"Maksud Dokter?" tanya Dokter Irfan sudah pasti kebingungan dan tidak mengerti.
"Hmmmm, maksud saya, semua rekan medis yang menjadi Dokter relawan di ujung perbatasan, apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Dikta harus merevisi kata-katanya karena tidak mungkin fokus ingin menanyakan Zivanna, mengingat orang-orang di rumah sakit tidak ada yang mengetahui bahwa mereka sudah menikah.
"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja, semua rekan medis di sini juga bisa menjaga diri agar tidak tertular penyakit, Karena bagaimanapun patokannya adalah kami para Dokter karena jika satu saja sempat tertular maka ini akan mengurangi tenaga medis yang tidak bisa membantu para anak-anak dan juga warga di sini," jawab Dokter Irfan.
"Kalau begitu lakukan yang terbaik dan terus pantau semua rekan medis yang bertugas," ucap Dikta.
"Itu sudah pasti Dokter, kalau begitu saya tutup teleponnya dulu. Asalamualaikum!" Dokter Irfan mematikan telepon tersebut membuat Dikta membalas salam itu dengan menghela nafas.
"Sepertinya dia memang baik-baik saja," batin Dikta.
Krek
Pintu ruangannya tiba-tiba saja terbuka membuat Dikta melihat ke arah pintu.
"Hay...." ternyata orang yang baru saja membuka pintu tersebut tak lain adalah Nayla yang seperti biasa tersenyum lebar dengan mengangkat paperbag berwarna coklat yang dia bawa.
"Aku membawa makanan yang sangat enak, kita makan siang bersama!" ucap Nayla tampak berjalan menghampiri Dikta.
"Sepertinya tidak bisa," Dikta berdiri dari tempat duduknya keluar dari area bangku tersebut dengan mengambil jubah putih itu dan langsung memakainya.
"Aku harus melakukan operasi," jawab Dikta.
"Kalau begitu aku akan menunggu kamu," ucap Nayla tidak akan pergi begitu saja.
"Kamu tinggalkan saja makanannya di sini, nanti aku akan memakannya dan tidak perlu menunggu ku, jadwal operasi cukup lama," ucap Dikta.
"Andai saja ada Zivanna disini, sudah pasti dia akan membujuk kamu untuk makan bersamaku, mengingat di saat kita bertengkar dan Zivanna adalah orang yang selalu menjadi penengah diantara kita," ucap Nayla.
"Kenapa harus membawa nama Zivanna dalam hal ini," ucap Dikta.
"Tidak apa-apa, kamu yang kenapa sepertinya tidak suka jika aku menyebutkan nama Zivanna, wajah kamu berubah menjadi serius," ucap Nayla.
"Sudahlah Nayla, aku harus ke ruang operasi," ucap Dikta tidak ingin membahas hal yang lebih panjang lagi dan memilih untuk meninggalkan tempat tersebut.
Nayla melihat kepergian kekasihnya itu dengan kesenduhan di wajahnya, dia sudah sangat effort membuat makanan tersebut dan ternyata tidak bisa dimakan secara bersama-sama.
*******
Zivanna terlihat lelah dengan mengusap dahinya menggunakan punggung tangannya, beberapa kali Zivanna menghela nafasnya yang benar-benar tampak lelah.
"Ini!" tiba-tiba saja botol minuman yang berada di depannya yang membuat Zivanna mengangkat kepalanya dan ternyata orang yang memberikan itu tak lain adalah Aska.
"Terima kasih," sahut Zivanna.
"Kamu sebaiknya istirahat, bagaimanapun jika Dokter mengabaikan kesehatannya dan ini akan berpengaruh pada anak-anak yang lain," ucap Aska.
"Ya, di satu sisi apa yang kamu katakan memang benar, tetapi di sisi lain jika aku beristirahat, maka pengobatan akan terhenti, semua para tim medis di tempat ini sudah berjuang, mengabaikan istirahat mereka agar penyakit tidak semakin tertular dan membuat semakin banyak korban," ucap Zivanna.
"Tetapi tempat isolasi sebentar lagi akan dipindahkan," ucap Aska.
"Apa tempatnya sudah ada?" tanya Zivanna.
"Aku baru saja ikut berdiskusi dengan Dokter Irfan dan kepala desa, tempat isolasi sementara akan dipindahkan ke rumah sakit yang belum jadi, tempatnya sangat layak dan cukup luas dan aku pikir itu cukup masuk akal," jawab Aska.
"Siapa yang memberi perintah seperti itu dan sementara rumah sakit itu saja belum jadi, kita juga belum tahu apakah bangunannya kuat dan layak untuk ditempati," ucap Zivanna sepertinya kurang setuju.
"Yang pasti semua keputusan itu sudah diputuskan baik-baik oleh pihak pusat dan bukan pihak desa ini yang mengambil keputusan secara tiba-tiba. Kalau aku tidak salah Dokter Irfan mendapatkan perintah dari rumah sakit pusat dari dokter yang bernama Dokter Dikta," jawab Aska.
"Dikta, jadi dia yang mengambil keputusan untuk memindahkan pasien isolasi ke rumah sakit yang belum jadi, apa dia tidak memikirkan resiko dari apa yang telah dia lakukan dan bagaimana jika bangunan itu belum layak untuk ditempati," batin Zivanna lagi-lagi tidak pernah setuju dengan keputusan suaminya.
Bersambung....