NovelToon NovelToon
BEYOND THE DOOR OF DEATH

BEYOND THE DOOR OF DEATH

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Mata Batin
Popularitas:198
Nilai: 5
Nama Author: elrznta

Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

A DAY IN VEILSTEAD

Hari berlalu jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Meski begitu…Harvey benar-benar tidak membiarkan Hyeana jauh dari pengawasannya sedikit pun. Bahkan di pagi hari pertama Hyeana tinggal disana…

“Hyeana.”

“Hm?”

“Jangan pergi sendirian.”

“Aku cuma mau lihat taman depan…”

“Aku ikut.”

“Hah…?”

Dan itu terus berulang. Kalau Hyeana berjalan ke lorong istana…Harvey ikut, Kalau Hyeana berhenti melihat lukisan…Harvey berdiri di dekatnya, Kalau Hyeana duduk membaca buku di perpustakaan istana…Harvey tetap ikut duduk di seberangnya sambil memperhatikannya diam-diam. Sampai para pelayan Netherveil mulai sadar satu hal, Pangeran mereka benar-benar tidak mau jauh dari Hyeana.

“Yang Mulia bahkan tidak pernah berdiam diri diruangan nya lagi…”

“Beliau tadi juga menolak tiga pertemuan kerajaan.”

“Aku belum pernah lihat beliau seperti ini.…”

Bisik-bisik kecil mulai terdengar di seluruh istana namun anehnya…tidak ada satupun yang berani mengeluh karena untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun…Harvey terlihat hidup lagi.

*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊

Sore itu…Harvey membawa Hyeana keluar dari area utama istana menuju jalan batu panjang yang dipenuhi bunga hitam bercahaya samar.

Langit Netherveil malam itu berwarna ungu gelap dengan bintang-bintang perak yang bergerak pelan seperti hidup.

Hyeana menatap sekeliling dengan kagum.

“Cantik banget” ucap Hyeana dengan mata yang berbinar

Harvey yang berjalan di sampingnya diam beberapa detik sebelum akhirnya bicara pelan.

“Aku dulu sering datang ke sini.”

Hyeana menoleh.

“Kesini sendirian?”

Harvey terdiam sebentar, ia menjawab...

“Tidak.”

Deg.

Entah kenapa jawaban itu membuat dada Hyeana terasa aneh.

Mereka terus berjalan sampai tiba di sebuah danau besar bercahaya keperakan. Airnya memantulkan langit Netherveil seperti cermin. Mata Hyeana langsung membelalak kecil.

“Waaah…”

Harvey memperhatikan reaksinya diam-diam.

Dan untuk sesaat…Mata merahnya benar-benar melembut karena dulu…Ileana juga bereaksi sama persis seperti itu saat pertama kali melihat danau tersebut.

“Harvey?” Suara Hyeana membuyarkan lamunannya.

“Hmm?”

“Kamu kenapa?”

Harvey menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa Hyeana.”

Namun Hyeana tetap merasa tatapan Harvey tadi terasa…sedih. Ia lalu duduk di tepi danau sambil menyentuh air bercahaya itu perlahan. Suhu dinginnya lembut dan anehnya…Familiar.

Nyut...

Kepala Hyeana tiba-tiba terasa sedikit sakit, potongan bayangan samar muncul sekilas.

‘Seorang gadis tertawa di tepi danau.’ ‘Rambut panjang tertiup angin.’ ‘Harvey muda berdiri di belakangnya dengan wajah tersenyum bahagia.’

Deg.

“Hyeana?” sontak Hyeana langsung tersadar.

Harvey sudah jongkok di depannya dengan tatapan khawatir.

“Kepalamu sakit lagi?”

Hyeana cepat-cepat menggeleng.

“Cuma sedikit…sakit”

Tatapan Harvey langsung berubah gelap, Ia pasti memikirkan Hexyan lagi. Namun sebelum Harvey sempat bicara…Hyeana malah menarik kecil ujung mantel hitamnya.

“Harvey.”

“Ada apa Hyeana?”

“Aku suka tempat ini.”

Harvey tersenyum kecil sekali.

“Aku juga menyukai tempat ini Hyeana.” ucap Harvey

*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊

Hari demi hari berlalu seperti mimpi. Harvey membawa Hyeana ke banyak tempat di Veilstead.

Perpustakaan tua kerajaan. Menara langit. Taman salju hitam. Lorong kristal. Balkon tertinggi istana.

Setiap kali Hyeana tersenyum atau terlihat kagum….Harvey selalu diam memperhatikannya lama sekali seolah sedang menghidupkan kembali sesuatu yang pernah hilang darinya. Kadang Hyeana juga menangkap ekspresi itu. Tatapan Harvey terlihat bahagia…tapi juga seperti menyakitkan.

*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊

Malam itu….Hyeana tertidur di perpustakaan kerajaan sambil memeluk buku besar Netherveil. Cahaya perak dari lampu sihir menerangi wajahnya lembut. Harvey yang baru masuk ruangan langsung berhenti berjalan. Ia mendekat perlahan lalu duduk di samping sofa tempat Hyeana tidur, beberapa helai rambut Hyeana jatuh menutupi wajahnya. Harvey mengangkat tangannya pelan…lalu merapikan rambut itu dengan hati-hati sekali, gerakannya lembut seolah takut membangunkannya, mata merah Harvey menatap wajah Hyeana lama, sangat lama.

“Aku benar-benar merindukanmu.” Suaranya hampir seperti bisikan.

Namun detik berikutnya…

“Hmmhh…?”

Mata Hyeana terbuka sedikit, tubuh Harvey langsung membeku. Hyeana masih setengah mengantuk menatap Harvey bingung.

“Kamu belum tidur…?”

Harvey langsung memalingkan wajah sedikit.

“Belum.”

Hyeana mengucek mata pelan lalu tanpa sadar bersandar ke bahu Harvey.

“Kalau begitu jangan begadang sendirian…”

Deg.

Tubuh Harvey langsung diam total. Kalimat itu....sama persis dengan kalimat yang pernah Ileana katakan padanya dulu.

Mata merah Harvey sedikit membesar, sementara Hyeana yang sudah setengah tidur bahkan tidak sadar apa yang baru saja ia ucapkan.

Beberapa detik kemudian…Harvey perlahan menyandarkan kepalanya ringan di atas kepala Hyeana dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama…Pangeran Netherveil itu benar-benar merasa damai lagi.

*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊

Pagi di Veilstead masih terasa jauh berbeda dibanding dunia manusia. Tidak ada suara kendaraan. Tidak ada hiruk pikuk jalan raya. Yang terdengar hanyalah suara angin lembut Netherveil dan gemerlap cahaya samar dari langit ungu gelap di atas istana.

Hyeana berdiri di balkon kamarnya sambil memandang taman kerajaan di bawah sana. Rasanya masih aneh, beberapa hari lalu ia hanyalah siswi biasa yang pulang sekolah sambil mengeluh soal tugas.

Dan sekarang…Ia berada di dunia lain bersama seorang pangeran Netherveil yang terlalu protektif padanya. Baru memikirkan Harvey saja wajah Hyeana langsung panas sendiri.

Tok tok......pintu kamar terbuka perlahan.

“Hyeana.”

Dan tentu saja…Harvey.

Pangeran itu masuk dengan pakaian hitam panjang khas kerajaan. Rambut hitamnya masih sedikit basah seolah baru selesai mandi. Mata merahnya langsung mencari Hyeana begitu masuk.

“Kau sudah bangun.”

Hyeana mengangguk pelan.

“Aku sudah bangun dari tadi.”

Harvey mendekat lalu berhenti tepat di depannya.

“Apa kepalamu sakit lagi?”

“Tidak sama sekali.”

“Ada bagian tubuh yang masih lemas?”

“Harvey…..”

“Hm?”

“Kamu nanyanya kayak tabib…”

Harvey diam sebentar.

“Karena aku khawatir.” Jawaban itu terlalu jujur pagi-pagi begini.

Hyeana langsung memalingkan wajah malu sementara Harvey justru terlihat tenang sekali sekarang. Tatapan merahnya turun ke rambut Hyeana yang sedikit berantakan karena baru bangun tidur.

Lalu tanpa bilang apa-apa…Harvey mengangkat tangan pelan dan mulai merapikan rambut Hyeana.

“H-Harvey?”

“Kau belum menyisir rambutmu.”

“Aku bisa sendiri.…”

“Tapi aku ingin melakukannya.”

Wajah Hyeana langsung merah lagi, Harvey menyisir rambut panjang Hyeana perlahan dengan jemarinya sendiri. Gerakannya hati-hati sekali sampai Hyeana perlahan jadi diam sendiri.

Padahal tangan Harvey selalu dingin…tapi sentuhannya selalu terasa nyaman. Beberapa detik kemudian Harvey tiba-tiba bicara pelan.

“Dulu rambutmu juga sering berantakan waktu bangun tidur.”

Gerakan Harvey langsung berhenti sesaat, ruangan mendadak sunyi karena ia baru sadar apa yang barusan keluar dari mulutnya. Mata merah Harvey sedikit melebar, sementara Hyeana hanya berkedip bingung.

“Waktu dulu?”

Harvey cepat-cepat melanjutkan menyisir rambutnya lagi.

“Aku salah bicara.”

Hyeana masih terlihat penasaran namun Harvey sudah mengalihkan topik.

“Ayo kita sarapan.”

Dan seperti biasa….Harvey berhasil membuat Hyeana lupa bertanya lagi.

*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊

Ruang makan kerajaan Veilstead sangat besar dan megah. Meja panjang hitam keperakan dipenuhi makanan aneh khas Netherveil yang bercahaya samar.

Namun yang paling membuat para pelayan stres adalah…Harvey terus memperhatikan Hyeana makan.

“..…”

“..…”

Hyeana akhirnya menyerah.

“Kenapa kamu lihat aku terus?”

“Apa kau tidak suka dengan makanan-nya?”

“Hah? Aku suka kok.”

“Kalau begitu kenapa makanan dipiringmu sedikit sekali?”

“Karena porsinya terlalu banyak…”

Harvey langsung menggeser semua piring yang terlalu besar menjauh dari Hyeana.

“Kalau begitu makan yang ini saja.”

Gerakannya natural sekali, seolah ia sudah terbiasa melakukan itu. Para pelayan langsung saling melirik panik lagi karena Harvey benar-benar berubah total.

Ibunya Harvey yang duduk di ujung meja bahkan terlihat sangat menikmati situasi itu.

“Harvey.”

“Ada apa bu?.”

“Apakah kau sadar kau hampir tidak menyentuh makananmu sendiri sejak Hyeana datang?”

Harvey diam sebentar, lalu tetap menjawab tenang.

“Aku tidak lapar.”

“Kau terlalu sibuk memperhatikan Hyeana.”

Deg.

Hyeana langsung tersedak kecil.

“Khuk—”

Harvey refleks langsung mengangkat gelas ke arah Hyeana.

“Pelan-pelan.”

“B-bu…”

Ibunya Harvey malah tertawa kecil.

“Lucu sekali.”

“Jangan godain aku terus…”

Wajah Hyeana benar-benar merah sekarang sementara Harvey justru terlihat santai sekali.

Bahkan sudut bibirnya sedikit terangkat melihat Hyeana panik sendiri.

*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊

Sore harinya…Harvey membawa Hyeana ke taman belakang istana. Hamparan bunga hitam bercahaya memenuhi seluruh area seperti lautan bintang kecil.

Hyeana langsung berlari kecil ke tengah taman.

“Semua yang ada disini cantik banget…”

Harvey berdiri beberapa langkah di belakang sambil memperhatikannya diam. Angin Netherveil membuat rambut panjang Hyeana bergerak pelan.

Dan untuk sesaat…..Bayangan masa lalu itu muncul lagi di kepala Harvey.

‘Ileana tertawa di taman yang sama.’

Harvey perlahan menutup mata sebentar. Namun kali ini…Rasa sakit itu tidak terlalu menghancurkan seperti dulu karena sekarang 'ileana' benar-benar ada di depannya lagi.

“HARVEY!” Suara Hyeana membuat Harvey membuka mata.

Hyeana berdiri di tengah taman sambil memegang bunga hitam kecil bercahaya.

“Ada apa?”

“Lihat ini!”

Harvey mendekat perlahan, begitu sampai di depan Hyeana…..Gadis itu tiba-tiba menyelipkan bunga kecil tadi ke rambut hitam Harvey.

“…..?”

Hyeana langsung menahan tawa kecil.

“Itu terlihat sangat cocok.”

Harvey membeku.

Para pelayan yang berjaga jauh di belakang hampir mati melihat pemandangan itu karena tidak ada siapapun di Netherveil yang berani menyentuh rambut Harvey sembarangan.

Namun Harvey malah diam saja, Mata merahnya hanya menatap Hyeana lekat sekali.

“H-Harvey?” ucap Hyeana gugup

“Aku sangat senang.”

“Hah?”

Harvey menyentuh bunga kecil di rambutnya pelan.

“Kau tertawa lagi sekarang.” Suara rendah itu terdengar terlalu lembut.

Dan entah kenapa…Dada Hyeana langsung terasa hangat sekali mendengarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!