Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Kencan Berkedok Tugas dan Interogasi Masa Lalu
Hari Sabtu yang ditunggu-tunggu—atau lebih tepatnya yang berusaha disangkal mati-matian oleh Rama—akhirnya tiba. Sinar matahari sore Yogyakerto menembus jendela kamar Rama yang luas, menyoroti tumpukan baju yang berserakan di atas kasur king size-nya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup seorang Rama Arsya Anta, ia mengalami krisis fashion yang parah.
Biasanya, pilihan pakaiannya sangat biner. Kalau sedang menjadi anak teladan, ia akan memakai kemeja berkerah yang disetrika licin atau kaus polo yang dimasukkan ke dalam celana bahan. Kalau sedang menjadi bos The Ghost, jaket kulit hitam kumal, kaus oblong, dan celana jeans robek adalah seragam wajibnya. Tapi sore ini, ia tidak sedang menuju sekolah, dan ia juga tidak sedang menuju arena balap. Ia akan pergi ke kafe bersama Nayla. Berdua.
"Gue ngapain sih ribet banget? Ini cuma ngerjain tugas bahasa Indonesia. Bukan kencan," gerutu Rama pada pantulan dirinya sendiri di cermin.
Meski mulutnya mengelak, tangannya tetap membuang kaus polo garis-garis itu ke lantai. Ia akhirnya menjatuhkan pilihan pada sebuah kaus hitam polos yang dibalut dengan kemeja flanel kotak-kotak berwarna gelap yang kancingnya dibiarkan terbuka, dipadukan dengan celana jeans hitam yang bersih tanpa robekan. Kacamata minusnya ia tinggalkan di laci, karena Nayla sudah tahu identitas aslinya. Ia menyisir rambutnya dengan gaya agak berantakan, menyemprotkan parfum musk tipis-tipis, dan mengambil kunci motornya. Penampilannya sore ini berada tepat di tengah-tengah: tidak terlalu kaku seperti nerd, tapi juga tidak terlalu menyeramkan seperti preman.
Tiga puluh menit kemudian, motor sport hitam Rama sudah berhenti di ujung jalan perumahan Nayla. Sesuai kesepakatan, Rama tidak menjemput tepat di depan rumah agar tidak memancing pertanyaan dari orang tua Nayla.
Tak lama, sosok gadis itu muncul. Langkah Rama nyaris terhenti saat ia turun dari motor untuk menyerahkan helm. Nayla mengenakan sweter rajut berwarna ungu pastel yang kebesaran, dipadukan dengan rok plisket hitam dan jilbab pashmina warna senada yang dililit rapi. Wajahnya tidak memakai riasan tebal, hanya pelembap bibir berwarna peach yang membuat senyumnya terlihat semakin cerah. Sederhana, tapi sukses membuat jantung Rama seolah kehilangan ritmenya.
"Tumben lo nggak pakai seragam preman lo itu," goda Nayla begitu sampai di depan Rama. Gadis itu memindai penampilan Rama dari atas ke bawah, lalu tersenyum menyebalkan. "Wah, flanel? Rapi amat. Lo mau ngerjain tugas apa mau ngapel, Bos?"
Rama berdehem keras, merasakan telinganya memanas seketika. Ia buru-buru menjejalkan helm bogo hitam ke tangan Nayla. "Berisik lo. Baju gue yang lain lagi dicuci. Buruan naik, keburu sore. Nanti meja di kafenya penuh."
"Iya, iya, saltingnya jangan kelihatan banget dong," kekeh Nayla sambil naik ke boncengan dengan lincah. "Pegangan jaket lagi nih? Nanti ada yang baper lagi."
"Kalau lo mau terbang ke jalan tol sih lepas aja pegangannya," balas Rama sinis, langsung menarik tuas gas hingga motor itu melesat membelah jalanan Yogyakerto yang mulai padat oleh kendaraan malam minggu.
Mereka tiba di Kafe Sudut Aksara, sebuah tempat nongkrong estetik di pusat kota yang memadukan konsep perpustakaan mini dan kedai kopi. Begitu masuk, aroma biji kopi yang baru digiling langsung menyambut indra penciuman. Rama memilih meja di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya.
Nayla langsung mengeluarkan laptopnya dan beberapa lembar kertas coretan dari dalam ransel. "Lo pesan apa? Biar gue yang pesanin. Anggap aja ini traktir kompensasi karena lo udah mau jadi babu ngetik gue hari ini."
"Kopi hitam. Tanpa gula," jawab Rama singkat.
Nayla mencibir pelan. "Hidup lo kurang pahit apa gimana sih? Oke deh, kopi hitam satu, matcha latte satu, sama churros buat camilan."
Setelah minuman datang, mereka mulai fokus pada tugas. Nayla membacakan dialog-dialog yang sudah ia rancang, sementara Rama mengetiknya dengan kecepatan kilat. Rama harus mengakui, imajinasi gadis ini memang luar biasa. Naskah drama misteri yang mereka buat memiliki alur yang sangat rapat dan dialog yang tajam. Karakter si X, yang jelas-jelas terinspirasi dari Rama, ditulis dengan kedalaman emosi yang membuat Rama merinding sendiri saat mengetiknya.
"Tunggu, bagian yang ini terlalu cringe, Nay," protes Rama, menghentikan ketikannya dan menunjuk layar laptop. "Masa si X bilang, 'Di antara ribuan bintang di langit aspal ini, cuma mata lo yang bikin gue buta arah'? Sumpah, ini lebay banget. Si X ini kan bos mafia, bukan fuckboy ibu kota."
Nayla cemberut, menyedot matcha latte-nya dengan kasar. "Itu namanya romansa, Babu! Cewek itu butuh kalimat manis buat luluh. Lo mana ngerti sih urusan begini? Hidup lo isinya cuma knalpot sama tawuran doang."
"Gue cowok, jadi gue tahu persis isi kepala cowok. Kalimat kayak gini cuma diucapin sama cowok yang niatnya nipu," bantah Rama bersikeras. Ia menatap mata Nayla dengan intens. "Kalau cowok beneran peduli, dia nggak akan obral janji pakai bahasa puisi murahan. Dia bakal buktiin pakai tindakan. Dia bakal mastiin cewek itu aman, biarpun dia harus ngorbanin nyawanya sendiri."
Kata-kata itu meluncur begitu saja, mengalir dari alam bawah sadar Rama. Hening seketika menyelimuti meja mereka. Alunan musik indie dari speaker kafe seolah memudar. Nayla terdiam, matanya terkunci pada sorot mata Rama yang begitu dalam dan telanjang. Gadis itu bisa melihat kesungguhan di sana, kesungguhan yang sama persis saat Rama melindunginya dari preman mabuk di gang gelap tempo hari.
Rona merah perlahan merambat di pipi Nayla. Ia buru-buru membuang muka, menggaruk ujung jilbabnya yang tidak gatal. "Y-ya udah. Hapus aja bagian itu. Ganti pakai kalimat yang lebih... natural."
Rama tersenyum tipis, merasa menang. Ia kembali mengetik, mengubah kalimat picisan itu menjadi sesuatu yang lebih sederhana namun sarat makna.
Setelah lebih dari dua jam berkutat dengan laptop, tugas mereka akhirnya selesai. Rama menyandarkan punggungnya ke kursi, meregangkan otot lehernya yang kaku. Di luar jendela, langit Yogyakerto sudah berubah menjadi gelap, dihiasi lampu-lampu jalan dan lampu kendaraan yang berlalu-lalang.
Nayla mencomot churros terakhir, mengunyahnya pelan sambil menatap Rama. Pandangannya turun ke arah buku-buku jari Rama yang masih menyisakan sedikit memar kebiruan.
"Lo... capek nggak sih, Ram?" tanya Nayla tiba-tiba, memecah keheningan yang nyaman di antara mereka. Suaranya terdengar jauh lebih pelan dan lembut dari biasanya.
Rama menaikkan sebelah alisnya. "Capek ngetik? Nggak terlalu. Jari gue udah biasa kepakai buat ngerjain tugas."
"Bukan itu," Nayla menggeleng pelan. Matanya menatap lurus ke arah Rama. "Capek meranin dua kehidupan yang beda jauh. Di rumah jadi anak sempurna, di jalan jadi preman. Kenapa lo harus repot-repot ngebangun topeng yang sedemikian rupa? Sebegitu menakutkannyakah bokap lo sampai lo nggak berani jadi diri sendiri di rumah?"
Rama tertegun. Jarang ada orang yang berani menyentuh topik keluarganya secara langsung. Biasanya ia akan marah dan mengusir orang tersebut, tapi di depan gadis ini, pertahanannya selalu runtuh. Rama menghela napas panjang, memutar-mutar cangkir kopinya yang sudah kosong.
"Bokap gue itu tipe orang yang nggak mentolerir kata gagal, Nay," ucap Rama pelan, pandangannya menerawang jauh. "Bagi dia, keluarga Anta itu keluarga elit. Anak laki-lakinya harus jadi yang terbaik, nggak boleh punya cacat, harus masuk universitas top, dan nerusin bisnis dengan sempurna. Sejak kecil, jadwal gue cuma belajar, les, dan ikut lomba. Kalau gue dapat nilai 95, bokap nggak akan muji, dia bakal nanya ke mana sisa lima poinnya."
Nayla mendengarkan dengan saksama, matanya menyiratkan empati yang mendalam.
"Gue ngerasa kayak robot yang diprogram," lanjut Rama dengan tawa getir. "Sampai akhirnya pas SMP, gue nemuin pelarian. Balapan liar. Di atas aspal, pas angin nabrak muka gue, itu pertama kalinya gue ngerasa gue punya kendali atas hidup gue sendiri. Kalau gue jatuh, gue yang ngerasain sakitnya. Kalau gue menang, itu murni karena keahlian gue, bukan karena nama belakang bokap gue. Jalanan Wana Asri ngasih gue kebebasan yang nggak pernah gue dapat di rumah."
"Tapi kebebasan lo itu ngorbanin nyawa lo sendiri, Ram," bisik Nayla lirih.
"Dulu gue nggak peduli. Kalau mati ya udah," balas Rama santai, lalu menatap Nayla dengan sorot yang tiba-tiba berubah hangat. "Tapi belakangan ini, gue mulai mikir dua kali kalau mau ngambil risiko. Gue ngerasa ada yang nungguin gue hidup-hidup besok paginya."
Kalimat itu bagaikan bom waktu yang meledak tepat di jantung Nayla. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah, berusaha mati-matian agar wajahnya tidak semerah tomat. Untuk mengalihkan rasa salah tingkahnya yang luar biasa, Nayla buru-buru mengganti topik.
"Terus, lo sendiri gimana?" tembak Rama balik, tak membiarkan Nayla lolos begitu saja. "Lo selalu ngomongin masalah gue, tapi lo nggak pernah cerita soal lo sendiri. Katanya lo pindah ke Taruna Citra karena bikin onar di sekolah lama? Cewek modelan rajin salat dan suka baca buku fiksi kayak lo, bikin onar macem apa sampai dikeluarin?"
Nayla tersentak pelan. Ia menundukkan kepalanya, memainkan ujung lengan sweternya. "Itu... panjang ceritanya, Ram. Lo mungkin bakal mikir gue cewek gila kalau dengar."
"Gue memimpin puluhan preman gila tiap malam. Gue udah kebal sama kegilaan. Cerita aja," desak Rama lembut, entah mengapa ia sangat ingin tahu segala hal tentang gadis ini.
Nayla menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "Di sekolah gue yang lama, gue punya sahabat. Dia pendiam dan pemalu. Suatu hari, gue mergoki segerombolan cowok lagi ngelecehin dia di belakang lab komputer. Mereka narik-narik bajunya dan ngetawain dia yang lagi nangis ketakutan."
Urat rahang Rama langsung menegang mendengarnya. "Terus apa yang lo lakuin?"
"Gue marah. Marah banget sampai akal sehat gue hilang," lanjut Nayla, matanya memancarkan kilatan emosi masa lalu. "Gue ambil sapu ijuk yang ada di dekat situ, dan gue hajar ketua geng cowok itu habis-habisan. Gue pukul kepalanya sampai berdarah dan harus masuk UGD."
Rama membelalakkan matanya tak percaya. Ia menatap gadis mungil di depannya ini dari atas ke bawah. Nayla? Menghajar cowok sampai masuk UGD pakai sapu ijuk?
"Masalahnya," Nayla tersenyum pahit, "cowok yang gue hajar itu adalah anak donatur terbesar di yayasan sekolah gue. Bokapnya ngamuk. Dia ngancam bakal narik semua dana kalau gue nggak dikeluarin. Pihak sekolah ketakutan. Mereka mutar balik fakta. Mereka bilang gue yang mulai perkelahian tanpa alasan, dan sahabat gue saking takutnya, dia ditekan buat bungkam dan nggak berani belain gue."
Rama terdiam seribu bahasa. Dada cowok itu terasa sesak oleh amarah yang tiba-tiba mendidih untuk gadis di depannya ini.
"Nyokap gue kecewa berat. Dia percaya omongan kepala sekolah karena gue nggak punya bukti," tambah Nayla lirih, suaranya sedikit bergetar. "Makanya gue dipindahin ke Taruna Citra. Nyokap bilang gue butuh lingkungan yang lebih disiplin biar kelakuan brutal gue hilang. Biarpun pada akhirnya, di sekolah 'disiplin' ini gue malah ketemu sama iblis jalanan kayak lo."
Rama menatap Nayla lekat-lekat. Dulu, ia mengira keberanian Nayla saat menghadapinya di jalanan bypass hanyalah kenekatan bodoh. Tapi kini ia paham. Nayla bukan sekadar gadis bawel yang suka mencari masalah. Di balik jilbab ungunya yang kalem, ada jiwa pemberani dengan rasa keadilan yang begitu kuat. Ia rela mengorbankan dirinya sendiri demi melindungi orang lain, bahkan ketika dunia berbalik menghakiminya.
Tanpa sadar, tangan Rama bergerak melintasi meja, lalu menyentuh punggung tangan Nayla dengan lembut. Sentuhan itu membuat Nayla terkesiap, namun ia tidak menarik tangannya.
"Nyokap lo salah, dan sekolah lama lo itu isinya pengecut semua," ucap Rama dengan suara serak namun sangat tegas. Ibu jarinya mengusap pelan punggung tangan gadis itu. "Lo bukan cewek bermasalah, Nay. Lo pahlawan. Dan gue... gue bangga punya majikan segarang lo."
Nayla mendongak. Setetes air mata yang sedari tadi ia tahan di pelupuk matanya akhirnya jatuh, namun bersamaan dengan itu, sebuah senyum paling tulus dan paling indah mekar di wajahnya. Di tengah hiruk-pikuk kafe dan bisingnya jalanan Yogyakerto, dunia seolah berhenti hanya untuk mereka berdua. Rama tahu, ia tidak akan pernah bisa kembali ke kehidupannya yang lama. Cewek berjilbab ungu ini telah merampas seluruh kewarasannya, dan Rama berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan ada satu orang pun, baik dari masa lalu Nayla maupun dari Kobra Besi, yang boleh menyakiti gadisnya lagi.