Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Bau anyir darah siluman tingkat rendah menggenang di udara gubuk reyot yang pengap.
Selama tiga puluh hari terakhir, Jiang Xuan tidak pernah melangkahkan kakinya keluar dari area kediaman murid luar. Ia tidak peduli dengan rumor tentang Ye Chen yang kini menjadi cacat gila, atau kepanikan massal ribuan murid yang menunggu jadwal eksekusi mereka sebagai umpan meriam. Baginya, satu bulan ini adalah waktu yang krusial untuk menstabilkan wadah fananya.
Di tengah ruangan, Jiang Xuan duduk bersila tanpa mengenakan atasan. Otot-ototnya yang dulu kurus kering kini terbentuk padat, memancarkan rona pucat namun sekeras besi tempa berkat Pembersihan Sumsum. Keringat mengalir di pelipisnya.
Di depannya, terdapat sebuah mangkuk tanah liat berisi darah Siluman Babi Bertanduk yang ia beli dengan sisa batu rohnya. Tangan kanannya memegang kuas rusak. Ia mencelupkan ujung kuas itu ke dalam darah kental, lalu dengan satu tarikan napas pendek, ia mengayunkannya ke udara kosong.
Sret!
Darah itu tidak jatuh ke lantai, melainkan menggantung di udara, dipaksa menahan bentuk oleh Niat Formasi yang ditenagai Qi Kondensasi tahap empat. Garis merah gelap itu berdenyut memancarkan Niat Membunuh yang sangat pekat.
Ini adalah latihan hariannya: menyeimbangkan antara kekuatan jiwa kunonya dengan daya tahan fisik barunya. Ia menyimpulkan bahwa tubuhnya kini mampu menahan lima goresan Void Calligraphy secara beruntun sebelum meridiannya mulai retak, sebuah peningkatan pesat dari sebelumnya.
Jiang Xuan baru saja akan menarik goresan kedua ketika sebuah bayangan putih melesat dari sudut ruangan.
Slurp!
Gumpalan bulu putih itu melompat, membuka mulut mungilnya, dan menelan garis darah ber-Niat Membunuh di udara itu dalam satu tegukan. Baozi mendarat di lantai dengan bunyi puk, menjilat bibirnya yang kini belepotan darah, lalu bersendawa kecil. "Kyuu~"
Urat di pelipis Jiang Xuan langsung menonjol. Matanya menggelap.
"Bola bulu keparat," desis Jiang Xuan dengan suara mematikan. "Itu darah siluman beracun yang kucampur dengan bubuk mesiu dan Niat Membunuh! Apakah lambungmu itu terbuat dari jurang neraka?!"
Baozi hanya memiringkan kepalanya, menatap Jiang Xuan dengan mata hitam besar yang polos, berharap ada porsi kedua.
Tanpa basa-basi, Jiang Xuan mencengkeram sayap kecil Baozi dan melempar makhluk itu sekuat tenaga ke arah dinding kayu.
BAM!
Baozi menghantam dinding hingga kayu itu retak, lalu memantul kembali ke lantai bagaikan bola karet yang kenyal. Makhluk itu sama sekali tidak terluka. Alih-alih kesakitan, Baozi justru berguling-guling di lantai sambil mencicit kegirangan, mengira majikannya sedang mengajaknya bermain lempar tangkap.
Jiang Xuan memijat pangkal hidungnya dengan kasar. "Suatu hari nanti, aku akan menguliti dan menggunakan bulumu sebagai sikat pembersih lantai."
TEEEET! TEEEET!
Suara terompet tulang bergema memekakkan telinga dari arah puncak gunung, menyapu seluruh wilayah Sekte Awan Azure. Suaranya panjang, berat, dan membawa nada kematian.
Gerakan Jiang Xuan terhenti. Ia melempar kuas rusaknya ke lantai. Matanya yang tajam menatap ke arah luar jendela gubuk.
"Waktunya tiba," gumamnya datar.
Ia meraih jubah sekte yang baru, mengenakannya dengan gerakan efisien, dan menendang Baozi dengan pelan ke udara. Baozi yang mengerti isyarat itu langsung melompat masuk ke balik kerah jubah Jiang Xuan, mencari posisi nyaman di dadanya lalu langsung mendengkur pelan.
Jiang Xuan melangkah keluar dari gubuk, bergabung dengan lautan manusia yang sedang digiring menuju maut.
Lembah Kematian, perbatasan utara Sekte Awan Azure.
Lebih dari delapan ribu murid luar berbaris dengan wajah sepucat kertas. Suara isak tangis, gigi yang bergemeretak ketakutan, dan doa-doa putus asa mendominasi udara. Di sekeliling mereka, ratusan murid dalam bersenjata lengkap berdiri menjaga, diiringi oleh puluhan Tetua yang melayang di udara, memancarkan tekanan Qi untuk mencegah siapa pun melarikan diri.
"Jalan lebih cepat, babi-babi pemalas!" raung seorang murid dalam sambil melecutkan cambuk apinya ke punggung seorang murid luar yang terjatuh. Jeritan kesakitan menyusul saat daging murid itu terbakar. "Reruntuhan Kuno tidak akan menunggu kalian menangis!"
Mereka digiring layaknya ternak persembahan menuju sebuah jurang raksasa yang dipenuhi kabut hitam pekat.
Di tengah kerumunan yang kacau dan penuh teror itu, Jiang Xuan berjalan dengan tempo yang sangat stabil. Ekspresinya kosong. Tidak ada ketakutan, tidak ada kesedihan. Ia menyusup di antara lautan manusia dengan keheningan seorang pembunuh bayaran, membiarkan orang-orang yang panik mendorongnya tanpa sedikit pun fluktuasi emosi.
Saat kerumunan mulai berhenti di bibir jurang, Jiang Xuan memfokuskan Qi ke mata kirinya.
Bzzzt.
Cincin Roda Langit emas menyala di dalam pupil kirinya, berputar konstan seperti jarum jam takdir. Pemandangan di sekitarnya berubah drastis. Lautan manusia itu kini tampak dipenuhi oleh ribuan benang takdir. Hampir sembilan puluh persen dari benang-benang itu berwarna abu-abu mati atau hitam pekat—tanda absolut bahwa mereka tidak akan pernah keluar dari Reruntuhan Kuno ini dalam keadaan hidup.
Jiang Xuan tidak memedulikan benang kematian mereka. Matanya bergerak liar, memindai ribuan kepala dengan kecepatan kalkulasi tingkat tinggi.
Di mana dia? batinnya. Iblis Es Hitam. Surga tidak mungkin membiarkan anomali sepertinya mati di pinggiran.
Pandangannya menyapu dari sayap kiri barisan hingga ke tengah, lalu akhirnya berhenti pada sebuah sudut terisolasi di sisi paling kanan bibir jurang.
Di sana, ia menemukannya.
Sebuah benang takdir yang sangat berbeda dari lautan kematian di sekitarnya. Benang itu berwarna perak terang, namun diselimuti oleh kabut hitam es yang pekat, menunjukkan sebuah takdir yang dipenuhi keberuntungan luar biasa sekaligus pembantaian dan tragedi berdarah.
Mata Jiang Xuan menelusuri benang itu ke bawah, menatap sosok pemiliknya.
Seorang gadis remaja berdiri sendirian, terpisah jarak setidaknya tiga langkah dari murid-murid lainnya. Tidak ada yang berani mendekatinya, bukan karena ia memiliki latar belakang hebat, tetapi karena hawa dingin tidak wajar yang secara alami merembes dari pori-porinya. Embun beku tipis terlihat menutupi tanah di sekitar kakinya.
Lin Ruoxue.
Jiang Xuan menatapnya lekat. Gadis itu jauh dari kesan Dewi Es yang diagungkan di masa depan. Ia terlihat sangat miskin. Jubah sekte luar berwarna abu-abu yang dikenakannya terlalu kebesaran untuk tubuhnya yang kurus, bagian ujungnya robek dan kotor. Rambut hitamnya yang panjang tidak diikat dengan perhiasan giok, melainkan hanya digelung asal dengan sebuah tusuk konde dari ranting kayu murahan.
Wajahnya pucat tanpa rona darah, dan sepasang mata hitamnya menatap lurus ke arah kabut jurang dengan kekosongan absolut. Tidak ada air mata ketakutan di wajah gadis itu, berbeda dengan murid sebayanya. Matanya sudah mati; mata seseorang yang tidak peduli apakah ia akan hidup esok hari atau mati hari ini.
Seringai tipis yang sangat kejam dan buas mengembang di bibir Jiang Xuan.
Jadi begini rupa sang Iblis Es Hitam sebelum ia membeku oleh kebencian dunia, Jiang Xuan bermonolog dalam hati. Darahnya tiba-tiba berdesir, sebuah antisipasi murni dari seorang predator yang bertemu dengan predator lain. Kondensasi Qi tahap dua. Akar spiritual elemen es yang bermutasi namun menyumbat meridiannya sendiri. Ia hanyalah sepotong batu bara saat ini. Tapi aku tahu, batu bara ini akan membakar langit suatu hari nanti.
"Perhatian!"
Suara menggelegar Kepala Sekte yang melayang di langit memecah observasi Jiang Xuan. Kabut hitam di dasar jurang mulai berputar liar, membentuk sebuah pusaran raksasa yang menyedot cahaya matahari.
WUUUSSS!
Pusaran itu terbelah, memperlihatkan sepasang pintu gerbang perunggu kuno setinggi gunung yang tertanam di dasar jurang. Karat dan lumut darah menutupi permukaannya. Seiring dengan suara gesekan logam yang memekakkan telinga, gerbang itu perlahan terbuka ke dalam kegelapan absolut.
ROAAARRR!
Sebuah raungan buas bergema dari dalam Reruntuhan Kuno, membawa bau darah busuk, pembusukan ribuan tahun, dan aura kegilaan. Suara itu begitu menekan hingga puluhan murid luar di barisan terdepan langsung memuntahkan darah dan pingsan.
"Pintu telah terbuka! Masuk sekarang!" perintah Kepala Sekte tanpa belas kasihan. "Kalian punya waktu satu bulan di dalam! Bawa kembali harta karun kuno, atau jangan pernah bermimpi melihat matahari lagi! Dorong mereka masuk!"
Para Tetua dan murid dalam mulai melepaskan aura serang mereka. Angin tajam menerbangkan tubuh-tubuh murid luar yang berteriak histeris, memaksa mereka melompat ke dalam pusaran jurang. Tubuh demi tubuh tertelan oleh kegelapan di balik gerbang perunggu.
Jiang Xuan menepuk pelan dadanya, memastikan Baozi tidak meronta. Ia kembali melirik ke arah Lin Ruoxue. Gadis itu tidak didorong. Dengan wajah tanpa ekspresi, Lin Ruoxue melangkah maju sendiri, membiarkan tubuhnya jatuh tertelan oleh pusaran kabut.
Tidak ada waktu untuk ragu. Jiang Xuan melangkah ke bibir jurang. Niat Membunuhnya bersembunyi rapi di balik kewarasannya yang dingin.
"Reruntuhan Kuno," bisik Jiang Xuan, melompat terjun bebas menyusul Lin Ruoxue ke dalam rahang kegelapan. "Mari kita mulai penjarahan ini."
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏