"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Menggunakan Mereka Sebagai Tangga Menuju Tujuan
Di sebuah gua tersembunyi di pegunungan terjal, tidak jauh dari lokasi pembunuhan kemarin, Li Yao duduk bersila di atas tumpukan batu kasar. Di hadapannya tergeletak seorang pria yang terluka parah—salah satu anggota Kelompok Bulan Darah yang sengaja ia biarkan hidup. Pria itu kini terikat kuat oleh energi hitam yang sulit diputus.
Tubuh pria itu gemetar hebat karena rasa sakit sekaligus ketakutan. Ia melihat kesepuluh rekannya tewas seketika hanya dalam satu kali serangan. Ia tahu nyawanya kini berada di ujung jari pria misterius di depannya.
"Ka... kau mau apa lagi?! Kenapa kau tidak membunuhku saja seperti yang lain?!" seru pria itu dengan suara parau dan penuh ketakutan.
Li Yao membuka matanya perlahan. Tatapannya dingin dan tajam, seolah bisa menembus sampai ke lubuk hati terdalam orang di hadapannya. Ia tidak menjawab pertanyaan itu, melainkan bertanya balik dengan nada datar namun menekan.
"Siapa yang membayar kalian untuk membunuhku? Dan di mana markas pusat organisasi kalian berada?"
Pria itu menelan ludah susah payah. "Aku... aku tidak bisa bicara! Jika aku mengkhianati organisasi, aku akan dibunuh dengan cara yang jauh lebih mengerikan daripada mati di tanganmu!"
Bugh!
Tanpa peringatan, Li Yao menendang dada pria itu dengan ringan, namun tenaga yang tersalurkan membuat tulang rusuknya retak seketika. Darah segar memuncrat dari mulutnya.
"Sakit... aghhh..."
"Dibunuh olehku sekarang, atau disiksa oleh mereka nanti? Pilihlah," ancam Li Yao dengan nada santai, seolah sedang membicarakan hal yang sepele. "Dan ingat, cara membunuhku jauh lebih cepat. Tapi jika kau memilih diam... aku punya seribu cara membuatmu berharap mati secepatnya."
Pria itu menatap mata Li Yao yang gelap tanpa jiwa itu. Ia tahu pria di hadapannya tidak bercanda. Ia bukan manusia biasa, ia adalah iblis yang nyata.
"Baiklah! Baiklah aku bicara!" teriaknya menyerah. "Yang menyewaku adalah orang nomor dua di Klan Naga Hitam, Tuan Tang Feng! Dia yang menaruh harga tinggi di kepalamu karena kau telah menghancurkan cabang kota itu!"
"Hmm... Tang Feng..." gumam Li Yao pelan, matanya menyala tajam. Itu adalah nama yang selama ini ia cari, tangan kanan dan penjahat besar yang terlibat langsung dalam pembantaian keluarganya Ling Qingyu.
"Dan markas kami? Di mana?" desak Li Yao lagi.
"Di... di Kota Kabut Merah! Itu adalah benteng terkuat di bawah kendali Klan Naga Hitam dan menjadi pusat pertemuan seluruh kelompok pembunuh bayaran di benua ini!" jawab pria itu tergopoh-gopoh. "Di sana, kekuatan hukum tidak berlaku. Siapa pun yang menguasai Kota Kabut Merah, dia yang menguasai separuh dunia persilatan."
Li Yao tersenyum tipis, senyum yang mengerikan namun penuh arti.
'Kota Kabut Merah... Jadi di sanalah sarang seluruh tikus-tikus itu berkumpul.'
Ia berdiri perlahan, menatap jauh ke arah utara.
"Kalian mengirim orang untuk membunuhku... kalian mencoba menghalangi jalanku... dan kalian semua bekerja di bawah naungan musuh besarku..." bisik Li Yao pelan.
Ia menoleh kembali ke arah pembunuh yang masih terikat itu.
"Kalian pikir kalian bisa menghentikanku dengan cara sepedekat ini? Kalian salah besar."
"Tuan... aku sudah memberitahu segalanya... lepaskanlah aku..." pinta pria itu penuh harap.
Namun harapan itu hancur seketika mendengar kata-kata Li Yao selanjutnya.
"Lepaskan? Tidak," jawab Li Yao tegas dan dingin. "Kalian tidak akan sia-sia begitu saja. Karena kalian... akan aku jadikan tangga."
"Ta... tangga?" Pria itu bingung dan ketakutan.
"Ya. Tangga untuk membawaku naik lebih tinggi. Tangga untuk membawaku langsung ke gerbang neraka tempat musuhku berada."
Li Yao mengepalkan tangannya, energi hitam mulai menyelimuti tubuhnya dan tubuh pria itu.
"Kalian semua adalah bagian dari kekuatan mereka. Dan alih-alih membunuh kalian satu per satu secara acak... aku akan memanfaatkan keberadaan kalian untuk masuk ke jantung markas mereka sendiri. Aku akan menggunakan nama kalian, reputasi kalian, bahkan jalur-jalur rahasia kalian."
Suaranya turun menjadi bisikan mengerikan.
"Kalian yang mencoba memburuku... sekarang akan menjadi alatku untuk menghancurkan kalian dari dalam. Kalian akan menjadi batu pijakan yang kokoh agar aku bisa mencapai puncak kekuasaan dan memenggal kepala Tang Feng."
"Tidak... jangan... kau iblis..." rintih pria itu putus asa.
"Aku memang iblis. Dan kalianlah yang membuatku menjadi seperti ini."
Sret!
Li Yao mengayunkan pedangnya sekali lagi, mengakhiri penderitaan pria itu seketika.
Ia membersihkan darah di bilah pedangnya dengan tenang.
"Terima kasih untuk informasinya, para sampah. Istirahatlah dengan tenang. Dan saksikanlah... bagaimana aku akan menginjak mayat kalian satu per satu, hingga aku berdiri tegak di atas tumpukan kekalahan mereka."
Li Yao melangkah keluar dari gua itu dengan langkah yang pasti. Ia tidak lagi berjalan sendirian dalam kegelapan. Kini, ia memiliki jalan yang jelas, dan ribuan musuh yang tidak sadar bahwa mereka sedang membangun tangga menuju kehancuran mereka sendiri.
Mereka hanyalah alat.
Mereka hanyalah batu loncatan.
Dan tujuannya tetap satu: Kematian bagi seluruh musuhnya.