NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:264
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: GEMA DI LORONG KARAT

Langkah kaki Haidar terasa berat, seolah setiap sepatu bot yang ia pijakkan ke lantai besi telah berubah menjadi timah padat. Sektor Pemotongan telah lama mereka tinggalkan, namun sisa-sisa trauma dari pertempuran melawan The Cutter masih melekat erat di sekujur tubuhnya. Mata kirinya benar-benar tertutup rapat; bengkak dan tertutup oleh kerak darah yang mengering, menciptakan kegelapan permanen di separuh pandangannya. Kini, dunianya hanya selebar jangkauan mata kanannya yang terus-menerus berair karena iritasi uap oli.

​"Berpegangan pada dinding jika kau tidak bisa menjaga keseimbanganmu," suara Sersan terdengar datar di depan sana. Ia berjalan dengan ritme yang konstan, tidak melambat sedikit pun meskipun ia tahu kondisi Haidar sedang berada di titik nadir.

​Haidar tidak menjawab. Ia menyandarkan bahunya pada dinding lorong yang berkarat, membiarkan jemarinya meraba permukaan logam yang dingin dan lembap oleh kondensasi uap. Lorong transisi menuju sektor selanjutnya ini terasa jauh lebih sunyi. Tidak ada deru gergaji, tidak ada dentuman mesin press. Yang ada hanyalah suara tetesan air yang jatuh dari pipa-pipa bocor di langit-langit, menciptakan gema yang kesepian di dalam kesunyian.

​Tuk... tuk... tuk...

​Suara tetesan itu awalnya terdengar biasa saja, namun perlahan, frekuensinya mulai berubah di telinga Haidar. Saraf-saraf di kepalanya yang masih meradang akibat overload Mata Niskala mulai memainkan trik kotor. Haidar berhenti melangkah. Ia memiringkan kepalanya, mencoba menangkap suara yang seolah terselip di antara tetesan air itu.

​"Sersan... kau dengar itu?" bisik Haidar parau.

​Sersan berhenti, namun ia tidak menoleh. "Aku hanya mendengar suara pipa yang sekarat. Teruslah berjalan, Haidar."

​"Bukan... itu bukan suara pipa," Haidar menggelengkan kepalanya dengan cepat, membuat rasa pening kembali menghantamnya. "Itu suara tawa. Tawa anak kecil."

​Haidar memejamkan mata kanannya, mencoba memfokuskan seluruh indra pendengarannya yang tersisa. Di sana, di ujung lorong yang gelap dan berkabut, suara tetesan air itu bertransformasi menjadi tawa renyah yang sangat ia kenali. Tawa yang biasanya ia dengar di ruang tamu rumahnya yang hangat, saat ia sedang bermain kejar-kejaran setelah pulang kerja.

​"Kinaya?" jantung Haidar berdegup kencang secara mendadak. Rasa sakit di matanya seolah terlupakan oleh gelombang adrenalin yang dipicu oleh kerinduan yang amat sangat.

​"Haidar, jangan berhenti. Lorong ini tidak stabil," peringat Sersan, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tegas.

​Namun Haidar seolah tuli. Pandangannya yang kabur mulai menangkap sebuah siluet kecil di balik kabut uap putih di depan sana. Seorang anak kecil dengan gaun kuning pucat—gaun yang dipakai Kinaya saat mereka terakhir kali pergi ke taman kota. Siluet itu berlari kecil, masuk ke dalam sebuah lorong buntu yang di ujungnya terdapat katup pembuangan uap raksasa yang sedang berdesis pelan.

​"Kinaya! Tunggu Ayah, Sayang!" Haidar berteriak, suaranya pecah oleh emosi yang meluap-luap.

​Ia mulai berlari. Kakinya yang tadi lemas kini dipaksa bergerak liar. Ia menabrak pipa-pipa yang menonjol, bahunya menghantam siku-siku besi hingga memar, tapi ia tidak peduli. Pikirannya hanya terisi oleh satu hal: ia harus menangkap siluet itu. Ia harus memastikan anaknya aman di tempat terkutuk ini.

​"Haidar! Berhenti!" suara Sersan menggelegar, namun Haidar sudah berada dalam kondisi trans emosional yang berbahaya.

​Bagi Haidar, Niskala telah menghilang. Lorong besi yang bau oli itu seolah berubah menjadi lorong rumahnya. Bau karat berubah menjadi wangi bedak bayi dan aroma masakan istrinya di dapur. Kerinduannya telah memanipulasi frekuensi di kepalanya, menciptakan realitas palsu yang jauh lebih indah daripada penderitaan yang sedang ia jalani.

​"Kinaya! Sini, Nak! Jangan jauh-jauh!" Haidar mengulurkan tangannya, mencoba meraih ujung gaun kuning yang tampak melambai di depannya.

​Hanya tinggal beberapa langkah lagi sebelum Haidar masuk ke dalam zona merah pembuangan uap panas yang suhunya sanggup mengelupas kulit manusia dalam sekejap. Siluet itu berdiri tepat di depan lubang katup yang mulai mengeluarkan cahaya oranye membara.

​Tepat saat Haidar hendak melompat maju, sebuah cengkeraman baja menghantam bahunya dengan kekuatan yang sangat besar, menyentaknya mundur hingga ia terhempas keras ke lantai besi yang dingin.

​Bruk!

​"Lepaskan aku! Dia ada di sana! Sersan, lepaskan aku!" Haidar meronta-ronta seperti orang kesurupan. Ia mencoba memukul tangan Sersan yang menindih bahunya, namun Sersan sama sekali tidak bergeming.

​"Buka mata kananmu dan lihat dengan benar, Haidar!" Sersan membentaknya tepat di depan wajahnya.

​Haidar terengah-engah, air mata mengalir dari mata kanannya yang sehat. Ia menoleh ke arah katup uap tadi. Siluet anak kecil bergaun kuning itu tidak ada. Yang ada hanyalah uap panas yang menderu keluar dari lubang besi, menciptakan ilusi optik yang diperparah oleh kerusakan saraf di otak Haidar. Tidak ada Kinaya. Tidak ada taman. Hanya ada kematian yang menunggu dalam bentuk panas yang mematikan.

​"Dia... dia tadi di sana, Sersan. Aku melihatnya... aku mendengarnya tawa..." Haidar mulai terisak, tubuhnya bergetar hebat saat realitas kembali menghantamnya seperti palu godam. Rasa sakit di mata kirinya kembali menusuk-nusuk, seolah mengingatkannya bahwa ia masih berada di neraka mekanik ini.

​Sersan melepaskan cengkeramannya, lalu berdiri tegak kembali. Ia menatap Haidar dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin, namun ada sesuatu yang lebih dalam di sana. "Niskala bukan hanya memakan tubuhmu, Haidar. Tempat ini memakan apa yang kau cintai. Ia menggunakan kerinduanmu sebagai umpan agar kau sendiri yang berjalan masuk ke dalam tungku pembakarannya."

​Haidar menelungkupkan wajahnya di atas lantai besi, membiarkan dinginnya logam mendinginkan pipinya yang panas. "Kenapa... kenapa harus sesakit ini?"

​"Karena kau masih membawa beban yang terlalu besar," sahut Sersan pelan. "Kau ingin pulang, tapi kau tidak sadar bahwa setiap kali kau memanggil namanya di sini, kau sedang memberikan frekuensi kekuatan pada tempat ini untuk menghancurkanmu."

​Haidar terdiam cukup lama. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan. Perlahan, ia bangkit berdiri, meraba dinding lorong untuk menopang tubuhnya yang lemas. Ia menyadari dengan ngeri betapa tipisnya batas antara kewarasan dan kegilaan di dunia ini. Jika Sersan tidak menghentikannya, ia mungkin sudah menjadi seonggok daging panggang di dalam pipa pembuangan itu.

​"Jangan pernah mengikuti suara itu lagi," ucap Sersan sambil kembali berjalan maju. "Mata Niskala-mu sedang dalam kondisi rusak. Sarafmu sedang menciptakan pola halusinasi untuk menutupi rasa sakit yang tidak sanggup kau tanggung. Jika kau mendengar suaranya lagi, abaikan. Itu bukan anakmu. Itu hanya gema dari rasa bersalahmu yang membusuk."

​Kata-kata Sersan terasa seperti belati yang menusuk hati Haidar. Rasa bersalah yang membusuk. Haidar mencengkeram boneka beruang lusuh di sakunya. Benarkah itu hanya rasa bersalah? Ataukah itu sisa-sisa kemanusiaannya yang sedang mencoba menyelamatkannya dari kedinginan Sersan?

​Mereka terus berjalan di dalam lorong yang seolah tak berujung itu selama berjam-jam. Tidak ada kata-kata lagi yang terucap. Haidar memfokuskan seluruh energinya hanya untuk satu hal: terus melangkah meski dunianya miring dan gelap sebelah.

​Hingga akhirnya, suara tetesan air yang sunyi itu mulai digantikan oleh suara lain. Suara yang lebih berat, lebih dalam, dan jauh lebih mengintimidasi.

​BUM... BUM... BUM...

​Lantai besi di bawah kaki mereka mulai bergetar hebat. Getarannya jauh lebih kuat daripada di Sektor Pemotongan. Haidar bisa merasakan giginya bergemeletuk setiap kali suara itu terdengar. Di ujung lorong, sebuah gerbang hidrolik raksasa dengan simbol dua balok baja yang saling menghimpit mulai terlihat.

​"Kita sudah sampai," ucap Sersan, langkahnya berhenti tepat di depan gerbang yang bergetar hebat itu. "Selamat datang di Sektor Pengempa. Di sini, tidak ada ruang untuk kesalahan. Jika kau lambat sedikit saja, tempat ini akan meratakanmu menjadi bagian dari lantai."

​Haidar menatap gerbang itu dengan satu mata kanannya yang tersisa. Rasa takut kini bercampur dengan tekad yang baru. Ia tahu, di balik gerbang ini, siksaan fisiknya akan meningkat berkali lipat. Ia mengambil belati hitamnya, meraba gagangnya yang kasar, mencoba mencari kekuatan di tengah ketidakberdayaan matanya. Perjalanan baru saja menjadi jauh lebih sempit dan mematikan.

1
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!