Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB IV
Keesokan paginya, Cheng datang ke tempat Luna dikurung. Ia membawa makanan dan air minum, lalu memberikannya kepada Luna yang terlihat sudah sangat lemah dan tak berdaya.
“Kenapa Ayah datang ke sini? Ini kan melanggar perintah Paman,” kata Luna dengan suara lirih. “Ayah sebaiknya tidak usah peduli padaku.”
Namun Cheng merasa sangat tidak tega melihat keadaan Luna. Ia segera meletakkan makanan dan air itu di dekat Luna, lalu berkata pelan, “Jangan takut, kau tidak perlu khawatir. Sebenarnya pamanmu itu menghukummu karena ia cuma takut terjadi sesuatu yang buruk padamu.”
Setelah bicara begitu, Cheng pun segera pergi meninggalkan Luna, membiarkannya sendiri dan makan.
Sebenarnya, Cheng dan kedua pamannya itu hatinya tidak sekeras yang terlihat. Mereka semua merasa sedih dan tidak tega menghukum Luna. Tapi kalau mereka terlalu lembut atau memihak Luna, para penjahat yang ada di kelompok itu akan menganggap mereka pilih kasih dan tidak adil. Karena itulah, di hadapan semua orang mereka harus bersikap keras, galak, dan seolah tak punya hati. Padahal di dalam hati yang paling dalam, mereka sudah sangat menyayangi Luna dan menganggap gadis kecil itu sama seperti anak mereka sendiri.
Di Kediaman Menteri
Xiao Ling, yang biasa dipanggil Lili oleh Ayah dan Ibunya, kini tumbuh menjadi gadis yang baik hati dan cerdas. Meski begitu, ia sedikit nakal, sangat lincah, dan selalu penuh semangat.
Di kediaman ini juga tinggal Dafi, saudara jauh dari pihak Ibu. Dafi sudah tinggal bersama mereka sejak tiga tahun yang lalu, dan usianya hanya lebih tua dua tahun dari Xiao Ling. Saat itu, kedua orang tua Dafi baru saja meninggal dunia dan tidak ada lagi kerabat yang bisa merawatnya. Akhirnya, ia diangkat menjadi anak angkat dan tinggal bersama di kediaman Menteri, diperlakukan serta disayangi sama persis seperti Xiao Ling.
Sejak kecil, Lili dan Dafi selalu belajar dan berlatih bela diri bersama. Ke mana pun mereka pergi, pasti selalu berdua dan tak pernah terpisah. Setiap pagi mereka berangkat sekolah bersama, dan begitu pulang, mereka juga menyempatkan waktu untuk berlatih ilmu bela diri.
Suatu hari, saat sedang berlatih bersama, Dafi melihat gerakan tangan Lili masih kurang tepat.
“Lili, gerakanmu itu masih salah. Ayo semangat lagi! Kita ulangi terus sampai benar-benar bisa ya,” kata Dafi sambil perlahan memperbaiki posisi tangan Lili.
Lili tersenyum cerah dengan wajah penuh percaya diri.
“Tenang saja Kak, aku pasti bisa kok! Kan kita belajar bersama. Kalau nanti Kakak jadi hebat, berarti aku juga pasti ikut hebat sama seperti kakak!” Ucap Lili bangga.
“Baiklah, aku mengerti,” jawab Dafi sambil tersenyum lembut melihat semangat adiknya itu.
Melihat betapa akur, saling mendukung, dan serasi hubungan mereka berdua, diam-diam Ayah dan Ibu Xiao Ling berniat menjodohkan Lili dan Dafi untuk menjadi pasangan suami istri kelak saat mereka sudah dewasa nanti.
Setelah selesai berlatih, Dafi segera menghadap Ayah Xiao Yu dan Ibu Mei Lin. Dengan sopan ia meminta izin,
“Ayah, Ibu, bolehkah aku mengajak Lili pergi berkeliling ke pasar sebentar? Kami ingin melihat-lihat dan membeli sedikit barang.”
Awalnya Ayah dan Ibu sempat ragu dan ingin menolak.
“Wah, di luar sana ramai dan banyak orang, takutnya Lili malah jadi susah dijaga,” kata Ayah cemas.
Namun mendengar itu, wajah Lili langsung tampak kecewa. Ia lalu memegang lengan Ayah dan Ibu sambil memohon dengan sangat antusias.
“Ayah, Ibu… tolong izinkan aku pergi ya! Aku sudah lama sekali ingin melihat pasar yang ramai itu, Aku ingin membeli permen dan juga pita rambut disana. Ayolah, aku janji akan nurut dan tidak akan nakal!” ucap Lili merengek.
Melihat anak kesayangannya yang sangat ingin sekali pergi, akhirnya hati Ayah dan Ibu pun luluh.
“Ya sudah, boleh. Tapi ingat, kalian tidak boleh berdua saja. Nanti Ayah suruh satu orang pengawal untuk ikut menjaga kalian dari dekat, ya,” jawab Ayah.
“Baik Ayah! Terima kasih banyak!” seru Lili girang.
Akhirnya mereka pun berangkat menuju pasar, ditemani oleh seorang pengawal yang berjalan mengikuti dari belakang. Sesampainya di sana, Lili tampak sangat senang sekali melihat banyaknya barang dagangan dan keramaian orang.
Dafi selalu berjalan di sisi Lili, menjaga agar gadis itu tidak terdesak orang lain. Sepanjang jalan, apa pun yang ditunjuk atau diinginkan Lili, Dafi langsung membelikan tanpa ragu sedikit pun. Mulai dari kue-kue manis, mainan, pita warna-warni, hingga kipas tangan yang cantik, semuanya dibelikan.
“Kak Dafi, lihat deh! Itu ada boneka kecil yang lucu!” tunjuk Lili dengan mata berbinar.
Dafi tersenyum lembut. “Suka ya? Kalau suka, Kakak belikan untukmu.”
“Benarkah? Wah, Kakak paling baik sedunia deh!” seru Lili sambil tertawa riang.
“Tenang saja, hari ini Kakak akan belikan semua yang kamu mau, asal kamu senang.” jawab Dafi sambil menatap Lili dengan penuh kasih sayang.
Mereka berdua tampak sangat bahagia, berjalan beriringan sambil tertawa dan bercerita bersama, seolah-olah dunia ini hanya milik mereka berdua. Sementara si pengawal yang mengikuti di belakang hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua anak kecil itu.
Sesampainya di rumah, Lili langsung berlari riang menuju Ayah dan Ibunya. Ia menunjukkan satu per satu barang yang dibelikan Dafi, dengan wajah yang bersinar.
“Ayah, Ibu lihat deh! Ini semua belanjaanku, lucu-lucu kan?” seru Lili sambil menyusun barang-barang itu di meja.
Melihat tumpukan barang yang cukup banyak, Ayah pun menoleh kepada Dafi.
“Dafi, kenapa kau membelikan begitu banyak barang untuk Lili?” tanya Ayah heran.
Dafi tersenyum lembut lalu menjawab, “Lili suka semuanya Ayah, jadi aku belikan saja semua yang dia suka.”
Ayah dan Ibu pun lalu melihat-lihat barang-barang tersebut. Namun saat melihat-lihat, ada sebuah pita rambut berwarna merah muda, tiba-tiba hati Ibu terasa sakit. Ia teringat pada putri keduanya, kembaran Lili yang sudah hilang sejak kecil. Tanpa sadar, ia pun bergumam pelan,
“Seandainya Ning masih ada di sini… dia pasti juga sangat bahagia dan suka sekali barang-barang seperti ini.”
Tapi kata-kata itu ternyata terdengar oleh Lili. Ia langsung menatap bingung kepada Ibunya.
“Ibu… siapa itu Ning? Kenapa Ibu menyebut nama itu?”
Seketika wajah Ibu berubah pucat dan kaget. Ia sadar sudah terlanjur bicara, lalu dengan cepat mengelak sambil mengusap kepala Lili.
“Eh, bukan apa-apa Nak. Kamu pasti salah dengar tadi. Ibu tidak menyebut nama siapa-siapa tadi.”
“Tapi Lili dengar jelas bu, Ibu bilang nama Ning…” desak Lili masih penasaran.
“Benar, kamu itu salah dengar. Sudah, tidak usah dipikirkan lagi ya,” potong Ibu cepat, lalu segera mengalihkan pembicaraan.
Sebenarnya Ayah dan Ibu Xiao Ling sudah sepakat untuk menyembunyikan hal ini dari Lili. Mereka tidak ingin Lili tahu bahwa ia punya saudara kembar yang bernama Xiao Ning, yang sekarang entah ada di mana, bahkan mereka pun takut jika Xiao Ning ternyata sudah tidak ada di dunia ini. Mereka tidak mau hati Lili, putri kesayangannya itu menjadi sedih, gelisah, atau merasa kehilangan, maka dari itu rahasia ini terus mereka simpan rapat-rapat.
Karena merasa belum puas dan masih sangat penasaran, Lili pun segera mendatangi Dafi yang baru saja selesai menata barang-barang. Ia langsung bertanya dengan wajah bingung.
“Kak Dafi, tadi aku dengar Ibu menyebut nama 'Ning'. Siapa itu Ning sebenarnya? Apakah Kakak kenal sama orang itu?”
Dafi menghentikan kegiatannya, lalu menatap Lili dengan wajah bingung pula. Ia menggelengkan kepalanya pelan.
“Ning? Siapa itu Lili? Kakak sama sekali tidak kenal dan belum pernah dengar nama itu sebelumnya,” jawab Dafi jujur.
“Benarkah? Tapi aku yakin sekali tadi Ibu menyebut nama itu dengan jelas,” kata Lili masih tidak percaya.
“Mungkin kamu salah dengar Lili, selama aku tinggal di sini, aku belum pernah mendengar Ayah atau Ibu menyebut nama orang bernama Ning. Sudah, jangan dipikirkan terus, nanti malah jadi pusing,” hibur Dafi sambil tersenyum.
Mendengar jawaban Dafi, Lili pun makin bingung. Kalau Kak Dafi saja tidak tahu, berarti nama itu benar-benar asing bagi semua orang di sini. Meski begitu, rasa penasaran itu tetap tersisa di dalam hatinya, karena ia yakin sekali tidak salah mendengar ucapan Ibunya tadi.
Tak lama setelah itu, Mei Lin segera pergi mendatangi suaminya, Xiao Yu. Wajahnya tampak cemas dan khawatir sekali. Ia lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi, serta apa yang diucapkannya tanpa sengaja tadi.
“Suamiku, tadi aku tidak sengaja menyebutkan nama Ning di depan Lili,” kata Mei Lin dengan suara pelan dan gelisah. “Lili langsung bertanya siapa itu Ning, tapi aku dengan cepat mengatakan dia salah dengar dan tidak mau menjelaskan apapun kepadanya.”
Ia menatap suaminya dengan wajah takut, lalu melanjutkan,
“Aku jadi sangat khawatir. Bagaimana kalau Lili masih penasaran dan nanti dia datang bertanya kepadamu? Kita sudah sepakat untuk menyembunyikan hal ini, kan? Aku tidak mau Lili tahu kalau dia punya saudara kembar yang hilang, apalagi kalau sampai dia tahu adiknya itu mungkin sudah tidak ada. Aku tidak ingin dia bersedih dan merasa kehilangan.”
Mendengar itu, Xiao Yu pun menghela napas panjang. Ia mengerti sekali perasaan istrinya, dan sama-sama merasa takut rahasia itu terbongkar.
“Tenanglah, aku paham kekhawatiran mu,” jawab Xiao Yu lembut. “Kalau sampai Lili bertanya padaku nanti, aku juga akan menjawab hal yang sama sepertimu. Kita harus tetap menyimpan rahasia ini baik-baik demi kebaikan Lili.” Ucap Xiao Yu sambil menggenggam tangan istrinya itu.