Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 BORONG SEMBAKO
Keikhlasan doa dan ketulusan hati Abdul malam itu rupanya menciptakan ketenangan jiwa yang luar biasa ke dalam raganya sehingga ia bisa tertidur dengan sangat nyenyak. Di dalam tidur pulasnya itu, sebuah mimpi yang sangat jernih mulai terbentuk di dalam alam bawah sadar Abdul. Ia merasa sedang berdiri di dalam sebuah gudang swalayan raksasa yang sangat luas, dipenuhi dengan tumpukan ribuan karung beras, minyak goreng, dan kardus susu yang tertata rapi hingga menyentuh langit-langit gudang.
Di dalam mimpi itu, Abdul memegang sebuah troli besi berukuran besar. Tanpa ada rasa ragu atau hitung-hitungan di kepalanya, ia mulai memborong berkarung-karung beras kualitas terbaik dan memasukkannya ke dalam troli hingga penuh meluber demi anak-anak panti yang ia lihat sore tadi.
Abdul kemudian membawa trolinya berhenti di depan sebuah meja kasir digital yang dijaga oleh seorang petugas berpakaian putih bersih. Petugas itu tersenyum ramah lalu menekan tombol cetak pada mesin kasir yang seketika mengeluarkan selembar kertas struk belanja putih yang sangat panjang. Petugas kasir menyerahkan struk tersebut kepada Abdul sambil menunjuk angka total harga yang tertera di bagian paling bawah dengan cetakan tebal berwarna hitam: Rp85.750.000,00.
"Ini total belanjaan sembako Anda, Pak. Semuanya sudah lunas, ya Pak," ucap petugas kasir itu dengan suara tenang, sebelum akhirnya seluruh visualisasi gudang swalayan itu perlahan memudar menjadi kegelapan yang damai.
---
Sementara itu, di dunia nyata, jarum jam dinding di kamar Abdul baru saja menunjukkan pukul 04:50 subuh. Di atas meja kecil tepat di samping bantalnya, layar handphone android baru milik Abdul tiba-tiba menyala dengan sendirinya dan memancarkan cahaya keemasan yang redup. Deretan teks sistem berwarna putih bercahaya mulai mengetik secara otomatis dengan kecepatan tinggi di atas layar ponselnya:
[Sistem Keberuntungan Kaum Rebahan Berhasil Memindai Gelombang Otak Subjek.]
[Mimpi Alami Berunsur Finansial Terdeteksi: Memborong Sembako Swalayan.]
[Nominal Akumulasi Visual dalam Mimpi: Rp85.750.000,00.]
[Melakukan Konversi Energi Astral Mimpi Menjadi Saldo Rekening Nyata...]
[Proses Konversi Selesai. Mengirimkan Dana ke Rekening Target...]
Setelah tulisan rahasia itu selesai berkedip tiga kali di atas layar, cahaya keemasan itu lenyap seketika kembali tertelan kegelapan. Sedetik kemudian, ponsel tersebut kembali ke mode normal dan langsung menampilkan sebuah notifikasi SMS perbankan yang bergetar panjang memecah keheningan fajar.
---
Tepat pukul lima subuh, Abdul terbangun dari tidurnya dengan kondisi tubuh yang sangat segar dan bugar. Sisa ingatan tentang struk belanja sembako senilai delapan puluh juta rupiah di dalam mimpinya tadi masih melekat kuat di kepala, membuat Abdul tersenyum kecil sambil mengucek matanya. Belum sempat ia mengubah posisi duduknya dari kasur lantai, handphone di samping bantalnya sudah menyala menampilkan pesan masuk dari Bank Suka.
Abdul mengambil ponsel tersebut, membuka kunci layarnya, dan seketika matanya membelalak lebar karena terkejut menatap deretan angka digital yang tertera di sana.
[Bank Suka: Transaksi Kredit Otomatis Rp85.750.000,00. Saldo Akhir Anda: Rp131.135.000,00.]
Abdul mengucek matanya berulang kali untuk memastikan ia tidak salah melihat jumlah digit angka tersebut. Dana sebesar delapan puluh lima juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah nyata masuk ke rekeningnya, membuat total saldonya kini melesat tajam menembus angka seratus tiga puluh satu juta rupiah. Angka itu sama persis hingga ke digit terakhir dengan nominal struk di mimpinya baru saja.
"Gila... angkanya pas banget kayak di struk kasir mimpi ku tadi subuh," bisik Abdul dengan suara gemetar karena syok sekaligus merinding. "Masa setiap kali aku mimpi ada angka uangnya, subuhnya langsung ditransfer dengan nominal yang sama persis?"
Rasa bingung sempat membuat kepala Abdul sedikit pening selama beberapa saat di pinggir kasur lantainya. Namun, mengingat kondisi darurat Panti Asuhan Harapan Bunda yang sedang kesulitan makanan, Abdul memutuskan untuk segera membuang jauh-jauh rasa herannya dari kepala. Bagi Abdul, yang terpenting adalah uang ini sekarang sah berada di rekeningnya dan harus segera digunakan.
"Biarlah orang-orang di luar sana sibuk dengan urusan mereka masing-masing," batin Abdul sambil bersiap mandi. "Biar aku yang mengurus perut anak-anak yatim ini, pakai uang dari bank ini."
Siang harinya, Abdul langsung menjalankan rencana sedekah rahasianya dengan matang. Tanpa memberi tahu ibunya atau teman-temannya agar rahasianya tetap aman, ia pergi ke sebuah toko grosir sembako terbesar yang terletak di seberang kecamatan agar tidak ada warga Gang Seng yang mengenalinya.
Di sana, Abdul menemui pemilik toko yang bertubuh tambun dan langsung membayar sekitar 50 juta rupiah untuk memborong dua ton beras premium, lima puluh kardus mi instan, tiga puluh kardus susu, serta puluhan krat telur ayam segar.
"Pak, tolong semua sembako ini dikirimkan sekarang juga pakai mobil pick-up ke Panti Asuhan Harapan Bunda yang ada di batas kelurahan sana ya," perintah Abdul kepada pemilik toko sambil menyerahkan tumpukan uang tunai dari tasnya.
Pemilik toko grosir itu terkejut setengah mati melihat pemuda yang hanya berkaus oblong biasa bisa belanja sembako dalam jumlah masif secara tunai tanpa menawar.
"Baik, Mas. Atas nama siapa pengirimnya ya? Biar ditulis di nota pengiriman barang."
Abdul tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya dengan mantap tanpa ada niat untuk pamer.
"Gak usah ditulis namaku, Pak. Di kolom pengirim, tulis aja dari 'Hamba Allah'. Dan tolong bilang ke sopirnya, setelah barang dibongkar di sana, langsung pergi aja, gak usah minta tanda terima atau nanya macam-macam ke pengurus panti."
Satu jam kemudian, sebuah mobil pick-up besar bermuatan penuh sembako tampak berhenti di halaman Panti Asuhan Harapan Bunda. Ibu Aminah yang sedang duduk lesu di teras langsung berdiri dengan wajah bingung bercampur panik saat para kuli mulai menurunkan karung-karung beras dan kardus susu ke halaman panti. Ketika Ibu Aminah bertanya dengan mata berkaca-kaca tentang siapa orang baik yang telah mengirimkan semua bantuan ini, sang sopir hanya menggelengkan kepala.
"Saya cuma ditugaskan mengantar, Bu. Di notanya cuma tertulis dari 'Hamba Allah'," ucap sang sopir sambil menyerahkan selembar kertas nota belanja, lalu segera masuk kembali ke dalam kemudi mobil dan pergi menjauh.
Dari kejauhan, di balik pohon peneduh di seberang jalan raya, Abdul berdiri menyaksikan pemandangan mengharukan tersebut sambil melipat kedua tangan di atas dada. Matanya ikut berkaca-kaca menatap tangis haru sujud syukur Ibu Aminah di atas tanah dan sorak-sorai gembira anak-anak panti yang melompat kegirangan karena tahu malam ini mereka tidak perlu kelaparan lagi. Sebuah kepuasan batin yang luar biasa mengalir hangat di dalam dada Abdul, sebelum akhirnya ia berbalik melangkah pulang menuju Gang Seng dengan hati yang plong.