Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Hari Pertama Ravian Sebagai CEO
NB : maaf ya readers. Bab 16 ini aku bikin Ravian dulu. Kaelric sama Veliora nanti ya?. Sementara, mereka istirahat dulu...
___________>>>>>>>
Ruangan itu sudah kosong ketika akhirnya ia harus kembali berdiri sendiri. Nama itu masih terngiang di telinganya yaitu CEO.
Bukanlah sesuatu yang ia kejar. Tapi juga bukan sesuatu yang ia tolak. Tetapi, karena suatu hal harus terjadi demikian. Ravian Kestler menatap ke arah jendela, kota Jakarta terbentang di bawah sana sama seperti sebelumnya.
Hanya saja posisinya sekarang yang telah berubah. Ia menghela napas pelan. Tidak ada keraguan. Tidak ada juga kebanggaan yang berlebihan.
Hanya satu hal yang jelas di benaknya ini semua bukanlah akhir, namun adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Demi Adisti, gadis yang sangat dicintainya. Juga Tuan Adiwinata, yang mengabdikan seluruh hidup dan waktunya di perusahaan Papi Bosnya. Hingga menghidupkan kembali perusahaan Papi Kaelric yang sudah hancur. Dan sekarang perusahaan itu masih kokoh berdiri. Adik Kaelric yang menjadi CEO disitu, tentu saja adiknya meminta Kaelric untuk menjadi bayang-bayangnya.
Sebenarnya, Tuan Adiwinata waktu itu dalam kebimbangan. Mengingat, usianya yang sudah senja. Dia ingin istirahat, tetapi dia tidak punya anak laki-laki. Yang dimiliki hanya Adisti, gadis manis yang sudah menaruh hati pada Ravian.
Di hari pertama menjabat sebagai CEO, Ravian Kestler tidak memberi waktu bagi dirinya untuk beradaptasi. Hari pertama bukan untuk memahami, tapi untuk mengendalikan.
Dalam hitungan jam, rapat pertama mulai digelar. Tidak ada diskusi yang panjang. Tidak ada juga ruang negosiasi. Yang ada hanya keputusan.
Beberapa nama dipertahankan. Dan beberapa nama lainnya telah hilang dari struktur sebelum hari berakhir.
Sistem diperketat. Akses diatur ulang. Dan, terutama susah dicapai oleh beberapa gelintir orang. Ravian nampaknya meningkatkan status kewaspadaan.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu perusahaan mulai bergerak dengan arah yang baru. Serta sistem yang baru pula.
Hari itu juga mulai digelar rapat staf serta seluruh jajaran dewan di perusahaan. Ruang rapat utama Adiwinata Corporation kembali terisi. Tapi kali ini suasananya sangat berbeda. Tidak ada lagi bisik-bisik santai juga tidak ada lagi rasa nyaman yang sama seperti dahulu lagi. Semua orang duduk menunggu dengan perasaan yang campur aduk.
Pintu terbuka kemudian Ravian Kestler masuk ruangan tanpa membawa banyak berkas. Tak membawa asisten, apalagi memberi pengumuman terlebih dahulu. Iapun langsung duduk di kursi utama.
“Kita mulai rapat pada hari ini.”
Ravian membuka rapat tanpa basa-basi juga tidak ada pengenalan ulang.
Tatapannya menyapu satu per satu wajah di ruangan itu.
“Struktur lama sudah tidak berlaku lagi.”
Beberapa orang mulai menegang. Namun sebagian lainnya mencoba untuk tetap tenang.
“Saya selaku CEO yang baru disini, tidak akan mengulangi keputusan yang sudah dibuat kemarin. Dan saya hanya akan melanjutkannya.”
Suasana terasa sunyi. Tak ada yang berani angkat bicara. Seperti menghadapi suatu tantangan yang sulit.
Hari itu pula dilakukan pembersihan, dimana orang-orang yang mencari masalah dengan Adiwinata Corporation diberhentikan saat itu juga.
Ravian membuka tablet di depannya. Satu daftar nama muncul.
“Divisi logistik.”
Seorang pria paruh baya menoleh cepat.
“Kepemimpinan diganti mulai efektif hari ini.”
“Apa dasar keputusan itu?” pria itu langsung menyela.
Ravian mengangkat pandangan. Nada bicaranya tenang.
“Terjadi kebocoran tiga bulan terakhir. Nilainya tidak kecil. Dan Anda membiarkannya.”
Pria itupun terdiam.
“Security internal.”
Nama lain disebut. Di ruangan itu ketenangan mulai goyah.
“Akan dipindahkan ke Divisi lain.”
“Ini tidak bisa dilakukan secara sepihak!” suara lain mencoba melawan.
Ravian tidak meninggikan suara.
“Bisa.”
Satu kata saja sudah cukup untuk membungkam mereka.
“Dan hal ini sudah saya lakukan.”
Ravian berhenti sejenak. Dia mengambil botol air putih yang sudah tersedia di atas meja.
Lalu menyebut satu nama yang membuat atmosfer ruangan itu berubah panas, semua orang nampak gusar dengan pembersihan mendadak oleh CEO Yang baru, yaitu Ravian.
“Semua yang memiliki keterkaitan langsung dengan Bismantaka...”
Tidak ada yang bergerak. Masing-masing menarik nafas berat.
“Akan dievaluasi ulang.”
“Sampai proses itu selesai dan akses kalian akan dibatasi.”
“Ini sudah berlebihan, saudara Ravian!” seseorang berdiri, merasa tidak terima dengan setiap keputusan yang diberikan Ravian secara sepihak.
“Duduk.”
Nada itu tetap datar.
Tapi cukup untuk membuat orang itu benar-benar duduk kembali. Lalu, orang itupun berdiri lagi.
"Anda siapa, anda hanya seorang asisten pribadi. Dan anda tidak layak untuk jabatan CEO disini."
"Oh, lantas siapa yang menurut anda layak untuk menjadi CEO?"
Ravian bertanya dengan nada datar.
"Tuan Adiwinata yang masih berhak menjabatnya. Atau kalau Tuan Adiwinata benar-benar sudah merasa keberatan dengan jabatan itu, maka yang berhak adalah Tuan Bismantaka. Bukan anda, saudara Ravian. Ini sudah salah langkah menurut saya."
“Beliau paling lama di sini. Juga paling tahu bagaimana perusahaan ini berjalan.”
Beberapa orang tidak langsung menyahut.
Tapi dari cara mereka saling berpandangan
jelas, pemikiran itu bukan hanya milik satu orang saja. Banyak staf yang kecewa dengan pengangkatan Ravian Kestler sebagai CEO Adiwinata Corporation.
Bagi mereka, pengganti sudah seharusnya orang dari dalam. Dari seseorang yang mereka kenal. Bukan dari seseorang yang datang dan langsung mengambil alih semuanya.
Ravian tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap ke arah suara itu.
“Anda tahu, jika perusahaan ini berjalan sebaik yang Anda katakan…”
jedanya singkat,
“kita tidak akan berada di posisi ini sekarang. Terlihat baik di luar, tapi terpuruk di dalam. Dan anehnya lagi, pemilik sah tidak tahu-menahu apa yang sudah terjadi di perusahaan.”
Ravian diam sejenak. Kemudian, dia mengatakan,
“Saya ada disini tidak mencari persetujuan dari siapapun. Dan saya bisa memastikan bahwa perusahaan ini akan tetap berjalan.”
Ia menutup tabletnya. Kemudian memandang kearah peserta rapat satu persatu.
“Tuan-tuan, jika ada yang merasa tidak bisa mengikuti sistem yang saya buat.....”
Tatapannya berhenti sejenak.
“Pintu keluar selalu terbuka.”
"Saya persilahkan, jika ada yang ingin keluar dari sini sekarang juga. Jadi, saya hanya berharap kalian mengerti itu."
Tidak ada satupun yang menjawab. Banyak diantara mereka memilih untuk memendam dendam yang membara. Yang jika suatu saat nanti api tersulut akan membakar semua yang ada di depan mata.
Tapi, tentunya Kaelric tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Dia akan menjadi air, untuk memadamkan api yang membakar di Adiwinata Corporation.
"Baiklah, saya anggap pertemuan kita pada hari ini sudah selesai. Hari rabu nanti dengan waktu yang sama seperti tadi, saya harap kehadiran Tuan-tuan disini lagi. Saya ingin membicarakan point penting demi kemajuan Adiwinata Corporation. Tentunya, Tuan Adiwinata selalu Ketua Dewan Komisaris akan ikut hadir disini. Saya ingin, Tuan Adiwinata sebagai pemilik perusahaan, tetap ikut andil bagian jika ada hal yang menurut beliau kurang baik. Dan saya selaku CEO yang masih baru. Perlu banyak belajar dari beliau. Sekian terima kasih banyak atas kehadirannya. Pertemuan ini kita sambung lain waktu."
Terkesima juga orang-orang yang masih tersisa di ruangan itu. Mereka mulai mencium sesuatu yang entah mereka sendiri tidak tahu. Ada semacam aura positif yang ditampilkan Ravian.
Akhirnya, semua orang meninggalkan ruangan meeting, kembali ke ruangan mereka masing-masing.