JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Asap rokok tipis mengepul di udara, berpadu dengan aroma kapur stik biliard dan suara dentuman bola yang beradu di atas meja hijau. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu gantung yang menyorot meja biliard di tengah. Di sana, Marco Permana berdiri dengan postur tubuh yang relaks, stik di tangannya ia putar-putar dengan jemari lentik yang cekatan.
Marco, dengan tatapan tajam dan rahang yang tegas, tampak seperti definisi sempurna seorang 'bad boy' kampus. Kaos hitam tanpa lengan yang ia kenakan memperlihatkan tato kecil di lengan atasnya dan otot-otot yang terbentuk hasil latihan keras di gym—pelarian satu-satunya dari rumah yang menyesakkan.
PLAK!
Bola putih menghantam bola nomor delapan, memasukkannya dengan mulus ke lubang sudut.
"Duh, jago banget sih lo, Co," seru Kevin sambil menggelengkan kepala. Ia menyandar di pinggir meja, menyesap minuman kalengnya. "Gue kalah lagi, padahal gue udah pakai taktik paling jitu."
Marco tertawa, tawa yang terdengar sangat lepas di sini, jauh dari rumahnya yang kaku. "Taktik lo ketinggalan zaman, Kev. Biliard itu bukan cuma soal akurasi, tapi soal membaca arah. Kayak hidup, kalau lo salah baca langkah, lo yang bakal kena batunya."
Arlo, yang sedari tadi duduk di sofa sambil memainkan ponsel, mendongak. "Tumben lo bijak banget, biasanya juga asal ceplos. Masih mikirin soal kejadian di rumah tadi pagi?"
Senyum di wajah Marco lenyap seketika. Ia meletakkan stiknya dengan dentuman keras di atas meja. "Jangan bahas rumah di sini, Lo. Gue mau bersenang-senang, bukan mau seminar psikologi."
"Kita cuma peduli sama lo, man," ujar Arlo pelan. "Gue tahu, bokap lo emang lagi keterlaluan akhir-akhir ini."
Marco mendengus, matanya menatap tajam ke arah bola putih yang diam di atas meja. "Keterlaluan? Itu kata yang terlalu halus buat Andi Permana. Sejak Anggun—wanita ular itu—masuk ke rumah, gue bukan anak lagi. Gue cuma pajangan rusak di sudut ruangan."
Ia mengambil kembali stiknya, membidik dengan kasar. BRAK! Bola itu melesat cepat, menghantam dinding meja dengan keras.
"Kemarin malam," Marco memulai ceritanya dengan suara serak, "Gue pulang telat karena tugas DKV numpuk di studio. Pas nyampe, meja makan penuh. Mereka lagi ngerayain Chelsea yang dapet nilai sempurna di ulangan Fisika. Anggun senyumnya lebar banget, Papa sibuk muji-muji Chelsea kayak dia penemu teori baru."
"Terus lo?" tanya Kevin.
"Gue? Gue cuma dilewatin kayak angin lewat," Marco terkekeh pahit. "Si Chelsea, dengan wajah sok polosnya itu, bilang, 'Kak Marco kok nggak makan? Padahal Mama masak enak banget'. Padahal gue tahu dia sengaja ngomong gitu biar Papa nanya kenapa gue telat. Dan bener aja, Papa langsung nyeramahin gue soal kedisiplinan. Katanya, kalau mau jadi orang sukses kayak Chelsea, gue harus bisa atur waktu. Padahal, dia sendiri nggak tahu apa yang gue kerjain di kampus."
Arlo menghela napas panjang. "Lo nggak pernah cerita ke bokap lo kalau lo sebenernya punya bakat besar di desain?"
"Buat apa?" Marco memotong, wajahnya mengeras. "Dia nggak akan denger. Di matanya, yang dkv, yang seni, itu nggak ada masa depannya. Dia mau gue masuk bisnis, pegang perusahaan, sama kayak dia. Tapi gue nggak mau jadi orang munafik kayak dia dan Anggun."
"Chelsea itu..." Kevin ragu-ragu untuk melanjutkan.
"Chelsea itu anak emas," potong Marco sinis. "Dia dapet segalanya. Perhatian, fasilitas, kasih sayang. Sementara gue? Gue cuma harus ada buat dijadiin pembanding. 'Kenapa kamu nggak kayak Chelsea?', 'Kenapa kamu nggak bisa lebih nurut kayak Chelsea?'. Gue muak. Gue bener-bener muak."
Marco mengambil stik lagi, namun kali ini ia tidak membidik. Ia hanya memegang stik itu erat hingga buku jarinya memutih. "Kalau bukan karena gue masih punya tabungan hasil menang lomba desain, gue udah angkat kaki dari rumah itu sejak tahun lalu."
"Sabar, Co. Lo cuma harus bertahan sebentar lagi," bujuk Arlo. "Lagipula, lo kan punya kita. Lo punya kebebasan kalau lagi bareng kita."
Marco mendongak, tatapannya melembut sejenak saat melihat kedua sahabatnya itu. "Gue tahu. Makanya, kalau gue udah mulai 'tengil' atau tebar pesona di kampus, lo berdua jangan heran. Itu cara gue biar orang-orang ngeliat gue, biar gue merasa gue itu ada. Kalau gue diem aja, gue bakal ngerasa bener-bener hilang."
"Lo emang tengil sih, apalagi kalau udah godain mahasiswi baru," ejek Kevin sambil tertawa. "Tapi ya, itu emang cara lo buat menutupi sisi lain lo yang..."
"Yang berantakan?" Marco menyambar. Ia tersenyum tipis, senyum yang biasanya membuat mahasiswi-mahasiswi di kampus menjerit. "Iya, gue emang berantakan. Tapi selama gue punya skill dan muka yang lumayan, gue bakal tetep bisa 'menjual' diri gue di dunia ini."
Marco kembali fokus pada permainannya. Ia membidik dengan tenang, kali ini tanpa kemarahan, hanya teknik murni. Bola terakhir masuk ke lubang.
"Game over," ucapnya dingin.
"Gila, bener-bener gak ada celah lo," keluh Kevin sambil menyerah.
Marco mengambil tasnya, menyampirkan jaket ke bahunya. "Gue cabut duluan. Gue mau cari udara segar. Kepala gue masih pening mikirin rapat keluarga besok yang bakal diisi sama ocehan Anggun dan kesempurnaan Chelsea."
"Mau kemana lo?" tanya Arlo.
"Cari tempat buat menenangkan diri. Mungkin ke suatu tempat di mana nggak ada orang yang kenal nama 'Permana'," sahut Marco sambil berjalan keluar dari ruangan biliard.
Di luar, udara malam terasa dingin, namun Marco tidak peduli. Ia berjalan menyusuri trotoar, membiarkan lampu kota menerangi jalanannya. Ia tahu, di balik sikap tengil dan hobi tebar pesonanya, ia hanyalah seorang pemuda yang sedang mencari sesuatu—sesuatu yang ia sendiri belum tahu apa—yang bisa membuatnya merasa utuh.
Ia tidak tahu bahwa dunia sedang merancang pertemuan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Saat ini, yang ia tahu hanyalah ia harus bertahan. Ia harus menjadi yang terbaik di bidangnya, agar suatu saat nanti, dialah yang akan tertawa paling keras di depan orang-orang yang selama ini menganggapnya tidak berharga.
Marco Permana adalah api, dan ia siap membakar apa pun yang menghalangi jalannya.
***
Malam semakin larut, menyisakan hawa dingin yang mulai menusuk kulit. Haura menepikan mobil SUV-nya ke bahu jalan setelah mendengar suara gedebuk kasar dari arah roda belakang, diikuti sensasi goyang yang tidak stabil pada kemudi. Saat ia keluar dari mobil, matanya langsung tertuju pada ban belakang kiri yang sudah rata dengan aspal.
"Aduh! Sialan!" umpat Haura kesal. Ia menendang ban itu dengan tumit sepatunya, membuat bunyi nyaring yang memantul di kesunyian jalan. "Harusnya dari tadi aku udah sampe mansion buat ketemu Papa, malah ada aja sih hambatannya!"
Ia berkacak pinggang, menatap ponselnya dengan frustrasi. Baterai sisa lima persen, dan ia terjebak di jalanan yang cukup sepi karena ini adalah jalur alternatif menuju perumahannya.
Dari arah berlawanan, sosok pemuda jangkung yang berjalan kaki dengan tangan dimasukkan ke saku jaket denimnya terlihat mendekat. Marco mengernyitkan kening. Ia memperhatikan mobil SUV mewah yang terparkir mencolok di tengah kegelapan.
"Gila ya, itu mobil ngapain berhenti di situ? Nggak tahu apa ini jalanan sepi?" gumam Marco pada dirinya sendiri. Namun, saat ia melintas, ia melihat seorang wanita—sosok yang familiar, meski ia tidak langsung mengenalinya karena minimnya cahaya—sedang mencoba memeriksa ban dengan wajah yang penuh kemarahan.
Marco melangkah mendekat. Tok, tok, tok.
Haura tersentak. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan menurunkan kaca jendela hanya celah kecil, menatap sosok di balik kaca dengan mata menyipit tajam.
"Apa? Mau minta sumbangan, Mas? Sorry, saya nggak ada uang receh," sahut Haura ketus, suaranya sedingin es.
Marco terbelalak, wajahnya yang tampan berubah menjadi ekspresi tidak percaya. Ia mundur satu langkah, lalu mencondongkan tubuh ke arah kaca yang terbuka, menampilkan wajahnya yang kini tertimpa cahaya lampu jalan. "What? Sum-sumbangan? Heh, Tante! Lo kira gue serendah itu sampai harus nodong orang di jalanan buat cari receh?"
Haura terdiam sejenak. Ia mengenali suara itu, suara tengil yang entah mengapa membuat tensinya naik drastis. Ia menurunkan kaca sepenuhnya, menatap Marco dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Ya... siapa tahu. Anak muda jam segini jalan kaki ngapain kalau nggak minta sumbangan atau cari gara-gara?"
"Bener-bener minta digeprek ini tante-tante," Marco mendesis, giginya gemeretak. "Mobil lo kenapa?"
"Mogok. Ban kempes," jawab Haura sinis. "Puas?"
Marco mendengus keras. "Gue kira lo mau ada adegan penculikan anak atau apalah. Lagian, jam segini masih aja keluyuran pakai mobil mewah tapi nggak bisa ganti ban sendiri."
"Heh! Sembarangan mulut kamu ya!" Haura memukul kemudi dengan telapak tangannya. "Kamu kalau cuma mau menghina, mending pergi sana! Saya nggak butuh bantuan kamu."
"Gue Marco. Lo siapa, Tan?" Marco sengaja mengabaikan perintah Haura, bersandar di pintu mobil dengan gaya yang sangat santai, seolah-olah ia sedang di showroom mobil mewah.
"Apa sih? Nggak usah kenalan! Lagian kamu juga orang asing. Saya nggak biasa bicara sama orang asing di jalanan," Haura membuang muka, berusaha mengabaikan kehadiran Marco yang tiba-tiba mendominasi ruang lingkupnya.
Marco tertawa meremehkan. "Orang asing? Oke, terserah. Tapi kalau lo mau nunggu bantuan yang nggak bakal dateng sampai besok pagi, silakan. Gue sih cuma kasihan lihat tante-tante cantik kayak lo harus berdiri di sini sendirian."
Haura sebenarnya tahu Marco benar. Taksi online tidak mungkin masuk ke sini dengan mudah di jam segini. Dengan napas berat dan harga diri yang terinjak-injak, ia membuka pintu mobil dan keluar. "Ya sudah, kalau mau bantu, bantu sekarang. Jangan cuma bisa bawel!"
Marco tersenyum lebar—senyum yang bagi Haura adalah provokasi tingkat tinggi. Ia segera membuka bagasi mobil, mengeluarkan ban serep dan dongkrak dengan gerakan yang sangat profesional.
"Lo minggir, jangan berdiri di situ kayak patung," perintah Marco dingin.
Selama dua puluh menit berikutnya, keheningan hanya diisi oleh dentang kunci baut dan napas berat Marco. Haura berdiri bersedekap, memperhatikan pemuda itu bekerja. Ia harus mengakui, cara Marco mengoperasikan alat-alat itu sangat cekatan. Keringat yang menetes di pelipis Marco dan otot lengannya yang menegang saat mengangkat ban lama membuat Haura sesaat kehilangan fokusnya. Tunggu, kenapa aku merhatiin ototnya? batin Haura panik.
"Selesai," Marco berdiri, mengelap tangannya dengan kain serbet yang ia ambil dari bagasi. Ia menatap Haura yang masih melamun. "Tuh, udah beres. Nggak usah bengong gitu, gue tahu gue ganteng."
Wajah Haura memerah, entah karena marah atau malu. Ia segera merogoh tasnya, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas seratus ribuan yang ia sodorkan dengan cara yang tidak sopan.
"Makasih. Nih, upah buat kamu. Biar bisa naik taksi atau beli makan," kata Haura ketus. "Soalnya saya nggak suka nebengin orang asing. Jadi ambil ini, dan kita selesai di sini."
Marco menatap uang itu, lalu menatap mata Haura dengan intens. Ia tidak mengambil uang tersebut. "Gue bukan orang miskin, Tante. Dan gue nggak ngebantu lo biar dapet uang receh lo itu."
"Terus apa? Kamu mau apa?"
"Gue mau lo inget muka gue," jawab Marco tenang, namun sorot matanya tajam. "Karena kayaknya, takdir bakal bikin kita ketemu lagi. Dan waktu itu, gue nggak bakal minta uang. Gue bakal minta hal lain yang jauh lebih berharga dari uang lo."
Marco berbalik dan berjalan pergi ke tengah kegelapan malam, meninggalkan Haura yang masih mematung dengan uang yang terjatuh ke aspal. Haura menatap punggung pemuda itu dengan perasaan yang campur aduk. Ia tidak tahu siapa pria itu, ia tidak ingin tahu, namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Haura Widjaja merasa ada sesuatu dalam dirinya yang baru saja... retak.
Siapa dia sebenarnya? tanya Haura dalam hati, saat ia masuk kembali ke mobil dan melaju pergi dengan tangan yang sedikit gemetar.
semangattt