Sinopsis: Kembalinya Sang Dewa (Zeus Is Back)
Tiga tahun lalu, dunia siber internasional diguncang oleh kematian mendadak "Zeus", sang Raja Hacker legendaris yang mampu membobol sistem keamanan Pentagon dan bank dunia dalam hitungan detik. Tak ada yang tahu bahwa Zeus dikhianati oleh rekannya sendiri demi uang dan kekuasaan.
Demi bertahan hidup, Zeus memalsukan kematiannya dan menyamar sebagai Kenji, seorang pemuda biasa yang bekerja di toko servis komputer kecil yang kumuh. Dia hidup miskin, dihina oleh tetangga, dan diremehkan oleh semua orang. Kenji rela mengubur masa lalu kelamnya demi kehidupan yang tenang bersama adik perempuan satu-satunya, Hana.
Namun, ketenangan itu hancur saat Hana dijebak oleh Megacorp—korporasi raksasa yang korup—atas tuduhan pencurian data rahasia. Hana diancam hukuman seumur hidup dan denda miliaran rupiah yang tak masuk akal hingga membuatnya jatuh koma karena tekanan mental. Saat hukum bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan, Kenji sadar bahwa dunia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Singgasana Kaca
Dunia yang terlihat dari jendela jet pribadi di atas langit Jenewa itu tampak begitu tenang. Dari ketinggian tiga puluh ribu kaki, Pegunungan Alpen menyembul di balik selimut awan putih seperti barisan gigi hiu raksasa yang tertidur. Namun, di dalam kabin mewah bermaterial kulit domba dan kayu mahoni itu, ketenangan adalah sebuah kemewahan yang telah mati beberapa jam yang lalu.
Brak!
Sebuah gelas kristal berisi wiski berumur tiga puluh tahun menghantam dinding kabin, pecah berkeping-keping dan meninggalkan noda kecokelatan yang merembes seperti darah kering di atas karpet beludru sutra.
"Bagaimana mungkin satu orang bisa menghapus seluruh infrastruktur kita di Zurich dalam waktu kurang dari sepuluh menit?!"
Suara itu menggelegar, serak oleh amarah dan ketakutan yang coba ditekan. Pria yang berteriak itu bernama Arthur Vance, salah satu dari tujuh patron tertinggi yang mengendalikan Aliansi Hitam. Wajahnya yang biasanya licin dan dipenuhi wibawa aristokrat Eropa kini tampak kusut. Setelan jas seharga puluhan ribu dolar miliknya tidak mampu menyembunyikan getaran hebat di kedua tangannya.
Di hadapannya, tiga monitor OLED yang tertanam di dinding kabin berkedip konstan, menampilkan barisan data yang mengerikan. Grafik keuangan mereka di bursa saham Singapura tidak lagi berbentuk garis turun—itu adalah sebuah tebing vertikal yang jatuh bebas menuju angka nol. Vanguard Legal, firma hukum yang selama belasan tahun mereka gunakan untuk memeras dan mencuci uang di Asia Tenggara, telah resmi menjadi abu digital.
Namun, bukan kehilangan miliaran dolar yang membuat jantung Arthur berdegup seperti genderang perang. Melainkan sebuah logo yang kini diam mematung di tengah-tengah layar utamanya.
Sebuah lambang petir berwarna putih keperakan. Sederhana, namun memiliki aura penekanan yang sanggup membuat para peretas terbaik dunia mendadak lupa cara mengetik kode.
Zeus.
"Dia sudah mati..." Arthur berbisik, suaranya mendadak mengempis, digantikan oleh kekosongan yang dingin. Dia mencengkeram tepi meja marmer hingga jemarinya memutih. "Tiga tahun lalu di bawah reruntuhan pusat data di Islandia... kami sendiri yang memastikan jantung jaringan Olympus berhenti berdetak. Kami membakar servernya. Kami memburu murid-muridnya. Siapa... siapa yang sedang bermain-main dengan nama itu sekarang?!"
"Itu bukan tiruan, Tuan Vance," sebuah suara dingin dan monoton menyahut dari sudut kabin yang gelap. Seorang wanita muda dengan kacamata berbingkai perak melangkah maju, memegang sebuah gawai medis yang terhubung dengan sisa-sisa log data dari Zurich. Dialah Athena-6, kepala divisi kontra-intelijen siber Aliansi Hitam.
"Kami telah menganalisis arsitektur serangan yang merubuhkan bunker Zurich," lanjut wanita itu, suaranya datar tanpa emosi, layaknya seorang dokter yang sedang membacakan vonis mati. "Ritme ketukan kibor, penggunaan protokol Tartarus fase ketiga, hingga cara dia memanipulasi satelit cuaca sipil untuk mengunci koordinat kita... itu adalah sidik jari digital yang sama. Tidak ada manusia lain di bumi ini yang memiliki kecepatan pemrosesan taktis seperti itu. Singa dari Olympus itu tidak pernah mati, Tuan. Dia hanya sedang tertidur."
Arthur Vance merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak membeku. Dia berjalan terhuyung menuju jendela jet, menatap hamparan awan di luar dengan pandangan kosong.
Tiga tahun lalu, Aliansi Hitam mengira mereka telah berhasil meruntuhkan langit. Mereka merayakan kematian Zeus dengan pesta pora di atas kapal pesiar mewah di Mediterania, mengira bahwa dunia siber kini sepenuhnya berada di bawah kendali absolut mereka. Mereka lupa satu hukum dasar alam: petir tidak pernah benar-benar lenyap, dia hanya mengumpulkan daya di balik awan hitam sebelum menghantam bumi dengan daya hancur yang berkali-kali lipat lebih dahsyat.
"Dan ada satu hal lagi," suara wanita berkacamata itu kembali memecah kesunyian kabin, kali ini dengan nada yang sedikit bergetar.
"Apa?!" Arthur menoleh dengan mata melotot.
"Uang kita... seratus dua puluh juta euro yang berada di dompet kripto bayangan Jenewa... tidak dicuri."
Arthur mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu tidak dicuri? Bukankah Poseidon dan Hades telah mengunci akun kita?"
"Mereka tidak mengambilnya untuk diri mereka sendiri," wanita itu menyerahkan gawai medisnya ke tangan Arthur. Di layarnya, jutaan transaksi mikro terjadi dengan kecepatan gila, mengalirkan dana Aliansi Hitam ke ribuan rekening berbeda di seluruh penjuru dunia. "Mereka mendonasikan seluruh uang itu. Detik ini, nama Aliansi Hitam tercatat sebagai donatur terbesar di Unicef, Palang Merah Internasional, dan ratusan yayasan panti asuhan di Afrika. Mereka... mereka sedang menelanjangi kita di depan publik dengan cara yang paling puitis."
Arthur Vance melempar gawai itu ke lantai kabin. Napasnya memburu. Perbuatan Zeus kali ini bukan sekadar serangan finansial—ini adalah sebuah penghinaan massal. Sebuah pesan yang jelas bahwa di mata Olympus, Aliansi Hitam tak lebih dari sekelompok pencuri amatir yang uangnya bisa dibagikan kepada anak-anak kelaparan hanya dengan beberapa ketukan jemari.
"Hubungi seluruh patron!" teriak Arthur, suaranya melengking panik. "Aktifkan Protokol Ragnarok! Kerahkan semua peretas bayaran dari Rusia, seluruh faksi Dark Web di Eropa Timur, berikan mereka anggaran tanpa batas! Aku ingin kepala Zeus berada di atas mejaku sebelum minggu ini berakhir!"
"Dan di mana kita harus mencari dia, Tuan?" tanya wanita itu pelan. "Dia bisa berada di mana saja. Di sebuah penthouse di New York, di dalam ruang server bawah tanah di Tokyo, atau di sebuah pulau pribadi di Pasifik."
Arthur terdiam. Matanya kembali menatap logo petir putih yang masih berkedip pelan di layarnya. Di bawah logo itu, sebaris teks pendek tiba-tiba muncul, ditulis dengan warna hitam legam yang pekat:
“Kau mencari aku di langit, sementara aku sedang berjalan di atas tanah yang kau pijak.”
Sementara itu, ribuan kilometer dari langit Jenewa yang dingin, aroma oli terbakar dan debu besi kembali menyapa indra penciuman Kenji.
Suara bising dari knalpot angkutan kota yang batuk-batuk di jalanan pinggiran Jakarta terdengar seperti musik latar yang akrab. Bengkel loak itu masih sama seperti beberapa jam yang lalu—berantakan, sumpek, dan dipenuhi oleh tumpukan ban bekas yang berbau karet menyengat. Tak ada yang tahu bahwa montir berwajah kuyu yang kini sedang duduk di atas kursi plastik patah itu baru saja mengguncang fondasi finansial Eropa dari lantai 88 Menara Narendra.
Kenji menatap sebuah obeng berkarat di tangannya. Perlahan, dia memutar obeng itu di antara jemarinya dengan gerakan yang sangat anggun, gerakan yang sama yang dia gunakan saat menari di atas kibor titaniumnya.
"Kau pulang cepat hari ini, Ken," sebuah suara serak menyela lamunannya.
Pak Jaka, pemilik bengkel paruh baya dengan kaos oblong yang dipenuhi noda pelumas hitam, berjalan keluar dari kolong sebuah mobil tua sambil menyeka keringatnya dengan handuk kumal. "Gadis dari keluarga Narendra itu... bagaimana kondisinya? Tadi sore bapak lihat di televisi, gedung menara mereka sempat dijaga ketat oleh militer. Bapak sempat khawatir kau ikut terjebak di sana."
Kenji menurunkan obengnya, sebaris senyuman tipis yang sangat samar muncul di sudut bibirnya. "Dia sudah aman, Pak Jaka. Hanya kelelahan biasa."
"Baguslah kalau begitu," Pak Jaka menghela napas lega, lalu melemparkan sebotol air mineral dingin ke arah Kenji. "Dunia orang kaya itu membingungkan, Ken. Terlalu banyak musuh, terlalu banyak intrik. Lebih enak jadi orang seperti kita. Paling tidak, musuh terbesar kita hari ini cuma karburator mobil tua ini yang mampet."
Kenji menerima botol air itu, namun tidak meminumnya. Dia menatap pantulan wajahnya di permukaan botol yang berembun. Di dalam benaknya, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Aliansi Hitam telah melihat taringnya, dan mereka pasti akan mengerahkan seluruh sisa kekuatan mereka untuk mencari tahu di mana singgasana Zeus berada.
Bzzzt.
Ponsel usang berspesifikasi rendah di dalam saku celana jins Kenji bergetar pendek. Itu bukan panggilan dari Olympus, melainkan sebuah pesan teks biasa dari nomor yang tidak dikenali.
Kenji membuka pesan tersebut. Hanya ada satu kalimat pendek, namun kalimat itu berhasil membuat gerakan jemari Kenji yang sedang memutar obeng mendadak berhenti total di udara.
“Aku tahu apa yang kau lakukan di Zurich, Kenji Narendra. Dan aku tahu kau sedang bersembunyi di balik bau oli bengkel tua itu. Sampai jumpa besok pagi.”
Kenji menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Udara di dalam bengkel loak yang panas itu mendadak berdesir, membawa hawa sedingin liang lahat yang sangat dia kenali. Seseorang telah berhasil melewati seluruh dinding pertahanan tiruan miliknya. Seseorang tidak hanya tahu namanya, tetapi tahu persis di mana koordinat bumi tempat sang dewa langit sedang menapakkan kakinya.
Retakan pertama di singgasana kaca Olympus telah muncul, dan kali ini, musuh tidak lagi mengetuk pintu dari balik layar komputer—mereka sudah berdiri tepat di depan gerbang bengkel.