NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Anak Genius
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: DafToon

Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎

Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.

Dulu dipuji, kini dihina.

Dulu didekati, kini dijauhi.

Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Dari pembedaharaan Kota

Upacara pengumuman pemenang tidak berlangsung lama.

Hua Menglong selaku Penguasa Kota Beira mengumumkan total kristal yang berhasil dikumpulkan masing-masing perwakilan keluarga dengan nada yang datar dan profesional seperti seseorang yang sudah melakukan hal yang sama berkali-kali selama hidupnya dan tidak mudah diguncang oleh apa pun.

Namun, bahkan ia tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan fakta bahwa angka yang diumumkan untuk perwakilan Keluarga Xiao adalah angka yang belum pernah muncul dalam catatan pertarungan Tebing Tujuh Roh sejak pertarungan itu pertama kali diadakan ratusan tahun lalu.

Tiga kali lipat dari peringkat kedua.

Lebih dari empat kali lipat dari rata-rata.

Di antara kerumunan yang semakin riuh, Xiao Ba berdiri dengan tenang di samping Xiao Sun, membiarkan keramaian itu berlalu di sekitarnya seperti sungai yang mengalir di kiri-kanan batu yang berdiri kokoh di tengahnya.

Di sisi lain kerumunan, Xiao Tian dan Xiao Xiyun berdiri dengan ekspresi yang sudah tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. Xiao Tian khususnya tampak seperti seseorang yang sedang mencoba menyusun ulang seluruh perhitungan yang sudah ia buat selama berbulan-bulan, mendapati bahwa semua asumsi yang menjadi fondasi perhitungan itu sudah tidak berlaku lagi.

Prosesi pengumuman selesai.

Hua Menglong berpaling ke arah Xiao Ba dengan ekspresi yang sedikit berbeda dari ekspresi resminya tadi.

"Tuan Muda Xiao Ba," katanya, "sesuai dengan aturan yang berlaku, sebagai pemenang kamu berhak memilih satu hadiah dari perbendaharaan kota. Kamu bisa datang besok pagi ke kediaman resmi penguasa kota untuk melakukan pemilihan."

Xiao Ba memberi anggukan hormat yang singkat. "Terima kasih, Penguasa Kota."

Rombongan mulai berpencar, masing-masing keluarga membawa anggota mudanya kembali ke kediaman mereka. Penonton perlahan bubar, sebagian masih berbisik-bisik satu sama lain tentang apa yang baru saja mereka saksikan.

Xiao Sun berjalan berdampingan dengan Xiao Ba menuju kediaman Keluarga Xiao di atas Bukit Karang, dengan Lu Ming yang setia berjalan beberapa langkah di belakang mereka.

"Ada yang ingin kakek ceritakan," ucap Xiao Sun ketika mereka sudah cukup jauh dari keramaian, suaranya lebih rendah dari biasanya.

"Aku tahu, Kakek," jawab Xiao Ba.

Xiao Sun melirik cucunya. "Kamu sudah tahu?"

"Fragmen-fragmen informasi yang aku kumpulkan dari berbagai sumber selama sebulan di dalam kawasan." Xiao Ba menatap ke depan sambil terus berjalan. "Kerajaan Ying sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar membiarkan situasi berkembang sendiri."

Xiao Sun tidak terkejut. Ia hanya mengangguk pelan.

"Berapa lama waktu yang kita punya sebelum mereka bergerak?"

"Itu yang belum aku ketahui dengan pasti," jawab Xiao Sun. "Namun, dari yang bisa kuanalisis, tidak lama."

Mereka berjalan dalam keheningan selama beberapa langkah, hanya diiringi oleh suara langkah kaki di atas batu dan suara angin laut dari kejauhan.

"Kakek," kata Xiao Ba akhirnya.

"Ya?"

"Setelah ini selesai, aku harus pergi."

Kalimat yang singkat. Namun, Xiao Sun sudah cukup tua dan sudah cukup banyak melihat dunia untuk memahami bahwa dalam kalimat sesingkat itu tersimpan keputusan yang sudah dipikirkan dengan sangat matang.

"Ke mana?"

"Belum tahu pastinya. Tapi jauh dari sini."

Xiao Sun berhenti berjalan.

Xiao Ba ikut berhenti, berbalik menghadap sang kakek.

Wajah tua yang penuh keriput itu menatap cucunya dengan tatapan yang mengandung berbagai hal sekaligus: kekhawatiran, kebanggaan, kerinduan yang sudah dirasakan bahkan sebelum kepergian itu terjadi.

"Kapan?" tanya Xiao Sun akhirnya.

"Setelah semua urusan di sini selesai. Tidak terlalu lama dari sekarang."

Xiao Sun menatap cucunya beberapa saat lagi, lalu berbalik dan melanjutkan berjalan.

"Kakek mengerti," ucapnya, suaranya lebih pelan dari sebelumnya. "Ini kota kecil, Shan'er. Selalu terlalu kecil untuk kamu."

Keduanya melanjutkan perjalanan dalam keheningan yang berbeda dari keheningan sebelumnya. Bukan keheningan yang kosong, melainkan keheningan yang penuh, yang menyimpan semua yang tidak perlu diucapkan karena sudah dipahami oleh keduanya tanpa kata-kata.

Pagi berikutnya, Xiao Ba menuju kediaman resmi Penguasa Kota Beira.

Kediaman itu berdiri di bagian tertinggi kota selain Bukit Karang tempat kediaman keluarga-keluarga besar berada, dibangun dari batu karang lokal dengan arsitektur yang mencerminkan karakter kota pesisir yang sudah berumur ratusan tahun. Di bagian belakang bangunan utama, di sebuah ruangan yang pintunya menggunakan kunci ganda dengan segel spiritual yang kualitasnya jauh melampaui apa pun yang ada di kediaman keluarga mana pun di kota ini, tersimpan perbendaharaan kota.

Hua Menglong sendiri yang membuka pintu ruangan itu dan mengizinkan Xiao Ba masuk.

"Kamu punya waktu satu jam untuk memilih," kata Penguasa Kota itu. "Satu item. Tidak lebih."

Xiao Ba mengangguk dan melangkah masuk.

Ruangan itu lebih besar dari yang terlihat dari luar, ilusi yang diciptakan oleh segel-segel spasial yang dipahat ke dalam dindingnya. Di dalamnya, berbagai benda tersimpan di atas rak-rak yang tersusun rapi, masing-masing dilindungi oleh lapisan pelindung transparan yang mencegah sentuhan langsung sebelum proses pemilihan dikonfirmasi.

Xiao Ba berjalan perlahan di antara rak-rak itu, matanya menyapu setiap item dengan cara yang tidak terburu-buru.

Teknik kultivasi dari berbagai kelas dan berbagai elemen. Pil-pil spiritual dari tingkat rendah hingga tinggi. Senjata-senjata spiritual dengan berbagai tingkatan dan spesialisasi. Beberapa item yang fungsinya tidak langsung bisa ia identifikasi, namun dari cara energinya memancar terlihat bahwa itu bukan item sembarangan.

Ia tidak terburu-buru.

Membiarkan indra spiritualnya menyentuh setiap item dengan lembut, membaca energi yang terkandung di dalamnya, mencocokkan dengan apa yang ia butuhkan.

Bukan apa yang akan paling mengesankan.

Bukan apa yang paling mahal atau paling terkenal.

Melainkan apa yang paling berguna untuk perjalanan yang sudah ia rencanakan.

Ia melewati rak berisi teknik kultivasi karena dengan warisan Kaisar Langit di lautan kesadarannya, tidak ada teknik di ruangan ini yang bisa memberikan sesuatu yang belum ia miliki.

Ia melewati rak berisi pil-pil spiritual karena kebutuhan pil untuk dirinya saat ini sudah bisa dipenuhi dari berbagai sumber lain.

Ia berhenti di depan rak berisi senjata spiritual.

Tangannya bergerak mendekati salah satu rak, berhenti di depan sebuah benda yang tersimpan di dalam kotak pelindung kristal yang terlihat lebih tua dari semua kotak pelindung lain di rak itu.

Sebuah pedang.

Ukurannya tidak besar, lebih kecil dari yang biasanya ia bayangkan ketika memikirkan senjata spiritual. Sarungnya terbuat dari bahan yang tidak bisa ia identifikasi secara visual, berwarna biru gelap dengan pola-pola yang menyerupai gelombang laut yang terakumulasi di permukaannya seperti ukiran yang tumbuh sendiri, bukan dibuat oleh tangan manusia.

Namun, yang membuat Xiao Ba berhenti di depannya bukan penampilannya.

Melainkan energi yang memancar dari dalam sarung itu.

Sebuah energi yang terasa sangat familiar.

Bukan karena ia pernah merasakannya sebelumnya secara langsung.

Melainkan karena ia pernah membacanya dari salah satu bintang di lautan kesadarannya.

Dari ingatan sang Kaisar Langit.

Xiao Ba menatap pedang itu cukup lama, membiarkan indra spiritualnya membaca energi yang tersimpan di dalamnya dengan lebih saksama.

Apa yang ia temukan membuat napasnya tertahan sesaat.

Pedang ini bukan senjata biasa. Bukan senjata spiritual kelas hitam atau kelas emas seperti yang ada di sebagian besar koleksi di ruangan ini.

Ini adalah senjata yang tidak seharusnya ada di kota kecil seperti Kota Beira.

Tidak seharusnya ada di seluruh Kerajaan Ying.

Tidak seharusnya ada bahkan di Benua Yancun.

Namun, ia ada di sini, tersimpan di dalam kotak kristal di rak perbendaharaan kota yang mungkin bahkan Hua Menglong sendiri tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang ia simpan.

Xiao Ba menarik napas panjang.

Ia berbalik, berjalan keluar dari ruangan perbendaharaan, menemukan Hua Menglong yang berdiri menunggu di luar dengan ekspresi yang tidak menunjukkan apa pun selain kesabaran seorang Penguasa Kota yang sudah terbiasa menunggu.

"Sudah memilih?" tanya Hua Menglong.

"Sudah," jawab Xiao Ba. "Pedang di kotak kristal biru gelap di rak senjata. Baris ketiga dari atas, posisi paling kiri."

Hua Menglong mengerutkan kening tipis. "Kamu yakin? Ada item-item yang nilainya jauh lebih tinggi secara konvensional dari item itu."

"Yakin."

Hua Menglong menatap Xiao Ba beberapa saat dengan tatapan yang mencoba membaca sesuatu dari wajah pemuda itu, namun tidak menemukan lebih dari ketenangan yang sudah menjadi ciri khas pemuda itu.

Ia masuk ke dalam ruangan, kembali beberapa menit kemudian dengan kotak kristal biru gelap di tangannya.

Ia meletakkan kotak itu di atas meja yang ada di antara mereka, membuka segel pelindungnya dengan kunci spiritual yang hanya ia miliki, lalu mendorong kotak itu ke arah Xiao Ba.

"Ini milikmu sekarang."

Xiao Ba membuka kotak itu.

Pedang itu berbaring di dalam lapisan bahan pelindung yang lembut, terlihat lebih tenang dari yang ia bayangkan, seolah sudah menunggu dengan sabar dan sekarang sedang beristirahat karena penantian panjangnya akhirnya berakhir.

Ia menyentuhnya untuk pertama kali.

Dan begitu jari-jarinya menyentuh sarung pedang itu, sesuatu bergetar di dalam dirinya dengan cara yang tidak bisa ia deskripsikan dengan kata-kata apa pun yang ia ketahui.

Seperti dua hal yang sudah lama terpisah akhirnya bertemu kembali.

Seperti sesuatu yang sudah lama tidur akhirnya terbangun.

Di lautan kesadarannya, bintang-bintang yang biasanya berkilauan dengan intensitas yang sudah menjadi latar yang familiar baginya tiba-tiba bersinar dengan cara yang berbeda, seolah seluruh lautan kesadaran itu bereaksi terhadap sentuhan yang baru saja terjadi.

Xiao Ba mengangkat pedang itu dari kotaknya.

Memegangnya dengan kedua tangan.

Menutup matanya selama beberapa detik.

Dan dalam keheningan ruangan penerimaan hadiah di kediaman Penguasa Kota Beira, dengan Hua Menglong yang berdiri di depannya dengan ekspresi yang kini sedikit berbeda dari biasanya, dengan suara laut yang terdengar samar-samar dari kejauhan melalui jendela yang sedikit terbuka, sesuatu yang sudah lama menunggu di dalam bintang-bintang lautan kesadarannya akhirnya bisa disebut dengan nama lengkapnya.

Teknik Pedang Pembelah Langit.

Bukan lagi teknik yang menunggu untuk dipraktikkan karena kekurangan senjata yang tepat.

Melainkan teknik yang kini memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi nyata.

Xiao Ba membuka matanya.

Memasukkan pedang itu ke dalam tali pinggang jubahnya.

"Terima kasih, Penguasa Kota," ucapnya dengan penghormatan yang singkat namun tulus.

Ia berbalik dan melangkah keluar dari kediaman itu.

Di luar, Kota Beira sudah kembali ke ritme hariannya: pasar yang ramai, nelayan yang kembali dari laut, anak-anak yang berlarian di jalanan batu yang sudah terlalu akrab bagi mereka untuk disadari keindahannya.

Xiao Ba berjalan melalui kota ini menuju ke tempat kediaman keluarga Xiao.

 

1
sibaweh abduh
nice thor
Dafa Faiha Roshiq: Terima kasih bossku
total 1 replies
Jerry K-el
bagus ceritanya mengalir,tdk bertele-tele.
pertahankan👌
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Dafa Faiha Roshiq: done yahhh
total 1 replies
Dafa Faiha Roshiq
teman aku butuh penilaian mu
Dafa Faiha Roshiq
Gimana masih ada yang kurang tidak bro
Dafa Faiha Roshiq
gesss harap dibaca dengan hikmat dan kalo ada kesalahan tulis tolong kasih tau ya🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!