transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.
#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
diagnosa yang mengguncangkan
Kurang lebih 10 menit kemudian, pelan-pelan Vivian buka matanya.
Kelopak matanya seret. Berat. Kayak abis nangis semaleman, terus dilem. Cahaya putih dari lampu plafon rumah sakit langsung nyerbu retina. Silau banget. Perih sampe ke otak.
Dia ngerjapin mata beberapa kali. Coba fokus. Yang keliatan pertama cuma langit-langit putih, mulus, dingin. Terus bunyi bip... bip... bip... teratur, datar, bikin merinding. Barengan sama itu, bau alkohol sama karbol nyengat masuk hidung. Khas. Bau rumah sakit.
"Ini... di mana?" Kata pertamanya. Suaranya lemah, serak, parau. Kayak suara orang abis teriak 3 hari nonstop. Tenggorokannya kering, gatal. Kepalanya muter, mualnya naik lagi dari lambung.
Bu Ratna yang dari tadi duduk di sisi ranjang langsung sigap. Dia nyerbu, duduk lebih deket, ngusap punggung tangan Vivian yang dingin. Tangan Vivian masih nancep selang infus, ada plester putihnya. Telapak tangannya Bu Ratna hangat. Lembut. Tapi Vivian ngerasain gemeter dikit.
"Ini di rumah sakit, Nak," ucapnya. Suaranya lembut, keibuan, tapi kecemasannya gak ketutupan. "Sstt... istirahat dulu, jangan dipaksain. Kamu pingsan di halte tadi. Untung ada Silvi. Dokter bilang kamu kecapean sama... kurang gizi. Darah rendah."
Mendengar kata "rumah sakit", tubuh Vivian yang tadinya lemas langsung kaku. Refleks. Kayak kesetrum 500 watt.
Deg.
Jantungnya jedag-jedug kenceng. Bukan karena sakit. Bukan karena anemia. Karena panik. Panik level dewa.
Rumah sakit. Sial. Sial. Sial. Dari semua tempat di Jakarta, kenapa harus di sini? Ini adegan yang paling dia hindarin di seluruh novel. Di buku, Vivian asli ketahuan hamil juga di rumah sakit. Dan itu awal kehancuran total.
Soalnya di timeline ini, Eric masih di-cap mandul. Sama siapa? Sama dia sendiri. Vivian asli yang nyebarin rumor itu. Tiap berantem dia teriak, "Kamu tuh mandul! Gak bakal bisa kasih aku anak!". Satu kantor Wijaya Group denger. Satu arisan sosialita denger.
Jadi kalau sekarang dokter bilang hamil, semua orang pasti langsung mikir: anaknya Doni. Si benalu. Si jamet yang tadi siang dia hajar di Le Blanche. Reputasinya yang baru dia bersihin pake drama 4 bumil bakal ancur lagi. Rencana nyelametin keluarga Wijaya dari bangkrut, dari pembunuhan, bakal bubar. Silvi juga bisa mati kayak di novel kalau dia gagal.
Vivian bangun. Maksa. Langsung ambil posisi duduk. Gerakannya cepet, spontan, gak mikir. Selang infusnya ketarik.
"Aduh." Dia meringis. Perih di punggung tangan.
"Vivian! Jangan gerak dulu!" Bu Ratna panik, buru-buru nahan bahunya pake dua tangan. "Pelan-pelan, Nak. Kamu masih lemes."
3 saudara yang duduk di kursi sofa rumah sakit juga ikut bangun serempak. Kayak pasukan yang denger peluit. Kompak.
Cika yang paling cepet respon. Matanya langsung awas. Dia langsung paham situasi gawat. Tanpa nunggu komando dari siapa-siapa, dia muter balik, lari keluar ruangan. Sandalnya ketuk-ketuk di lantai.
"Dokteeer! Kak Vivian udah sadar!" teriaknya dari lorong.
Sementara Eric dan Chindy cuman berdiri. Diam. Dua-duanya posisinya sama persis: tangan dilipat di dada, bahu tegak, dagu terangkat dikit. Tatapan mereka nusuk ke Vivian. Dingin. Menyelidik. Nge-judge.
Kayak interogator di film-film. Kayak nunggu tersangka ngaku dosa di ruang pengakuan. Seolah menunggu apa yang bakal Vivian lakukan selanjutnya.
Apa dia bakal nangis? Minta maaf? Ngeluarin jurus playing victim? Atau malah ngamuk minta cerai lagi kayak biasanya?
Vivian bisa ngerasain tatapan mereka. Berat. Nyelekit. Terutama Eric. Matanya Eric itu... kosong. Datar. Kayak danau mati. Gak kebaca sama sekali. Bikin Vivian makin mual, makin pengen muntah, makin pengen pingsan lagi aja sekalian.
Otaknya muter kenceng. _Gimana cara jelasin ke semua orang kalau aku hamil? Kalau aku bilang anak Eric, mereka pasti nanya: "Kapan? Lo kan tiap hari berantem sampe piring terbang. Lo tidur aja kamar sendiri-sendiri." Terus gue jawab apa? "Tanggal ganjil "? Yaelah, Chindy bisa langsung panggil RSJ dari Mangga Dua.
_Apalagi Eric... dia diem aja dari tadi. Jangan-jangan dia juga mikir ini anak Doni? Jangan-jangan dia muak, jijik, mau nuntut cerai sekarang juga?_ pikiran-nya bersntskan.
Keringet dingin mulai netes di pelipisnya, turun ke rahang. Napasnya sesak. Dadanya naik turun cepet. Panic attack. Jantungnya mau copot.
Melihat Vivian pucet, napasnya ngos-ngosan kayak orang abis lari marathon, Bu Ratna refleks ambil kepala Vivian ke bahunya. Dirangkul. Erat. Diteken pelan. Kayak ibu ke anaknya yang ketakutan abis mimpi buruk.
Di pikirannya Bu Ratna, Vivian pasti takut rumah sakit. Wajar. Trauma. Gadis ini punya trauma besar yang gak semua orang kuat nanggung. Ayah, ibu, dan dua adiknya tewas dibantai di rumah sendiri, mayatnya ditaro di kamar jenazah. Vivian yang waktu itu masih 19 tahun harus identifikasi satu-satu. Sendirian.
Ditambah Pak Wijaya, suaminya Bu Ratna, juga meninggal tepat di depan matanya. Dua tahun lalu. Di rumah sakit ini juga. Mungkin di ranjang yang sama. Pak Wijaya megang tangan Vivian, nitipin Eric, terus... pergi.
"Ada Ibu, Vivian," ucapnya sambil mengelus kepala Vivian lembut. Gerakannya pelan, berirama, nenangin. Suaranya bergetar, nahan tangis. "Jangan takut, Nak. Ibu di sini. Gak akan ada yang sakitin kamu lagi. Gak akan ada yang ambil kamu dari Ibu lagi."
Nada Bu Ratna tulus. Bener-bener tulus dari dasar hati. Gak ada kebencian. Gak ada dendam. Gak ada kepura-puraan. Padahal Vivian asli udah nyakitin dia berkali-kali. Ngatain dia kampungan, ngusir dia dari rumah, ngelempar piring keramik sampe pecah kena tembok.
Vivian yang dipeluk jadi diem. Kaku. Badannya yang tadi tegang jadi lemas lagi. Tapi kali ini bukan karena sakit. Karena kaget. Air matanya mau netes, ngegantung di ujung mata. Bukan karena akting. Karena beneran kaget.
Di novel, Bu Ratna benci banget sama Vivian. Ketemu aja udah saling sindir. Tapi di sini... kok beda? Apa karena ayam lada hitam tadi pagi? Apa karena dia udah mulai ngubah alur? Apa doa Pak Wijaya didenger?
"Bu," suara Chindy nyolot, ngebelah keheningan. Nadanya tinggi, sinis, nusuk. "Ibu luluh begitu saja? Cuman gara-gara salad sama ayam lada hitam tadi pagi? Gampang banget hati Ibu dibeli?"
Chindy melangkah maju satu langkah. Suara heels-nya nyaring di lantai vinyl. Tangannya masih dilipat. Mukanya jutek, alisnya nyatu. "Vivian ini perempuan jahat, Bu. Tukang selingkuh. Tukang bohong. Tukang bikin malu keluarga Wijaya di depan rekan bisnis, di depan media. Gak pantes Ibu maafin. Gak pantes Ibu peluk. Dia itu ular, Bu. Ular berbisa. Nanti Ibu dipatok lagi."
"Diam, Chindy!" Bu Ratna nengok. Cepet. Matanya yang tadi sayu, sekarang tajam. Tapi bukan ke Vivian. Ke anak kandungnya sendiri. Suaranya tegas, berat, gak bisa dibantah. "Mau jahat mau baik, dia anak Ibu. Dia istri kakakmu. Darahnya mungkin bukan Wijaya, tapi dia udah masuk ke keluarga ini. Di buku nikah, di kartu keluarga, namanya ada."
Kalimatnya persis seperti yang Pak Wijaya ucapkan, dua tahun lalu, di ruang ICU. Persis. Kata per kata.
_Anggap Vivian anak. Jaga dia, Ratna. Dia gak punya siapa-siapa lagi. Kita yang jadi keluarganya._
Chindy kaget dibentak. Dia mendengus, buang muka ke jendela. Jengkel. "Terserah Ibu aja. Tapi nanti kalau Ibu nangis lagi karena ditusuk dari belakang sama 'anak' Ibu itu, jangan nyalahin aku yang gak ngingetin."
Eric masih diem. Dari tadi. Dari Vivian buka mata sampe sekarang. Dia gak ngomong. Gak gerak. Cuma natap. Natap Vivian yang dipeluk mamanya. Natap tangan mamanya yang ngelus kepala Vivian. Natap punggung Vivian yang gemeter dikit.
Pemandangan yang gak pernah dia liat selama 2 tahun nikah. Di rumah, Vivian sama mamanya kayak anjing sama kucing. Ketemu pasti ribut.
Eric rahangnya keras. Kepalannya di samping badan, ngepal, tapi lemes lagi. Pikirannya campur aduk. Video Doni tadi siang masih muter di otaknya. Vivian ngehajar Doni. Vivian teriak "Aku mau putus!". Vivian keliatan benci banget.
Terus... kalau benci, kenapa pingsan? Karena capek abis ngamuk? Atau karena...?
Dia gak mau berharap. Dua tahun dihina "mandul". Dua tahun ditolak. Dua tahun dibilang "kulkas dua pintu". Harga dirinya udah ancur. Dia gak mau dipasangin harapan palsu lagi.
Gak lama, pintu kebuka. Dokter masuk, jas putih, bawa map rekam medis. Di belakangnya Cika ngekor, mukanya tegang, napasnya ngos-ngosan. Dia udah balik.
"Selamat sore," sapa dokter, pria paruh baya dengan kacamata bingkai hitam. "Saya Dokter Hendra."
Bu Ratna langsung mundur, ngasih jalan buat dokter yang mau periksa. Dia lepasin pelukannya dari Vivian, tapi tangannya masih megang tangan Vivian. Ngasih kekuatan. Diremas pelan. _Tenang, Nak._
Dokter Hendra duduk di kursi samping ranjang. Senyum profesional, nenangin. "Gimana, Nyonya Vivian? Udah enakan? Pusingnya masih? Mualnya?"
Vivian angguk lemah. Tenggorokannya tercekat. "Udah... mendingan, Dok."
"Bagus. Boleh saya periksa sebentar?" Dokter ngeluarin stetoskop dari lehernya. Ujungnya metal, dingin. Dia nempelin ke dada Vivian, ke punggung. Dengerin. Diem. Konsentrasi. Terus pindah-pindah titik.
Ruangan hening. Total. Cuma ada suara bip monitor sama napas orang-orang yang nahan. Semua mata ngawasin. Chindy nyender ke dinding, sinis, tapi tegang. Cika gigit kuku jempolnya, matanya bolak-balik ke Eric. Eric... Eric tetap datar, kayak patung, tapi kalau diperhatiin, urat di lehernya nongol. Jelas dia tegang. Tegang banget.
Dokter ngetuk-ngetuk dada Vivian. Ngecek refleks lutut. Ngecek tekanan darah. Ngecek mata. Setiap desir darahnya dipertimbangkan, setiap detak jantungnya dianalisa, supaya diagnosanya pas. Wajahnya serius, alisnya berkerut dikit.
Vivian merem. Dalam hati dia doa, rapet-rapet. _Jangan. Jangan bilang hamil. Jangan sekarang. Kasih gue waktu buat ngomong ke Eric dulu. Buat mastiin dia inget malam ganjil. Buat nyusun strategi. Bilang aja maag. Asam lambung. Masuk angin. Kecapean. Anemia. Apa aja, asal jangan..._
Dokter selesai periksa. Dia lepas stetoskop, ngalungin lagi ke leher. Terus dia nulis-nulis di map rekam medis. Ceklek ceklek suara pulpennya. Terus dia natap semua orang di ruangan, satu-satu. Terakhir, matanya berhenti di Bu Ratna. Soalnya Bu Ratna yang keliatan paling dituain di sini.
"Nyonya Vivian baik-baik saja," ucap Dokter Hendra, tenang. Nadanya datar, profesional. "Tidak ada penyakit serius yang perlu dikhawatirkan. Cuma kelelahan, stres berat, sama anemianya kambuh. Tekanan darahnya rendah, 90/60. Wajar dia pingsan."
Semua orang nghela napas lega. Serempak. Fuhhh. Bu Ratna ngusap dada, komat-kamit alhamdulillah. Cika senyum tipis.
"Tapi," dokter ngangkat satu jari, ngerem euforia mereka. "Untuk ke depannya, diperhatikan lagi makannya, Bu. Asupan gizinya." Dia natap Bu Ratna, ngomongnya ke mertua. "Mual saat hamil itu wajar, Bu. Hormon hCG-nya lagi tinggi-tingginya. Tapi harus paksa isi perut. Sedikit-sedikit tapi sering. Janinnya butuh nutrisi. Kalau ibunya gak makan, debaynya bisa lemah. Nanti BBJ-nya rendah, kasihan."
DEG.
Waktu berasa berhenti.
Satu ruangan: HENING.
Kayak ada bom atom jatuh di tengah-tengah mereka, terus efeknya slow motion. Suara bip monitor tiba-tiba kerasa kenceng banget. Bip... Bip... Bip... Nusuk gendang telinga.
Semua orang melongo. Matanya mebelalak. Mulutnya mangap dikit. Termasuk Vivian.
Rasanya pusing 7 keliling, 7 turunan, 7 hari 7 malem. Dunia muter kayak komedi puter. Mualnya yang tadi udah mendingan, sekarang naik lagi ke ubun-ubun, ke tenggorokan. Pengen muntah beneran.
Gimana ini? Kehamilannya terbongkar. Di depan semua orang. Di depan musuh-musuh bebuyutannya. Di depan Eric yang... masih dianggep mandul se-Jakarta.
"Hamil, Dok?!" Chindy yang pertama pecah suara. Suaranya melengking, tinggi banget, hampir pecah. Dia ngegas, maju dua langkah sampe hampir nabrak ranjang pasien. Mejanya kegeser dikit. Mukanya merah padam, gak terima. Uratnya keluar. "Yang bener aja! Dari mana?! Sama siapa?!"
Sementara Eric cuman diem mematung, hamil?, anak siapa?.
like, komen ya besti🥰