Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Mansion keluarga Widjaja yang biasanya tenang kini terasa seperti medan perang yang dingin. Begitu SUV hitam berhenti di lobi, Anggara dan Melati sudah berdiri di sana dengan wajah penuh kecemasan. Anggara, dengan setelan kerja yang masih rapi, segera melangkah maju saat Langit membukakan pintu mobil.
"Aurora, sayang... pelan-pelan," Melati mencoba memegang tangan putrinya, namun Aurora hanya memberikan tatapan kosong.
Tanpa menunggu instruksi, Anggara langsung mengulurkan tangan. "Sini, biar Papa yang gendong kamu sampai kamar."
Biasanya, Aurora akan senang bermanja-manja seperti ini, namun kali ini ia membiarkan ayahnya menggendongnya dengan wajah sedatar tembok marmer rumah mereka. Ia tidak melingkarkan lengannya di leher Anggara; ia hanya diam, membiarkan tubuhnya dibawa naik ke lantai dua melewati tangga melingkar yang megah.
Langit berdiri di kaki tangga, menatap punggung majikannya itu dengan rahang yang mengeras. Ia melihat bagaimana Aurora sama sekali tidak menoleh ke arahnya, seolah ia hanya bayangan yang tidak berarti.
Begitu sampai di kamar dan dibaringkan di tempat tidur, Anggara mencoba merapikan selimut Aurora. "Papa minta maaf kalau kemarin bicara terlalu keras, Ra. Papa hanya—"
"Papa keluar," potong Aurora dingin. Matanya menatap langit-langit kamar. "Aku mau sendiri."
"Tapi Aurora, kamu belum minum obat siang, dan Mama sudah siapkan sup—"
"Aku nggak butuh ditemenin. Keluar! Semuanya!" suara Aurora meninggi, ada getaran kemarahan yang tertahan di sana.
Anggara menghela napas panjang, menatap Melati yang hanya bisa memberikan gelengan kecil sebagai isyarat untuk mengalah. "Oke, Papa keluar. Kalau butuh apa-apa, pencet tombol di samping tempat tidurmu, oke? Ada perawat yang standby di bawah kalau kamu butuh bantuan medis."
"Hmm."
Begitu pintu kamar tertutup rapat, Aurora tidak langsung tidur. Ia meraih remote sound system yang terintegrasi di dinding kamarnya. Dengan gerakan penuh emosi, ia memutar playlist Justin Bieber dengan volume maksimal.
Boom! Boom! Boom!
Dentuman lagu "Beauty and a Beat" meledak, menggetarkan kaca-kaca jendela dan merambat hingga ke lantai bawah. Bass-nya begitu kuat sampai vas bunga di ruang tamu terasa ikut bergetar.
Di lantai bawah, Haura yang sedang mencoba mengerjakan tugas kuliahnya langsung menutup telinganya dengan kedua tangan. "GILA KAK AURORA! Gendang telinga aku pecah, Kak! Matiin nggak?!" teriak Haura dari ruang tengah, namun suaranya tentu saja kalah telak oleh sistem suara kelas atas milik kakaknya.
Di pos penjagaan samping lobi, Pak Bambang dan Bintang saling bertukar pandang dengan wajah prihatin. Suara musik itu terdengar samar namun jelas hingga ke area luar.
"Bang... mending lo tenangin Non Aurora deh," bisik Bintang sambil menyikut lengan Langit yang sedang berdiri menatap ke arah balkon lantai dua. "Kasian dia lho. Dari kemarin nggak mau makan, terus sekarang ngamuk begitu. Lo tahu sendiri kan dia begitu gara-gara siapa?"
Langit tetap diam. Matanya tidak berkedip. "Saya tidak punya otoritas untuk masuk ke kamarnya dalam kondisi seperti ini, Bin. Bapak sudah melarang."
"Peraturan itu buat orang biasa, Ngit," sahut Pak Bambang sambil menyesap kopinya. "Tapi buat Non Aurora, kamu itu bukan orang biasa. Kalau dia sampai nekat berdiri atau jatuh lagi gara-gara kakinya masih sakit tapi dia maksa mau matiin musik atau apa, siapa yang tanggung jawab? Sana, anterin sesuatu. Pakai alasan 'keamanan' kek."
Langit terdiam cukup lama. Dentuman musik dari lantai atas seolah memukul-mukul kesadarannya. Ia teringat bagaimana Aurora tadi membiarkan Anggara menggendongnya dengan wajah tanpa nyawa. Itu bukan Aurora yang ia kenal.
"Saya akan coba bicara," ucap Langit akhirnya.
Langit berjalan menaiki tangga dengan langkah tenang namun pasti. Di depan pintu kamar Aurora, ia melihat Haura yang sedang bersandar di dinding sambil merengut.
"Mas Langit! Tolongin dong, Kak Aurora udah nggak waras! Aku udah ketuk-ketuk pintu tapi nggak dibuka, malah volumenya ditambahin," keluh Haura.
"Biar saya yang coba, Non Haura. Sebaiknya Non turun dulu," pinta Langit halus.
Begitu Haura pergi, Langit berdiri di depan pintu kayu jati yang kokoh itu. Ia tidak mengetuk. Ia tahu ketukannya tidak akan terdengar. Ia menarik napas panjang, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia membuka blokir nomor Aurora—sesuatu yang seharusnya ia lakukan sejak tadi malam.
Ia mengirim satu pesan singkat.
Langit: Volume musiknya terlalu keras. Non Haura tidak bisa belajar. Kecilkan, atau saya masuk dengan kunci cadangan.
Tidak ada balasan selama satu menit. Namun, tiba-tiba musik itu mati seketika. Kesunyian yang datang mendadak terasa begitu memekakkan telinga.
Langit mengetuk pintu tiga kali. "Non? Ini Langit."
"PERGI! AKU BILANG AKU MAU SENDIRI!" teriakan Aurora terdengar pecah, disusul suara benda jatuh—sepertinya bantal atau buku.
Langit tidak menyerah. Ia memutar knop pintu. Ternyata tidak dikunci. Ia masuk dengan sangat perlahan dan menutup pintu di belakangnya.
Kamar itu remang-remang karena gordennya ditutup rapat. Aurora duduk di tengah tempat tidur besar, rambutnya berantakan, wajahnya basah oleh air mata. Ia menatap Langit dengan tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan yang amat dalam.
"Ngapain ke sini? Mau lapor ke Papa kalau aku nakal? Atau mau ingetin soal kasta lagi?" tanya Aurora ketus, suaranya parau.
Langit berjalan mendekat, berhenti di jarak yang aman. Ia meletakkan sebuah nampan berisi segelas air putih dan obat pereda nyeri yang tadi ia ambil dari Bi Ijah. "Non harus minum obat. Jangan menyiksa diri sendiri hanya untuk membalas dendam pada Bapak."
"Tahu apa kamu soal perasaan aku?!" Aurora menyambar bantal di sampingnya dan melemparnya ke arah Langit. Langit menangkap bantal itu dengan satu tangan dengan refleks sempurna.
"Saya tahu Non sedang marah. Tapi menghancurkan pendengaran satu rumah tidak akan merubah kenyataan," ucap Langit datar.
Aurora tertawa pahit, air matanya kembali mengalir. "Kenyataan kalau Mas itu pengecut? Kenyataan kalau Mas lebih milih nurut sama Papa daripada jujur sama perasaan sendiri? Mas tahu nggak, pas Papa gendong aku tadi, aku ngerasa kayak lagi digendong sama orang asing. Karena orang yang aku mau buat jagain aku malah sibuk jadi robot!"
Langit meletakkan bantal itu di kursi. Ia menatap Aurora dengan tatapan yang tidak lagi kaku. Ada luka yang sama di mata pria itu. "Non Aurora... ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan keberanian. Saya tidak mau Non kehilangan segalanya hanya karena saya."
"Aku nggak punya segalanya kalau nggak ada Mas!" seru Aurora nekat. Ia mencoba merangkak ke tepi tempat tidur, namun kakinya yang digips tersangkut selimut, membuatnya meringis kesakitan.
Langit dengan cepat melangkah maju, memegang bahu Aurora agar ia tidak jatuh. "Jangan bergerak! Sudah saya bilang jangan nekat!"
Aurora memegang tangan Langit yang ada di bahunya. Tangannya dingin dan gemetar. "Mas... Mas masih blokir aku?"
Langit menatap jemari Aurora, lalu perlahan ia menggeleng. "Sudah saya buka. Tapi tolong... jangan kirim stiker aneh-aneh saat saya sedang bertugas di samping Bapak."
Aurora tersenyum di tengah tangisnya. Ia menarik tangan Langit, memaksa pria itu untuk duduk di pinggir tempat tidur. "Ternyata Mas beneran takut ya sama stiker aku?"
"Saya tidak takut. Saya hanya... terdistraksi," aku Langit pelan.
"Mas," Aurora menatap mata Langit dalam-dalam, "Janji sama aku. Jangan pernah blokir aku lagi. Mau Papa ngomong apa, mau dunia kiamat, jangan hilang. Aku bisa tahan sakit di kaki, tapi aku nggak bisa tahan kalau Mas anggep aku nggak ada."
Langit diam cukup lama. Di kamar yang sunyi itu, ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ia tahu ini berbahaya. Ia tahu Anggara bisa saja memecatnya detik ini juga jika melihat posisi mereka. Namun, melihat kerapuhan di mata Aurora, ia menyerah.
"Saya janji," bisik Langit. "Tapi Non harus janji satu hal juga."
"Apa?"
"Minum obatnya, makan supnya, dan jangan putar lagu Justin Bieber sekeras tadi. Kasihan Non Haura, dia ada ujian besok."
Aurora tertawa kecil, kali ini tawanya terdengar tulus. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Langit sejenak. "Dasar ajudan kaku. Masih aja mikirin ujian Haura."
Langit tidak menjauh. Untuk beberapa saat, ia membiarkan protokol itu hancur berantakan. Ia membiarkan kasta itu terlupakan. Di kamar remang-remang itu, yang ada hanyalah seorang gadis yang terluka dan seorang pria yang akhirnya mengakui bahwa hatinya telah dicuri oleh sang badai bernama Aurora.
***
Yang tadi aku hapus ya wkwk maapin. Soalnya udah balik 🤣♥️😘