NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Yatim Piatu / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 : KEPERCAYAAN BUTUH BUKTI, BUKAN JANJI

Kontrak senilai dua puluh miliar rupiah itu akhirnya resmi ditandatangani pukul 14.03 siang.Tinta hitam di atas kertas putih. Cap PT. Cahaya Utama. Dan satu tanda tangan terakhir dari Nyonya Pratiwi yang diiringi anggukan kecil.

“Sekarang saya percaya, Nona Kirana. Anda bukan hanya nama besar di belakang papan nama direktur,” ucap Nyonya Pratiwi sambil menjabat tangan Kirana. Tatapannya sudah tidak setajam tiga hari lalu. “Saya titip perusahaan saya pada Anda.”

Kirana membalas jabatan tangan itu dengan tegas. “Saya tidak akan mengecewakan Anda, Bu Pratiwi.”

Ruang meeting lantai tujuh yang tiga hari lalu terasa seperti ruang interogasi, kini dipenuhi tepuk tangan kecil dari beberapa staf PT. Harsono Group. Pak Harsono yang duduk di sudut ruangan bahkan sampai berdiri dan menepuk bahu Kirana dengan bangga.

“ Papa bangga sama kamu Kirana.” Ucap Pak Harsono pelan, ada getaran disetiap katanya, ungkapan kalimat yang hanya cukup didengar Kirana.

Kirana hanya mengangguk. Matanya tidak berkaca-kaca seperti kemarin. Kali ini dia sudah belajar mengontrol emosi di tempat yang salah.

Begitu Nyonya Pratiwi dan timnya keluar dari ruang meeting, suasana langsung berubah.

“Selamat ya, Nona Kirana!”

“Hebat banget presentasinya!”

“Divisi marketing kita selamat sekarang!”

Ucapan selamat datang dari berbagai arah. Kirana hanya tersenyum kecil, formal, seperti biasa. Tapi di dalam hatinya ada satu rasa yang baru "Lega".

Dan di tengah keramaian itu, ada satu orang yang tidak ikut bertepuk tangan. Arga.

Dia hanya berdiri di sisi pintu, memegang folder data pendukung yang sebenarnya sudah tidak terpakai lagi. Matanya menatap Kirana dari kejauhan. Tidak tersenyum lebar. Hanya mengangguk kecil dari kejauhan, "Kamu melakukannya sendiri, kamu sudah berjuang keras kirana. Aku bangga sama kamu. " Ucap Arga yg mungkin tak bisa didengar Kirana.

Kirana melihatnya. Dan untuk pertama kali, dia tidak merasa jarak itu dingin. Dia merasa... aman.

Sore itu, Pak Harsono mengadakan perayaan kecil di pantry kantor. Kue potong dan dua dus kopi susu dari kafe langganan. Tidak mewah. Tapi cukup untuk membuat suasana kantor yang biasanya tegang jadi sedikit lebih hangat.

“Ini untuk Kirana. Kepala divisi marketing yang baru saja menyelamatkan nama baik perusahaan kita,” kata Pak Harsono sambil mengangkat gelas plastik berisi kopi.

Semua orang tertawa dan ikut mengangkat gelas.

Kirana berdiri di tengah, sedikit canggung. Dia bukan tipe orang yang suka jadi pusat perhatian. Tapi kali ini dia tidak mundur.

“Terima kasih, Papa. Terima kasih semua. Tapi saya nggak bisa lakukan ini sendirian,” ucap Kirana. Dia melirik ke arah Arga yang berdiri di dekat mesin kopi. “Terima kasih juga untuk Pak Arga. Untuk data, untuk bimbingan, dan untuk... kepercayaan.”

Arga terkejut. Dia tidak menyangka namanya akan disebut. Dia hanya mengangguk pelan. “Itu tugas saya, Nona Kirana.”Tapi nada suaranya kali ini berbeda. Tidak ada jarak formal yang kaku seperti biasanya. Ada sedikit... hangat.

Perayaan selesai pukul enam sore. Karyawan mulai pulang satu per satu. Tapi Kirana dan Arga masih tinggal.

“Kita harus finalisasi berkas kontrak malam ini juga,” kata Kirana sambil membuka laptop di ruang kerjanya yang baru. “Nyonya Pratiwi minta dokumen legalnya dikirim sebelum besok pagi.”

Arga menatap jam di dinding. Sudah pukul 19.42. “Kamu nggak perlu lakukan sendiri, Kirana. Tim legal bisa kerjain.”

Kirana menggeleng. “Saya mau pastikan tidak ada satu angka pun yang salah. Kali ini saya yang bertanggung jawab penuh.”

Arga terdiam. Lalu dia menarik kursi dan duduk di sebelah meja Kirana. Bukan di mejanya sendiri yang jaraknya dua meter seperti dulu. Tapi benar-benar di sebelah.

“Kalau begitu, aku temenin.”

Kirana menoleh. “Kamu nggak harus...”

“Aku mau,” potong Arga singkat. “Kamu sudah buktikan kamu bisa. Sekarang giliran aku buktikan kalau aku bisa jadi rekan kerja yang baik.”

Kirana tidak membantah lagi. Dia hanya mengangguk dan kembali fokus ke layar laptop. Sampai jam menunjukkan pukul 22.15. Kantor sudah sepi. Hanya suara ketikan keyboard dan sesekali hembusan AC yang terdengar.

Kirana menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya perih. Kepalanya pening karena sudah menatap angka selama lima jam nonstop.

“Stop dulu,” suara Arga tiba-tiba terdengar. “Kamu sudah lima jam nggak istirahat.”

Kirana menggeleng. “Sebentar lagi selesai, Pak Arga.”

"ARGA" koreksi Arga pelan.

Kirana berhenti mengetik. Dia menoleh. “Hah?”

“Panggil aku Arga saja,” ulang Arga. “Gak ada orang lain di kantor ini, semua sudah pulang. Jadi Nggak perlu formal terus.”

Kirana mengerjap. Di luar kantor, semua orang masih memanggil Arga dengan sebutan ‘Pak Arga’. Bahkan Pak Harsono pun begitu. Tapi sekarang, di ruangan sepi ini, Arga meminta Kirana memanggil namanya tanpa gelar.

Kirana tersenyum kecil. Pertama kali. “Oke... Arga.”Nama itu terasa aneh di lidah Kirana. Tapi anehnya, tidak salah.

Arga juga tersenyum tipis. Hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk membuat suasana tegang di ruangan itu mencair.

Tiba-tiba lampu kantor berkedip dua kali.

“Ups. Mati lampu lagi,” gumam Arga sambil berdiri. “Listrik kantor emang sering nggak stabil kalau malam.”

Kirana langsung refleks memegang laptopnya. “Dataku belum tersimpan!”

“Tenang. Aku bawa power bank.” Arga merogoh tasnya dan mengeluarkan power bank 20.000 mAh. Dia colokkan ke laptop Kirana.

Kirana menghela napas lega. “Makasih.”

Arga duduk kembali. Tapi kali ini dia tidak duduk di kursi. Dia duduk di sofa kecil di sudut ruangan Kirana. Sofa yang sebenarnya jarang dipakai.

“Kamu nggak pulang?” tanya Kirana pelan.

Arga menggeleng. “Nanti dulu. Aku tunggu kamu selesai.”

Kirana menatap Arga dalam-dalam. “Kenapa?”

Arga terdiam beberapa detik. Lalu dia menjawab dengan jujur. “Karena aku nggak mau kamu ngerasa sendirian lagi seperti tiga hari lalu.”

Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Kirana, itu lebih berat dari seratus kata motivasi.Dia menunduk. Menyembunyikan pipi yang tiba-tiba terasa panas.

Lima belas menit kemudian, Kirana akhirnya selesai. Dia menutup laptopnya dengan pelan dan menghela napas panjang.

“Selesai.”

Arga langsung berdiri dan mengambil laptop Kirana. “Aku yang simpan ke server. Kamu istirahat.”

Kirana tidak menolak. Dia memang sudah kelelahan. Dia berjalan ke sofa dan duduk. Tanpa sadar, dia bersandar dan memejamkan mata.

Tiga menit kemudian, dia tertidur.

Arga yang baru selesai mengunggah file menoleh. Dia melihat Kirana sudah tertidur di sofa dengan posisi kepala miring. Wajahnya yang biasanya dingin kini terlihat lebih lembut. Tanpa makeup. Tanpa ekspresi defensif.

Arga berjalan pelan ke arahnya. Dia melepas jaket jasnya dan menyelimutkan ke tubuh Kirana.

“Kamu kuat banget, Kirana,” bisik Arga pelan. “Tapi kamu juga boleh istirahat.”

Dia tidak berani membangunkan Kirana. Jadi dia hanya duduk di lantai, bersandar di kaki sofa, menjaga. Satu jam kemudian, Kirana terbangun karena kedinginan. Dia membuka mata dan melihat jaket Arga menutupi tubuhnya. Dan di depannya, Arga sudah tertidur di lantai dengan posisi duduk bersandar. Kirana tersentak. Dia langsung duduk tegak dan menatap Arga.

“Arga... Arga Bangun?” panggilnya pelan.

Arga tidak bangun. Tidurnya lelap. Mungkin karena dia juga sudah tiga malam tidak tidur penuh karena bantu Kirana mempersiapkan data cadangan.

Kirana menatap wajah Arga dalam diam. Untuk pertama kali, dia melihat Arga bukan sebagai Suami Kontrak atau Sopir keluarga yang Ia anggap remeh seperti dulu. Tapi sebagai manusia biasa yang juga lelah. Yang juga peduli.

Kirana meraih selimut kecil yang ada di laci meja dan menyelimutkan ke tubuh Arga.

Saat itulah ponsel Arga bergetar di atas meja.

Kirana awalnya tidak mau melihat. Tapi nama yang muncul di layar membuat dia sedikit terkejut.

"Papa"

Kirana ragu sejenak. Lalu dia mengangkat panggilan itu dengan pelan.“Halo?”

Suara Pak Harsono yang terdengar khawatir menyambut dari seberang.

“Halo? Arga? Kalian dimana..? kalian berdua masih di kantor?”

Kirana langsung duduk tegak. “Pah ini Kirana, Kami baru selesai finalisasi kontrak.”

Ada jeda sebentar di seberang.

“Sudah jam sebelas malam, Kirana. Kenapa nggak pulang? Papa khawatir.”

Kirana melirik Arga yang masih tertidur di sofa dengan jaketnya menutupi tubuh.

“Arga ketiduran, Pa. Kami lembur beresin dokumen legalnya. Sebentar lagi kami pulang kok Pah. Ini Kirana bangunin Mas Arga sekarang.”

"Mas Arga..??" ucap Pak Harsono mengulang apa yg barusan dia dengar dari Anaknya.

Pak Harsono menghela napas panjang lalu tersenyum, senyum yang penuh makna.

Kirana menyadari dengan salah satu kalimat yang dia ucapkan tadi "Mas Arga" . Tiba-tiba pipi Kirana memerah seperti tomat, rasa malu menyerangnya secara mendadak. Ingin sekali dia meralat kalimat nya. Tapi apa daya Papahnya terlanjur mendengar.

“Sudah, biarin dia tidur dulu. Jarang-jarang Arga bisa istirahat di kantor. Sejak dia kerja di sini... dia selalu merasa harus sempurna buat jaga nama perusahaan Papa.”

Kirana mengernyit. Jadi selama ini Arga memikul beban itu sendiri?

“Tapi Pa... Arga butuh istirahat juga.”

Pak Harsono tertawa kecil. “Iya, Papa tahu. Makanya Papa senang kamu ada di samping dia sekarang, Kirana. Papa jadi nggak terlalu khawatir.”

Ada kamu di samping dia.

Kalimat itu membuat dada Kirana berdebar. Padahal mereka hanya suami-istri kontrak.

“Terima kasih ya, Kirana. Sudah jaga Arga,” lanjut Pak Harsono pelan. “Papa titip Arga sama kamu.”

Kirana tidak tahu harus jawab apa. Dia hanya bisa mengangguk meskipun Pak Harsono tidak bisa melihatnya. “Iya, Pa. Saya jaga.”

Panggilan ditutup. Kirana meletakkan ponsel Arga kembali ke meja dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Papa titip Arga sama kamu."

Kalimat itu terus berputar di kepalanya. " Papa sudah gila, yang anak kandungnya aku apa Arga sihh..? "ucap Kirana dengan sedikit nada kesal.

" Yang ada juga aku yang harus Arga jaga Pah.. "

Kirana yg masih saja Menggerutu.

Kemudian Dia menatap Arga lagi. Wajah pria itu terlihat lebih tenang saat tidur. Tanpa ekspresi dingin. Tanpa beban sebagai kepala divisi.

Kirana berdiri dan berniat membangunkan Arga. Tapi sebelum tangannya menyentuh bahu Arga, Arga sudah membuka mata lebih dulu. Mereka berdua saling menatap dalam jarak yang sangat dekat.

“Maaf, aku ketiduran,” ucap Arga pelan sambil mengucek mata.

Kirana mundur satu langkah. “Nggak apa-apa. Papa tadi telepon.”

Arga langsung duduk tegak. “Papa? Kamu angkat?”

“Iya. Maaf.” Kirana menunduk. “Papa bilang... Papa titip kamu sama aku.” sedikit ada nada mengejek.

Arga terdiam. Tampak bingung“Papa ngomong gitu...??" ucap arga seraya garuk-garuk Kepalanya yang tak gatal.

Kirana mengangkat wajah. “sudahlah ayo kita pulang ?”

Arga menghela napas. “hemm ..iya ayo.”

Tapi beberapa detik kemudian dia menambahkan pelan, “Tapi... terima kasih sudah jaga aku.” dengan sedikit senyum nakalnya.

"Cihh.. "Kirana memutar bola matanya malas.

Suasana jadi sedikit canggung. Tapi canggung yang hangat. Bukan canggung yang dingin seperti dulu.

“Terima kasih... untuk jaketnya,” kata Kirana sambil mengembalikan jaket Arga.

Arga menerima jaket itu dan tersenyum kecil. “Sama-sama. Kamu juga... terima kasih sudah selimutin aku.”

Mereka berdua terdiam. Saling menatap. Tidak ada kata-kata lagi. Tapi di mata mereka, ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang disebut kepercayaan. Dan mungkin... sesuatu yang lain yang belum bisa mereka sebutkan karena status suami-istri kontrak itu.

[BERSAMBUNG...]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!