Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Deadline Menikah atau Bencana
Pagi itu, sinar matahari yang masuk melalui jendela besar di ruang makan kediaman Graceva terasa begitu menyilaukan, seolah ingin mengejek suasana hati Aneska yang mendung. Aneska Claryz Graceva, gadis berusia dua puluh lima tahun dengan rambut bergelombang yang biasanya tertata rapi, kini hanya bisa mengaduk-aduk bubur ayamnya dengan lesu.
Denting sendok yang beradu dengan mangkuk porselen menjadi satu-satunya musik latar, sampai akhirnya suara deheman berat menghentikan gerakan tangan Aneska.
"Anes," panggil pria paruh baya yang duduk di kepala meja. Hendra Graceva, sang kepala keluarga, melipat koran ekonominya dan menatap putri tunggalnya dengan tatapan yang tidak bisa dibantah.
Aneska tidak mendongak. "Iya, Pa?"
"Kamu sudah dengar apa yang Papa katakan semalam, kan? Papa tidak sedang bercanda."
Aneska menghela napas panjang, akhirnya meletakkan sendoknya. "Pa, ayolah. Anes baru dua puluh lima. Di kantor, Anes baru saja naik jabatan jadi senior creative. Masa depan Anes lagi cerah-cerahnya. Kenapa tiba-tiba bahas perjodohan kayak di film-film jadul sih?"
Hendra menyesap kopi hitamnya perlahan sebelum menjawab. "Justru karena kariermu bagus, Papa mau hidupmu stabil. Kamu itu terlalu sibuk kerja sampai lupa bersosialisasi. Papa nggak mau kamu jadi perawan tua hanya karena sibuk mengejar deadline."
"Papa! Perawan tua itu istilah abad berapa?" Aneska memprotes, wajahnya mulai memerah. "Anes cuma belum ketemu yang pas aja."
"Makanya, Papa carikan yang pas," sahut Hendra tenang. "Namanya Argani Sebasta. Dia anak rekan bisnis Papa. Umurnya tiga puluh tahun. Matang, mapan, dan yang paling penting, dia laki-laki yang punya integritas. Tidak seperti anak muda zaman sekarang yang cuma tahu main-main."
Aneska memutar bola matanya. "Tiga puluh tahun? Pa, itu namanya Om-om! Bedanya lima tahun itu banyak, lho. Pasti dia kaku, membosankan, seleranya musik klasik, dan kalau bicara isinya cuma soal grafik saham atau investasi properti. Ih, bayanginnya aja udah bikin Anes merinding."
"Aneska, jaga bicaramu," Mama Aneska yang baru datang dari dapur ikut menimpali sambil meletakkan piring berisi buah potong. "Arga itu tampan, lho. Mama sudah lihat fotonya. Gagah banget."
"Ma, semua ibu-ibu kalau lihat cowok pakai jas juga bilangnya ganteng," gerutu Aneska. "Pokoknya Anes nggak mau. Anes mau cari sendiri."
Hendra mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, memberikan tekanan psikologis yang sudah biasa ia gunakan di ruang rapat. "Oke. Papa beri kamu pilihan. Cari calonmu sendiri dalam waktu tiga hari. Bawa dia ke hadapan Papa, tunjukkan kalau dia lebih baik dari Argani."
Aneska tersedak ludahnya sendiri. "Tiga hari?! Pa, cari pacar bukan kayak beli seblak yang lima menit langsung jadi!"
"Kalau dalam tiga hari kamu tidak bisa membawa siapa pun," Hendra berdiri, merapikan jasnya, "maka minggu depan, hari Sabtu, kamu harus ikut makan malam pertunangan dengan Arga. Tidak ada tapi-tapian, Aneska Claryz."
Setelah Papa pergi, Aneska menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Dunianya serasa runtuh.
"Ma, bantuin Anes dong..." rengeknya pada sang Mama.
Mama hanya mengusap bahu Aneska lembut. "Turuti saja Papa, sayang. Lagipula, siapa tahu Arga itu benar-benar jodoh yang selama ini kamu tunggu-tunggu? Sudah, cepat habiskan sarapanmu, nanti telat ke kantor."
Aneska tiba di kantor dengan wajah yang ditekuk seribu. Sepanjang jalan, pikirannya hanya berputar pada satu hal: Di mana aku bisa dapat pacar dalam tiga hari?
Begitu sampai di kubikelnya, ia langsung menyambar ponsel dan menelepon satu-satunya orang yang mungkin bisa membantunya dalam situasi darurat ini.
"Halo, Miska! SOS! Save Our Soul! Nyawa gue di ujung tanduk!" teriak Aneska begitu panggilan tersambung.
"Sialan, Anes! Gue hampir tumpah kopi denger suara lo!" suara Miska Willona terdengar nyaring di seberang sana. "Kenapa lagi? Bos lo minta revisi desain jam dua pagi lagi?"
"Lebih parah dari revisi, Mis! Bokap gue. Beliau kasih ultimatum. Gue harus bawa pacar dalam tiga hari atau gue bakal dikawinin sama om-om berumur tiga puluh tahun pilihan dia!"
Miska tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha! Serius? Wah, gila sih Om Hendra. Tapi bentar, tiga puluh tahun mah bukan om-om, Nes. Itu mah usia matang, usia 'daddy' yang lagi lucu-lucunya."
"Nggak lucu, Miska! Gue serius! Lo kan ratu aplikasi dating, lo kan punya ribuan kenalan cowok. Tolongin gue, cariin satu aja yang bisa gue ajak akting jadi pacar. Speknya nggak usah tinggi-tinggi, yang penting manusia, punya kerjaan tetap, dan nggak malu-maluin kalau dibawa ketemu bokap."
Miska terdiam sejenak, terdengar suara ketikan di latar belakang. "Hmm... bentar. Gue lagi buka aplikasi dating premium gue nih. Ada satu sih yang baru match sama gue kemarin, tapi kayaknya dia bukan tipe gue. Dia terlalu... gimana ya, auranya terlalu serius."
"Serius malah bagus! Biar bokap gue percaya," sahut Aneska antusias.
"Namanya Gani. Di profilnya sih dia bilang cari hubungan serius. Umurnya sekitar tiga puluh juga, kerjaannya... katanya wiraswasta. Fotonya sih lumayan, cool gitu. Mau gue coba set up pertemuan buat lo?"
"Mau banget! Kapan? Di mana?"
"Dia kebetulan lagi ada waktu senggang sore ini jam lima di Blue Coffee. Dia bilang ada janji lain jam enam, jadi lo cuma punya waktu sebentar buat nge-lobi dia. Gimana? Berani nggak?"
Aneska mengepalkan tangannya. "Berani! Demi kebebasan gue, apa pun gue lakuin. Lo kirim alamatnya sekarang, terus bilang ke dia kalau yang nemuin bukan lo, tapi sahabat lo yang lagi 'butuh bantuan mendesak'."
"Oke, Bestie. Gue aturin. Tapi inget ya, jangan langsung lo ajak nikah. Pelan-pelan dulu," goda Miska.
"Ih, ya nggak lah! Cuma pacar bohongan doang kok!"
Aneska menutup telepon dengan semangat baru. Ia segera membuka laci mejanya, mengambil cermin kecil, dan mulai merapikan riasannya. Tunggu gue, Mas Gani. Lo bakal jadi penyelamat hidup gue!
......................
Tanpa Aneska sadari, di sebuah gedung perkantoran mewah di pusat kota, seorang pria sedang menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Pria itu adalah Argani Sebasta. Ia baru saja menerima pesan dari asistennya bahwa ayahnya ingin ia bertemu dengan calon tunangannya sore ini di sebuah kafe.
"Aneska Claryz Graceva..." gumam Arga sambil melihat foto seorang gadis yang sedang tertawa lebar sambil memegang es krim. "Lucu juga. Tapi kenapa kita harus ketemu diam-diam di kafe? Kenapa tidak langsung makan malam resmi saja?"
Arga melirik jam tangannya. "Jam lima di Blue Coffee. Baiklah, mari kita lihat seberapa 'menarik' pilihan Papa kali ini."
Arga menutup laptopnya, tidak menyadari bahwa ada sebuah kesalahpahaman besar yang sedang menantinya di kafe tersebut. Kesalahpahaman yang akan mengubah hidupnya—dan hidup Aneska—selamanya.