Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debu Jalanan dan Negosiasi Preman
Tepat pukul 07.00 WIB, jarum jam di pergelangan tangan Reina baru saja bergeser ke angka dua belas. Ia berdiri di depan gerbang sekolah dengan tas ransel yang rapi, siap untuk mencatat poin demi poin kegagalan Kenzo dalam menepati janji.
Namun, suara deru mesin yang berat memecah keheningan pagi. Sebuah motor sport hitam berhenti tepat di depannya. Pengendaranya membuka kaca helm, memperlihatkan mata cokelat yang tampak sedikit mengantuk namun penuh kemenangan.
"Kurang sepuluh detik dari jam tujuh. Rekormu pecah, Bu Ketua," goda Kenzo.
Reina tertegun sejenak. Ia melihat Kenzo tidak lagi memakai seragam yang berantakan, melainkan jaket denim yang terlihat lebih bersahabat. "Kamu... benar-benar datang tepat waktu?"
"Disiplin, kan? Itu syaratmu," Kenzo menyodorkan sebuah helm cadangan berwarna putih ke arah Reina. "Ayo naik. Vendor tenda ini tipe orang yang benci menunggu. Kalau kita telat, harganya bakal naik sepuluh persen."
Perjalanan menuju pinggiran kota memakan waktu hampir satu jam. Bagi Reina, ini adalah pengalaman pertama ia duduk di belakang motor sport yang melaju membelah kemacetan Jakarta. Awalnya, ia menjaga jarak sejauh mungkin, hanya memegang besi pegangan di belakang jok. Namun, saat Kenzo bermanuver tajam menghindari bus kota, Reina refleks mencengkeram jaket denim Kenzo.
Ia bisa merasakan otot punggung Kenzo yang mengeras sesaat, tapi cowok itu tidak berkomentar. Ia justru sedikit memelankan laju motornya, seolah memberi ruang bagi Reina untuk menenangkan diri.
Gudang Vendor "Bang Jago" - Pukul 08.30 WIB
Tempat itu jauh dari kesan profesional. Sebuah gudang tua yang penuh dengan tumpukan besi tenda karatan dan aroma rokok yang pekat. Beberapa pria berbadan besar dengan tato di lengan tampak sedang bercengkerama di depan pintu.
Reina mencengkeram tali tasnya erat-erat. "Ken, kamu yakin ini tempatnya? Mereka tidak terlihat seperti pengusaha tenda."
"Tenang, Rein. Di lapangan, penampilan itu nomor dua. Koneksi itu nomor satu," bisik Kenzo.
Kenzo melangkah maju dengan santai, menyalami salah satu pria di sana dengan gaya yang sangat akrab—gaya yang tidak pernah Reina lihat di sekolah. Ia tertawa, menepuk bahu mereka, dan dalam sekejap, ketegangan di udara mencair.
"Bang Jago, kenalin. Ini rekan kerjaku, Reina. Dia otak di balik festival kita," Kenzo memperkenalkan Reina.
Reina mengangguk kaku. "Halo... Saya Reina."
Negosiasi dimulai. Reina mencoba mengeluarkan tabel perbandingannya, namun Bang Jago tampak bosan melihat angka-angka di kertas. Melihat situasi itu, Kenzo segera mengambil alih. Ia berbicara tentang sepak bola, tentang harga besi yang naik, dan tentang bagaimana festival ini akan mempromosikan usaha Bang Jago ke ribuan siswa.
"Begini saja, Bang. Kita kasih spot iklan paling depan di gerbang festival. Plus, tim basketku bakal bantu bongkar pasang tendanya, jadi Abang nggak perlu keluar ongkos kuli tambahan. Gimana?" tawar Kenzo.
Bang Jago terdiam sejenak, lalu tertawa keras. "Kamu memang pintar bicara, Kenzo! Oke, harga khusus buat kamu. Potong tiga puluh persen dari harga normal."
Perjalanan Pulang - Sisi Lain Sang Pemberontak
Reina masih terdiam saat mereka sudah kembali di atas motor. Ia tidak menyangka bahwa masalah anggaran yang membuatnya menangis semalaman bisa diselesaikan Kenzo hanya dengan obrolan santai di gudang kumuh.
"Ken," panggil Reina pelan di tengah suara angin.
"Ya?"
"Makasih. Aku nggak tahu kamu bisa... bicara seperti itu dengan mereka."
Kenzo tersenyum di balik helmnya. "Dunia nggak cuma soal teori di buku, Rein. Kadang kamu harus tahu cara bicara dengan bahasa mereka kalau mau sesuatu berjalan lancar."
Tiba-tiba, motor Kenzo berhenti di depan sebuah warung makan kecil di pinggir jalan yang sepi. "Kita makan dulu. Aku tahu kamu belum sarapan karena sibuk menyiapkan tabel Excel-mu itu."
Reina turun dari motor, melihat warung sederhana itu. Ada rasa canggung yang mulai berubah menjadi sesuatu yang lain. Untuk pertama kalinya, ia melihat Kenzo bukan sebagai pengganggu, melainkan sebagai partner yang bisa diandalkan.
Namun, saat mereka baru saja duduk, sebuah mobil mewah berhenti di seberang jalan. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi keluar dari mobil dan menatap Kenzo dengan pandangan dingin yang penuh kekecewaan.
Wajah Kenzo mendadak pucat. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Siapa itu, Ken?" tanya Reina bingung.
"Sial," gumam Kenzo lirih. "Ayo pergi, Rein. Sekarang!"