NovelToon NovelToon
Prince Of The Wind

Prince Of The Wind

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langit yang Menjawab Diam

Langit mulai berubah jingga. Sore perlahan turun di atas istana.

Di gerbang—langkah Reyd akhirnya berhenti. Perjalanan dari perbatasan telah selesai.

Belum sempat ia melangkah lebih jauh—tap.

Seseorang sudah ada di sana.

Tatapannya langsung tertuju pada Reyd. Beberapa detik—ia hanya diam.

Lalu—tanpa berkata apa-apa—ia melangkah cepat. Dan memeluknya.

“Kamu lama sekali.”

Bisiknya pelan.

Nada suaranya tetap tenang. Namun—genggamannya tidak.

Reyd sedikit terdiam. Tidak langsung membalas. Namun ia juga tidak menolak.

“Ada urusan penting.”

Jawabnya singkat.

“Kamu tidak terluka parah, kan?”

Tanyanya pelan.

Reyd menggeleng sedikit.

“Tidak.”

Baru setelah itu—Lein perlahan melepaskannya.

Namun—tatapannya tidak berubah.

Angin sore berhembus pelan. Namun—ada sesuatu yang tidak sama.

Lein menyadarinya.

“Kamu kenapa aneh.”

Ucapnya tiba-tiba.

Reyd mengangkat alis sedikit.

“Aneh bagaimana?”

Lein menyilangkan tangan.

“Kamu lebih diam dari biasanya.”

Reyd terdiam sejenak.

“Aku hanya capek saja.”

Jawabnya akhirnya.

Lein menyipitkan mata. Ia tahu. Jawaban itu… tidak lengkap.

Beberapa detik berlalu. Lein ingin bertanya lagi. Namun—ia menahan diri.

“Kalau begitu kamu istirahat.”

Ucapnya akhirnya.

Reyd mengangguk pelan.

“Ya.”

Mereka berjalan bersama. Masuk ke dalam istana. Langkah mereka sejajar.

Namun—pikiran mereka tidak.

Lein melirik sekilas. Masih mencoba membaca. Namun Reyd—tetap diam.

---

Malam turun perlahan. Istana menjadi sunyi. Cahaya bulan menyinari dinding batu, membuat bayangan tampak lebih panjang.

Di salah satu balkon—Reyd duduk sendirian.

Tidak ada penjaga. Tidak ada suara. Hanya angin malam yang berhembus pelan.

Tatapannya mengarah ke langit. Seolah mencari sesuatu di antara bintang-bintang.

“Pewaris takhta, ya.”

Bisiknya pelan.

Kata itu terasa berat. Lebih berat dari pertempuran mana pun.

Ia menghela napas.

“Bisakah aku meraihnya?”

Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban.

Reyd mengepalkan tangannya pelan.

“Aku tidak yakin bisa mendapatkan takhta itu.”

Sunyi. Angin malam berhembus dingin. Seolah memperjelas keraguannya.

Reyd menutup matanya sejenak.

Dan suara itu—muncul. Bukan suara nyata. Namun—hatinya sendiri.

Jangan menyerah.

Reyd membuka matanya.

Seyron bukan hanya kuat. Namun—berbahaya. Bukan karena kekuatannya saja. Namun karena caranya berpikir. Cara dia melihat segalanya—seperti permainan.

“Kalau dia yang memimpin…”

Reyd menatap ke arah kerajaan di bawahnya. Lampu-lampu kecil terlihat dari kejauhan. Tanda kehidupan. Rakyat. Orang-orang yang tidak tahu apa yang terjadi di dalam istana.

“Semuanya bisa berubah.”

Nada suaranya rendah.

Ia tidak tahu apakah Seyron akan menghancurkan segalanya. Namun satu hal pasti—arahnya tidak akan sama.

Reyd berdiri perlahan. Angin berhembus di sekitarnya.

“Aku mungkin belum siap.”

Ucapnya pelan.

“Namun…”

Ia menatap langit sekali lagi. Bintang-bintang tetap diam.

“Aku tidak akan diam saja.”

Keputusan itu sederhana. Namun nyata.

Angin berputar pelan di sekelilingnya. Seolah merespons tekad itu.

---

Keesokan harinya, suasana berubah.

Para pelayan bergerak cepat dan tergesa. Para prajurit berjaga lebih rapi. Dan bisikan mulai menyebar.

“Ada tamu dari Magicia.”

Nama itu cukup—untuk membuat seluruh kerajaan waspada.

Kerajaan Magicia. Negeri yang dikenal bukan karena pasukannya—melainkan karena sihirnya. Akademi terbaik. Tempat para penyihir hebat dilahirkan. Dan—tempat di mana Pangeran Kedua Reyd pernah belajar.

Di aula utama—semuanya telah dipersiapkan.

Karpet merah terbentang panjang. Meja jamuan dipenuhi hidangan mewah. Cahaya lilin menerangi ruangan besar itu.

Raja Ryvons duduk di singgasana. Di sisi-sisinya—para bangsawan dan pejabat tinggi telah berkumpul.

Seyron juga ada di sana. Berdiri tegak. Tatapannya tajam dan tenang.

KREK…

Pintu besar terbuka.

Semua mata langsung tertuju ke sana.

Satu sosok masuk. Sendirian.

Langkahnya pelan. Jubah hitam panjang menutupi seluruh tubuhnya. Tanpa lambang mencolok. Tanpa hiasan berlebihan.

Namun justru itu—yang membuatnya terasa berbeda.

Ia berhenti di tengah aula. Lalu menundukkan kepala.

“Hormat saya kepada Yang Mulia Raja Ryvons.”

Suaranya tenang.

Raja Ryvons tersenyum tipis.

“Selamat datang di Risvela.”

Nada suaranya hangat. Namun tetap berwibawa.

“Kerajaan kami merasa terhormat kedatangan tamu dari kerajaan sihir.”

Utusan itu mengangkat wajahnya sedikit. Namun bayangannya masih menutupi sebagian ekspresi.

“Kami juga berterima kasih atas sambutan ini.”

Raja mengangkat tangannya sedikit.

“Silakan. Jamuan telah disiapkan.”

Para pelayan segera bergerak. Menarik kursi. Menyajikan hidangan.

Segalanya berjalan sempurna. Seolah tidak ada ketegangan sama sekali.

Seyron berdiri tenang.

Di sisi lain—beberapa bangsawan mulai berbisik.

“Kenapa hanya utusan?”

“Biasanya mereka datang lebih dari itu…”

“Dan kenapa berpakaian seperti itu…?”

Namun—tidak ada yang berani bertanya langsung.

Utusan itu duduk dengan tenang. Tidak terburu-buru menyentuh makanan. Tatapannya menyapu ruangan.

Di tempat lain—Reyd berjalan menuju aula. Ia sudah mendengar kabar itu.

Magicia.

Nama itu—tidak asing baginya.

“Utusan, ya…”

Gumamnya pelan.

Angin berhembus di sekitarnya.

1
Protocetus
Min belum kontrak min?
Mr. Wilhelm
Ini beda penulis sama novel² sebelumnya, kah?

soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?

what happen?
Apin Zen: Gk om, Setiap novel pakai editor.
Soalnya malas revisi, meski dikit juga sih yang baca tapi seru nulis novel fantasy, hehe.
total 3 replies
Mr. Wilhelm
Keknya mending dihapus narasi yg sebelumnya deh, soalnya hampir sama dengan dialog ini.
Mr. Wilhelm
Emmm harusnya Ayahnya kan yg pewaris dan Seyron jdi ahli waris?
Mr. Wilhelm
Keknya harus upload ulang, paragrafnya jdi jelek, langsung copas, kah?
Apin Zen: baca ulang lagi bab 1 nya Mr, apa masih kurang🤔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!