Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Embun yang Membeku
Pagi di lereng bukit ini datang membawa kesunyian yang mencekam.
Aku membuka mata perlahan. Kabut tebal menyelimuti jendela-jendela kaca berbingkai kayu vila tua ini, menghalangi pandangan ke arah lembah di bawah sana. Udara pegunungan yang sangat dingin menyusup lewat celah pintu, membawa serta aroma tanah basah dan lumut yang pekat.
Di dalam ruangan, perapian sudah padam sejak beberapa jam yang lalu, hanya menyisakan tumpukan abu abu-abu yang dingin dan mati.
Aku mengerjap, mengumpulkan kesadaranku. Aku terbangun di atas sofa panjang dengan selimut wol tebal yang masih membungkus tubuhku rapat-rapat. Saat aku menoleh ke samping, jantungku mencelos pelan.
Kulihat Arka duduk di lantai kayu. Punggung lebarnya bersandar ke kaki sofa tempatku berbaring. Pria itu sama sekali tidak tidur. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang berembun tebal, sementara tangan kanannya menggenggam erat sebuah ponsel. Layar benda pipih itu terus-menerus menyala redup setiap beberapa detik, menembakkan cahaya pucat ke wajahnya yang kelelahan.
"Sejak kapan lo bangun?" suaraku terdengar parau, memecah keheningan yang menyesakkan itu.
Arka tidak menoleh saat menjawab, tapi tangan kirinya terulur ke belakang, meraba dan meraih tanganku yang menjuntai di tepi sofa. Ia menggenggamnya erat. Jari-jarinya terasa sedingin es.
"Gue nggak tidur, Nja," jawab Arka, suaranya berat dan serak. "Rasanya nggak adil kalau gue tidur di sini, sementara dunia kita di bawah sana lagi berantakan."
Aku mengubah posisiku menjadi duduk, merapatkan selimut wol itu ke dadaku untuk mengusir hawa dingin yang tiba-tiba menusuk hingga ke tulang. Mataku melirik ke arah layar ponsel Arka yang sedari tadi berkedip di lantai.
Perutku langsung melilit. Di layar itu, terpampang puluhan panggilan tak terjawab dari Handoko Danadyaksa. Serta rentetan pesan singkat bertubi-tubi dari Clara.
Pesan-pesan Clara semakin lama semakin bernada mengancam. Salah satu pesan pop-up yang sempat kubaca semalam, dan tampaknya masih menghantui Arka pagi ini, adalah sebuah lampiran foto. Foto sebuah ekskavator kuning raksasa yang sudah terparkir menakutkan, hanya berjarak beberapa meter dari barikade seng Kedai Kala Senja.
"Bokap gue baru aja kirim pesan terakhir," ucap Arka tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat datar, nyaris tanpa emosi sama sekali.
Ia memutar kepalanya sedikit untuk menatapku. "Dia bilang, izin Amdal mal sudah direvisi paksa semalam. Bagian tengah mal—titik kordinat di mana kedai lo berdiri—sekarang resmi berstatus sebagai 'area berisiko struktur'."
"Lalu...?" tanyaku terbata-bata.
"Artinya, mereka punya izin legal dari pemerintah kota buat meratakan tempat itu. Hari ini juga." Arka menjeda kalimatnya, menelan ludah dengan susah payah. "Kecuali kalau gue muncul di Rapat Umum Pemegang Saham jam sepuluh pagi nanti, dan tanda tangan dokumen pertunangan itu."
Jantungku serasa berhenti berdetak. Oksigen di sekitarku seolah disedot habis.
"Hari ini?!" pekikku tertahan. "Tapi... tapi mereka nggak bisa gitu aja nggusur tanpa prosedur yang bener, kan, Ka?! Waktu peringatannya belum habis!"
Arka tertawa pahit. Sebuah tawa tanpa humor yang terdengar sangat lelah. "Nja, buat orang-orang kayak bokap gue, prosedur itu cuma soal berapa banyak uang yang harus dibayar, dan ke kantong siapa uang itu masuk. Hukum itu luar biasa fleksibel buat mereka yang punya kuasa dan modal."
Arka berdiri dari lantai kayu. Ia membalikkan badan menatapku seutuhnya.
Penampilannya sangat berantakan. Kemeja hitamnya kusut parah, rambutnya tidak tertata, dan bayangan hitam di bawah matanya terlihat semakin pekat. Namun, di balik kelelahan fisiknya, ada kilat tekad yang sangat tajam dan buas di manik matanya. Kilatan kemarahan dan perlawanan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Gue harus balik ke Jakarta sekarang, Nja," kata Arka tegas. "Gue harus hadapi mereka."
"Tapi kalau lo balik dan lo tetep nolak Clara, mereka bakal langsung hancurin kedai gue saat itu juga, kan?!"
Aku tak tahan lagi. Aku melempar selimutku ke sembarang arah, berdiri, dan melangkah cepat mendekatinya. Kedua tanganku refleks meraih kerah kemeja pria itu dan mencengkeramnya kuat-kuat. Mataku memanas, pandanganku mulai kabur oleh air mata.
Rasa insecure dan rasa bersalah yang selama ini kutekan, akhirnya meledak.
"Gue nggak mau lo kehilangan segalanya, Ka!" isakku, suaraku pecah. "Mungkin... mungkin omongan Clara bener. Gue ini cuma beban buat lo! Gue ini cuma cewek pemilik warung kopi kumuh yang nggak sengaja masuk ke permainan kotor orang-orang kaya. Kalau lo terus belain gue, lo bakal hancur lebur, Arka!"
Mendengar racauanku yang putus asa, Arka tidak mundur. Ia justru memajukan tubuhnya. Kedua tangannya yang besar dan hangat memegang bahuku, sedikit mengguncangnya agar aku berhenti menangis dan fokus menatap matanya.
"Dengerin gue, Senja," perintah Arka, suaranya mengalun sangat dalam dan absolut. "Lo bukan beban. Jangan pernah sekalipun lo mikir kayak gitu."
Arka menatap mataku lekat-lekat, menembus langsung ke dasar jiwaku.
"Lo itu alasan kenapa gue masih mau jadi manusia, Nja. Selama ini gue hidup kayak robot yang diprogram bokap gue. Bangun, kerja, dapet duit, tidur. Kosong. Nggak ada rasanya." Ibu jari Arka bergerak menghapus air mata di pipiku. "Lo yang ngisi kekosongan itu. Pakai aroma kopi lo, pakai Keras kepala lo, dan pakai tawa lo yang galak itu."
Arka perlahan menundukkan wajahnya. Ia mengecup dahiku cukup lama. Kecupan yang terasa seperti sebuah doa, seolah ia sedang menyerap seluruh sisa keberanian dariku.
"Gue nggak bakal biarin mereka sentuh satu bata pun dari kedai lo," bisik Arka tepat di depan wajahku. "Tapi gue butuh lo percaya sama gue. Apa pun yang terjadi di rapat nanti... apa pun berita gila yang lo denger di media siang ini... jangan pernah raguin gue. Jangan pernah ngelepas tangan gue. Bisa?"
Aku menatap mata kelam itu. Di tengah keraguan dan ketakutan yang luar biasa besar di dadaku, aku akhirnya mengangguk pelan.
Kami berkemas dalam diam yang menyesakkan. Tidak ada lagi obrolan hangat. Pelarian singkat kami di atas awan ini telah usai. Realita sudah menunggu kami di bawah sana, memamerkan taringnya yang sangat tajam dan siap menerkam.
Selama dua jam perjalanan turun gunung kembali ke Jakarta, Arka tidak banyak bicara. Fokusnya terbagi. Sebelah tangannya memegang kemudi, sementara tangan yang lain terus memegang ponsel ke telinganya.
Ia menelepon seseorang berkali-kali—seorang pria bernama Wijaya, pengacara lama keluarga Danadyaksa yang sepertinya lebih loyal pada mendiang ibu Arka daripada ayahnya. Pembicaraan mereka penuh dengan istilah hukum, transfer data enkripsi, dan tenggat waktu yang membuatku semakin tegang.
Aku hanya bisa diam menatap ke luar jendela. Melihat bagaimana pohon-pohon pinus yang rimbun dan hijau perlahan-lahan memudar, berganti menjadi pemandangan lautan beton, gedung pencakar langit yang angkuh, dan polusi ibu kota. Kami kembali ke medan perang.
Begitu memasuki kawasan pusat bisnis SCBD, Arka menghentikan laju jip tuanya di pelataran parkir sebuah kafe waralaba besar. Lokasinya hanya berjarak beberapa blok dari menara kantor pusat PT Cipta Megah.
"Lo tunggu di sini sama Revan. Dia bakal jagain lo," ucap Arka sambil mematikan mesin.
Benar saja. Tidak jauh dari kami, mobil SUV milik Revan sudah terparkir. Revan keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri kami. Wajah cowok berlesung pipi itu tampak sangat tegang dan serius, seratus delapan puluh derajat berbeda dari sosoknya yang biasanya cengengesan dan ceria.
"Jagain dia, Van. Jangan biarin satu pun orang-orang suruhan bokap gue atau Clara deketin dia sejengkal pun," perintah Arka tegas pada asisten sekaligus sahabatnya itu.
Revan mengangguk mantap, ekspresinya kelam. "Gue jamin pakai nyawa gue, Bos. Tapi... lo beneran mau nekat ngelakuin ini sendirian?"
Arka tidak menjawab pertanyaan Revan. Pria itu memutar tubuhnya menghadapku. Ia menatap wajahku sekali lagi, sangat lekat dan intens, seolah ia sedang menghafal setiap lekuk wajahku untuk terakhir kalinya sebelum ia berangkat mati.
"Gue sayang sama lo, Senja. Inget itu," bisiknya pelan, namun suaranya menembus riuhnya suara jalanan Jakarta.
Tanpa menunggu balasanku, Arka kembali menyalakan mesin mobilnya.
Aku melangkah mundur, berdiri di atas trotoar trotoar yang panas bersama Revan. Mataku menatap punggung jip hitam tua Arka yang melaju kencang, membelah jalanan menuju gedung pencakar langit Cipta Megah yang menjulang arogan di depan sana.
Hatiku hancur melihat punggung mobil itu menjauh. Aku merasa seperti sedang melepas satu-satunya prajurit yang kumiliki, menuju sebuah medan perang berdarah yang mustahil untuk dimenangkan.
"Ayo masuk ke dalem kafe, Nja," ajak Revan pelan, membuyarkan lamunanku. Suaranya terdengar prihatin. "Badainya baru aja dimulai."
"Arka mau ngapain di sana, Van?" tanyaku dengan suara bergetar. "Dia nggak mungkin bisa menang lawan dewan direksi sendirian."
Revan menatap langit Jakarta yang kebetulan mulai diselimuti awan hitam yang bergulung-gulung.
"Dia nggak berniat menang lawan dewan direksi, Nja," jawab Revan dengan nada muram. "Arka lagi mau ngelakuin kudeta berdarah. Kudeta paling besar dalam sejarah perusahaan keluarganya sendiri."
Aku mematung. Di kejauhan, petir menyambar pelan di balik awan hitam.
Arc kedua dari drama hidup kami baru saja berakhir dengan sebuah keputusan nekat yang akan mengubah takdir kami selamanya. Perang terbuka antara perasaan seorang anak dan kekuasaan absolut seorang ayah baru saja dideklarasikan secara resmi. Dan kali ini, taruhannya bukan lagi sekadar segelas kopi atau sepetak bangunan tua... melainkan masa depan, kebebasan, dan harga diri.
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍