NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: CAHAYA DI ATAS RERUNTUHAN

Jakarta menyambut kepulangan Larasati dan Baskara dengan guyuran hujan badai, seolah langit ingin ikut membasuh sisa-sisa debu dari lereng Ngargoyoso. Namun, bagi Larasati, badai di luar tidak lagi menakutkan. Ia duduk di kursi belakang mobil, jemarinya bertautan erat dengan jemari Baskara. Pria itu kini mengenakan kemeja katun rapi, meski bekas luka kecil di punggung tangannya akibat menolong Lastri masih memerah.

"Kamu siap menghadapi mereka lagi, Laras?" bisik Baskara. Suaranya rendah, memberikan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan saham mana pun.

Larasati menatap gedung pencakar langit Hardianto Group yang mulai terlihat di kejauhan. "Aku tidak hanya siap, Baskara. Aku sudah tidak sabar. Selama ini aku bergerak di balik bayang-bayang, menggunakan siasat dan tipu daya. Tapi hari ini, aku ingin mereka melihat kebenaran yang telanjang. Bahwa perusahaan ini berdiri di atas cinta dan kejujuran, bukan hanya angka-angka dingin."

Mobil berhenti tepat di lobi utama. Kali ini, tidak ada pengawalan rahasia. Larasati keluar dari mobil, diikuti oleh Baskara yang berjalan dengan kepala tegak di sampingnya. Para staf yang berlalu-lalu seketika terpaku. Mereka melihat CEO mereka tidak lagi datang sendirian dengan wajah dingin, melainkan didampingi oleh pria yang dulu pernah menjadi pusat skandal—pria yang kini tampak jauh lebih berwibawa daripada saat ia menjadi Direktur Utama dulu.

Di ruang rapat lantai 32, suasana sudah sangat tegang. Aditama telah mengumpulkan seluruh kepala divisi dan dewan komisaris yang masih tersisa. Di atas meja, tumpukan berkas audit forensik setebal bantal menjadi saksi bisu atas kejahatan Tuan Kusuma dan kelompoknya.

Larasati masuk ke ruangan, namun ia tidak langsung duduk di kursi utama. Ia berdiri di depan jendela besar, menatap kota yang sedang diguyur hujan.

"Sepuluh tahun yang lalu," suara Larasati menggema di ruangan yang sunyi itu. "Ayah saya meninggal di gedung ini karena dikhianati oleh orang-orang yang paling beliau percayai. Selama sepuluh tahun, saya hidup dalam penyamaran. Saya menjadi Gendis, saya menjadi istri kedua yang diinjak-injak, saya menjadi hantu di perusahaan saya sendiri."

Ia membalikkan badan, menatap satu per satu wajah para petinggi perusahaan. "Hari ini, saya membawa seseorang yang juga pernah menjadi korban dari sistem yang kotor ini. Baskara Pratama."

Seorang komisaris tua mencoba memprotes. "Larasati, kita tidak bisa melibatkan orang luar, apalagi seseorang dengan nama Pratama, dalam urusan internal kita..."

"Baskara bukan orang luar," potong Larasati tajam. "Dia adalah saksi kunci, dia adalah pemegang kunci dana abadi ayah saya, dan yang paling penting, dia adalah pasangan hidup saya yang sah secara hukum dan moral. Mulai hari ini, perusahaan kontraktor milik Baskara akan menjadi mitra utama dalam seluruh proyek infrastruktur kita. Bukan karena nepotisme, tapi karena integritasnya telah teruji di lereng gunung, sementara kalian hanya bersembunyi di balik meja jati ini."

Larasati kemudian melemparkan map merah ke tengah meja. "Ini adalah hasil audit final. Ada dua belas nama di sini yang terbukti melakukan penggelapan dana. Saya tidak akan menuntut kalian ke penjara, asalkan kalian menandatangani surat pengunduran diri dan mengembalikan seluruh aset yang kalian curi dalam waktu 24 jam. Jika tidak, tim hukum saya sudah siap di luar."

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Satu per satu, para petinggi yang selama ini merasa tak tersentuh itu menundukkan kepala. Mereka menyadari bahwa Ratu yang berdiri di depan mereka bukan lagi wanita yang bisa digertak.

Setelah rapat yang melelahkan itu selesai, Larasati dan Baskara berjalan menuju ruangan kerja Larasati. Aditama menyusul mereka dengan wajah yang akhirnya tampak lega.

"Semuanya sudah menandatangani, Laras. Kita bersih. Benar-benar bersih," ucap Aditama.

Larasati menghela napas panjang, ia duduk di kursi kerjanya dan mempersilakan Baskara duduk di depannya. "Terima kasih, Adit. Tanpamu, aku mungkin sudah menyerah di tengah jalan."

"Sekarang apa rencananya, Bos?" tanya Aditama dengan nada bercanda.

Larasati menatap Baskara, lalu menatap foto ayahnya di meja. "Kita akan meluncurkan Yayasan Hardianto-Baskara. Fokusnya adalah membangun sekolah dan jembatan di daerah terpencil. Kita gunakan dana abadi Ayah untuk sesuatu yang nyata, bukan hanya untuk menambah angka di bursa saham."

Baskara tersenyum, ia meraih tangan Larasati. "Aku suka ide itu. Jembatan di Ngargoyoso akan menjadi proyek pertama yayasan kita."

Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Aditama. Wajahnya kembali berubah serius. "Laras... ini dari rumah sakit jiwa. Maya... dia mencoba melakukan tindakan nekat setelah mendengar ibunya, Lastri, ditangkap polisi."

Larasati tertegun. Meskipun ia sangat membenci Maya, mendengar wanita itu hancur hingga ke titik terendah tetap menimbulkan rasa perih di hatinya. "Bagaimana keadaannya?"

"Dia selamat, tapi dia terus memanggil namamu dan nama Baskara. Dia ingin meminta maaf sebelum dia benar-benar kehilangan kewarasannya," jawab Aditama pelan.

Baskara menatap Larasati, mencari jawaban di mata istrinya. "Apakah kita harus pergi?"

Larasati diam sejenak. Ia teringat segala makian Maya, sabetan pisau, dan fitnah kejam yang pernah dilontarkan wanita itu. Namun ia juga teringat pesan ayahnya: Jadilah cahaya.

"Kita pergi, Baskara. Bukan untuk memaafkan kesalahannya secara instan, tapi untuk memberikan dia kedamaian agar kita juga bisa benar-benar melangkah maju tanpa beban masa lalu," putus Larasati.

Rumah sakit itu sunyi dan beraroma karbol yang tajam. Di sebuah kamar dengan jendela berteralis, Maya duduk meringkuk di sudut tempat tidur. Wajahnya yang dulu cantik dan angkuh kini tampak seperti kertas kusut. Rambutnya berantakan, dan matanya kosong menatap lantai.

Begitu Larasati dan Baskara masuk, Maya gemetar. Ia mencoba berdiri namun terjatuh kembali.

"Gendis... Larasati..." bisik Maya. Suaranya serak dan pecah. "Aku... aku melihat Ibu dibawa polisi. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Anakku... anakku di mana?"

Larasati mendekat, ia duduk di kursi di samping tempat tidur Maya. Ia tidak menyentuhnya, namun suaranya sangat lembut. "Anakmu aman, Maya. Dia dirawat oleh keluarga yang baik. Kami akan memastikan dia mendapatkan pendidikan yang layak tanpa harus tahu tentang semua kekacauan ini."

Maya menangis sesenggukan, ia menutupi wajahnya dengan tangan yang kurus. "Maafkan aku... maafkan aku karena telah merampas kebahagiaanmu. Aku hanya... aku hanya takut kehilangan Baskara. Aku pikir dengan menghancurkanmu, aku bisa memilikinya selamanya."

Baskara berdiri di belakang Larasati, tangannya berada di bahu istrinya. "Cinta tidak bisa dibangun di atas reruntuhan hidup orang lain, Maya. Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Sekarang, cobalah memaafkan dirimu sendiri agar kamu bisa sembuh."

Larasati meletakkan sebuah buku kecil di meja samping tempat tidur Maya. Itu adalah buku harian ayahnya yang ia temukan di kotak kayu. "Ayahku pernah menulis: Kesalahan adalah guru yang paling kejam, tapi ia memberikan pelajaran yang paling abadi. Belajarlah dari ini, Maya. Fokuslah pada kesembuhanmu. Kami tidak akan mengganggumu lagi."

Mereka meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Keluar dari rumah sakit, matahari sore mulai menembus awan mendung, menciptakan pelangi tipis di cakrawala Jakarta.

"Semuanya sudah benar-benar selesai, kan?" tanya Larasati sambil menghirup udara sore yang segar.

Baskara merangkul pinggang Larasati, membawa wanita itu lebih dekat ke pelukannya. "Iya, Laras. Siasat sudah berakhir. Dendam sudah tuntas. Sekarang, hanya ada kita."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!