Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Napas Pertama di Antara Jerami Busuk
Kegelapan itu tidak mutlak. Ada sensasi dingin yang menggigit, lembap yang menusuk hingga ke tulang sumsum, dan bau apek yang sangat menyengat—campuran antara kayu lapuk, kotoran hewan, dan lumpur basah.
"Ini bukan Neraka Sembilan Tingkat..."
Sebuah suara serak, nyaris tak terdengar, keluar dari tenggorokan yang terasa seperti diparut pasir kasar. Itu adalah suaranya sendiri, namun terdengar sangat asing. Lemah. Menyedihkan. Tanpa wibawa.
Kelopak mata itu bergetar, berjuang melawan berat yang seolah menindihnya dengan ribuan kati besi. Perlahan, seberkas cahaya kelabu menyusup masuk, menyakitkan retina yang tampaknya sudah terlalu lama terbiasa dengan kegelapan.
Pria itu membuka matanya sepenuhnya.
Hal pertama yang dilihatnya bukanlah langit-langit istana yang bertaburan permata Spirit Jade, bukan pula ukiran naga emas yang meliuk di pilar-pilar Obsidian Hitam di Aula Surgawi tempat ia biasa duduk memandang rendah dunia. Yang menyambut penglihatannya hanyalah jalinan jerami kasar yang menghitam karena jamur, dengan beberapa lubang menganga yang membiarkan tetesan air hujan jatuh bebas, menciptakan irama tik-tok-tik yang monoton di lantai tanah yang becek.
Dia mencoba bergerak, berniat bangkit dengan gerakan tegas selayaknya seorang penguasa yang terganggu tidurnya. Namun, yang terjadi adalah sebuah kegagalan yang memalukan. Tubuhnya tidak merespons perintah otaknya. Alih-alih melompat bangun, dia hanya bisa menggeser bahunya sedikit, dan rasa sakit yang luar biasa seketika meledak di sekujur tubuhnya.
"Arrgh..."
Erangan tertahan lolos dari bibirnya. Rasanya seolah-olah setiap inci ototnya telah dipukul dengan palu godam, lalu direndam dalam air garam. Tulang rusuknya terasa nyeri setiap kali ia menarik napas, menandakan ada yang retak atau patah di sana.
Siapa yang berani?batinnya berteriak, amarah yang familiar—amarah seorang tiran yang tak pernah dibantah—mulai membakar di dadanya. Siapa yang berani menyentuh Kaisar Yang Chen? Apakah Jenderal Feng mengkhianatiku? Atau para Tetua Sekte Awan Putih akhirnya menemukan racun yang bisa menembus pertahanan qi pelindungku?
Yang Chen, nama yang pernah membuat benua gemetar, mencoba mengumpulkan Qi (energi) di dalam Dantian-nya. Dia ingin meledakkan aura pembunuhnya, menghancurkan gubuk reot ini menjadi debu, dan terbang ke langit untuk menuntut balas.
Namun, hasilnya hening. Kosong.
Dantian-nya... rusak.
Bukan sekadar kosong karena kehabisan energi, tapi hancur. Seperti mangkuk porselen yang dibanting ke lantai batu. Pecahan-pechannya berserakan di dalam perut bawahnya, tidak mampu menampung setetes pun energi alam. Dia bisa merasakan angin dingin berhembus masuk melalui pori-porinya, tapi tanpa Dantian yang utuh, energi itu bocor kembali keluar, menyisakan tubuh yang dingin dan rapuh.
Kepanikan, sebuah emosi yang sudah ribuan tahun tidak dirasakannya, mulai merayap naik. Yang Chen memaksakan tangannya untuk bergerak ke depan wajahnya.
Tangan itu...
Itu bukan tangan seorang kaisar yang memegang pedang Naga Langit. Itu adalah tangan seorang bocah, mungkin baru berusia lima belas atau enam belas tahun. Kurus kering, hanya tulang berbalut kulit pucat yang dipenuhi memar ungu dan biru. Kuku-kukunya kotor, hitam oleh tanah, dan ada bekas luka bakar lama di pergelangan tangannya.
"Tubuh siapa ini?" bisiknya, kali ini dengan nada yang bercampur antara horor dan kebingungan.
Ingatan terakhirnya melintas cepat seperti kilat. Perang Besar di Puncak Langit. Lima Kaisar dari benua tetangga mengeroyoknya. Dia, Yang Chen sang Kaisar Tirani, tertawa di tengah badai darah, meledakkan inti jiwanya untuk menyeret mereka semua mati bersamanya. Seharusnya, jiwanya telah hancur menjadi ketiadaan. Seharusnya, eksistensinya telah dihapus dari siklus reinkarnasi.
Tapi di sini dia berada. Terperangkap dalam tubuh seorang bocah cacat yang sekarat di sebuah gubuk kandang kuda.
Reinkarnasi Jiwa? Pemindahan raga? Teknik terlarang apa yang terjadi padaku?
Otaknya bekerja cepat, menganalisis situasi meski rasa sakit terus mendera. Jika dia masih hidup, berarti surga belum mengizinkannya istirahat. Atau mungkin, neraka menolaknya karena dia terlalu jahat.
Tiba-tiba, gelombang memori yang bukan miliknya menghantam kepalanya dengan brutal. Itu adalah memori pemilik tubuh asli ini.
Namanya adalah... Zhao Wei. Pangeran Ketiga dari Kerajaan Besi Hitam.
Pangeran?Yang Chen hampir tertawa sinis. Pangeran macam apa yang tidur di atas jerami basah di kandang kuda?
Memori itu terus mengalir, menceritakan kisah yang menyedihkan. Zhao Wei memang seorang pangeran, tapi dia lahir dari seorang selir pelayan rendahan yang meninggal saat melahirkannya. Karena lahir tanpa bakat kultivasi sedikitpun—sampah murni dengan meridian yang tersumbat—dia dianggap sebagai aib bagi keluarga kerajaan. Ayahnya, Raja Zhao Feng, tidak pernah sekalipun menatap wajahnya. Saudara-saudaranya menjadikannya samsak tinju untuk latihan.
Dan ingatan terakhir sebelum Zhao Wei mati...
Yang Chen melihatnya dalam benaknya. Tiga hari yang lalu. Pangeran Pertama, Zhao Long, sedang mencoba teknik telapak tangan barunya. Dia membutuhkan target hidup. Zhao Wei diseret ke lapangan latihan. Satu pukulan. Hanya satu pukulan setengah tenaga dari Zhao Long sudah cukup untuk menghancurkan Dantian Zhao Wei yang memang sudah rapuh dan mematahkan tiga tulang rusuknya.
Dia dilemparkan ke gubuk bekas gudang jerami di belakang istana pelayan, dibiarkan mati perlahan tanpa tabib, tanpa makanan, hanya ditemani tikus dan dinginnya hujan. Dan malam ini, jiwa Zhao Wei yang menyedihkan itu akhirnya menyerah, pergi meninggalkan tubuh kosong ini untuk diisi oleh jiwa Yang Chen, sang monster tua yang pernah membakar separuh dunia.
"Menyedihkan," gumam Yang Chen. Dia tidak mengasihani Zhao Wei. Bagi Yang Chen, kelemahan adalah dosa asal. Jika kau lemah, kau pantas mati. Itu adalah hukum alam. Tapi sekarang, dia adalah Zhao Wei. Dan penghinaan yang diterima tubuh ini, kini menjadi penghinaan bagi Yang Chen.
"Zhao Long..." desisnya. Nama itu terasa asing di lidahnya, tapi kebencian yang menyertainya terasa sangat akrab. "Kau berani memukul tubuh Kaisar ini? Kau berani menjadikan wadah jiwaku sebagai mainan?"
Suara langkah kaki terdengar dari luar gubuk. Becek. Berat. Langkah seseorang yang tidak menyembunyikan kehadirannya karena merasa tidak perlu waspada terhadap apa pun yang ada di dalam.
Sreeek.
Pintu kayu yang sudah lapuk didorong kasar hingga engselnya berdecit nyaring memekakkan telinga. Angin dingin bercampur butiran air hujan langsung menyapu masuk, membuat tubuh ringkih Yang Chen menggigil hebat. Refleks tubuh ini sangat buruk.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria gemuk mengenakan pakaian pelayan istana berwarna abu-abu. Wajahnya berminyak, dengan hidung pesek dan mata kecil yang licik. Di tangannya, dia membawa sebuah mangkuk kayu yang sudah retak.
Itu adalah Kasim Liu. Kepala pelayan yang ditugaskan untuk 'mengurus'—atau lebih tepatnya mengawasi kematian—Zhao Wei. Dalam ingatan Zhao Wei, pria gemuk ini sering mencuri jatah makanan pangeran yang sudah sedikit, bahkan sering meludahi nasi sebelum memberikannya.
Kasim Liu masuk sambil memencet hidungnya, wajahnya menunjukkan ekspresi jijik yang tidak ditutup-tutupi. Dia menendang tumpukan jerami di dekat kaki Yang Chen.
"Hei, Sampah! Masih hidup rupanya?" suaranya melengking, mirip suara bebek tercekik. "Kupikir aku harus menyiapkan tikar untuk menggulung mayatmu pagi ini. Ternyata nyawamu liat juga, seperti kecoa."
Yang Chen diam. Dia tidak menjawab. Dia sedang sibuk mengatur napasnya. Satu... dua... Dia perlu mengukur seberapa banyak tenaga yang tersisa di otot lengan kanannya.
Kasim Liu mendengus melihat 'Pangeran' itu hanya diam menatapnya. Dia berjalan mendekat, lalu dengan gerakan meremehkan, dia menjatuhkan mangkuk kayu itu ke tanah, tepat di depan wajah Yang Chen yang sedang berbaring.
Pyar!
Isinya tumpah. Itu bukan bubur, melainkan sisa air cucian beras yang dicampur dengan potongan sayur busuk. Cairan keruh itu merembes ke tanah, bercampur dengan lumpur.
"Makanlah," kata Kasim Liu sambil menyeringai, memamerkan gigi kuningnya. "Pangeran Pertama sedang berbaik hati merayakan terobosannya ke tingkat Body Tempering lapis ke-5. Jadi, kau juga harus merayakannya. Habiskan itu. Jangan sampai ada sisa, atau aku akan melaporkan pada Pangeran Pertama bahwa kau tidak menghargai pemberiannya."
Hening.
Hanya suara hujan yang mengisi kekosongan di antara mereka.
Mata Yang Chen perlahan beralih dari tumpahan makanan busuk di tanah, naik ke sepatu bot Kasim Liu yang penuh lumpur, lalu terus naik hingga bertemu dengan mata kecil si pelayan gemuk itu.
Tatapan itu.
Kasim Liu tiba-tiba merasakan hawa dingin yang aneh merambat di punggungnya. Itu bukan tatapan takut dan memohon yang biasa dia lihat dari Zhao Wei. Mata itu gelap, dalam, dan hampa. Seperti melihat ke dalam sumur tua yang menyimpan ribuan mayat di dasarnya. Tidak ada emosi manusia di sana, hanya ketenangan yang mengerikan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Hah?!" Kasim Liu membentak untuk menutupi rasa takutnya yang tiba-tiba muncul tanpa alasan. Dia mengangkat kakinya, bersiap untuk menendang wajah bocah itu. "Tundukkan matamu saat melihatku!"
"Kau..."
Suara Yang Chen keluar, pelan namun jelas.
"Kau baru saja menjatuhkan makanan Kaisar."
"Apa?" Kasim Liu tertegun sejenak, kakinya menggantung di udara. "Kaisar? Hahaha! Otakmu sudah geser karena demam ya? Kau itu cuma sampah! Sampah yang dibuang!"
Sambil tertawa, Kasim Liu mengayunkan kakinya sekuat tenaga ke arah kepala Yang Chen. Tendangan ini, jika kena, bisa mematahkan leher bocah yang sudah sekarat itu.
Tapi Yang Chen sudah menghitung. Sejak Kasim Liu masuk, Yang Chen tidak diam saja. Dia telah memusatkan seluruh sisa tenaga, seluruh adrenalin, dan seluruh sisa essence kehidupan yang ada di tubuh Zhao Wei ke satu titik. Ke jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.
Saat sepatu bot itu meluncur turun...
Wush!
Tangan kanan Yang Chen bergerak. Bukan untuk menangkis, tapi menusuk.
Itu adalah gerakan sederhana. Tanpa Qi. Tanpa teknik tingkat tinggi. Hanya pemahaman anatomi tubuh manusia yang telah disempurnakan selama ribuan tahun pembantaian.
Dua jari kurus itu menusuk dengan presisi mengerikan ke satu titik lemah di pergelangan kaki Kasim Liu—titik akupuntur Taixi, tepat di celah antara tendon dan tulang.
"Hmph."
Jleb.
"ARGGHHHHH!"
Teriakan Kasim Liu memecah kesunyian malam, bahkan mungkin terdengar sampai ke dapur istana. Tendangannya melenceng. Kakinya terasa seperti disengat ribuan lebah api, lalu mati rasa seketika. Tubuh gemuknya kehilangan keseimbangan karena bertumpu pada satu kaki di tanah yang licin.
Bruk!
Kasim Liu jatuh terjerembap ke samping, wajahnya menghantam tumpahan makanan busuk yang tadi dia jatuhkan sendiri.
Yang Chen tidak membuang waktu. Napasnya memburu, pandangannya berkunang-kunang karena pengerahan tenaga barusan hampir menghabiskan staminanya. Tapi insting membunuhnya mengambil alih.
Dia tidak bisa membiarkan orang ini hidup. Jika Kasim Liu keluar dari sini hidup-hidup, dia akan kembali dengan penjaga, dan Yang Chen—dalam kondisi selemah ini—pasti mati.
Dengan sisa tenaga terakhir, Yang Chen menyeret tubuhnya di atas lumpur. Dia merayap seperti ular berbisa menuju Kasim Liu yang masih meraung-raung sambil memegangi kakinya.
Kasim Liu membuka matanya yang penuh air mata dan lumpur, hanya untuk melihat wajah 'Pangeran Sampah' itu tepat di depan wajahnya. Jarak mereka hanya beberapa inci.
"Kau..." Kasim Liu gemetar. "Apa yang..."
Yang Chen tidak menjawab. Dia melihat pecahan mangkuk kayu yang tajam tergeletak di dekat dagu Kasim Liu.
Tangan kurusnya menyambar pecahan kayu itu.
"Di kehidupan selanjutnya," bisik Yang Chen tepat di telinga Kasim Liu, suaranya dingin seperti angin dari dunia bawah. "Jangan pernah menghina Raja saat dia sedang tidur."
Sreeet.
Gerakan cepat. Hening.
Teriakan Kasim Liu terhenti seketika, berganti dengan suara gurgling basah yang mengerikan. Darah merah segar menyembur keluar, membasahi jerami, membasahi lumpur, dan membasahi tangan pucat Yang Chen.
Yang Chen menjatuhkan pecahan kayu itu. Dia berguling telentang, menjauh dari mayat yang masih mengejang itu. Dadanya naik turun dengan kasar. Jantungnya berpacu seolah mau meledak.
Membunuh seorang pelayan fana tanpa kultivasi saja sudah membuatnya hampir pingsan. Betapa lemahnya tubuh ini.
Tapi, saat dia menatap langit-langit gubuk yang bocor, sebuah seringai tipis terukir di bibirnya yang pucat. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman iblis yang akan membuat para dewa di surga merinding.
Darah hangat di tangannya memberinya kepastian. Dia hidup. Dia nyata. Dan dia baru saja mengambil langkah pertama di jalan panjang penuh darah untuk merebut kembali takhtanya.
"Kerajaan Besi Hitam..." gumamnya, matanya perlahan menutup karena kelelahan yang tak tertahankan. "Kalian baru saja membangunkan naga yang salah."
Hujan turun semakin deras, mencuci darah yang mengalir di lantai gubuk, namun tidak bisa mencuci takdir yang baru saja berubah malam ini.