NovelToon NovelToon
Benang Yang Tersembunyi

Benang Yang Tersembunyi

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Anak Genius / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.

Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Sidang Diruang Tengah

Ketegangan di dalam butik Forever-Young terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan itu baru saja tersedot habis. Chae-young berdiri mematung di balik meja kasirnya, tangannya yang dingin saling meremas di bawah meja. Ia menatap sosok wanita paruh baya yang sangat anggun itu—Lee Young-ae—yang kini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Matteo melangkah maju, menghalangi pandangan ibunya dari foto si kembar yang masih tergeletak di atas meja. Keringat dingin merembes di balik kemeja mahalnya. Ini adalah skenario terburuk yang pernah ia bayangkan: ibunya menemukan bukti keberadaan Chan-yeol sebelum ia sempat menyiapkan mental Chae-young.

"Ibu... nanti di rumah Matteo jelasin," ucap Matteo dengan suara rendah yang penuh penekanan. Ia mencoba menjaga nada bicaranya tetap tenang, meski jantungnya berdegup seperti genderang perang.

Lee Young-ae tidak langsung menjawab. Ia adalah wanita yang tajam; bertahun-tahun mendampingi mendiang suaminya membangun bisnis keluarga telah mengasah instingnya. Ia menatap Matteo, lalu beralih menatap Chae-young yang tampak pucat pasi.

Alih-alih marah atau meledak, Lee Young-ae justru melangkah mendekati Chae-young. Keanggunannya yang alami terpancar dari setiap gerakannya. Chae-young tersentak kecil saat tangan lembut nan hangat milik Lee Young-ae menggenggam tangannya yang gemetar.

"Nona Park," suara Lee Young-ae terdengar lembut namun berwibawa. Ia menatap wajah Chae-young dengan saksama, seolah mencari potongan teka-teki yang hilang. Ia kemudian mengangkat tangannya, membelai pipi Chae-young dengan kasih sayang yang tidak terduga.

Chae-young hanya bisa terdiam, lidahnya kelu. Ia merasa seperti sedang diadili oleh tatapan mata yang sangat mirip dengan milik Matteo, namun jauh lebih bijaksana.

Lee Young-ae kemudian menoleh ke arah Matteo, tatapannya berubah menjadi tajam dan menuntut. "Berjanjilah pada Ibu, Matteo. Kau akan menjelaskan semua ini malam ini. Tanpa ada satu pun yang ditutup-tutupi."

Matteo menelan ludah, ia mengangguk kaku. "Iya, Bu. Matteo janji."

Tanpa kata lagi, Lee Young-ae berbalik, memberi isyarat kepada Sheena yang sedari tadi berdiri mematung dengan wajah penuh tanya. Sheena menggandeng Kendrick yang masih sesekali menoleh ke arah foto di meja, merasa heran kenapa ada anak yang sangat mirip dengannya di butik ini.

"Ayo, Sheena. Kita pulang sekarang," ajak Lee Young-ae.

Begitu lonceng pintu butik berdenting menandakan kepergian mereka, Chae-young langsung merosot duduk di kursinya. Napasnya tersengal.

"Siapa... siapa wanita itu, Tuan Matteo?" tanya Chae-young dengan suara parau. "Kenapa dia menatapku seperti itu? Dan kenapa anak kecil itu, kenapa dia bisa sangat mirip dengan Chan-yeol?"

Matteo berjalan mendekat, ia berlutut di samping kursi Chae-young, mencoba meraih tangan wanita itu namun Chae-young menariknya kembali.

"Dia ibuku, Chae-young-ah," bisik Matteo jujur. "Dan anak kecil itu, dia Kendrick, putra dari adik kembarku, Mark."

Chae-young menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak lebar. "Ibumu? Jadi... jadi mereka adalah keluarga Anda?"

"Iya," jawab Matteo berat. "Aku tidak tahu mereka akan kemari. Seharusnya mereka baru akan berkeliling Seoul besok. Sial, sepertinya kak Marian yang menyarankan mereka datang ke sini."

Chae-young menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ketakutan yang sempat mereda selama dua hari terakhir kini kembali menghantamnya dengan kekuatan ganda. "Ini bencana, Tuan Matteo! Ibu anda melihat foto itu! Dia pasti sudah tahu! Apa yang akan anda katakan padanya nanti?"

Matteo meraih bahu Chae-young, memaksanya untuk menatap mata ice blue-nya. "Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Aku akan memberitahu mereka bahwa aku memiliki putra dan putri di sini. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi, Chae-young-ah."

"Lalu apa? Setelah mereka tahu, mereka akan datang dan mengambil anak-anakku, kan?" tangis Chae-young pecah. "Ibu Anda... dia terlihat sangat berkuasa. Dia bisa melakukan apa saja!"

"Tidak akan," tegas Matteo. "Kau tidak mengenal ibuku dengan baik. Ibuku tidak seperti yang ada dalam pikiran konyolmu itu."

Chae-young menatap Matteo dengan keraguan yang mendalam. Ia masih belum ingat kejadian malam itu, ia masih merasa pria di depannya ini adalah orang asing yang membawa badai ke dalam hidupnya. Namun, di sisi lain, ia melihat kesungguhan di mata Matteo—sebuah kilatan protektif yang hanya dimiliki oleh seorang ayah.

"Pulanglah," bisik Chae-young. "Jelaskan pada mereka. Tapi tolong... jangan bawa-bawa nama atau alamat saya dulu. Saya mohon."

Matteo mengangguk, ia berdiri dan mengecup kening Chae-young sekilas—tindakan yang membuat Chae-young membeku karena serangan jantung sesaat.

"Aku pergi sekarang. Jangan lari, Chae-young-ah. Orang-orangku ada di luar, mereka akan menjagamu," ucap Matteo sebelum melangkah keluar butik.

Malam itu, di kediaman Smith, sebuah meja makan besar telah disiapkan. Namun, suasana di sana tidak lagi hangat. Lee Young-ae duduk di kepala meja dengan wajah yang sangat serius, menunggu putranya pulang untuk menagih janji atas misteri yang ia temukan di butik Forever-Young.

Suara pintu jati besar itu tertutup dengan debuman pelan namun tegas. Matteo melangkah masuk ke ruang tengah, di mana seluruh klan Smith sudah berkumpul dengan formasi yang sangat tidak menyenangkan. Lee Young-ae duduk tegak di kursi tunggal, tangannya mencengkeram erat pegangan kursi. Marian berdiri di samping ibunya dengan tangan bersedekap, sementara Mark menyandarkan tubuhnya di dinding dengan tatapan yang sangat tajam, seolah sedang menguliti rahasia saudaranya itu.

"Duduk, Matteo," suara Lee Young-ae dingin, jauh dari kehangatan yang biasanya ia berikan pada putra bungsunya.

Matteo duduk di hadapan ibunya, ia tahu badai ini tidak akan bisa ia hindari lagi.

"Apa ini salah satu alasanmu?" tanya Lee Young-ae tiba-tiba, matanya mulai berkaca-kaca karena marah. "Alasan kenapa selama ini kau menolak setiap wanita yang Ibu kenalkan? Itu alasan kenapa kau selalu menghindar jika Ibu bicara soal pernikahan?"

"Ibu, dengarkan aku—"

"Dengar apa lagi?!" potong Marian dengan suara melengking. Sebagai kakak tertua, dia merasa paling dikhianati. "Matteo, kau sudah gila? Kau punya anak kembar sebesar itu dan kau membiarkan mereka hidup tanpa nama Smith? Apa kau menikah diam-diam? Atau kau hanya menjadikan wanita itu simpananmu selama beberapa tahun ini?"

"Aku tidak menikah diam-diam, Kak!" sahut Matteo dengan nada yang mulai meninggi. "Kejadian itu... itu murni ketidaksengajaan lima tahun lalu. Aku sendiri baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu!"

Mark tertawa sinis dari sudut ruangan, suara tawa yang membuat Matteo menoleh dengan gusar. Mark menyesap wiskinya, matanya menatap Matteo dengan tatapan menghakimi.

"Lucu sekali," ucap Mark pendek. "Pantas saja dua tahun lalu kau datang ke Filipina sebagai pengacau. Kau bertingkah seperti orang kesurupan memperebutkan Sheena, menghancurkan hidup kami, dan bersikap seolah-olah kau adalah pria paling menderita karena cinta..."

Mark melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan saudara kembarnya. "Ternyata, di saat kau sedang sibuk mengusik istriku di Manila, ada dua anak di Seoul yang memiliki wajah persis seperti Kendrick yang sedang menunggu ayahnya pulang. Kau benar-benar kacau, Matteo. Kau mengejar masa lalu yang bukan milikmu, sementara darah dagingmu sendiri kau terlantarkan."

Matteo terdiam, rahangnya mengeras. Kata-kata Mark menghantam telaknya tepat di titik paling rapuh. Benar, dua tahun lalu dia adalah monster di Filipina karena obsesi kosongnya pada Sheena, tanpa tahu bahwa takdir sebenarnya sedang menunggunya di Korea.

"Aku benar-benar tidak tahu tentang mereka saat itu, Mark," bisik Matteo parau.

"Cukup!" Lee Young-ae memukul meja kecil di sampingnya. "Ibu tidak peduli apa yang terjadi di Filipina dua tahun lalu. Yang Ibu pedulikan adalah cucu-cucu Ibu. Park Chae-young, wanita itu pasti menganggap kita keluarga monster karena membiarkannya menderita sendirian."

"Dia takut, Bu," ucap Matteo pelan. "Dia mengira kita akan mengambil anak-anaknya. Dia tidak tahu siapa kita, dia hanya tahu aku adalah pria asing yang tiba-tiba datang mengklaim anaknya."

"Tentu saja dia takut!" Marian mendesis. "Seorang pria yang menghilang lima tahun tiba-tiba datang dan merasa seolah tidak terjadi apa-apa? Kau benar-benar tidak punya tata krama, Matteo!"

"Diam! Kalian semua diam!" Untuk pertama kalinya wanita paruh baya itu yang dikenal dengan kelembutan hatinya meninggikan suaranya.

"Lalu apa rencana kau sekarang?" tanya Lee Young-ae, tatapannya kini menuntut tindakan nyata. "Ibu tidak ingin mereka tetap menggunakan nama Park lebih lama lagi. Dan Ibu tidak ingin cucu Ibu tinggal di apartemen sempit sementara rumah ini kosong."

"Dia butuh waktu, Ibu. Tolong jangan dekati dia dulu," pinta Matteo. "Aku sedang berusaha mengambil hatinya."

Mark hanya menggelengkan kepala, ia menepuk bahu Matteo dengan kasar sebelum berjalan pergi menuju kamarnya. "Selesaikan kekacauanmu, Matteo. Jangan sampai kebodohanmu dua tahun lalu terulang lagi dan membuat anak-anakmu membencimu."

Malam itu, hanya Matteo dan ibunya yang tersisa di ruang tengah yang luas. Ia menatap bayangannya di kaca jendela besar—seorang pria yang memiliki segalanya, namun kini menyadari betapa miskinnya dia di hadapan wanita bernama Chae-young. Ia tahu, perjalanannya untuk mendapatkan maaf dari Chae-young akan jauh lebih sulit daripada membangun M-Nexus dari nol.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!