Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Gaun Pesta dan Nampan Kotor
"Malam ini aku mengenakan gaun terindahku, melangkah di bawah siraman cahaya lampu kristal berdampingan dengan pangeran yang diimpikan seluruh dunia. Namun ironisnya, di tengah kemegahan ini, mataku justru sibuk mencari-cari sesosok laki-laki berseragam pelayan di sudut ruangan gelap. Kau mengumpulkan gelas kotor kami, sementara aku mengumpulkan sisa-sisa hatiku yang hancur saat menyadari bahwa pada akhirnya... Cinderella tak pernah kabur bersama sang jelata." (Buku Harian Keyla, Halaman 125)
Bulan Mei datang membawa angin kebebasan bagi siswa-siswi kelas dua belas. Pengumuman kelulusan telah disebarkan minggu lalu, dan seperti yang bisa diprediksi, kelas kami lulus seratus persen. Nilai Rendi yang berhasil diselamatkan dari jurang kehancuran menjadi topik perbincangan singkat di ruang guru, sebelum akhirnya tertelan oleh euforia perpisahan.
Malam ini adalah malam puncak dari segalanya: Prom Night SMA kami.
Acara perpisahan ini digelar di sebuah ballroom hotel bintang lima di pusat kota Jakarta. Panitia yang didominasi oleh anak-anak populer—termasuk Deandra dan gengnya—telah menyulap ruangan raksasa itu menjadi sebuah pesta bertema Masquerade Ball yang luar biasa mewah. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan, lantai dansa terbentang luas, dan alunan musik jazz mengalun merdu dari panggung utama.
Aku berdiri di depan cermin full-body di kamarku. Malam ini, atas paksaan Mama dan Lidya, aku mengenakan sebuah gaun malam off-shoulder berwarna biru sapphire yang menjuntai anggun hingga menyapu lantai. Rambut panjangku disanggul modern dengan beberapa helai yang dibiarkan jatuh membingkai wajah. Riasan wajahku dipoles sempurna oleh makeup artist langganan Mama, menutupi kantung mataku dan membuatku terlihat seperti orang yang benar-benar berbeda.
"Sempurna, Keyla. Kamu cantik banget malam ini," puji Mama dengan mata berbinar-binar saat masuk ke kamarku. "Apalagi perginya sama Indra. Kalian berdua itu pasangan yang paling serasi. Mama bangga banget."
Aku memaksakan seutas senyum. "Makasih, Ma."
Terdengar suara klakson mobil dari luar. Itu Indra. Sesuai janjiku pada diriku sendiri untuk mencoba membuka lembaran baru dan memberi Indra kesempatan, aku menerima ajakannya untuk menjadi pasangannya di malam perpisahan ini.
Saat aku menuruni tangga dan keluar menuju teras, Indra sudah berdiri menunggu di dekat mobil sedan mewahnya. Ia mengenakan setelan jas tuxedo hitam pekat dengan dasi kupu-kupu yang membuatnya terlihat sangat gagah dan berkelas.
Begitu matanya menangkap sosokku, Indra mematung. Napasnya seolah tertahan. Ia menatapku tanpa berkedip, sebuah binar kekaguman yang teramat tulus memancar dari matanya.
"Key..." panggil Indra pelan, suaranya sedikit serak. Ia melangkah maju, meraih tangan kananku dan mengecup punggung tanganku dengan sangat sopan layaknya seorang pangeran. "Kamu bener-bener luar biasa malam ini. Aku ngerasa jadi laki-laki paling beruntung sedunia karena bisa gandeng kamu."
"Kamu juga kelihatan rapi banget, Ndra. Makasih ya," balasku dengan senyum simpul.
Di sepanjang perjalanan menuju hotel, Indra tak henti-hentinya mencairkan suasana, memujiku, dan memastikan aku nyaman. Logikaku terus merapalkan mantra: Lihatlah dia, Keyla. Dia menyayangimu. Dia menghargaimu. Inilah tempatmu.
Sesampainya di ballroom hotel, kemeriahan langsung menyambut kami. Siswa-siswi angkatanku bertransformasi menjadi pria-pria dewasa dan wanita-wanita anggun. Lidya dan Bella langsung berlari menghampiri begitu kami memasuki ruangan.
"Gila! Lo berdua udah kayak King and Queen of the Night aja!" jerit Bella heboh, gaun merah marunnya ikut bergoyang.
Lidya yang memakai gaun hitam elegan mengacungkan dua jempolnya. "Sumpah, Key, lo stunning banget. Pilihan Siska emang nggak pernah salah milihin warna gaun buat lo."
Siska muncul dari belakang mereka. Ia mengenakan gaun berwarna emerald yang membuatnya terlihat sangat berkelas. Siska menatapku dan Indra secara bergantian, lalu tersenyum puas. Rencananya untuk menyatukan kami perlahan mulai membuahkan hasil.
"Cantik. Sangat cantik," Siska merangkulku ringan. "Malam ini, lupain semua beban kamu, Key. Ini malam perayaan kita. Malam di mana kita ninggalin masa lalu yang buruk di belakang."
Aku mengangguk pelan. Kami berjalan menuju meja bundar yang telah dipesan khusus untuk geng kami dan beberapa teman dekat Indra.
Acara berjalan dengan sangat meriah. Ada sambutan dari kepala sekolah, penyerahan penghargaan siswa berprestasi, dan sesi makan malam mewah ala fine dining. Aku menikmati hidangan dengan anggun, sesekali tertawa mendengar lelucon teman-teman Indra. Indra sendiri tak pernah melepaskan perhatiannya dariku. Saat aku terlihat kedinginan, ia menyampirkan jasnya ke bahuku. Saat aku kesulitan memotong steak, ia mengambil alih piringku dan memotongkannya untukku.
Aku mencoba. Sungguh, aku sedang mencoba sekuat tenaga untuk meresapi kebahagiaan ini. Aku mencoba mengunci pintu memori yang menyimpan nama Rendi di dalam otakku. Rendi sudah sibuk mengurus pendaftaran kuliahnya. Ia punya masa depannya sendiri. Aku pun harus punya masa depanku.
Menjelang pukul sembilan malam, sesi free time dan dancing dimulai. Musik diubah menjadi alunan romantis yang pelan. Beberapa pasangan mulai turun ke lantai dansa.
"Key, kamu mau ke lantai dansa?" tawar Indra, mengulurkan tangannya dengan senyum manis.
"A-aku... aku haus, Ndra. Kayaknya aku mau ambil minum dulu di meja buffet ujung sana. Minuman di meja kita udah habis," tolakku sehalus mungkin. Aku belum siap untuk berdansa dengannya. Sentuhan intim seperti itu hanya akan membuatku merasa seperti seorang pengkhianat.
Indra mengangguk maklum, tak memaksakan kehendaknya. "Biar aku yang ambilin ya?"
"Nggak usah, Ndra, aku sekalian mau ke toilet sebentar buat benerin rambut. Kamu tunggu sini aja bareng anak-anak," ucapku sambil berdiri dari kursi.
"Oke, hati-hati ya."
Aku berjalan menjauh dari keriuhan lantai dansa, menyusuri tepi ballroom menuju area buffet minuman yang letaknya sedikit tersembunyi di dekat lorong dapur hotel. Area ini tidak terlalu terang, hanya diterangi oleh lampu-lampu spotlight yang menyorot meja hidangan.
Aku mengambil sebuah gelas piala berisi sirup merah dingin. Saat aku membalikkan tubuh hendak kembali ke toilet, ekor mataku tak sengaja menangkap sebuah pergerakan di dekat meja tempat penumpukan piring dan gelas kotor.
Seorang pelayan katering sedang bekerja dengan cepat. Ia mengenakan kemeja seragam berwarna putih tulang, rompi hitam yang ukurannya sedikit kebesaran di tubuhnya, dan celana bahan hitam. Ia sedang menyusun puluhan gelas kaca kotor ke atas sebuah nampan besi bundar yang berukuran cukup besar.
Napas di tenggorokanku tercekat. Kakiku yang terbalut sepatu hak tinggi seolah dipaku ke lantai karpet hotel.
Gelas di tanganku bergetar.
Pelayan itu... rambut hitam legamnya yang selalu sedikit berantakan, garis rahangnya yang tegas, dan bahu tegapnya yang kini sedikit menunduk menahan berat nampan.
Itu dia.
Itu Rendi.
Duniaku runtuh seketika. Pertahanan yang kubangun susah payah selama berminggu-minggu ini hancur berkeping-keping menjadi debu dalam hitungan detik.
Ia tidak datang ke Prom Night ini sebagai siswa yang merayakan kelulusan. Ia ada di sini sebagai pelayan katering sewaan hotel. Uang tujuh juta yang kuberikan padanya memang melunasi tunggakan panti asuhan Nanda, namun uang itu tidak bisa membiayai hidupnya sehari-hari. Ia harus tetap bekerja. Ia harus berdiri melayani teman-teman seangkatannya sendiri yang sedang berpesta pora menghamburkan uang orang tua mereka.
Rasa sakit yang sangat brutal menghantam dadaku. Ia berada di ruangan yang sama denganku, namun kami terpisahkan oleh kasta yang begitu kejam.
Tiba-tiba, Deandra dan dua orang temannya berjalan menuju meja buffet itu. Mereka sedang membicarakan sesuatu sambil tertawa keras. Saat Deandra meletakkan gelas kosongnya ke meja penumpukan, ia menoleh dengan angkuh ke arah pelayan yang sedang merapikan gelas tersebut.
"Eh, tunggu," Deandra menyipitkan matanya, menatap wajah Rendi dengan saksama.
Rendi yang sedang mengangkat nampan berat itu terdiam mematung. Wajahnya mengeras seketika.
"Loh... Rendi?!" jerit Deandra dengan suara nyaring yang melengking, sengaja menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka. Mata Deandra membelalak tak percaya, sebelum akhirnya senyum sinis dan merendahkan yang sangat menjijikkan terbentuk di bibirnya.
"Ya ampun! Temen-temen, lihat deh siapa yang ada di sini!" Deandra tertawa sinis, menatap Rendi dari atas sampai bawah. "Gue kira lo nggak datang ke prom karena nggak mampu beli tiketnya, ternyata lo ke sini buat jadi babu kita-kita ya? Pantesan lo nolak beasiswa dari bokap gue waktu itu, ternyata passion lo emang mungutin gelas kotor!"
Teman-teman Deandra langsung tertawa mengejek, menutup mulut mereka namun tatapan mereka penuh hinaan.
Aku mengepalkan tanganku dengan sangat kuat. Dadaku bergemuruh oleh amarah yang mendidih. Aku ingin berlari ke sana, menyiramkan sirup di tanganku ke wajah Deandra, dan menyeret Rendi pergi dari tempat neraka itu.
Namun langkahku terhenti saat kulihat reaksi Rendi.
Laki-laki itu tidak membalas. Ia tidak marah. Ia menatap Deandra dengan sorot mata yang sangat, sangat datar dan kosong. Ia telah mematikan perasaannya. Ia menelan semua ludah hinaan itu dengan wajah tanpa ekspresi, seolah harga dirinya telah mengeras menjadi batu karang yang tak lagi bisa dirusak oleh ombak cibiran.
Dengan nampan penuh gelas kotor bertumpuk di tangan kirinya, Rendi menundukkan kepalanya sedikit.
"Permisi," ucap Rendi dengan suara serak yang begitu dingin, meminta jalan untuk lewat.
Ia berjalan melewati Deandra yang masih terkikik geli. Ia melangkah menyusuri tepian dinding ballroom, berniat membawa nampan berat itu menuju pintu dapur di belakang.
Jalur yang ia lewati... adalah jalur tempatku berdiri membeku.
Jarak kami semakin dekat. Jantungku berdetak dengan ritme yang menyakitkan. Aku tak bisa bernapas. Aku ingin lari agar ia tak perlu merasa malu karena kulihat dalam keadaan seperti ini, tapi tubuhku tak mau bekerja sama.
Saat ia berada tepat di depanku—hanya berjarak satu meter—ia mengangkat wajahnya.
Dan matanya... mata elang yang kelam itu... menabrak mataku.
Langkah Rendi terhenti seketika.
Waktu di dalam ballroom megah itu berhenti berputar. Alunan musik jazz memudar menjadi dengungan kosong. Ratusan manusia di sekitar kami menguap tak bersisa. Hanya ada kami berdua.
Ia menatapku. Matanya menyapu penampilanku dari ujung rambut hingga ujung gaunku. Ia melihat gaun biru sapphire yang mewah ini. Ia melihat tatanan rambutku yang elegan. Aku terlihat seperti seorang putri raja yang baru saja turun dari keretanya.
Lalu matanya perlahan turun, menatap seragam pelayannya sendiri yang kusam. Menatap nampan besi berisi gelas bekas lipstik orang lain yang bertumpu di tangannya yang kapalan.
Detik itu juga, aku melihat sebuah kehancuran yang sangat sunyi meledak di dalam pupil matanya.
Topeng ketidakpedulian yang ia pakai saat menghadapi Deandra tadi... runtuh seketika saat berhadapan denganku. Ada rasa sakit yang tak terlukiskan di wajahnya. Sebuah kepedihan yang menyayat hati, sebuah kesadaran mutlak bahwa jarak di antara kami bukan lagi sekadar dinding es, melainkan semesta yang sama sekali berbeda.
Ia menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan rasa malu yang teramat sangat. Ia mungkin bisa menahan hinaan dari Deandra, tapi tertangkap basah sebagai pelayan oleh perempuan yang diam-diam menyelinap memberinya makanan dan mencintainya... adalah pukulan terberat bagi harga dirinya.
"Keyla?"
Sebuah tangan yang tegap tiba-tiba merangkul pinggangku dari samping.
Indra. Laki-laki itu menyusulku karena aku terlalu lama pergi. Indra berdiri di sisiku, dalam balutan tuxedo hitamnya yang mahal dan mempesona. Ia merangkul pinggangku dengan lembut namun posesif, sebuah gestur pelindung di depan umum.
Indra menatap ke depan, menyadari ke mana arah pandanganku. Saat ia melihat Rendi berseragam pelayan, Indra sedikit terkejut, namun dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi sebuah tatapan iba yang sangat merendahkan.
"Oh... Rendi?" gumam Indra pelan. Ia menatap Rendi, lalu tangannya refleks merogoh saku celananya, berniat mengeluarkan dompet. "Kamu kerja part-time di sini? Semangat ya kerjanya."
Indra bermaksud memberikan tip. Sebuah niat baik yang di dunia Rendi adalah penghinaan paling fatal yang bisa diberikan oleh laki-laki saingannya.
"Jangan, Ndra!" bisikku panik, buru-buru menahan tangan Indra dengan tanganku sendiri.
Namun semuanya sudah terlambat.
Rendi menatap tangan Indra yang merangkul pinggangku, lalu menatap tanganku yang menahan tangan Indra. Di matanya, kami berdua adalah sepasang kekasih sempurna dari negeri dongeng yang sedang mengasihaninya.
Tatapan rapuh dan malu di mata Rendi seketika lenyap, digantikan oleh sebuah kepasrahan yang absolut. Ia tidak membuang muka dengan marah seperti biasanya. Ia menatapku, tepat di mataku, dan memberikan sebuah anggukan pelan. Sangat pelan.
Anggukan itu bukan sekadar sapaan. Itu adalah bentuk penyerahannya. Ia mengangguk seolah mengakui kekalahannya pada takdir. Ia seolah berkata: Inilah tempatmu yang sesungguhnya, Keyla. Dan inilah tempatku. Berbahagialah dengan pangeranmu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rendi memalingkan wajahnya. Ia kembali mengangkat nampannya yang berat, lalu berjalan tertunduk menembus pintu ayun dapur hotel, menghilang dari pandanganku untuk selama-lamanya.
"Kau menatapku dalam balutan gaunku yang berkilau, dan di detik itu aku tahu, kau tak sedang mengagumiku. Kau sedang memastikan bahwa jarak di antara kita memang tak akan pernah bisa diseberangi. Kau pergi dengan nampan kotormu, meninggalkan aku yang terjebak di istana emas ini dengan hati yang menangis darah. Rendi, tahukah kau bahwa aku rela menukar gaun sutra ini dengan seragam lusuhmu, asalkan aku bisa berdiri di sampingmu?" (Buku Harian Keyla, Halaman 128)
Aku mematung menatap pintu dapur yang bergoyang pelan. Tanganku yang memegang gelas sirup bergetar hebat.
"Key? Kamu nggak apa-apa?" Indra menatapku dengan cemas, merasakan tubuhku yang menegang kaku di dalam rangkulannya.
"Tuh kan, bener kataku," suara lembut Siska tiba-tiba terdengar dari belakang. Sahabatku itu berjalan menghampiri kami, menatap pintu dapur dengan senyum sinis yang disembunyikan dengan rapi. Siska berbisik di telingaku, "Setiap orang itu udah punya porsinya masing-masing, Key. Tempat dia memang di dapur, menyingkirkan kotoran kita. Dan tempat kamu adalah di sini, berdansa di bawah lampu kristal bersama laki-laki yang setara."
Racun Siska kali ini tak lagi membuatku marah. Ia justru membuatku mati rasa.
Aku melepaskan rangkulan Indra dari pinggangku dengan pelan. Aku meletakkan gelasku di meja terdekat.
"Ndra, Sis... aku mau pulang sekarang," ucapku dengan suara yang sangat datar dan kosong.
"Pulang? Tapi acaranya belum selesai, Key. Bentar lagi ada fireworks," bujuk Indra, wajahnya memancarkan kekecewaan.
"Kepalaku sakit banget, Ndra. Tolong, aku pengen pulang," pintaku tanpa menatap mereka, air mata sudah menumpuk di pelupuk mataku, bersiap untuk tumpah.
Melihat keputusasaanku, Indra tak punya pilihan lain. "Oke. Biar aku antar kamu pulang sekarang."
Malam itu, aku meninggalkan pesta perpisahan terindah yang diimpikan semua remaja. Aku meninggalkan musiknya, tawa sahabat-sahabatku, dan pangeran yang memujaku. Aku duduk diam di dalam mobil Indra sepanjang perjalanan pulang, membiarkan air mata luruh dalam diam.
Rendi telah mengajarkanku satu pelajaran paling kejam dalam hidup: bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki. Terkadang, mencintai seseorang berarti kau harus rela melihatnya dari jauh, menahan diri untuk tidak meraih tangannya saat ia jatuh, karena kau tahu sentuhanmu justru akan merobek harga dirinya.
Aku telah menyelesaikan peranku. Aku telah menjadi penonton bayangan dalam penderitaannya. Dan kini, saat pintu masa SMA kami benar-benar telah tertutup, aku harus belajar mengubur nama Rendi Ardiansyah di dasar palung hatiku yang paling dalam, dan tak pernah membukanya lagi.
semangat ya kak
so happy next cerita mereka dah dewasa
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik