(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Bukti yang belum lengkap
Beberapa menit kemudian, ruang makan kembali terang meskipun jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Meja panjang yang biasanya terlalu besar untuk beberapa orang kini terisi hidangan hangat yang buru-buru disiapkan ulang oleh pelayan atas permintaan Nyonya Shanum.
Sup hangat, nasi, lauk sederhana, dan teh panas tersusun rapi di atas meja, Selina sempat merasa aneh melihat semua ini. Entah sejak kapan suasana seperti keluarga benar-benar terasa di mansion sebesar ini.
Nyonya Shanum duduk di ujung meja sambil beberapa kali melirik Raka seolah masih memastikan putranya benar-benar baik-baik saja, tatapan itu terlalu jelas untuk disembunyikan.
“Raka, makan yang benar,” ucapnya tiba-tiba. “Jangan hanya minum kopi lalu bilang sudah kenyang seperti biasanya.”
Raka yang baru saja mengambil gelas air berhenti sepersekian detik. “Aku lagi makan, Ma.”
“Ya, Mama lihat,” balas Nyonya Shanum cepat. “Tiga suap lalu kembali bekerja.”
Selina spontan menahan senyum kecil.
Raka melirik sekilas ke arahnya. “Lucu?”
Selina buru-buru merapikan ekspresi. “Tidak.”
Namun beberapa detik kemudian sudut bibirnya kembali bergerak kecil.
Nyonya Shanum justru menggeleng pelan. “Untung saja ada Selina di sini,” gumamnya sambil mengambilkan makanan ke piring Raka tanpa meminta izin lebih dulu. “Kalau tidak, Mama yakin kau bisa lupa makan selama berhari-hari.”
“Ma.”
“Diam dan makan saja.”
Untuk beberapa saat, Raka benar-benar tidak membalas, Selina hampir tersedak menahan senyum melihat itu.
Pemandangan seseorang seperti Raka dipaksa menurut jelas terlalu jarang terjadi. Namun suasana yang sempat lebih ringan itu perlahan berubah ketika Nyonya Shanum kembali membuka suara, kali ini jauh lebih pelan.
“Menurutmu siapa yang melakukan ini?”
Pertanyaan itu membuat udara di meja makan terasa sedikit lebih berat.
Raka menaruh sendok perlahan sebelum menjawab tenang, “Aku belum tahu.”
“Kamu punya dugaan?”
“Ada.”
Nyonya Shanum mengernyit kecil. “Tetapi?”
“Aku tidak ingin menuduh siapa pun sebelum semuanya jelas.”
Wanita itu terdiam beberapa detik, jemarinya bergerak pelan di atas meja. “Sudah lama tidak ada yang berani bergerak sejauh ini kepada keluarga kita,” gumamnya lirih.
Kalimat itu membuat Selina sedikit menoleh, ada sesuatu dalam nada suara Nyonya Shanum, sesuatu yang terdengar seperti kekhawatiran lama yang kembali muncul.
Raka tampak menangkap hal yang sama.
Tatapannya bergerak pada ibunya beberapa detik sebelum berkata pelan, “Aku akan menangani ini.”
Nyonya Shanum langsung menghela napas kecil.
“Itulah yang Mama takutkan,” ujarnya pelan. “Kau selalu mencoba menangani semuanya sendirian.”
Beberapa detik ruangan kembali sunyi, Selina yang sejak tadi mendengarkan tanpa sadar menggenggam sendok sedikit lebih erat sebelum akhirnya berkata hati-hati, “Tante... Jack juga sedang menyelidikinya, kan?”
Nyonya Shanum mengangguk kecil. “Ya,” jawabnya pelan. “Tetapi tetap saja...”
Tatapannya kembali tertuju pada Raka.
“Kau anak Mama,” lanjutnya lirih. “Bagaimana Mama bisa tenang setelah mendengar ada peluru menembus kaca mobilmu?”
Raka terdiam, lalu perlahan, sesuatu yang jarang terlihat muncul di wajahnya, kelembutan kecil yang nyaris tidak tampak. “Aku akan lebih berhati-hati,” ucapnya pelan.
Jawaban sederhana itu justru membuat Nyonya Shanum sedikit membeku sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Selina diam-diam melirik pria di sampingnya, mungkin benar, di balik sikap keras kepala dan ekspresi datarnya, Raka tetap seseorang yang diam-diam memperhatikan orang-orang yang ia anggap penting.
Suasana meja makan perlahan kembali tenang setelah itu. Hanya suara pelan alat makan yang sesekali terdengar, bercampur dengan pendingin ruangan yang berdengung samar di tengah malam.
Namun ketenangan itu tidak benar-benar menghilangkan sisa kecemasan yang masih menggantung di udara, Nyonya Shanum beberapa kali masih melirik ke arah Raka, seolah ingin memastikan putranya benar-benar duduk di hadapannya dan bukan sekadar terlihat baik-baik saja.
Sementara itu, Selina sesekali mencuri pandang ke arah pria di sampingnya sebelum buru-buru kembali menatap piring sendiri saat sadar.
Entah kenapa, melihat Raka tetap setenang ini justru membuat pikirannya semakin tidak tenang, orang itu baru saja hampir kehilangan nyawanya.
Tetapi ekspresinya tetap biasa saja, akhirnya, setelah beberapa menit berlalu Selina tidak bisa menahan diri lagi. “Kamu tidak takut?” tanyanya tiba-tiba.
Sendok di tangan Raka berhenti sepersekian detik, Nyonya Shanum ikut mengangkat pandangan.
“Takut apa?” tanya Raka tenang.
Selina sedikit mengernyit. “Ya... kejadian tadi,” jawabnya pelan. “Ada orang yang mencoba mencelakaimu, bahkan sampai membawa senjata.”
Raka terdiam beberapa detik sebelum mengambil gelas air. “Aku lebih sibuk berpikir siapa yang melakukannya daripada harus takut,” jawabnya datar.
Selina langsung menghela napas pendek. “Nah, itu dia,” gerutunya pelan. “Kamu ini terlalu aneh.”
Sudut bibir Raka bergerak samar. “Kau baru sadar?”
Selina langsung mendecak kecil. “Bukan lucu,” gumamnya pelan. “Kau menyebalkan.”
Nyonya Shanum yang melihat interaksi keduanya akhirnya menggeleng kecil sambil menghembuskan napas tipis.
“Aneh sekali,” gumamnya pelan.
Keduanya refleks menoleh. “Apa, Tante?” tanya Selina cepat.
Nyonya Shanum menopang dagu sebentar, matanya bergantian melihat Selina lalu Raka.
“Biasanya rumah ini sangat sunyi,” katanya pelan. “Namun belakangan ini justru terasa lebih ramai.”
Kalimat itu membuat Selina berkedip kecil, wajahnya perlahan memerah samar. “Mungkin karena aku terlalu sering berbicara,” balasnya cepat sambil tertawa kecil canggung.
“Bukan,” jawab Nyonya Shanum ringan. “Karena ada seseorang yang akhirnya mau sedikit membuka hatinya.”
Tatapannya bergerak jelas pada Raka, Raka yang sedang mengambil minum berhenti sepersekian detik.
“Ma.”
“Apa? Mama salah?”
Selina buru-buru menunduk pura-pura fokus pada makanannya, meskipun sudut bibirnya sulit ditahan, sementara Raka hanya menghela napas kecil sebelum kembali makan tanpa membalas.
Melihat itu, Nyonya Shanum justru tampak sedikit puas. Namun beberapa saat kemudian, ponsel Raka yang diletakkan di atas meja bergetar pelan.
Nama Jack muncul di layar.
Sorot mata Raka langsung berubah sedikit lebih serius, ia mengangkat panggilan tanpa banyak bicara.
“Ya?”
Suara Jack terdengar rendah dari seberang sambungan.
“Tuan muda, kami menemukan sesuatu.”
Tatapan Raka langsung berubah lebih tajam, meskipun ekspresinya tetap tenang seperti biasa.
“Katakan cepat,” ujarnya singkat.
Di meja makan, Selina dan Nyonya Shanum tanpa sadar ikut terdiam.
Suara Jack terdengar tetap profesional dari seberang sambungan. “Salah satu orang yang wajahnya tertangkap CCTV sudah berhasil kami identifikasi. Namanya Dimas Arwana, mantan anggota keamanan swasta ilegal. Ia beberapa kali terlibat pengawalan gelap, pemerasan, dan pekerjaan bayaran.”
Raka bersandar sedikit pada kursi. “Lalu?”
“Ada transaksi mencurigakan masuk ke rekening penampung miliknya dua hari lalu,” lanjut Jack. “Jumlahnya cukup besar dan langsung dipindahkan melalui beberapa rekening perantara.”
Tatapan Raka sedikit menyipit. “Jejak pengirim?”
“Hampir bersih,” jawab Jack jujur. “Namun ada satu hal yang aneh.”
“Apa?”
Jack terdiam sepersekian detik sebelum berkata lebih pelan. “Salah satu nomor yang sempat terhubung dengan mereka ternyata pernah muncul dalam riwayat komunikasi internal Pradipta Group.”
Udara di ruang makan terasa berubah lebih berat, Nyonya Shanum perlahan menurunkan sendoknya.
Selina langsung mengangkat wajah.
“Internal perusahaan?” ulang Raka tenang, tetapi nada rendah suaranya justru terdengar lebih dingin.
“Ya, Tuan muda,” jawab Jack. “Kami masih memastikan agar tidak terjadi kesalahan identifikasi, tetapi sementara ini kemungkinan kebocoran dari dalam semakin besar.”
Beberapa detik tidak ada jawaban, Raka hanya duduk diam, jemarinya bergerak pelan mengetuk meja sekali sebelum berhenti.
“Siapa nama pemilik nomor itu?” tanyanya akhirnya.
“Belum dapat dipastikan,” jawab Jack. “Nomor tersebut menggunakan identitas perusahaan dan terhubung ke beberapa perangkat yang berbeda. Namun tim sedang mempersempit akses.”
Tatapan Raka turun sesaat pada meja sebelum kembali tenang. “Teruskan,” ucapnya rendah. “Dan jangan buat siapa pun sadar kita sedang menyelidikinya.”
“Baik, Tuan muda.”
“Orang yang bergerak malam ini, awasi semuanya. Aku ingin laporan lengkap sebelum pagi hari.”
“Baik.”
Sambungan terputus, untuk beberapa detik, ruang makan benar-benar sunyi.
Selina memandangi wajah Raka, mencoba membaca sesuatu dari ekspresi pria itu, tetapi seperti biasa, terlalu sulit ditebak.
Nyonya Shanum lebih dulu membuka suara, kali ini jauh lebih pelan. “Ada keterlibatan orang dalam?” tanyanya hati-hati.
Raka meletakkan ponsel perlahan. “Kemungkinannya mengarah ke sana.”
Wajah Nyonya Shanum berubah sedikit pucat. “Berarti mereka bukan hanya mengincarmu, tetapi juga cukup berani menyentuh perusahaan.”
“Karena itu aku harus menemukan siapa orangnya sebelum mereka mulai bergerak lagi,” jawab Raka tenang.
Selina langsung mengernyit kecil. “Tunggu dulu,” katanya cepat. “Maksudmu kamu akan tetap bekerja seperti biasa, setelah kejadian seperti ini?”
Raka menoleh tipis. “Memangnya kenapa?”
Selina menatapnya beberapa detik seolah tidak percaya. “Kamu sedang dalam bahaya dan di incar orang!”
“Aku baik-baik saja.”
“Itu bukan inti pembicaraannya!” balas Selina spontan.
Sudut bibir Nyonya Shanum bergerak kecil, tetapi kekhawatiran di wajahnya belum benar-benar hilang.
“Kali ini Mama setuju dengan Selina,” ujarnya tegas. “Minimal besok pengamananmu harus ditambah.”
“Akan ada tambahan pengawal,” jawab Raka pendek.
“Dan jangan bepergian sendirian,” lanjut Nyonya Shanum lagi.
Raka tampak hendak menjawab, tetapi tatapan ibunya membuat ia berhenti sepersekian detik.
“…Baik.”
Selina berkedip kecil, lalu tanpa sadar menatap pria itu sedikit lebih lama. “Tumben sekali,” gumamnya pelan. “Hari ini kamu lebih mudah menurut.”
Raka melirik sekilas. “Aku sedang lelah berdebat.”
“Bagus,” sahut Nyonya Shanum cepat. “Kalau begitu sekalian menurut satu hal lagi.”
Raka mengangkat alis tipis.
“Besok pagi cek kesehatan lengkap.”
“Ma.”
“Tidak ada bantahan.”
Selina spontan menahan tawa kecil.
Raka mengembuskan napas samar lalu kembali mengambil gelas air. “Aku mulai merasa rumah ini terlalu banyak orang cerewet.”
Selina langsung mendecak kecil. “Tidak sopan sekali, aku sedang membantumu.”
“Dengan mengomel?”
“Dengan mengingatkan.”
Untuk pertama kalinya sejak panggilan Jack berakhir, suasana meja makan sedikit mencair lagi, meskipun di balik percakapan ringan itu, bayangan tentang seseorang di dalam perusahaan yang mungkin mencoba membunuh Raka masih menggantung diam, jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km