Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.
Dan ketika ia membuka matanya kembali…
Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenaikan Bakat
Langit sore menutupi daratan Tiongkok dengan bayang-bayang kelabu, namun di dalam markas besar faksi-faksi raksasa pesaing Wu Imperial Guild, perayaan sedang berlangsung meriah.
Gelas-gelas kristal berisi anggur merah berdenting. Para ketua guild raksasa—penguasa distrik dan kota yang selama lima belas tahun hidup di bawah tekanan tiran Wu Jiang—kini tertawa lepas hingga air mata menggenang di sudut mata mereka. Berita yang disiarkan di seluruh penjuru benua menampilkan pangeran mahkota dari keluarga Wu berdiri di depan altar, dikutuk dengan bakat Kelas E, Perpustakaan, dan kapasitas mana nol.
Bagi mereka, ancaman garis keturunan keluarga Wu telah berakhir. Sang pewaris hanyalah seonggok daging tak berguna yang bahkan tidak bisa membela dirinya dari gigitan monster rendahan.
Sementara itu, di bawah pengawalan ketat yang mematikan, Wu Xuan telah dibawa kembali ke benteng baja Wu Imperial Guild di Shanghai. Media sosial meledak, memuntahkan jutaan komentar hinaan, meme yang merendahkan, dan cacian yang mengalir tanpa henti di setiap beranda digital.
Namun, tidak semua orang tertawa.
Di ruang pelatihan Guild Naga Beijing, hawa panas dari api biru Li Hua telah padam. Layar proyeksi di dinding ruangan menampilkan tayangan ulang momen ketika Wu Xuan berdiri di depan altar Asosiasi. Teman wanitanya yang tadi menyindir, kini ikut terdiam melihat tatapan kosong dari sang penyihir api.
Mata Li Hua membelalak, napasnya tercekat di tenggorokan. Ia melangkah mendekati layar, ujung jarinya yang gemetar menyentuh proyeksi wajah Wu Xuan.
Dunia menertawakan bakat Kelas E pemuda itu. Tapi Li Hua tidak peduli pada stats atau mana. Apa yang membuat darah di nadinya membeku adalah sebuah detail yang dilewatkan oleh miliaran manusia lainnya.
Wajah... postur tubuh... ketenangan.
"Dia... tidak berubah sama sekali," bisik Li Hua dengan suara bergetar, teror masa lalu kembali mencengkeram kewarasannya. "Lima belas tahun. Dia membeku selama itu, namun tidak ada satu pun sel di wajahnya yang menua. Dia... dia masih pemuda yang sama seperti saat dia menghancurkanku di malam itu."
Li Hua melangkah mundur, kakinya lemas. Ia tahu persis siapa pria di layar itu. Dengan kekuatan atau tanpa kekuatan, otak di dalam kepalanya adalah senjata yang jauh lebih mematikan dari seluruh guild di Tiongkok yang digabungkan.
Di tempat lain, di sebuah bar eksklusif bawah tanah di distrik hiburan Beijing, aroma cerutu mahal dan alkohol bercampur baur.
Di sudut ruangan yang remang-remang, seorang pria dengan otot kawat dan tatapan licik meledak dalam tawa keras. Ia membanting gelas whiskey-nya ke atas meja hingga pecah berantakan. Namanya Bing Song. Seorang Hunter Level 35, berada di tingkat Town Tier.
Lima belas tahun yang lalu, Bing Song adalah seorang pria sukses dengan perusahaan raksasa, sebelum seorang pemuda berusia dua puluh empat tahun dari keluarga Wu menghancurkan kerajaannya hingga menjadi debu dalam waktu kurang dari sepekan.
"Hahahaha! Keadilan langit akhirnya turun!" tawa Bing Song menggelegar. "Si jenius arogan itu kini hanyalah sampah!"
Matanya menyipit, memancarkan niat membunuh yang sangat dingin. Otak taktis Bing Song mulai menyusun rencana.
"Keluarga Wu terlalu sombong untuk membiarkan pewaris mereka menjadi cacat," analisa Bing Song dalam hatinya, seringai kejam menghiasi wajahnya. "Wu Jiang pasti akan menggunakan segala cara untuk meningkatkan level bocah itu secara paksa. Mereka akan membawanya masuk ke dalam Gate kecil atau lantai dasar Tower untuk memberikan last hit pada monster. Dan di dalam Dungeon... tidak ada CCTV. Hukum Asosiasi tidak berlaku."
Bing Song menuangkan minuman baru. Pembunuhan di dalam Dungeon adalah hal yang sangat lumrah. Tidak peduli seberapa ketat pengawalan Pengawal Wu Xuan nanti, yang ia butuhkan hanyalah satu kekacauan. Satu kesalahan kecil.
"Bersiaplah untuk mati, Wu Xuan," gumamnya, bersulang pada layar televisi yang menampilkan wajah Wu Xuan.
Tiga jam setelah penilaian yang menggemparkan bumi itu.
Di dalam suite pribadi yang luar biasa mewah di puncak Wu Imperial Guild, Wu Xuan duduk bersandar di sofa tunggal. Ia telah mengganti jas formalnya dengan pakaian santai berwarna gelap.
Di hadapannya, Xu Xin berdiri menunduk dengan sikap hormat.
"Xu Xin," panggil Wu Xuan santai. "Bawa Butong dan putri kecilnya, Bu Yue, ke kediamanku sekarang."
Wu Xuan membutuhkan kehadiran Bu Yue. Ia perlu menganalisis sirkulasi energi yang telah ia ciptakan di perut gadis kecil itu untuk memancing kembali kepekaan sensorik energi miliknya.
Xu Xin membungkuk dalam. Ia tidak mendebat, tidak bertanya. Di dalam hati, asisten cantik itu merasa iba. "Tuan Muda pasti sedang depresi berat karena penilaian tadi. Ia memanggil anak kecil yang diselamatkannya mungkin untuk mencari sedikit pelipur lara dan validasi bahwa ia masih berguna. Baiklah, biarkan Tuan Muda menenangkan pikirannya."
"Saya akan segera membawa mereka, Tuan Muda," ucap Xu Xin, lalu berbalik dan keluar dari ruangan dengan cepat.
Beberapa menit setelah Xu Xin pergi, pintu ganda suite itu kembali terbuka.
Wu Jiang dan Wu Yuena melangkah masuk. Raut wajah kedua pilar Country Tier itu terlihat sangat serius namun dipenuhi oleh kasih sayang yang mendalam. Di tangan Wu Jiang, terdapat sebuah koper kecil berbahan titanium yang memancarkan udara dingin.
Mereka duduk di sofa seberang Wu Xuan. Wu Jiang membuka koper tersebut. Tiga buah tabung kaca berisi cairan emas yang bergolak terlihat di dalamnya. Fluktuasi energi yang memancar dari tabung itu cukup untuk membuat seorang hunter tingkat rendah meledak jika menghirupnya langsung.
"Xuan'er," ucap Wu Yuena lembut, menatap putranya dengan tatapan keibuan. "Jangan pikirkan hasil di Asosiasi tadi. Mama dan Papa telah mengamankan serum peningkatan genetik kelas tertinggi yang tidak pernah dirilis ke publik. Ini dirancang dari darah raja monster. Ini mungkin bisa merekonstruksi bakatmu. Jika kau meminumnya secara bertahap, kita bisa menghancurkan batasan Kelas E itu."
Wu Xuan menatap ketiga tabung itu dalam diam. Di dalam pikirannya, sebuah tawa yang elegan namun sangat merendahkan menggema.
"Cairan rendahan yang penuh dengan kotoran biologis," batin sang mantan Dao Agung. "Memasukkan cairan barbar ini ke dalam tubuhku sama saja dengan menuangkan lumpur ke dalam mesin."
Wu Xuan menyilangkan kakinya, menatap kedua orang tuanya dengan senyum tenang yang mematikan.
"Pa, Ma," suara Wu Xuan mengalir lembut, menenangkan kepanikan mereka. "Simpan kembali cairan itu. Bakatku tidak seburuk yang kalian kira. Dan aku tidak membutuhkan cairan itu."
Wu Jiang mengerutkan kening. "Xuan'er, ini bukan saatnya untuk harga diri. Seluruh dunia sedang menertawakanmu. Kami ingin memberimu pelindung."
Senyum di wajah Wu Xuan sedikit melebar. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Jika kalian tidak percaya padaku," ucap Wu Xuan dengan tatapan yang menguji. "Berikan aku sebuah artefak dari Tower. Sesuatu yang jika dinilai menggunakan Sistem Tower harganya luar biasa mahal. Bawa kemari, dan aku akan menilainya tanpa bantuan sistem penilai Tower."
Wu Jiang menatap mata istrinya, mencari jawaban. Menilai artefak tingkat tinggi tanpa menggunakan poin sistem bernilai jutaan adalah hal yang mustahil. Apalagi bagi seseorang yang baru saja divonis Kelas E.
"Apa kau serius, Xuan'er?!" tanya Wu Jiang, suaranya berat.
"Aku tidak pernah membuang waktu untuk omong kosong, Pa," jawab Wu Xuan santai.
Wu Jiang menarik napas panjang. Ia menekan komunikator di pergelangannya. "Juhao. Datang ke ruang keluarga Tuan Muda. Bawa benda yang aku temukan bulan lalu."
Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Seorang pria tua dengan rambut yang disisir rapi, mengenakan setelan kepala pelayan klasik melangkah masuk. Meskipun ia hanya seorang pelayan, postur tubuhnya memancarkan kekuatan hunter tingkat tinggi. Ini adalah Juhao, orang kepercayaan keluarga Wu yang telah mengabdi sejak era kakek Wu Xuan.
Berbeda dengan bawahannya yang lain yang diperlakukan dingin oleh Wu Jiang, kepada pria tua ini, sang Guild Master mengangguk hormat, menganggapnya seperti pamannya sendiri. Wajah Juhao tampak sehat, meskipun matanya berkaca-kaca melihat Wu Xuan telah kembali.
"Tuan Muda..." sapa Juhao dengan suara bergetar, membungkuk hormat.
"Paman Juhao," balas Wu Xuan dengan senyum tulus yang sangat jarang ia perlihatkan. "Senang melihatmu masih bernapas dengan baik."
Juhao melangkah maju dan meletakkan sebuah kotak obsidian ke atas meja kaca. Di dalamnya, tergeletak sebuah prasasti batu kuno berwarna abu-abu gelap, dipenuhi oleh ukiran rune merah darah yang tidak menyerupai bahasa bumi maupun bahasa Tower yang pernah diklasifikasikan.
"Untuk menerjemahkan fungsi benda ini, Sistem Tower meminta bayaran tujuh juta poin," jelas Wu Jiang. "Aku menganggap ini barang langka dan menyimpannya. Aku mendapatkannya setelah bertarung setengah mati melawan bos monster buaya berbadan gorila di lantai empat belas."
Wu Xuan menatap prasasti itu sekilas. Sistem Emas di dalam retina matanya langsung memindai ukiran kuno tersebut, mencocokkannya dengan miliaran data dari Akar Spiritual Perpustakaan.
Wu Xuan mengangkat pandangannya, menatap ayahnya dengan senyum mengejek yang hangat.
"Jangan berbohong padaku, Pa," ucap Wu Xuan santai. "Apa Papa sengaja menjebak anakmu ini agar salah menilai?"
Wu Jiang tertegun. "Apa maksudmu?"
Wu Xuan menunjuk prasasti itu dengan dagunya. "Buaya berbadan gorila tidak memiliki kapasitas kecerdasan untuk menjaga relik spiritual. Artefak ini bernama Prasasti Pembangkit Jiwa. Benda dengan aura sepekat ini hanya bisa ditemukan di kuil iblis atau di wilayah teritorial Undead. Lebih tepatnya, ini adalah barang dari Tower lantai dua puluhan ke atas, bukan lantai empat belas."
Seketika, ruangan itu jatuh ke dalam keheningan yang sangat padat.
Mata Wu Jiang melebar. Wu Yuena menutup mulutnya. Juhao nyaris menjatuhkan nampan di tangannya.
Analisis Wu Xuan seratus persen akurat. Wu Jiang memang berbohong untuk menguji putranya. Ia mendapatkan benda itu dari ruang rahasia seorang Lich King di lantai dua puluh delapan. Fakta bahwa Wu Xuan—tanpa menggunakan Sistem Tower—mampu membaca jenis, fungsi dasar, dan lokasi asli artefak itu hanya dengan sekali lihat, menghancurkan logika mereka.
"Bagaimana kau..." gumam Wu Jiang, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.
"Aku sudah bilang, Pa. Bakatku tidak seburuk yang dunia kira," potong Wu Xuan, tatapannya kini beralih pada prasasti batu tersebut dengan kilatan lapar yang sangat dingin. "Ini... sebaiknya berikan padaku. Ini jauh lebih berguna daripada cairan di dalam koper itu."
"Untuk apa benda itu, Xuan'er?" tanya Yuena, masih terpaku oleh syok. "Prasasti itu mengandung aura kematian yang sangat kuat. Itu berbahaya."
Bibir Wu Xuan melengkung ke atas, membentuk senyum keserakahan.
"Untuk memperkuat dan membentuk legiunku sendiri," jawab Wu Xuan.
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Wu Xuan mengulurkan tangan kanannya dan menggenggam langsung permukaan Prasasti Pembangkit Jiwa tersebut.
Detik itu juga, sebuah kengerian biologis yang tidak bisa dipahami nalar terjadi di depan mata sepasang pilar kemanusiaan itu.
Tangan Wu Xuan yang menyentuh batu itu tidak mengeluarkan sihir. Kulit, daging, dan aliran darah di tangannya tiba-tiba memudar, berubah wujud seolah menjadi miliaran serangga mikroskopis yang hidup dan terorganisir. Sel-sel buas itu bergerak layaknya kawanan predator kelaparan, mengerumuni, membongkar, dan melahap prasasti batu padat itu dengan kecepatan yang bisa terlihat oleh mata telanjang.
Prasasti langka itu mendesis. Batu keras itu terurai menjadi debu cahaya merah yang langsung ditelan oleh sel-sel mikroskopis di tangan Wu Xuan, sebelum tangan itu kembali merajut dirinya sendiri menjadi wujud tangan manusia normal.
Wu Jiang, Yuena, dan Juhao terkesiap, melangkah mundur secara instingtif melihat kanibalisme material yang baru saja dilakukan oleh tubuh pemuda itu.
Di dalam kesadaran Wu Xuan, Sistem Emasnya beresonansi dengan Sistem Biru Tower. Pengetahuan dari prasasti itu dicerna oleh selnya, diekstrak, dan dikonversi menjadi data murni yang memperluas kapasitas otaknya.
DING!
[Akar Spiritual Perpustakaan Menyerap Pengetahuan Entitas Mati.]
[Sinkronisasi Berhasil. Bakat Berkembang.]
[Sistem Tower Diperbarui secara Paksa.]
Wu Xuan menarik napas panjang, merasakan energi informasi yang sangat padat meresap ke dalam jaringan sarafnya. Ia kemudian mengangkat wajahnya, menatap wajah teror dari orang tua dan kepala pelayannya.
Dengan satu jentikan jari yang elegan, Wu Xuan memproyeksikan tampilan Sistem Tower miliknya ke udara, agar bisa dilihat oleh mereka.
Layar biru itu muncul, namun tidak lagi sama seperti saat di Asosiasi.
[Sistem Tower (Bumi)]
[Nama: Wu Xuan]
[Level: 0]
[Bakat Utama: Perpustakaan (Class D)]
[Sub-Bakat Terbuka: Pengendali Jiwa (Class D)]
Mata Wu Jiang nyaris melompat dari rongganya. Bakat Kelas E yang mustahil untuk dinaikkan, baru saja melompat menjadi Kelas D hanya dengan memakan sebuah prasasti! Dan lebih gila lagi, putranya mendapatkan Sub-Bakat kedua—sebuah fenomena yang hanya bisa di lakukan di level 21! Atau awakening ke dua!
Wu Xuan menyilangkan tangannya di depan dada, tersenyum tenang menatap kedua orang tuanya yang mematung, menekan keterkejutan mereka sebelum mereka bisa berucap.
"Nah," ucap Wu Xuan, nadanya santai seolah ia baru saja menghabiskan secangkir teh sore. "Apakah ada artefak lain lagi yang tidak terpakai di gudang kalian, Pa, Ma?"
Bersambung...