NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3

“Dokter… ada pasien yang mencarimu.” Ujar seorang perawat menghampiri Alin.

Alin sendiri tengah disibukkan mengecek pasien rawat jalan pasca ledakan dan tenggelamnya kapal penumpang itu. Dibawah tanggung jawab dokter Gu, Alin bertugas sebagai asistennya.

“Kenapa tidak bertemu dokter Gu, aku sedang mengecek status pasien rawat jalan.”

“Dia hanya mau diperiksa oleh mu. Dan kebetulan dokter Gu sedang melakukan jadwal operasi.”

Alin terdiam melihat jam. Masih ada beberapa pasien yang belum ia tangani. “Baiklah nanti aku kesana.” Ujarnya.

“Ini sudah setengah jam lebih. Kau melewatkan agenda pertemuan dengan perdana menteri Min.” Keluh Yuchen, asistennya, “Kenapa tidak langsung ke rumah sakit kerajaan, kau akan diutamakan. Dokter itu sungguh…”

KLAAAAK

“Maaf membuatmu menunggu lama.” Sahut Alin lembut sesaat memasuki ruang prakteknya.

Entah sejak kapan suara hangat dan halus itu membuat Rei tersenyum mendengarnya.

“Ah… tuan Xue Yan Rei. Ah ternyata kau.” Sahut senang Alin saat membaca berkas yang ia pegang.

“Jadwal kontrol mu seharusnya besok. Kenapa kau datang sekarang?” Tanya Alin menyingkap lengan Rei tanpa sungkan.

“Ya. Aku tidak bisa menemuimu besok. Bukankah besok ada undangan dari kerajaan.” Sahut Rei pelan.

Alin menatap kedua mata Rei. Pria itu pun sama halnya, menatap wajah wanita itu secara utuh. Seakan hanya ada dirinya didalam bola mata Rei.

“Ah… kau di undang?” Tanya Alin polos, “Kau tenaga medis juga? Dokter? Perawat?” Tanya Alin dengan kembali fokus membersihkan luka jahit di lengan Rei.

Disisi lain Yuchen hendak menjelaskan namun tangan Rei mencegahnya. Alin sampai detik itu tidak mengetahui jati diri Rei sebagai bangsawan di negara Xinglan.

Xue Yan Rei, pangeran kedua di negara Xinglan. Pangeran Yan.

“Aku bukan dokter maupun perawat. Aku…”

“Ah ya kau benar. Jika kau salah satunya tidak mungkin menemuiku.” Sela Alin, “Jadi kau sukarelawan.” Tebak Alin asal, bukankah undangan itu ditujukan hanya untuk tim tenaga medis dan sukarelawan yang terdaftar pada saat terjadi kecelakaan.

Rei tertawa mendengarnya. “Ya, aku sukarelawan. Aku membantumu juga saat itu. Bagaimana orang itu?” Tanya Rei mengingat kejadian Alin sedang melakukan tindakan CRP pada salah satu korban dan kemudian Rei datang menghampirinya.

“Tentu dia selamat. Aku berusaha mati-matian mengusir malaikat pencabut nyawanya.” Canda Alin, “Sekarang harusnya dia sedang bermain dengan anaknya ditaman rumah sakit.” Ujar Alin melihat jam tangannya.

Rei kembali tertawa kecil mendengarnya bersama Yuchen. Wanita itu sungguh polos.

“Jadi apa kau akan datang besok?” Tanya Rei memastikan.

“Entahlah. Rumah sakit kami cukup sibuk dan kekurangan tenaga, aku tidak yakin…”

“Bukankah undangan ini sudah dikabarkan tiga hari lalu, apa tidak ada pengaturan jadwal libur?” Sela Rei terlihat tidak senang saat mendengar wanita itu tidak dapat hadir.

“Besok kebetulan jadwal libur ku. Seharusnya aku datang bersama rekan ku, tapi dia besok ada seminar di luar negeri. Kemungkinan yang datang besok hanya dokter Gu.”

“Ah penyihir itu.”

“Hahaha… jangan sebut dia begitu.”

“Kau sendiri yang menyebutnya saat itu.” Lanjut Rei yang sudah bisa berbicara santai dengan Alin, “Datanglah. Bersama dokter Gu. Kau akan mendapat penghargaan di dalam kerajaan nanti.”

“Kau akan datang?” Tanya Alin yang kini membereskan perlengkapan obatnya.

“Ya, aku akan ada disana.”

“Mau pergi bersama ku?” Tawar Alin.

Rei terkesiap mendengar ucapan wanita itu. Tak terlebih Yuchen.

“Kau juga akan pergi bukan? Ah maaf siapa namamu tuan?” Tanya Alin.

“Kau bisa memanggil Yuchen dokter.”

“Sejujurnya aku baru dua minggu disini. Teman ku hanya rekan kerja ku disini. Sebenarnya dokter Gu memaksa ku untuk hadir juga, hanya saja…” Alin tidak mungkin mengatakan bahwa seniornya itu sangat kaku. Namun Rei menyadari hal itu dengan sendirinya.

“Aku akan menjemputmu di rumah sakit.” Jawab Rei langsung.

“Tidak perlu. Aku bisa menjemputmu. Terlalu merepotkanmu jika..”

“Tidak. Tempat ku searah, jika kau menjemput ku justru akan memakan waktu lama.” Jelas Rei.

“Begitu. Tapi aku sungguh tidak enak merepotkanmu. Kita janjian di parkiran istana bagaimana? Setidaknya temani duduk disebelah ku. Aku tidak ingin mati bosan dalam acara itu.“

“Aku ada disini jam 4 sore. Aku akan menghubungimu.” Paksa Rei mengambil kartu nama Alin yang telat berada disebelah Rei.

Alin tersenyum mendengarnya, “Baiklah aku akan menunggumu sekitar jam 4 sore.” Lanjut Alin, “Luka mu sudah beres. Tidak ada masalah. Ini jadwal kontrol terakhir, selanjutnya kau tidak perlu datang lagi tuan Rei.”

“Kau bisa panggil nama ku saja dokter.” Pinta Rei.

Alin terdiam menatap Yuchen dan Rei bersamaan. Yuchen sesaat ingin mencegah permintaan Rei namun pria itu bahkan menghentikan perbuatannya dengan langsung berdiri dihadapan Alin. Rei hanya ingin Alin menatap dirinya saja saat itu.

“Baiklah Rei. Kau bisa memanggil ku Alin.” Senyum Alin.

...****************...

BIP BIP BIP

“Hai kak…” Sapa ceria Alin setelah mengirimkan portrait dirinya pada kakaknya, Zhang Yuhan.

“Kau akan pergi sendiri?” Tanya Yuhan.

“Tidak. Disana nanti akan ada dokter Gu dan beberapa rekan lainnya. Hanya saja aku tidak terlalu kenal.”

“Jaga sikap mu nanti.”

“Apa aku terlihat biang onar.” Kesalnya.

“Kenyataannya begitu.”

Begitulah Alin menghabiskan waktu di akhir pekannya. Kakaknya bertugas di kantor keamanan negara Nairen. Pria itu bahkan tidak tahu alasan adiknya dipindah tugaskan, jika saja Alin menceritakannya. Ia yakin Yuhan akan meratakan direksi utama rumah sakit Orinthal.

“Kabari aku jika sudah pulang.” Lanjut Yuhan.

“Baiklah. Aku berangkat dulu.” Pamit Alin, “Aku sayang padamu kak. Jangan lupa tambahkan uang jajan ku.” Ujar Alin yang akan selalu merepotkan kakaknya meski ia sudah memiliki penghasilannya sendiri.

“Kau menunggu lama?” Tanya Rei saat keluar dari mobilnya.

Alin saat itu meminta Rei untuk menjemputnya di wisma kedokteran. 

“Tidak.”

“Masuklah.” Rei membuka pintu mobilnya untuk wanita itu.

“Aku bisa menyetir. Biar aku…”

“Duduklah dengan tenang.” Sahut Rei mendorong tubuh kecil Alin untuk segera masuk kedalam mobilnya.

“Dimana Yuchen? Apa kita akan menjemputnya?”

“Tidak. Dia sudah menunggu di sana.”

“Ah sungguh. Maaf aku…”

“Apa tadi kau menghubungi kekasihmu?” Tanya Rei menyela, ia tidak sabar memastikan satu hal dalam perjalanan itu. Teringat olehnya saat Alin mengatakan kalimat sayang pada panggilan video tadi.

“Bukan. Dia kakak ku.” Jawab Alin dengan membalas pesan singkat di ponselnya.

“Jadi kau belum memiliki kekasih?”

“Apa aku terlihat ada waktu.” Ujarnya, “Kau lihat ini hari libur ku bahkan aku harus…”

BIP BIP BIP

“Maaf aku harus menjawab panggilan ini.” Sela Alin kemudian, “Ya Han…” Tanya Alin menjawab panggilan masuk dari Hanguang.

“Kau ingat dosis untuk pasien kamar 780. Semalam aku memberinya obat mual untuknya tapi hingga saat ini dia masih merasa…”

“Han… aku sudah mengubah resepnya pagi tadi. Dokter Gu menaikkan dosisnya.”

Dan hampir separuh perjalanan itu Alin sibuk membantu Han mengatur resep pasien dokter Gu.

“Apa kau selalu sibuk seperti ini?” Tanya Rei.

“Tidak, jika tenaga kerja di rumah sakit itu ditambahkan. Rumah sakit cabang sudah meminta penambahan tenaga kerja tapi entah kenapa rumah sakit pusat justru hanya mengirimkan kami begitu saja.  Aku tidak bisa bayangkan jika waktu ku habis disini, bagaimana sibuknya rumah sakit itu.” 

“Waktumu habis?” Tanya Rei bingung.

“Aku dikirim bertugas di rumah sakit cabang ini bersama tim ku sekitar 7 orang, hanya tiga bulan.”

“Jadi kau dari…?”

“Orinthal. Kota Neterdhem.”

“Kau lahir dan besar disana?”

“Tidak. Aku lahir di Nairen. Hanya saja aku memilih pendidikan di Orinthal.”

“Jadi waktumu di rumah sakit cabang itu hanya 3 bulan?”

“Ya… Kau sendiri bagaimana?”

“Aku?”

“Apa tempat ini hanya persinggahan mu? Asalmu dari mana Rei?”

“Aku dari Xinglan.” Jawab singkat Rei.

Tak ada suara dari keduanya. Alin sendiri terpukau akan keindahan panorama alam negara itu.

“Kau baru ini jalan keluar?” Tanya Rei saat melihat sorot wajah Alin terkagum akan pemandangan dari jendela mobil.

“Ya… saat libur aku lebih banyak menghabiskan waktu di wisma. Bahkan sungguh beruntung jika aku bisa tidur tiga jam lamanya. Setiap harinya selalu saja ada panggilan darurat.” Ujar Alin, “Aku bingung apa orang Xinglan terlalu mudah sekali melukai dirinya sendiri.” Kesal Alin.

“Hahaha itu karena kau tinggal di perbatasan pinggir kota, orang disana sedikit bar-bar.”

“Kau benar. Bahkan saat pertama aku menginjakkan kaki di IGD, seorang boss mafia atau yakuza atau sejenisnya terluka parah. Bayangkan didalam sana kami dikepung para pengawalnya.”

“Mereka cemas pemimpin mereka tewas, disini pemimpin itu bertanggung jawab penuh atas anggota kelompoknya. Bisa dikatakan sumber penghidupan mereka dari pemimpinnya.”

“Terdengar sama saja seperti staff perusahaan.” Gerutu Alin.

“Kau takut pada mereka?”

“Tidak terlalu. Hanya saja diawasi selama bertindak terasa tidak menyenangkan. Apa rasanya jika 24 jam penuh hidup mu harus diawasi terus oleh mereka, aku tidak bisa membayangkan hidup terkurung seperti itu.”

Rei hanya tersenyum tipis. Ucapan wanita itu seakan menyindir kehidupannya sebagai anggota kerajaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!