Hana Azura pernah mencintai Devan dengan seluruh hidupnya. Selama bertahun-tahun, ia mengemis cinta laki-laki itu, bertahan di tengah hubungan yang penuh luka, penghinaan, dan penolakan dari Devan. Bahkan saat dirinya hamil, Devan justru memilih melepaskannya.
Hancur dan sendirian, Hana menerima lamaran mendadak Felix Mahendra, seorang perwira tentara sekaligus sahabat masa kecilnya yang diam-diam selalu melindunginya. Pernikahan mereka yang awalnya hanya karena keadaan berubah menjadi awal kehidupan baru bagi Hana. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa syarat.
Namun ketika Hana mulai perlahan melupakan masa lalunya, Devan justru menyadari bahwa perempuan yang ia buang adalah satu-satunya alasan hidupnya. Penyesalan datang terlambat. Setelah mengetahui Hana hamil anaknya. Devan mulai terobsesi merebut Hana kembali, meski wanita itu telah sah menjadi istri orang lain.
Di saat yang sama, Hana menemukan rahasia besar tentang kematian kedua orang tuanya. Sebuah surat warisan membawanya pada fakta kelam yang selama ini disembunyikan keluarganya sendiri. Orang-orang yang dulu mengendalikan hidup Hana mulai panik ketika wanita yang mereka anggap lemah akhirnya bangkit dan memilih pergi.
Dulu Hana mengemis cinta pada Devan.
Sekarang Devan mengemis agar Hana kembali ke hidupnya.
Tetapi cinta bukan tentang siapa yang paling lama bertahan.
Kadang, cinta adalah tentang siapa yang tetap tinggal saat seluruh dunia memilih pergi.
Di antara penyesalan, rahasia keluarga, obsesi, dan kasih sayang yang perlahan tumbuh setelah pernikahan, Hana harus memilih, kembali pada cinta lamanya, atau mempertahankan laki-laki yang memeluk semua luka dan masa lalunya tanpa pernah meminta apa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonata 85, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Luka dan Bayangan di Balik Pagar Rumah Devan
Pagi itu, udara masih dingin ketika Hana melangkah pelan menuruni anak tangga. Aroma kopi buatan Mami menyambutnya, tapi bukan itu yang membuat jantungnya deg-degan. Satu keluarga itu duduk manis di ruang tamu, lengkap seperti sedang menantikan sesuatu atau seseorang.
Mata Hana bersirobok dengan tatapan menyelidik dari mereka. Papi yang duduk dengan kaki disilangkan, Mami dengan apron masih terikat di pinggang, Arjun si bontot yang selalu usil, dan Devandra. Berdiri di sisi sofa, bersandar santai dengan botol air mineral di tangan. Matanya dingin, menusuk.
“Mau ke mana, Hana?” tanya Mami Devan, tajam.
Hana terkesiap. “Eh, anu, Hana mau kuliah, Mi.”
Mami mengernyit. “Hana, ini kan hari Sabtu.”
“Oh iya, hehe, Maksudnya, ngerjain tugas kuliah, Mi,” kata Hana sambil manggut-manggut kayak orang bego. Badannya otomatis berputar-putar, awkward banget.
“Kerjain tugas ke mana?” Papi Devan ikut bersuara, suaranya berat dan penuh interogasi.
Hana menarik napas dalam. “Ke rumah teman, Pi.”
“Sepagi ini? Baru jam enam lho, Kak Hana,” Arjun ikut nimbrung dengan nada menyelidik. “Dan penampilan Kakak beda banget hari ini.”
Semua mata tertuju pada Hana. Ia bisa merasakan wajahnya panas karena malu. Devan menatapnya datar, tapi matanya jelas mengamatinya dari atas ke bawah. Tatapan yang membuatnya ingin menghilang seketika.
“Iya beda. Sedikit, terbuka,” komentar Papi, matanya menyipit.
Dari sudut mata Hana, nyalihat Devan masih diam, tapi telapak tangannya menggenggam botol cukup erat. Oh, come on. Ini semua gara-gara Tari. Hana mengumpat dalam hati. Tari yang menyuruhnya memakai baju pink bertali satu yang memperlihatkan pundak dan sedikit bagian lehernya. Rambut panjangnya sengaja dilepas dan hanya dijepit sedikit di tengah. Celana skinny jeans ketat yang membentuk lenyak kakinya. Jujur, Hana nggak nyaman. Banget. Tapi Tari bilang, “Sekali-kali, Han. Tunjukin kamu juga cewek, bukan boneka Doraemon.”
Mami mendekat. “Hana, duduk dulu deh. Sarapan bareng kita.”
“Tapi Hana udah ada janji, Mi,” kata Hana cepat.
“Papi bisa antar kamu,” potong Mami dengan nada tak bisa ditolak. “Nggak usah orang lain. Sama Mami aja.”
“Aku juga bisa antar Kak Hana. Mau ke mana aja!” sahut Arjun sambil nyengir. Oh God, anak ini.
Devan? Masih diam, pandangannya ke luar jendela. Nggak ada sepatah kata pun.
Lalu, seolah semesta ingin memperburuk pagi itu, suara motor besar berhenti di depan rumah. Mohan. Lelaki tinggi yang selalu bikin keluarg Devan salah paham.
“Hana!” sapa Mohan sambil masuk. Gayanya hari ini jauh lebih rapi. Kemeja, jaket kulit, rambut klimis, beda banget dari biasanya.
Mami Devan langsung berdiri. Wajahnya berubah masam.
“Jadi kamu yang mau ngajak Hana jalan?” tanyanya, tanpa basa-basi.
“Iya, Tante. Kami udah janjian tadi malam,” jawab Mohan dengan tenang.
Hana langsung kasih kode dengan mata. Please jangan bahas yang tadi malam, untungnya Mohan paham.
“Hana belum selesai tugasnya, Tante. Kebetulan ada bahan yang cuma bisa didapat di rumah saudara saya ,” jelas Mohan.
“Oh, Mohan bukannya kamu ikut mami Kamu Istambul kemarin?” tanya Papi Devan.
“Gak Om, saya hanyan antar saja, lalu pulang lagi.”
Mereka semua menatap Han dan Mohan bergantian, Hana si gadis polos itu sedikit berubah, ia tidak lagi menggantungkan semua hidupnya pada keluarga itu. Ia belajar mandiri.
“Alamatnya mana? Saya bisa antar dia,” ucap Mami dengan nada dingin.
“Mami, kami berangkat rame-rame, ada Tari juga kok,” kata Hana cepat.
Mami Devan menatap Mohan tajam. “Apa Mohan juga satu kelompok?”
“Hana yang minta tolong padanya, Mi,” jawabnya pelan.
Akhirnya, Mami menyerah. “Baiklah. Pergi sana.” Suaranya ketus, lalu melangkah ke dapur.
Hana buru-buru ngajak Mohan keluar, sebelum naik motor, Hana menggerutu.
“Tari sialan. Ini semua gara-gara dia nyuruh aku pakai baju terbuka ini,” gumamnya sambil menarik ujung atasan.
Mohan tertawa. “Chill, Han. Kamu cantik kok. Tapi kalau kamu nggak pede, nih, pakai jaketnya aja.” Ia menyerahkan jaket motornya.
Hana tersipu, tapi segera pakai jaketnya. Saat itu juga, Hana bisa merasakan pandangan dari balik kaca rumah, keluarga Devan pasti mengawasi. Mereka mungkin pikir Hana cari pelarian karena ditolak Devan. Padahal, nggak sesimpel itu.
**
Pagi itu, suasana di perumahan elit tempat tinggal keluarga Devan tampak biasa saja. Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah pepohonan yang berjejer rapi di sepanjang jalan. Burung-burung bernyanyi, dan aroma seduhan kopi dari rumah-rumah yang baru saja dibuka jendelanya terasa menyatu dengan udara pagi yang sejuk. Setelah Hana berangkat degan Mohan. Devan dan keluarganya melanjutkan serapan. Masih dengan pikiran bertanya-tanya kemana Mohan dan Hana mengerjakan tugas.
Mohan tidak ingin orang salah menilai Hana ia juga mengajak ketiga sahabat Hana untuk mengejarkan tugas kelompok mereka. Mohan mengendari mobilnya arah Bogor. Mobil itu berhenti di sebuah villa mewah. Baru turun dari mobil ketiga wanita tampak takjub. Mereka seolah masuk ke dunia yang baru yang disungkan pemandangan alam yang indah, udara yang segar dan pemandangan yang hijau.
“Wow, ini amajing , ini indah sekali.” Tari merentangkan tangan lalu menutup mata.
“Untuk mengejerjakan tugas yang membuat otak panas kalian berempat butuh suana yang sejuk, silahkan nikmati,” ujar Mohan ,
Mohan membawa mereka juga ke sebuah pespustakaan milik keluarganya. Mereka sangat bersemangat rupanya buku yang mereka cari ada di sana. Tari Revi dan Dira mengeluarkan laptop . Sementara Hana meminta ijin melihat-lihat keluar villa. Matanya tertuju pada kandang kuda.
Seketika ingatannya masa kecilnya muncul, di mana sang ibu suka berkuda dan sering mengajarinya. Matanya menoleh seekor kuda putih, matanya menatap tajam. Mengingatkannya pada kakak laki-lakinya ada rasa rindu dan benci bercampur jadi satu. Kakak laki-lakinya yang membencinya dari kecil, menuduhnya penyebab kematian kedua orang tua mereka.
“Aku merindukan kalian, Mami,” ucap Hana, mengusap air matanya , ia merasa tangannya mulai berkeringat. Ia merasa tubuhnya bereaksi susah bernapas matanya berkunag-kunang. Saat genting itu tiba-tiba Mohan datang.
“Tidak apa-apa,’ ucapnya pelan, memegang bahu Hana.
Tiba-tiba Hana mencekram lengannya, berusaha untuk kembali bernafas, ia menunduk dan wajahnya memerah sambil terbatuk pelan. Mohan menepuk-nepuk pundak pelan, barulah ia bisa bernafas. Hana masih mengengam lengan Mohan dengan erat. Setelah tenang barulah ia mengusap wajahnya.
“Maaf,” ucapnya pelan.
Mereka duduk melihat ke arah kandang kuda.
“Sudah berapa lama kamu seperti itu?’ tanya Mohan.
“Terkadang kalau aku merasa sedih, merasa sendirian, maka hal itu akan terjadi. Aku orang aneh Mohan,” ucap Hana merasa malu melihat Mohan.
“Tidak apa-apa Hana, semua orang punya rahasia masing, punya sisi masing-masing. Mau naik kuda?” ajak Mohan.
“Aku takut, terahir kali aku naik kuda saat umur 10 tahun, sudah lama.” Hana menggeleng.
Mohan tersenyum hangat, “ tidak apa-apa aku akan mengajarimu.”
Hana menganguk. Mohan membantunya naik kuda, ia duduk di depan dan Mohan di belakang. Tari yang sibuk membaca buku mencari reprensi buku melihat Hana dari jendela ruang baca. Ia mengarahkan camera ponselnya dan merekam mereka , lalu menulis status wapsapnya
[Disuruh mengejerkan tugas kuliah malah asyik naik kuda] tulisnya dalam statusnya.
Hal itu langsung di lihat Devan di ponselnya, akhirnya ia tahu kalau Hana dibawa mohan ke villa keluarganya. Ada rasa panas yang menjalar ke dalam hatiya, Melihat Mohan memeluk Hana dari belakang membuatnya tangannya terkepal otomatis.
“Keparat, berani-beraninya dia memeluk Hana,” ucapnya uring-uringan di kamarnya.
Devan menelpon Tari bertanya jam berapa pulang karena mereka akan pergi. Hatinya makin panas, karena Tari mengatakan kalau mereka mungkin menginap karena, tugas mereka masih banyak yang harus dikerjakan. Hati pria itusemakin panas , ia bahkan berniat memjemput Hana ke sana agar tidak menginap di villa tersebut.
Bersambung
Vote# l #Like# Jangan lupa berikan dukungan ya kakak, like dan berikan dukungan terimakasih
Terkadang ketika seseorang mulai menjauh saat itulah batu mengerti arti dari sebuah kehilangan.
sukses terus ya ito💪,,
nanti klo.di kasarin krn hilang sabar malah merasa terzolimi