Seorang pemuda bernama Wang Fei yang dianggap lemah dan tertindas berusaha mendobrak batasan dan ingin menentukan nasibnya sendiri dengan menjadi lebih kuat.
"Jika langit tidak adil dan ingin membatasi takdirku, maka aku bersumpah akan meruntuhkan langit itu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jin kazama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Hidup Dengan Cara Kita sendiri.
Bab 24. Hidup Dengan Cara Kita sendiri.
Di wilayah timur Benua Yangjun, berdirilah sebuah kerajaan besar yang sangat megah bernama Kerajaan Shenlong.
Dengan wilayah kekuasaannya membentang luas mencakup puluhan kota dan ratusan desa, kerajaan ini secara bertahap mulai menancapkan pondasinya dengan kokoh hingga secara perlahan diakui oleh tiga kerajaan dari wilayah lain, yaitu barat, utara, dan selatan, sebagai salah satu kerajaan terkuat di Benua Yangjun.
Di pusat kerajaan tersebut, didirikan sebuah kota utama yang bukan hanya megah, tetapi juga sangat makmur. Nama kota itu adalah Kota Kekaisaran Shenlong, sebuah kota besar yang menjadi pusat pemerintahan sekaligus simbol dari kejayaan kerajaan.
Dikenal sebagai salah satu kekuatan terkuat di wilayah timur, Kerajaan Shenlong memiliki pasukan tak terkalahkan yang sangat tangguh.
Pasukan itu bernama Pasukan Perang Langit.
Jumlahnya tidak banyak, hanya terdiri dari seribu prajurit.
Namun, meskipun hanya seribu, kekuatan mereka sama sekali tidak bisa diremehkan. Mereka adalah yang terpilih di antara para terpilih, elit di antara para elit.
Setiap anggotanya merupakan veteran perang yang telah menempa diri di tengah badai pertarungan melawan binatang iblis dan para pemberontak. Hidup mereka hanya diabdikan di medan perang yang penuh dengan lautan darah dan tumpukan mayat yang menggunung.
Niat membunuh mereka begitu mengerikan hingga akhirnya mereka mendapatkan sebuah gelar yang dikenal oleh masyarakat luas sebagai Sang Pembantai.
Cerita demi cerita mulai tersebar. Keperkasaan mereka di medan perang menyebar luas bagaikan badai angin yang menyapu langit dan bumi hingga akhirnya tersebar sebuah rumor. Konon katanya, satu anggota Pasukan Perang Langit mampu menghadapi seratus prajurit biasa.
Kabar itu sangat mengejutkan sekaligus membuat semua orang menjadi sangat kagum, terutama para pemuda yang masih memiliki darah panas dalam tubuh mereka. Membayangkan mereka memiliki kekuatan yang setara dengan seratus orang membuat tubuh mereka gemetar oleh semangat juang yang tak ada habisnya.
Di bawah kepemimpinan Raja Long Aotian, kemakmuran Kerajaan Shenlong secara perlahan tetapi pasti benar-benar mencapai puncak kejayaannya.
Rakyat hidup tenteram, perdagangan berkembang pesat, dan kekuatan militer terus bertambah dari tahun ke tahun.
Namun, fondasi kejayaan Kerajaan Shenlong sendiri tidak hanya bergantung pada kekuatan mandiri semata.
Di belakangnya ada penopang kuat, yaitu sekte-sekte besar yang telah menjalin hubungan erat selama bertahun-tahun.
Dan yang terpenting, kerajaan sendiri sangat menghargai bakat. Bagi mereka yang mampu menunjukkan keunggulannya, maka akan sangat dihargai oleh kerajaan sehingga bisa bergabung di akademi militer kerajaan bernama Akademi Shenlong.
Untuk sejenak, mari kesampingkan dulu Kerajaan Shenlong dan berfokus pada sekte-sekte besar yang ada di bawahnya.
Di Kota Kekaisaran, sebuah sekte dibagi menjadi tiga kelas. Pertama adalah kelas atas, kedua kelas menengah, dan ketiga kelas bawah.
Untuk sekte-sekte kelas atas, tempat mereka berada di kota utama. Sekte kelas menengah biasanya berada di kota kabupaten yang berada di bawah kota utama. Dan untuk yang kelas bawah, umumnya mereka tersebar di berbagai kota-kota kecil yang ada di sekitarnya.
Dan kebetulan Sekte Daehan sendiri adalah sekte kelas bawah yang berada di Kota Gunung Hijau. Meskipun hanya berada di kota kecil, sekte ini juga merupakan sekte yang cukup terkenal di kalangan para kultivator maupun rakyat biasa.
Namun, bukan hanya Sekte Daehan saja. Di Kota Gunung Hijau ada tiga sekte terkenal lainnya. Di antaranya adalah Sekte Pedang Langit, Sekte Naga Azure, dan yang terakhir adalah Sekte Bulan Bayangan.
Di bawah sekte-sekte ini tersebar berbagai pendukung dari keluarga dengan latar belakang yang tidak sederhana.
Dan uniknya, kekuatan sebuah keluarga diukur dengan banyaknya simbol bintang. Raja Long Aotian sendirilah yang mengategorikan simbol ini mulai dari simbol Bintang 1 hingga simbol Bintang 9.
Simbol-simbol ini bukanlah simbol biasa, melainkan simbol yang menandakan bahwa status seseorang telah naik dari rakyat biasa menjadi bangsawan.
Bahkan pada simbol-simbol tersebut masih dibagi lagi menjadi tiga warna, yaitu perak, emas, dan ungu.
Keluarga dengan status Bintang 1–3 mendapatkan warna perak yang menandakan bangsawan kelas bawah.
Keluarga dengan status Bintang 4–6 mendapatkan warna emas yang menandakan bangsawan kelas menengah.
Keluarga dengan status Bintang 7–9 mendapatkan warna ungu yang menandakan bangsawan kelas atas.
Persyaratan untuk memperoleh status bangsawan ini sendiri sangat ketat. Dan tentu saja syarat utamanya adalah kekuatan.
Untuk menjadi bangsawan kelas bawah, seorang pemimpin keluarga haruslah seorang kultivator yang berada di Ranah Gerbang Bumi. Untuk bangsawan kelas menengah harus berada di Ranah Gerbang Langit. Dan untuk bangsawan kelas atas maka harus berada di Ranah Gerbang Surga.
Di Benua Yangjun ini, kekuatan tertinggi adalah seorang kultivator yang berada di Ranah Raja. Untuk ranah di atasnya, di seluruh benua masih belum ada atau lebih tepatnya mereka belum menemukan seseorang yang ranahnya lebih tinggi dari itu.
Kebetulan Raja Long Aotian sendiri sejak menjabat sebagai pemimpin telah memasuki ranah tersebut. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor mengapa Kerajaan Shenlong diakui oleh tiga kerajaan lainnya.
...◦~●❃●~◦...
Wilayah Barat Kota Gunung Hijau.
Kediaman Keluarga Lin. Bangsawan kelas bawah dengan simbol Perak Bintang 2.
Ruangan khusus pemimpin keluarga.
Seorang pria paruh baya yang sedang berkultivasi tiba-tiba membuka matanya. Ketika giok jiwa milik putra keduanya pecah, amarah yang begitu dahsyat langsung memenuhi dadanya.
Pada saat itu, niat membunuh yang begitu hebat melonjak dan tanpa terkendali lagi kekuatannya yang berada di Ranah Gerbang Bumi level 2 tahap puncak langsung membludak ke segala arah.
"BOOM!"
Udara bergetar hebat. Seluruh bangunan berguncang keras seolah pondasi yang menopang seluruh kediaman itu selama bertahun-tahun hendak runtuh kapan saja.
Ketika amarah itu mencapai puncaknya, tekanan yang begitu luar biasa bagaikan gunung raksasa yang jatuh dari langit pun menimpa semua orang.
Pucat, gemetar, dan menggigil ketakutan.
Itulah perasaan orang-orang yang kekuatannya jauh lebih lemah. Beberapa ada yang muntah darah, beberapa lainnya langsung pingsan karena tidak kuat menahan tekanan tersebut.
Namanya Lin Chensheng, Patriark Keluarga Lin saat ini.
Tapi mengapa patriark bisa begitu marah? Apa yang menyebabkan dirinya begitu murka hingga melepaskan niat membunuh yang begitu dahsyat seperti ini?
Semua orang dipenuhi oleh tanda tanya besar di dalam benak mereka.
Tetapi tidak berselang lama, akhirnya pertanyaan mereka terjawab dari raungan Lin Chensheng yang menggelegar bagaikan guntur di siang hari. Dan apa yang dikatakannya membuat seluruh Kediaman Keluarga Lin diliputi keterkejutan yang luar biasa.
"Brengsek! Bajingan mana yang berani membunuh putra keduaku! Aku akan membunuhmu! Membunuhmu!" serunya lantang dipenuhi amarah.
Detik berikutnya sosoknya berubah menjadi seberkas cahaya yang langsung melesat ke arah timur, tempat Sekte Daehan berada. Karena dari arah itulah dia menemukan sisa jejak jiwa dari putranya yang telah lenyap.
Dan sisa jejak jiwa yang telah lenyap ini tidak lain dan tidak bukan adalah milik Lin Dan yang baru saja dibunuh oleh Wang Fei.
Benar-benar plot yang tak terduga. Ternyata Lin Dan memiliki status yang sama sekali tidak sederhana.
Dengan membunuhnya, Wang Fei kini secara tidak langsung telah menyinggung seorang kultivator kuat yang berada di Ranah Gerbang Bumi.
Pertanyaannya adalah, apakah Wang Fei bisa selamat dari ancaman ini? Atau dia justru tergerus oleh ombak balas dendam gila dari Lin Chensheng dan tenggelam di dalamnya?
Kembali ke Wang Fei.
Setelah membunuh ketiganya, Wang Fei sama sekali tidak merasa bersalah sedikit pun. Wajahnya tetap datar dan ekspresinya tetap acuh tak acuh seperti biasanya.
Pada saat itu, Xue Jian bertanya.
"Hehehe, Kakak, bagaimana perasaanmu setelah membunuh sesama manusia?"
"Hmm... apakah kau yakin menanyakan hal ini padaku?" ucapnya balik bertanya.
"Ya... Aku ingin tahu apa yang kau pikirkan," balas Xue Jian.
Dia melanjutkan,
"Jika itu tuanku yang dulu, saat membunuh orang pertama kali, wajahnya akan pucat dan berkeringat dingin."
"Oh, apakah begitu? Mungkin pada usia yang sebaya denganku, penderitaan yang dia rasakan belum sebanding dengan semua penderitaan yang pernah aku rasakan," ucapnya sambil terkekeh.
Dan benar saja, apa yang dikatakan oleh Wang Fei membuat ingatan Xue Jian langsung menerawang ke masa lalu. Berbagai potongan kenangan pun langsung berkelebat di benaknya.
Dan jika menghubungkan semua itu dengan pengalaman hidup yang dialami oleh Wang Fei, penderitaan yang mereka alami memang berasal dari tingkatan yang berbeda.
"Ya... tampaknya kali ini kau benar, Kakak," ujarnya sambil menghela napas.
Tersenyum kecil, Wang Fei berujar,
"Mengenai mereka bertiga, entah kenapa aku sama sekali tidak menyesal sedikit pun. Hmm, mungkin saja karena aku sudah muak dengan tingkah mereka yang suka menindas orang lain hanya karena mereka tidak ingin tunduk. Kau tahu... apa jadinya jika saat ini aku yang lebih lemah? Bukan mereka yang mati, tetapi akulah yang akan mati. Untuk orang-orang seperti itu, mengapa harus bersikap lunak?
Apakah aku harus memaafkan mereka atas nama kebaikan?"
Tiba-tiba nadanya terdengar sinis dan tajam. Kemudian dia melanjutkan. Kali ini sorot matanya begitu dingin hingga terasa sangat menakutkan.
"Setelah aku menyerap semua ingatan Jie Fang dan juga dirimu, aku menyimpulkan satu hal. Berbelas kasih kepada lawan tidak ada bedanya dengan kejam terhadap diri sendiri. Haruskah aku terus menahan diri, memaafkan dengan rendah hati, dan berdoa kepada Buddha agar suatu saat mereka berubah?
Haha... Aku, Wang Fei, bukanlah orang suci. Entah itu niat baik atau buruk yang ditunjukkan padaku, aku akan menghitung semuanya dengan jelas. Aku akan memperlakukan mereka sebagaimana mereka memperlakukanku. Jika mereka berbuat baik, aku akan membalas kebaikan itu seratus atau bahkan seribu kali lipat.
Akan tetapi, jika seseorang menunjukkan niat membunuh padaku, maka jangan salahkan aku jika pedangku akan membantai tanpa menunjukkan belas kasihan."
Mendengar itu, Xue Jian tersenyum menyeringai.
"Bagus, Kakak. Kau memang harus seperti itu. Dan denganku, selama itu tidak melanggar hati nurani dan jalan bela diri, mari kita hidup dengan cara kita sendiri."
utk itu saya uplaus satu vote