NovelToon NovelToon
Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author:

Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?

Bab 15 (Pagi Tanpa Sekat)

Hujan lebat yang mengguyur pulau pribadi Raja Ampat sepanjang malam akhirnya mereda, meninggalkan aroma tanah basah dan udara pagi yang sejuk. Sinar matahari pertama menerobos masuk melalui dinding kaca vila, memantulkan cahaya keemasan di atas seprai sutra abu-abu gelap.

Arini membuka matanya perlahan, menyesuaikan indra penglihatannya dengan terangnya ruangan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sebuah kehangatan kokoh yang mendekap tubuhnya dari belakang. Ketika kesadarannya pulih sepenuhnya, jantung Arini seketika berdesir hebat.

Guling yang biasa menjadi pembatas kaku di antara mereka kini tergeletak pasrah di sudut lantai bawah ranjang. Di atas kasur, tubuh ramping Arini tenggelam sepenuhnya dalam pelukan Adrian. Satu lengan kekar milik sang CEO melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuh Arini tanpa jarak hingga punggungnya menempel pada dada bidang Adrian yang hangat. Arini bahkan bisa merasakan detak jantung Adrian yang teratur berdenyut di punggungnya.

Arini menahan napas, takut jika gerakan sekecil apa pun akan membangunkan pria di belakangnya. Ia menatap gelang berlian di pergelangan tangannya yang berkilau terkena sinar mentari, lalu beralih menatap tangan besar Adrian yang mengunci pinggangnya. Rasa aman yang ia rasakan semalam saat badai menerjang terasa begitu nyata, membuat dinding egonya sebagai sarjana cum laude yang mandiri perlahan terkikis.

"Sudah bangun?"

Suara bariton yang serak khas orang baru bangun tidur terdengar tepat di ceruk leher Arini, membuat bulu kuduk gadis itu meremang seketika. Pelukan Adrian di pinggangnya tidak melonggar, justru semakin mengerat secara intuitif.

Arini memutar tubuhnya dengan canggung agar bisa menghadap Adrian. Jarak mereka begitu dekat hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Mata elang Adrian yang biasanya memancarkan tatapan tajam dan dingin sehalus es kutub utara, pagi ini tampak begitu redup, lembut, dan dipenuhi oleh binar kehangatan yang asing."Adrian... lepaskan. Sudah pagi," bisik Arini dengan suara yang bergetar, berusaha menguasai debaran jantungnya yang menggila di dalam dada.

Adrian tidak langsung menuruti permintaan itu. Ia menatap lekat-lekat manik mata Arini, lalu turun ke arah bibir merah muda gadis itu yang tampak sedikit mengering. Ibu jari tangan kanan Adrian bergerak naik, mengusap perlahan sudut bibir Arini dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh perasaan—sebuah tindakan yang tidak akan pernah tertulis di dalam pasal kontrak bisnis mana pun."

Semalam tidak ada guntur, tapi kamu tidak melepaskan pelukanmu sampai subuh," ucap Adrian rendah, sudut bibirnya terangkat sangat tipis, membentuk sebuah senyuman seksi yang membuat ketampanannya berlipat ganda.

Wajah Arini seketika merona merah padam karena malu. "Itu karena... lampunya mati dan saya masih takut."

Adrian perlahan mengendurkan pelukannya, membiarkan Arini duduk di tepi ranjang untuk merapikan rambutnya yang berantakan. Pria itu ikut bersandar pada kepala ranjang, menatap punggung ramping Arini dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kontrak kita masih tersisa sebelas bulan lagi, Arini," ujar Adrian tiba-tiba, suaranya kembali terdengar serius namun tidak lagi sedingin dulu. "Tapi melihat apa yang terjadi semalam... kurasa kita berdua tahu bahwa aturan nomor 4 tentang larangan melibatkan perasaan sudah tidak lagi efektif."

Arini menghentikan gerakan tangannya, menoleh sedikit ke arah Adrian. "Maksud Anda?"

"Aku tidak tahu apa itu cinta, dan aku masih membenci pengkhianatan," ucap Adrian tegas, menatap Arini dengan intensitas yang mengunci seluruh perhatian gadis itu. "Tapi aku tahu satu hal dengan pasti: aku tidak ingin guling pembatas itu kembali ke atas kasur ini. Aku ingin pernikahan ini terasa nyata, Arini. Bukan hanya di depan Kakek atau media, tapi di dalam kamar ini, bersamamu."

Mendengar pengakuan jujur dan berani dari sang konglomerat, benteng pertahanan terakhir di dalam hati Arini resmi runtuh. Logika akuntansinya yang terbiasa menghitung risiko kini mendadak lumpuh oleh kepasrahan emosional yang manis. Di bawah langit pagi Raja Ampat yang cerah, lembaran baru hubungan mereka yang sesungguhnya kini resmi dimulai.

1
sakura
baguss banget goks abizzzz
sakura
Hallow guys xixi mimin minta maaf karna seminggu ga update tapi tenang aja udah sekarang updatenya doble”. jangan lupa like,komen, dan share yaa cinta-cintaku🫶🏻
sakura
jangan lupa kasih like nya ya manteman,biar authornya ini jadi semangat buat nulisnya xixi😗🫶🏻🙆🏻‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!