Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingat Perkataanku
Sintia mundur satu langkah, lalu dua langkah, hingga punggungnya membentur rak pajangan kaca. Kepalanya menghitung dengan cepat, merangkai kepingan-kepingan masa lalu yang selama ini luput dari perhatiannya karena ia terlalu memercayai orang-orang di sekitarnya.
"Enam tahun...?" bisik Sintia, suaranya tercekat di tenggorokan. "Arka berusia enam tahun? Berarti... berarti saat pernikahan kita baru berjalan satu tahun, kamu sudah tidur dengan sahabatku sendiri, Rian?!"
Rian tidak membantah. Diamnya pria itu adalah pembenaran yang paling kejam.
Sintia menatap Suci dengan tatapan yang kini dipenuhi kobaran api kemarahan dan kebencian. "Kamu... wanita ular! Kamu datang ke rumah ini, mendengarkan keluh kesahku, berpura-pura menangis bersamaku saat aku gagal dalam program bayi tabung tiga tahun lalu... sementara saat itu kamu sudah menjadi istri siri suamiku?! Kamu sudah melahirkan anak untuk suamiku?!"
Suci akhirnya mengangkat wajahnya. Tidak ada lagi raut wajah bersalah. Tatapannya berubah menjadi dingin dan defensif. "Lalu aku harus bagaimana, Sintia? Mas Rian butuh keturunan! Keluarga ini butuh penerus! Kamu tidak bisa memberikan itu. Salahkah aku jika aku menyelamatkan Mas Rian dari kepunahan keluarga? Aku juga berhak bahagia, Sintia! Arka berhak memiliki keluarga yang utuh, bukan disembunyikan terus-menerus seperti ini!"
"Bahagia di atas penderitaanku?!" jerit Sintia. Suaranya menggema di langit-langit rumah yang tinggi. "Aku yang mendampingi Rian dari nol! Saat usahanya bangkrut di tahun kedua pernikahan, siapa yang menjual seluruh perhiasan warisan ibunya?! AKU! Siapa yang bekerja paruh waktu sampai tipus demi membayar cicilan rumah ini?! AKU, SUCI! RIAN!"
Sintia beralih menatap suaminya, menuntut keadilan yang tahu-tahu telah sirna. "Di mana hati nuranimu, Mas? Tujuh tahun aku mengabdi menjadi istri yang penurut. Aku menerima semua caci maki ibumu karena aku mencintaimu! Aku pikir kamu berada di pihakku... aku pikir kita berjuang bersama..."
"Perjuangan yang sia-sia, Sintia," potong Anne dari arah sofa. Ia kini duduk memangku Arka dengan wajah angkuh, membelai rambut cucunya dengan gerakan protektif. "Sudahlah, jangan membuat drama di depan cucuku. Bikin malu saja. Kamu harusnya sadar diri sejak dulu. Ibu sudah tahu tentang pernikahan Rian dan Suci sejak tiga tahun lalu. Bahkan Ibu yang merestui mereka!"
****
Kata-kata Anne seperti hantaman gada besi tepat di wajah Sintia.
Ibu sudah tahu... tiga tahun lalu... Ibu yang merestui...
Rentetan kalimat itu berputar-putar di dalam benak Sintia, merubuhkan seluruh dinding kepercayaannya yang tersisa. Tiga tahun ini, Sintia hidup dalam kepalsuan yang dirancang dengan sangat rapi oleh suami, ibu mertua, dan sahabat karibnya sendiri.
Sintia mengingat kembali momen-momen tiga tahun terakhir. Pantas saja setiap kali perayaan hari besar, Anne selalu bersikap terburu-buru mengusirnya untuk pulang ke rumah orang tuanya yang sudah sebatang kara dengan alasan "ingin istirahat". Ternyata, di saat Sintia menangis kesepian di rumah lamanya, mereka mengadakan pesta keluarga di rumah ini bersama Suci dan Arka.
Pantas saja Rian sering meminta izin dinas luar kota setiap akhir pekan dengan alasan ekspansi bisnis. Ternyata, pria itu bukan pergi bekerja, melainkan pulang ke pelukan Suci, menimang anak laki-laki mereka yang tumbuh dengan limpahan kasih sayang, sementara Sintia memeluk guling menahan rindu di kamar yang dingin.
"Kalian... kalian semua monster," bisik Sintia dengan air mata yang mengalir deras, membasahi pipi dan lehernya. Tubuhnya gemetar hebat karena amarah dan rasa sakit yang berbaur menjadi satu ramuan racun yang mematikan.
"Jaga bicaramu, Sintia!" bentak Rian, wajahnya mulai memerah, merasa otoritasnya sebagai kepala keluarga ditantang. "Aku membawa Suci dan Arka ke sini bukan untuk meminta izinmu. Ini rumahku. Aku yang menentukan siapa yang boleh tinggal di sini!"
"Rumahmu?!" Sintia tertawa. Suara tawanya terdengar sumbang, parau, dan dipenuhi keputusasaan yang teramat dalam. Sebuah tawa histeris dari seorang wanita yang jiwanya baru saja disiksa secara paksa oleh kenyataan. "Kamu lupa, Mas? Sertifikat rumah ini atas nama siapa? Separuh dari uang pembangunan rumah ini adalah uang asuransi kematian ayahku! Kamu menyebut ini rumahmu?!"
Wajah Rian sedikit menegang mendengarkan fakta itu, namun dengan cepat ia menguasai diri. Pria itu merengkuh bahu Suci dengan protektif. "Kita bisa selesaikan masalah harta di pengadilan nanti. Yang jelas, hari ini, aku meminta kamu untuk angkat kaki dari rumah ini. Suci dan Arka akan menempati kamar utama."
****
Kamar utama.
Kamar tempat Sintia menaruh seluruh doa-doanya di atas sajadah setiap sepertiga malam. Kamar tempat ia dan Rian dulu saling berjanji untuk sehidup semati. Kini, ranjang itu akan ditempati oleh wanita lain. Wanita yang telah merebut suaminya, menghancurkan pernikahannya, dan menusuknya dari belakang dengan belati paling berkarat.
Sintia menatap mereka satu per satu. Anne yang memandanginya dengan tatapan jijik penuh kemenangan, seolah-olah Sintia adalah sampah yang akhirnya berhasil dibuang dari rumah mewah ini. Suci yang berdiri dengan dagu terangkat, mengenakan topeng kepura-puraan sebagai seorang ibu yang hanya ingin melindungi anaknya. Dan Rian... pria yang pernah berlutut memohon cintanya, kini berdiri sebagai eksekutor yang merenggut seluruh sisa hidupnya.
"Pengorbananku..." Sintia berbisik pada dirinya sendiri. Tangannya menyentuh dinding rumah, merasakan dinginnya semen yang dulu ia cat dengan tangannya sendiri. "Tujuh tahun hidupku... kupersembahkan untuk manusia-manusia tidak punya hati seperti kalian."
Sintia menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Rasa sakit yang teramat sangat itu perlahan-lahan mengkristal, berubah menjadi sesuatu yang keras dan dingin di dalam lubuk hatinya. Rasa sedihnya menguap, menyisakan ruang hampa yang kini mulai dialiri oleh aliran lahar hitam bernama dendam.
"Kalian pikir kalian sudah menang?" Sintia menatap Rian, Suci, dan Anne bergantian dengan pandangan mata yang mendadak tajam, kehilangan seluruh binar kelembutan yang selama tujuh tahun ini selalu ia miliki. "Kalian merebut semuanya dariku. Rumahku, suamiku, masa mudaku, dan sahabatku sendiri."
Sintia melangkah maju, mendekati Rian dan Suci. Tekanan auranya mendadak berubah begitu pekat, membuat Suci secara tidak sadar mundur satu langkah di belakang tubuh Rian.
"Ingat hari ini, Rian. Ingat wajahku hari ini, Suci," ucap Sintia dengan suara yang sangat rendah, namun sarat akan ancaman yang mendirikan bulu roma. "Demi setiap tetes air mata yang jatuh karena hinaan kalian, demi setiap malam sepi yang kuhabiskan dalam kebohongan kalian... aku bersumpah, aku akan kembali. Dan saat hari itu tiba, aku akan memastikan kalian semua memohon ampun di bawah kakiku."
****
Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Sintia membalikkan badan. Ia berjalan dengan punggung tegak, melangkah lebar meninggalkan ruang tamu, meninggalkan tujuh tahun kebodohannya, menuju kamarnya hanya untuk mengambil tas jinjing berisi dokumen penting dan beberapa helai pakaian. Ia tidak butuh kemewahan yang dibangun di atas fondasi darah dan air matanya.
Saat Sintia melangkah keluar melewati pintu gerbang kediaman Mahesa, langit di atas mendadak mendung, seolah-olah alam ikut merasakan kedahsyatan badai yang sedang bersiap menggelora di dalam diri seorang Sintia Arunika.