"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 08: Kedatangan Fiona
"Bagaimana sih kamu Dea! sudah tiga hari loh saya lihat kamu bekerja gak becus!" ujar Tresha, atasan pemilik cafe itu. Ia murka melihat Deana memecahkan gelas sudah dua kali di hari ini dan sekarang, Deana menumpahkan kuah gulai dan tidak sengaja terkena baju milik Tresha.
"Maaf Mbak, Dea tidak sengaja. Maafkan Dea Mbak." Deana berlutut, ia menangkup kedua tangannya ke atas seraya meminta maaf berkali-kali.
"Kamu ini sudah saya angkat jadi karyawan tetap. Harusnya kamu bisa bekerja dengan benar dan profesional. Banyak loh yang ingin menggantikan posisimu sekarang. Hari ini kamu telat, sekarang melayani saja tidak benar, masih untung terkena bajuku, coba terkena baju pelanggan, bisa-bisa ranting cafe kita bintang satu gara-gara kamu!"
Tresha menepis tangan Deana yang memegangnya, "Sudah sana kerja lagi!" serunya.
Deana mengangguk, "Baik Mbak. Sekali lagi Dea minta maaf."
Tresha meninggalkan Deana dengan wajah yang kesal dengan amarah yang masih melekat di hatinya.
"Bangun Dea, jangan patah semangat. Ayo kerja lagi, nggak apa-apa, mungkin kamu kurang fokus dan lagi nggak ada semangat buat kerja." ucap Irgi membantu Deana bangun dari duduknya.
Deana tersenyum menatap Irgi. Rekan kerja yang baik memang menjadi alasan untuk betah bekerja. Walaupun Irgi sudah memiliki istri, Irgi tetap menganggap Deana sebagai adiknya karena mereka berdua masuk kerja sebagai pelayan cafe itu sama-sama, diangkat menjadi karyawan tetap pun bersamaan.
"Terima kasih, Irgi. Aku nggak apa-apa."
Irgi mengangguk, "Cepat kerja, takut Mbak Tresha lihat kita, nanti tambah memarahimu." ucapnya lalu meninggalkan Deana karena Irgi akan mengantarkan pesanan pelanggan yang sudah tersedia di meja.
Deana tersenyum kecut. Sejak bertemu dengan laki-laki yang bahkan namanya saja ia tidak tahu itu, hidupnya jadi malang. Ditambah ancaman tadi pagi, membuat pikirannya jadi kacau dan selalu dihantui rasa takut.
***
Di perusahaan Bulbeurn, Reno sedang fokus dengan laptopnya tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Fiona ke dalam ruangannya, tentu saja dengan Jordi di belakangnya yang mengawasinya.
Jordi tidak bisa melarangnya karena Fiona merupakan putri dari keluarga Bertram yang merupakan salah satu klien perusahaan yang memberikan pasokan saham terbesar untuk perusahaan Bulbeurn.
"Kak Reno!" serunya senang. Membawakan buket bunga dan setepak makanan yang ia bawa di dalam tas bekal yang ditentengnya.
Fiona berdiri di samping Reno, membungkukkan badannya untuk melihat isi laptop yang sedang Reno gunakan.
Kedua gundukan gunungnya terlihat jelas begitu sangat menggoda, namun Reno tidak tergoda. Reno bahkan malas melihatnya.
"Kakak masih kerja?" tanya Fiona menoleh pada wajah Reno. Wajahnya sangat dekat sekali, sampai Fiona bisa melihat guratan dan wajah tampan Reno dengan jelas.
Reno menghela napasnya berat, ia berdiri dan menjauhi Fiona, berjalan dan duduk di sofanya, "Ada apa ke sini?" tanyanya dingin, menatap tubuh Fiona dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
Fiona ikut duduk di samping Reno, "Aku ingin bertemu Kak Reno. Habisnya kemarin aku ke rumah, Kak Reno nggak ada. Ini aku bawain Kakak makan siang, ini dari restoran seafood yang baru buka. Kak Reno suka seafood kan? Fio bawakan udang saus padang dan cumi bakar. Kakak pasti suka." jelas Fiona sambil mengeluarkan semua makanan yang ia bawa itu.
"Pergilah, aku tidak akan memakannya." usir Reno.
Fiona mendelik, "Kakk... please!"
"Fiona, keluarlah...." tegas Reno.
Fiona memutar bola matanya malas, "Kenapa sih Kak Reno tidak mau dekat denganku? padahal Papi dan Om Sam akan menjodohkan kita berdua. Harusnya Kak Reno juga tertarik untuk memilihku." ucapnya cemberut.
"Itu Daddy, bukan aku. Minggu depan aku akan menikah, jangan harap aku memilihmu, Fiona. Jo, bawa dia keluar." Reno dongkol melihat perempuan berbaju seksi itu masih mematung di dekatnya.
Fiona melebarkan matanya, mendengarnya bagaikan mimpi. Padahal ia sudah berencana akan bersenang-senang dengan Reno setelah menikah, tapi sekarang, pupus sudah harapannya itu. Hanya Reno-lah seorang laki-laki yang membuat hati Fiona tertarik untuk menikah dan tidak mempermainkan seorang laki-laki.
"Menikah? Kak Reno pasti bohong! aku akan mengatakannya pada Papi dan Om Sam." ketus Fiona menatap Reno yang masih tidak percaya dengan ucapan Reno.
"Nona Fio, ayo keluar." ajak Jordi lembut. Ia tidak berani kasar seperti yang Reno lakukan pada Fiona.
Fiona menatap tajam Jordi, "Kau tidak berhak mengusirku, bawahan!" ketusnya.
Fiona berjalan cepat keluar dari ruangan Reno, meninggalkan Reno dan Jordi yang masih berada di ruangan tersebut.
"Saya permisi Tuan." Jordi pamit undur diri dari ruangan direktur utamanya.
"Tunggu."
Jordi yang baru saja ingin melangkahkan kakinya, langsung mengurungkan niatnya, "Iya Tuan?" tanyanya.
"Bawa ini, semua untukmu. Aku tidak berselera jika dia yang membawanya." tunjuk Reno pada makanan yang sudah dibawakan oleh Fiona.
Jordi mengangguk, "Baik Tuan."
***
Pukul 22.00 malam, Deana baru saja pulang ke rumah.
"Deana, akhirnya kamu pulang Nak!" seru Ibu Hesti senang melihat kedatangan motor putrinya yang terdengar jelas di telinganya.
Deana memarkirkan motornya di ruang tamu, ia melepas helm lalu mendekati ke arah Ibunya yang baru saja mengunci pintu rumahnya.
Deana dengan takzim mengecup punggung tangan Ibunya, "Iya Bu, Dea pulang." Deana tersenyum getir.
"Kak Dea, besok Tio ada bayaran buku LKS. Apa Kakak ada uang?" tanya Tio menggarukkan kepalanya.
"Maafkan Tio ya Kak, Tio selalu merepotkan Kakak." lanjut Tio tersenyum tipis.
Deana tersenyum lalu memeluk tubuh Tio, adiknya tersayang.
"Ada, nanti besok Kakak kasih. Asalkan kamu belajar yang benar, jangan pernah ikut hal-hal yang nggak benar di sekolahmu." Deana mengelus pundak Tio yang tingginya sudah hampir menyamainya.
"Makasih Kak. Iya, Tio janji bakal sekolah yang benar dan lulus tepat waktu."
Deana mengangguk.
"Maafkan Ibu ya Dea, kalau saja Ibu punya uang, pasti sudah Ibu lunasi." Ibu Hesti menundukkan kepalanya.
"Iya tidak apa-apa Bu. Kalau Dea lagi ada, pasti Dea tanggung semuanya, Ibu tenang saja." Dea mengelus lengan Ibu Hesti.
Ibu Hesti menarik Deana dalam pelukannya. Ia tidak menyangka bisa melahirkan seseorang yang mau membantu dirinya di saat ia susah, tanpa terbebani sedikitpun.