NovelToon NovelToon
JANJI TANPA CINTA

JANJI TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / CEO / Percintaan Konglomerat / Romantis / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4. Pemecatan Nara

Sore itu, SMA Pelita Bangsa tidak seperti biasanya. Langit di atas gedung megah itu tampak lebam, seolah-olah awan sedang menahan beban air mata yang siap tumpah kapan saja. Angin bertiup lebih kencang, menyapu dedaunan kering di area parkir yang dipenuhi deretan mobil mewah yang harganya bisa menghidupi satu desa selama setahun.

Nara Setianingrum melangkah keluar dari lobi utama. Tangannya yang ramping namun kuat memeluk sebuah kardus kecil yang sudah agak renyot di bagian sudutnya. Kardus itu tidak berat, namun bagi Nara, beban yang ia bawa terasa ribuan ton.

Di dalamnya bukan hanya sekadar benda mati. Ada buku catatan harian berisi kemajuan siswa-siswinya, ada vas bunga keramik kecil yang ia beli dengan gaji pertamanya, dan sebuah papan nama kayu bukti fisik identitasnya yang baru saja dirampas.

Ia berjalan menunduk. Bukan karena malu, melainkan karena ia tidak ingin melihat pantulan wajahnya di dinding-dinding kaca sekolah yang seolah mengejeknya. Beberapa rekan guru yang berpapasan dengannya di koridor segera memalingkan wajah. Ada yang pura-pura sibuk dengan ponsel, ada yang mendadak asyik berdiskusi tentang kurikulum. Tak satu pun yang berani mendekat. Tak satu pun yang berani sekadar mengucap kata perpisahan. Ketakutan pada bayang-bayang kekuasaan Danu Setiawan telah membekukan empati mereka.

Nara sampai di gerbang sekolah. Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam hingga paru-parunya terasa nyeri oleh udara dingin. Ia menoleh ke belakang, menatap gedung yang selama tiga tahun ini menjadi saksi bisu dedikasinya. Ia mencintai setiap sudut kelas itu. Ia mencintai aroma spidol dan buku-buku di sana. Namun hari ini, ia dipaksa melepaskan semuanya hanya karena ia menolak untuk menjual nuraninya.

"Selamat tinggal," bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Ia melangkah menuju halte bus di depan sekolah' motor bututnya lagi rewel hari ini. Hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi kardusnya. Nara segera melepas jilbab luarnya yang lebar untuk menutupi kardus itu, lebih peduli pada keselamatan buku-buku dan kenangannya daripada dirinya sendiri yang mulai kedinginan.

Di dalam bus kota yang sesak dan pengap, Nara duduk di sudut paling belakang. Ia menatap ke luar jendela, melihat jalanan Jakarta yang macet dan hiruk-pikuk. Pikirannya melayang pada tagihan rumah sakit ayahnya yang harus dibayar lusa. Ia mencoba menghitung sisa saldo di tabungannya, namun angka-angka itu seolah menari-nari mengejeknya. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah dingin Danu Setiawan yang angkuh kembali muncul, menuntut permintaan maaf yang tidak akan pernah ia berikan.

Bus berhenti di sebuah gang sempit yang becek. Nara turun dan berjalan cepat menuju rumahnya. Rumah itu kecil, terjepit di antara bangunan-bangunan beton lainnya, namun selalu memiliki kehangatan yang tidak dimiliki oleh sekolah elit tadi.

Begitu ia membuka pintu kayu yang sudah lapuk, aroma minyak kayu putih dan tumisan bawang menyambutnya. Ibunya sedang sibuk di dapur kecil, sementara Ayahnya duduk di kursi roda dekat jendela, menatap jalanan dengan mata yang sayu.

Nara meletakkan kardusnya di atas meja ruang tamu dengan perlahan. Suara 'duk' kecil itu memecah kesunyian.

"Nara? Kok sudah pulang, Nak?" Ibu keluar dari dapur, tangannya masih basah. Matanya tertuju pada kardus di atas meja, lalu naik ke wajah Nara yang pucat dan mata yang sembab.

Nara tidak sanggup berkata-kata. Ia hanya bisa menatap ibunya dengan tatapan penuh permohonan maaf. Ia berjalan mendekat dan langsung menghambur ke pelukan ibunya. Tangis yang sejak tadi ia bendung di sekolah, di bus, dan di sepanjang jalan, akhirnya pecah juga. Ia menangis sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di bahu ibunya yang hangat.

"Nara... kenapa, Sayang? Ada apa?" Ibu mengusap punggung Nara dengan panik.

"Ibu... maafkan Nara... Nara sudah tidak bekerja lagi," suara Nara parau, tercekik oleh isak tangisnya sendiri.

Mendengar itu, Ayahnya yang berada di kursi roda memutar rodanya dengan susah payah mendekati mereka. Wajah pria tua itu tampak lebih kuyu dari biasanya. Penyakit gagal ginjal telah merenggut kegagahannya, namun matanya masih memancarkan ketegasan seorang pria yang jujur.

"Kamu dipecat, Ra?" tanya Ayah dengan suara rendah.

Nara melepaskan pelukan ibunya, lalu bersimpuh di kaki ayahnya. Ia menceritakan semuanya dengan suara gemetar. Tentang perlakuan kasar Karin, tentang intimidasi Danu Setiawan, dan bagaimana kepala sekolah menyerah pada tekanan uang. Ia menceritakan setiap kata hinaan yang dilontarkan Danu, setiap detik saat ia merasa martabatnya diinjak-injak.

"Nara dituntut meminta maaf pada orang yang salah, Yah. Nara dituntut untuk mengkhianati apa yang Ayah ajarkan selama ini," ucap Nara sambil terisak. "Dan karena Nara menolak, mereka membuang Nara seperti sampah."

Ibu Nara terduduk lemas di kursi kayu. Pikirannya langsung melayang pada jadwal cuci darah suaminya lusa yang membutuhkan biaya jutaan rupiah.

"Lalu... bagaimana dengan biaya rumah sakit Ayah lusa, Ra? Tabungan kita hanya cukup untuk makan seminggu ke depan."

Nara menunduk, hatinya hancur berkeping-keping. Rasa bersalah menghujamnya. Apakah ia terlalu egois mempertahankan prinsipnya saat ayahnya sedang bertaruh nyawa?

Namun, tangan Ayahnya yang gemetar perlahan meraih dagu Nara, memaksanya untuk mendongak.

"Jangan menangis karena telah melakukan hal yang benar, Nara," ucap Ayah dengan nada yang sangat dalam dan tenang. "Ayah memang sakit secara fisik, tapi Ayah akan jauh lebih sakit jika melihat putri Ayah harus bersujud pada kesombongan demi selembar cek. Harga diri keluarga kita tidak bisa dibeli dengan biaya cuci darah, Nak."

"Tapi Yah... Ayah butuh obat itu..."

"Rezeki itu bukan milik Danu Setiawan, Nara. Dia hanya manusia yang sedang dipinjamkan harta oleh Tuhan. Jika satu pintu ditutup oleh manusia karena kesombongannya, Tuhan akan membuka pintu lain yang lebih berkah. Berhentilah menangis. Basuh wajahmu, lalu kita makan malam bersama. Kita masih punya satu sama lain, dan itu lebih dari cukup."

Kata-kata ayahnya seperti air dingin yang menyiram api di dada Nara. Meski masa depan tampak gelap gulita, ia merasa memiliki kekuatan baru. Ia bangkit, menghapus air matanya, dan mencium tangan kedua orang tuanya.

Di dalam rumah yang sempit itu, integritas dijunjung lebih tinggi daripada emas, meski mereka tahu esok hari adalah perjuangan untuk sekadar bertahan hidup.

Di sisi lain kota, di sebuah penthouse mewah yang terletak di lantai teratas gedung pencakar langit, suasana sangat kontras. Ruangan itu luas, didominasi marmer hitam dan kaca-kaca besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Jakarta. Namun, tidak ada kehangatan di sana. Hanya ada pendingin ruangan yang berdesis pelan dan bau parfum mahal yang mengintimidasi.

Danu Setiawan berdiri di depan jendela kaca, menatap kegelapan malam dengan tangan di saku celana kainnya yang dijahit sempurna. Di belakangnya, Andra, asisten setianya, berdiri tegak membawa sebuah map hitam.

"Bacakan," perintah Danu tanpa menoleh.

"Nara Setianingrum. Lulusan terbaik Pendidikan Bahasa Indonesia. Selama tiga tahun mengajar, ia tidak pernah memiliki catatan disiplin. Ayahnya, Pak Rahardi, mantan pegawai rendahan yang sekarang menderita gagal ginjal kronis. Kondisinya kritis dan harus cuci darah dua kali seminggu. Ibunya hanyalah ibu rumah tangga yang sesekali menerima jahitan," Andra membacakan dengan nada datar.

Danu memutar tubuhnya perlahan. Sebuah senyum tipis lebih mirip seringai predator muncul di wajahnya yang tampan namun dingin. "Gagal ginjal? Jadi dia butuh uang setiap minggu hanya untuk memastikan ayahnya tetap bernapas?"

"Benar, Pak. Seluruh gajinya habis untuk biaya medis. Saat ini, mereka praktis tidak memiliki simpanan."

Danu melangkah menuju meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati solid. Ia duduk di kursi kulitnya, lalu menyesap wiski dari gelas kristal di atas mejanya. "Menarik. Dia sedang berada di tepi jurang, tapi tadi siang dia menatap saya seolah-olah dia adalah ratu dan saya hanyalah pengemis. Dia punya 'prinsip', katamu?"

"Sepertinya begitu, Pak. Dia menolak cek seratus juta itu tanpa ragu sedikit pun."

Danu terkekeh. Suara tawanya terdengar kering dan hambar.

"Semua orang punya prinsip sampai mereka merasa lapar, Andra. Dia belum cukup lapar. Dia belum melihat ayahnya sekarat karena tidak bisa membayar biaya rumah sakit. Kita lihat seberapa lama 'prinsip' itu bisa mengisi perutnya."

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka keras. Karin masuk dengan wajah cemberut, membawa tas belanjaan bermerek yang baru saja ia beli.

"Kak! Aku masih kesal!" Karin menghempaskan dirinya di sofa beludru. "Kenapa Kakak cuma mecat dia? Harusnya Kakak bikin dia masuk penjara atau apa gitu! Dia bikin aku malu di depan teman-temanku, Kak! Mereka semua bisik-bisik bilang aku cuma menang karena uang Kakak!"

Danu menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia sangat menyayangi Karin, namun di saat yang sama, ia merasa terganggu dengan rengekan adiknya.

"Tenang, Karin. Kakak punya rencana yang lebih bagus daripada penjara. Penjara itu terlalu mudah untuk orang seperti dia."

Danu kembali menoleh pada Andra. Matanya berkilat penuh obsesi gelap.

"Andra, mulai besok, hubungi seluruh jaringan sekolah swasta di Jakarta. Katakan pada mereka, siapa pun yang berani mempekerjakan Nara Setianingrum akan berhadapan langsung dengan Setiawan Group. Pastikan dia tidak bisa menjadi guru, bahkan guru les privat sekalipun. Tutup semua celah oksigennya."

Andra sedikit tertegun. "Tapi Pak, itu artinya kita menghancurkan seluruh kariernya secara total."

Danu mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya menghunus tajam.

"Saya tidak hanya ingin menghancurkan kariernya. Saya ingin menghancurkan jiwanya. Saya ingin dia merasakan keputusasaan yang begitu dalam sampai dia datang sendiri ke rumah ini, berlutut di bawah kaki saya, dan memohon untuk menjadi budak saya hanya demi biaya cuci darah ayahnya. Itulah harga yang harus dia bayar karena telah berani menatap saya dengan rasa iba."

Danu mencengkeram gelas wiskinya hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan Nara yang tenang, jilbabnya yang rapi, dan matanya yang jernih seolah menghantuinya. Ia merasa menang secara kekuasaan, namun ada sesuatu dalam diri Nara yang membuatnya merasa... tidak lengkap. Dan ia benci perasaan itu.

"Hancurkan dia, Andra. Perlahan. Pastikan dia merasakan setiap detik kehancurannya," bisik Danu sebelum meminum habis wiskinya.

Di luar, guntur menggelegar membelah langit malam. Perang antara kemiskinan yang bermartabat dan kekayaan yang angkuh telah resmi dimulai. Nara tidak tahu, bahwa musuhnya bukan hanya kemiskinan, melainkan seorang pria yang memiliki segala sumber daya untuk merenggut segala hal yang ia cintai.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!