NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18: Pasukan Setia dan Wajah Lama yang Dikenal

Setelah kembali ke desa Oakhaven, Leonard dan Alexandria segera berkumpul dengan Pak Mentari dan para pemuka desa untuk menyampaikan rencana mereka. Penduduk desa dengan senang hati menyetujui dan bersedia bergabung dalam perjuangan untuk mengembalikan kedamaian Eldoria. Dalam waktu singkat, mereka sudah mengumpulkan sekitar lima puluh orang yang siap bertempur—pria dan wanita yang memiliki keahlian berbeda, mulai dari pejuang terlatih hingga ahli sihir muda.

"Kita akan membagi diri menjadi tiga kelompok kecil," jelas Leonard saat berdiri di depan pasukan yang berkumpul di lapangan desa.

"Satu kelompok akan pergi ke desa Silverleaf, yang lain ke desa Moonwhisper, dan kelompok ketiga akan ke markas bawah tanah Ironhold. Kita perlu mengumpulkan dukungan sebanyak mungkin sebelum kita pergi ke Gunung Api Bidadari untuk mengambil Pedang Kejayaan."

Alexandria berdiri di sisi kanan Leonard, mengenakan baju pertempuran ringan yang dibuat khusus untuknya oleh penduduk desa. Ia telah belajar dasar-dasar bertarung dan cara menggunakan ramuannya dalam pertempuran, dan kini ia siap membantu Leonard dalam setiap langkahnya.

"Saya akan pergi bersama kelompok yang menuju desa Silverleaf," ucap Alexandria dengan suara yang jelas dan tegas.

"Saya bisa membantu dengan ramuan penyembuh dan juga ramuan untuk membingungkan musuh jika kita bertemu dengan pasukan Valerius di jalan."

Leonard menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh cinta dan kagum. Ia ingin melarangnya agar tidak pergi karena khawatir akan keselamatannya, tapi ia tahu bahwa Alexandria adalah pejuang yang kuat dan tidak akan tinggal diam.

"Baiklah, Alex," kata Leonard dengan lembut, menggunakan nama kesayangan itu hanya untuknya di saat itu. "Tetap hati-hati ya, akan selalu merindukanmu."

Alexandria tersenyum hangat. "Aku juga akan merindukanmu, Leo. Kita akan bertemu lagi dengan kabar baik."

Keesokan paginya, tiga kelompok pun berangkat dalam arah yang berbeda. Leonard memimpin kelompok yang menuju markas bawah tanah Ironhold, sementara Alexandria pergi bersama kelompok yang dipimpin oleh Pak Mentari muda bernama Kael ke desa Silverleaf.

Perjalanan menuju desa Silverleaf memakan waktu sekitar dua hari. Di jalan, mereka hampir bertemu dengan pasukan patroli Valerius sebanyak dua kali, tapi berkat kecepatan dan kecerdikan mereka—ditambah dengan ramuan pembuat kabut yang dibuat Alexandria—mereka berhasil menyelinap lewat tanpa terdeteksi.

"Apa kamu tidak takut, Nona Alexandria?" tanya Kael saat mereka beristirahat di bawah pohon besar pada malam hari pertama.

"Banyak orang yang takut menghadapi pasukan Valerius, tapi kamu malah bisa tetap tenang dan membantu kita semua."

Alexandria tersenyum lembut. "Saat kamu memiliki seseorang yang sangat kamu cintai dan sesuatu yang sangat kamu yakini, rasa takut itu akan hilang, Kael. Leonard... Leo adalah orang yang membuatku kuat. Tanpanya, aku tidak akan bisa melakukan hal ini."

Pada hari kedua perjalanan, mereka akhirnya sampai di desa Silverleaf. Namun, suasana di desa itu terasa sangat berbeda dari Oakhaven. Gerbang desa tertutup rapat, dan ada penjaga yang siap siaga di setiap sudut. Saat mereka menunjukkan tanda pengenal kerajaan yang diberikan Leonard, gerbang desa baru terbuka perlahan.

"Salam kenal, saudara-saudara dari Oakhaven," ucap seorang wanita tangguh dengan rambut pirang yang terikat rapi di belakang kepala.

Ia mengenakan baju zirah perak yang bersih dan memegang tombak yang panjang. "Aku adalah Lyra, pemimpin desa Silverleaf. Kami sudah mendengar kabar bahwa Yang Mulia Leonard hidup dan kembali."

Alexandria mendekat dengan sopan, lalu memperkenalkan diri. "Saya adalah Alexandria, kekasih Leonard. Kami datang untuk mengundang desa Silverleaf untuk bergabung dalam perjuangan untuk mengembalikan kerajaan Eldoria dan mengusir Valerius dari istana."

Lyra menatapnya dengan cermat, lalu tersenyum hangat. "Aku bisa merasakan kebenaran dalam kata-katamu, Nona Alexandria. Dan aku juga bisa merasakan betapa dalamnya cintamu pada Yang Mulia Leonard. Dia pernah menyelamatkan hidupku beberapa tahun yang lalu, sebelum kutukan itu menyerangnya"

Ia mengangkat tangan untuk menandai penduduk desa agar tidak khawatir. "Kita dari desa Silverleaf sudah menunggu saat ini datang! Kita siap bergabung dengan pasukan Yang Mulia Leonard! Kita punya sekitar enam puluh orang yang siap bertempur, termasuk ahli sihir yang bisa mengendalikan kekuatan angin dan es."

Alexandria merasa sangat senang mendengarnya. Mereka segera memasuki desa Silverleaf, di mana penduduknya sudah berkumpul untuk menyambut mereka dengan antusias. Selama dua hari mereka tinggal di sana, Alexandria membantu mengajar beberapa penduduk desa tentang ramuan penyembuh dan cara menggabungkannya dengan sihir yang mereka miliki.

Saat mereka siap untuk kembali ke Oakhaven, sebuah kejutan datang saat seorang pria tinggi dengan rambut cokelat gelap dan wajah yang kuat mendatangi mereka. Ia mengenakan baju petualang yang lusuh tapi tetap rapi, dan di pundaknya terbentang sebuah selendang dengan lambang kerajaan Eldoria.

"Alexandria?" panggil pria itu dengan suara yang penuh kagum. "Apakah benar kamu adalah Alexandria yang menemani Yang Mulia Leonard?"

Alexandria mengangguk dengan bingung. "Ya, tapi bagaimana kamu mengenalku?"

"Saya adalah Marcus, sahabat masa kecil Yang Mulia Leonard!" seru pria itu dengan senyum lebar.

"Dia pernah bercerita tentangmu dalam surat-suratnya sebelum kutukan itu menjangkiti dia. Katanya kamu adalah wanita yang luar biasa dari dunia lain yang telah menyelamatkan hidupnya."

Ia kemudian menoleh ke arah seluruh kelompok. "Saya baru saja kembali dari perjalanan jauh dan mendengar kabar bahwa Yang Mulia Leonard kembali. Saya membawa kabar penting—ada sekitar seratus orang lagi dari desa-desa kecil di pedalaman yang siap bergabung dengan kita! Mereka telah menunggu kesempatan untuk melawan Valerius."

Kabar gembira itu membuat semua orang bersorak kegembiraan. Alexandria merasa sangat bahagia—pasukan mereka semakin besar, dan harapan untuk mengalahkan Valerius semakin terbuka lebar.

Pada hari berikutnya, mereka berangkat kembali ke Oakhaven bersama pasukan dari desa Silverleaf dan juga Marcus. Perjalanan pulang terasa jauh lebih cepat dan penuh keceriaan. Saat mereka melihat gerbang desa Oakhaven muncul di kejauhan, mereka melihat bahwa kelompok lain juga sudah kembali—dan di depan gerbang desa berdiri Leonard dengan senyum lebar di wajahnya.

"Leonard!" teriak Alexandria dengan senyum gembira, berlari ke arahnya.

Leonard juga berlari menjawabnya, lalu memeluknya erat-erat saat mereka bertemu di tengah lapangan desa. "Kamu kembali! Aku sudah sangat merindukanmu, Alex."

"Aku juga merindukanmu, Leo," bisik Alexandria di dadanya. "Kita punya kabar baik—desa Silverleaf siap bergabung, dan ini adalah Marcus, sahabatmu yang baru saja kembali!"

Leonard melepaskan pelukan dan melihat ke arah Marcus, matanya berkaca-kaca karena kegembiraan. "Marcus! Sahabatku! Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi!"

Kedua pria itu saling berpelukan erat, merayakan kebersamaan yang telah lama tidak mereka rasakan. Setelah itu, Marcus memberitahu Leonard tentang kabar pasukan tambahan yang akan datang, dan Leonard pun memberitahu semua orang bahwa kelompoknya juga berhasil mendapatkan dukungan dari markas bawah tanah Ironhold dan desa Moonwhisper.

"Sekarang kita memiliki lebih dari tiga ratus orang yang siap bertempur!" seru Leonard dengan suara yang penuh semangat, berdiri di depan semua orang yang berkumpul di lapangan desa.

"Dalam seminggu lagi, kita akan berangkat ke Gunung Api Bidadari untuk mengambil Pedang Kejayaan. Setelah itu, kita akan menuju istana kerajaan untuk mengembalikan kedamaian Eldoria!"

Suara sorak dan tepukan tangan menggema ke seluruh desa. Semua orang merasa penuh semangat dan percaya diri—mereka tidak lagi sendirian dalam perjuangan ini.

Malam itu, Leonard dan Alexandria berdiri di tepi desa, menatap langit Eldoria yang penuh bintang dan dua bulan yang bersinar terang. Leonard menggenggam tangan Alexandria erat-erat, sementara ia bersandar pada tubuhnya yang kuat.

"Kita sudah begitu dekat, Alex," bisik Leonard dengan penuh harapan.

"Segala sesuatu yang kita lalui bersama—semua kesulitan dan bahaya—semuanya akan bernilai ketika kita bisa melihat Eldoria kembali damai."

Alexandria menatapnya dengan cinta yang mendalam. "Aku akan selalu ada di sisimu, Leo. Sampai akhir waktu."

Mereka saling menatap dalam diam, menikmati kedekatan satu sama lain dan merenungkan masa depan yang akan datang. Meskipun mereka tahu bahwa perjuangan terbesar masih menunggu mereka di depan, mereka merasa kuat dan siap karena mereka memiliki satu sama lain serta pasukan yang setia yang siap berkorban untuk kebaikan bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!