NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Langkah pertama di tanah Eldoria terasa berbeda, bukan sekadar berpindah tempat tapi seperti masuk ke dalam sesuatu yang hidup, karena setiap hembusan angin membawa sensasi halus yang menyentuh kulit dan menyusup ke dalam dada, membuat Alexandria tanpa sadar menarik napas lebih dalam sementara matanya terus bergerak mengamati langit berwarna ungu keperakan yang seolah berpendar pelan di atas mereka.

Leonard tidak langsung bergerak, ia berdiri beberapa detik lebih lama, membiarkan telapak kakinya benar-benar merasakan tanah itu, lalu matanya terpejam sesaat seperti seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang lama hilang, dan ketika ia membuka mata lagi, sorotnya berubah—lebih dalam, lebih tenang, tapi juga jauh lebih berbahaya.

“Ini… benar-benar Eldoria,” ucapnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Alexandria menoleh, memperhatikan perubahan itu tanpa berkata apa-apa, karena ia bisa merasakannya juga, bukan sebagai ingatan seperti Leonard, tapi sebagai sesuatu yang asing namun tidak menolak kehadirannya, bahkan terasa seperti… menyambutnya dengan cara yang tidak sepenuhnya ia pahami.

“Kamu terlihat berbeda,” gumamnya pelan, matanya menelusuri wajah Leonard.

Leonard tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sepenuhnya ringan.

“Aku merasa berbeda,” jawabnya jujur, lalu menunduk sedikit melihat tangannya sendiri yang perlahan dikepalkan dan dibuka kembali, seolah mencoba memahami aliran kekuatan yang kini terasa lebih jelas.

Sebelum Alexandria sempat menanggapi, tanah di sekitar mereka bergetar sangat halus, hampir tidak terasa, tapi cukup membuat Leonard langsung mengangkat kepala dan menatap ke arah hutan di depan.

Hutan itu tidak seperti Aethelgard.

Pohon-pohonnya tinggi menjulang dengan batang berwarna gelap keperakan, daunnya berkilauan lembut seperti memantulkan cahaya dari dalam, dan akar-akarnya muncul di permukaan tanah seperti jaringan yang hidup, bergerak sangat halus seolah merespons sesuatu.

“Jangan bergerak dulu,” bisik Leonard, suaranya rendah tapi tegas.

Alexandria langsung diam, meskipun jantungnya mulai berdetak lebih cepat karena perubahan suasana yang mendadak.

Suara itu datang beberapa detik kemudian.

Bukan langkah kaki.

Bukan juga hembusan angin.

Tapi sesuatu yang bergerak di antara pepohonan, cepat, ringan, dan tidak sepenuhnya terlihat.

Alexandria menelan napas, refleks mendekat sedikit ke Leonard.

“Apakah itu…” ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Leonard tidak menjawab, tapi tubuhnya sudah bergeser sedikit ke depan, tanpa sadar menempatkan dirinya di antara Alexandria dan arah suara itu, bahunya menegang sementara matanya menajam mengikuti pergerakan yang tidak terlihat jelas.

Lalu… sosok itu muncul.

Tidak langsung terlihat utuh, tapi bayangan yang bergerak dari satu batang pohon ke batang lainnya sebelum akhirnya berhenti beberapa meter dari mereka.

Itu bukan manusia.

Tubuhnya ramping, tinggi hampir setara Leonard, dengan kulit pucat keperakan dan mata yang memancarkan cahaya samar, rambutnya panjang jatuh hingga punggung dengan warna seperti cahaya bulan, dan di punggungnya… ada sesuatu seperti sayap tipis transparan yang tidak sepenuhnya terbuka.

Alexandria menahan napas.

Leonard tidak bergerak.

Makhluk itu menatap mereka tanpa berkedip, tatapannya berpindah dari Leonard ke Alexandria, lalu kembali lagi, seperti menilai, mengukur, atau mungkin… mengenali.

“Kau kembali,” suara itu terdengar, tidak keras tapi jelas, dengan nada yang aneh—tidak sepenuhnya ramah, tapi juga tidak langsung mengancam.

Leonard tidak langsung menjawab, tapi dagunya terangkat sedikit, sorot matanya berubah dingin.

“Dan kau masih menjaga perbatasan,” balasnya tenang.

Makhluk itu sedikit memiringkan kepala, seperti mempertimbangkan sesuatu.

“Banyak yang tidak kembali setelah melewati gerbang itu,” katanya pelan, “terutama mereka yang datang dengan membawa manusia.”

Kata “manusia” itu diucapkan dengan tekanan yang berbeda, membuat Alexandria merasakan sesuatu yang menusuk tipis di dada, bukan takut, tapi seperti ditandai.

Leonard langsung bergerak setengah langkah lebih maju.

“Dia bersamaku,” ucapnya tegas, tidak memberi ruang untuk ditawar.

Makhluk itu tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak benar-benar hangat.

“Aku bisa melihat itu,” jawabnya, lalu matanya kembali ke Alexandria, lebih lama kali ini, seolah mencoba melihat sesuatu yang tidak terlihat di permukaan.

Alexandria tidak mundur, meskipun tatapan itu membuat napasnya sedikit tertahan, ia justru mengangkat dagunya sedikit, menatap balik dengan tenang meski jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Lalu makhluk itu melangkah mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Udara di sekitar mereka berubah lagi, lebih padat, lebih berat.

Leonard langsung menegang, tangannya sedikit terangkat, siap jika sesuatu terjadi.

“Tenang,” kata makhluk itu, berhenti tepat di luar jangkauan Leonard, “jika aku ingin menyerang, kalian tidak akan sempat menyadarinya.”

Nada suaranya datar, tapi tidak terdengar sombong, lebih seperti fakta yang tidak perlu dibantah.

Alexandria menelan napas, tapi tetap berdiri di tempatnya.

Makhluk itu kini berdiri cukup dekat untuk terlihat jelas, matanya menatap lurus ke mata Alexandria, lalu perlahan tangannya terangkat, berhenti beberapa inci dari dada Alexandria tanpa menyentuh.

Cahaya samar muncul di ujung jarinya.

Leonard langsung bergerak, tangannya menangkap pergelangan makhluk itu dengan cepat.

“Jangan sentuh dia,” suaranya rendah, hampir seperti geraman.

Makhluk itu tidak menarik tangannya, tapi juga tidak melawan, hanya menoleh sedikit ke arah Leonard.

“Aku hanya ingin memastikan,” katanya tenang.

Leonard tidak langsung melepas, tapi tatapan mereka bertemu beberapa detik, dan entah apa yang dibaca Leonard dari mata itu, genggamannya perlahan mengendur.

Makhluk itu kembali menoleh ke Alexandria, lalu dengan sangat pelan, hampir tidak menyentuh, ujung jarinya mendekati cahaya di sekitar dada Alexandria.

Cahaya itu… merespons.

Bukan cahaya dari makhluk itu, tapi dari Alexandria.

Sebuah kilasan halus muncul dari dalam dirinya, hampir seperti denyut jantung yang terlihat.

Makhluk itu menarik tangannya perlahan, matanya sedikit melebar, untuk pertama kalinya ekspresinya berubah.

“Menarik…” gumamnya.

Leonard langsung kembali berdiri di samping Alexandria, matanya menatap tajam.

“Apa maksudmu?”

Makhluk itu tidak langsung menjawab, tapi senyum tipis kembali muncul di wajahnya.

“Dia bukan sekadar manusia yang ikut,” katanya pelan, “dia… terikat.”

Alexandria mengerutkan kening, menoleh ke Leonard.

“Terikat?”

Leonard tidak menjawab, tapi rahangnya mengeras.

Makhluk itu melangkah mundur satu langkah, memberi jarak.

“Namaku Lysara,” katanya akhirnya, “penjaga batas hutan ini, dan… salah satu yang masih setia pada garis lama.”

Leonard menyipitkan mata sedikit.

“Kalau begitu kau tahu siapa aku.”

Lysara mengangguk pelan.

“Putra mahkota yang seharusnya tidak pernah menghilang,” jawabnya ringan, tapi ada makna yang lebih dalam di baliknya, “dan sekarang kembali… bersama sesuatu yang tidak pernah diprediksi oleh siapa pun.”

Alexandria menahan napas, merasakan kata-kata itu seperti membuka sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.

Leonard menarik napas pelan, lalu berkata dengan nada lebih tenang, tapi tetap tegas, “kami tidak datang untuk bersembunyi.”

“Bagus,” jawab Lysara tanpa ragu, “karena Eldoria tidak lagi tempat untuk bersembunyi.”

Keheningan jatuh lagi, tapi kali ini bukan kosong, melainkan penuh dengan sesuatu yang berat.

“Valerius?” tanya Leonard akhirnya.

Lysara menatapnya, lalu mengangguk perlahan.

“Dia tidak lagi sekadar bayangan di balik tahta,” katanya pelan, “dia sudah menjadi sesuatu yang lebih besar… dan lebih gelap.”

Alexandria merasakan jari Leonard mengencang menggenggam tangannya.

“Dan sekarang kau kembali,” lanjut Lysara, “dengan kekuatan yang mulai bangkit… dan dengan dia di sisimu.”

Tatapannya kembali ke Alexandria, lebih lembut kali ini, tapi tetap penuh penilaian.

“Kalian akan menarik perhatian,” katanya jujur, “lebih cepat dari yang kalian kira.”

Leonard mengangguk pelan, tidak terlihat terkejut.

“Itu memang rencananya,” jawabnya singkat.

Lysara tersenyum tipis lagi, kali ini sedikit lebih hidup.

“Kalau begitu… kalian butuh sekutu,” katanya, lalu berbalik setengah badan, menunjuk ke arah hutan yang lebih dalam.

“Dan kalian beruntung, karena tidak semua di dunia ini memilih untuk tunduk pada Valerius.”

Alexandria menoleh ke Leonard, dan tanpa perlu banyak kata, mereka sama-sama tahu—

ini bukan sekadar perjalanan lagi.

Ini sudah menjadi permainan yang lebih besar.

Leonard menghela napas pelan, lalu melangkah maju.

“Pimpin jalan,” katanya.

Lysara tidak menjawab dengan kata, hanya melangkah lebih dulu, tubuhnya hampir menyatu dengan bayangan pepohonan.

Alexandria berjalan di samping Leonard, tangannya masih dalam genggaman yang sama, tapi kali ini langkahnya terasa berbeda—lebih mantap, lebih sadar, seolah setiap langkah membawa mereka semakin dalam ke sesuatu yang tidak bisa lagi mereka hindari.

Dan di balik pepohonan yang berkilau itu, sesuatu bergerak perlahan.

Mengamati. Menunggu.

Karena kedatangan mereka… bukan lagi rahasia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!