Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi boneka Pikachu
Setelah membantu Arjuna mengganti pakaian, Dita segera melonjak kembali ke atas ranjang dan menarik selimut hingga sebatas leher. Jantungnya masih berdegup kencang setelah melihat "pemandangan" yang tidak terduga tadi. Namun, sudut matanya menangkap gerakan Arjuna yang mulai menata bantal di sofa panjang yang ukurannya jauh lebih kecil dari tubuh tegap suaminya itu.
Dita menggigit bibir bawahnya. Ada rasa tidak tega menyelinap di hatinya. "Jangan tidur di sofa, Pak. Bapak bisa tidur di atas tempat tidur," ucap Dita pelan tanpa berani menoleh sedikit pun.
Arjuna yang sudah sempat merebahkan diri di sofa yang sempit itu tertegun sejenak. Senyum tipis terukir di wajahnya yang tegas. "Terima kasih, Dit," jawabnya singkat.
Tanpa banyak bicara, Arjuna berpindah ke atas ranjang besar itu. Ia merebahkan tubuhnya di sisi lain, menyisakan jarak yang cukup lebar di antara mereka. Arjuna menatap punggung Dita yang kaku, menyadari bahwa istrinya itu sedang menahan napas saking tegangnya. Namun, rasa lelah akibat kejadian beberapa hari terakhir akhirnya membawa mereka ke alam mimpi.
Malam semakin larut, dan tanpa disadari oleh keduanya, jarak yang lebar itu perlahan terkikis. Di dalam mimpinya, Dita merasa sedang berada di dalam kamar lamanya, memeluk boneka Pikachu raksasa yang empuk dan hangat.
"Pikachu... Hemmm.... lembut sekali," gumam Dita dalam tidurnya.
Secara tidak sadar, tangan dan kaki Dita melingkar erat pada tubuh di sampingnya. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Arjuna yang hangat. Karena merasa sangat gemas dengan "bonekanya", Dita bahkan mulai mencubit-cubit pipi Arjuna dengan gemas dalam keadaan mata terpejam.
Arjuna sebenarnya sudah terbangun sejak tangan Dita mulai mendarat di perutnya. Namun, melihat wajah damai Dita yang tertidur pulas dan entah mengapa ia merasa sangat nyaman menjadi "boneka Pikachu" dadakan. Arjuna memilih untuk diam dan membiarkan istrinya itu melakukan apa pun yang ia mau. Ia bahkan sengaja sedikit memiringkan tubuhnya agar Dita bisa memeluknya lebih nyaman.
Namun, momen manis nan kaku itu hancur seketika saat pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan bantingan keras.
BRAK!
"HEY NENEK SIHIR! LEPASKAN AYAHKU!" teriak Siena melengking.
Dita tersentak hebat. Matanya langsung terbuka lebar. Hal pertama yang ia lihat bukan langit-langit kamar, melainkan Piyama tipis yang melekat di dada bidang Arjuna. Ia menyadari tangannya sedang mencubit pipi suaminya dan kakinya menindih kaki Arjuna.
"A.... astaga!" Dita sontak berguling menjauh hingga hampir terjatuh dari pinggiran ranjang. Wajahnya seketika merah padam, lebih merah dari tomat matang.
Arjuna pun ikut terduduk dengan rambut yang sedikit berantakan. Ia tampak sangat terkejut, bukan karena pelukan Dita, melainkan karena kemunculan putrinya yang tiba-tiba bak petugas razia.
"Siena? Kamu... kamu kenapa masuk tidak ketuk pintu dulu, Nak?" tanya Arjuna sambil berusaha mengatur napas dan detak jantungnya yang mendadak liar karena malu.
Siena berdiri di depan ranjang dengan tangan bersedekap, matanya berkilat marah menatap Dita. "Ayah itu milik Siena! Nenek sihir tidak boleh memeluk Ayah seperti itu! Tante Maudy benar, dia pasti mau merebut Ayah dari Siena!"
Dita hanya bisa menunduk dalam, tangannya gemetar merapikan selimut. Ia benar-benar ingin menghilang dari muka bumi saat ini juga. Sementara itu, dari balik pintu yang masih terbuka, Mimi yang kebetulan lewat karena hendak memanggil Dita untuk sarapan, hanya bisa melongo melihat drama pagi itu.
"Waduh... sepertinya aku salah waktu," gumam Mimi sambil menahan tawa melihat wajah Arjuna yang salah tingkah dan Dita yang sudah seperti kepiting rebus.
Suasana di dalam kamar mendadak mendingin. Arjuna menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya akibat insiden "boneka Pikachu" yang berakhir kacau itu. Ia turun dari ranjang, berdiri tegak di depan Siena yang masih menatap Dita dengan kobaran amarah.
"Siena, dengar Ayah," suara Arjuna terdengar berat dan tegas, nada bicara yang biasanya ia gunakan saat memberikan instruksi di lapangan. "Dita adalah istri Ayah. Itu artinya, dia adalah ibumu sekarang. Ayah tidak pernah mengajarkanmu untuk berteriak dan memanggil orang tua dengan sebutan kasar seperti itu."
Siena tersentak, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi Tante Maudy bilang... "
"Ayah tidak peduli apa yang dikatakan Tante Maudy," potong Arjuna cepat. "Di rumah ini, kau harus menghormati Dita. Jika Ayah melihatmu kurang ajar lagi, Ayah akan menghukummu. Sekarang, kembali ke kamarmu dan renungkan kesalahanmu."
Siena menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahunya bergetar menahan tangis. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berlari kencang menuju kamarnya.
Dita, yang masih duduk di pinggir ranjang dengan rambut acak-acakan, menatap punggung kecil itu dengan perasaan campur aduk. Ia menatap Arjuna, lalu berganti menatap pintu yang baru saja tertutup. Di usianya yang baru saja menyelesaikan ujian kelulusan sekolah, ia merasa situasi ini sangat absurd. Seharusnya ia sedang pening memikirkan hasil ujian atau rencana kuliah, bukan malah terjebak dalam drama rumah tangga dengan anak tiri yang lebih pantas menjadi adiknya.
"Maafkan Siena, Dit. Dia hanya butuh waktu," ucap Arjuna pelan, memecah keheningan yang canggung.
Dita tidak berani menatap mata Arjuna. Bayangan tangan dan kakinya yang melilit tubuh kekar pria itu tadi pagi membuat wajahnya kembali terasa terbakar.
"I... iya, Pak. Tidak apa-apa. Saya... saya mau mandi dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Dita menyambar handuknya dan melesat masuk ke dalam kamar mandi seolah sedang dikejar hantu. Arjuna hanya bisa mematung, menyentuh pipinya yang tadi sempat dicubit gemas oleh Dita, lalu tersenyum tipis sendirian.
Di Dalam Kamar Mandi
Dita menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang tertutup rapat. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, merutuki nasibnya yang malang sekaligus memalukan.
Byurrrr!
Ia membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali, namun bayangan dada bidang Arjuna tetap tidak mau hilang dari ingatannya.
"Bodoh! Bodoh! Dita, kamu benar-benar bodoh!" umpatnya lirih pada pantulan dirinya di cermin. "Bisa-bisanya kamu anggap Pak Juna itu Pikachu? Dan yang lebih parah... kenapa Pak Juna diam saja?!"
Dita mengepalkan tangannya, merasa harga dirinya jatuh ke titik terendah. Ia membayangkan Arjuna yang terjaga namun membiarkan dirinya dipeluk dan dicubit sepuas hati.
"Kenapa Pak Juna diam saja saat aku memeluk dan mencubitnya? Kenapa dia tidak menyingkirkanku atau membangunkan aku?" Dita menghentakkan kakinya ke lantai kamar mandi dengan kesal. "Ish... dasar pria tua mesum! Pasti dia sengaja menikmati momen itu!"
Dita mendengus kasar, meski dalam hati kecilnya ada rasa hangat yang sulit ia jelaskan. Namun, baginya saat ini, melabeli Arjuna sebagai "pria tua mesum" adalah satu-satunya cara untuk menutupi rasa malu yang luar biasa hebatnya.
Bersambung..
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna