Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Di kamar sebelah, Ezzvaro menutup pintu dengan dentuman pelan yang sarat akan frustrasi. Ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu, memejamkan mata, dan menghirup udara yang terasa hampa tanpa aroma mawar yang baru saja ditinggalkannya di lorong.
Langkah kakinya terseret menuju meja kerja mahoni di sudut ruangan. Dengan gerakan mekanis, ia menyalakan laptop pribadinya—perangkat yang tidak pernah disentuh oleh asisten mana pun, tersambung ke server terenkripsi yang ia bangun sendiri.
Jarinya menari di atas keyboard, memasukkan serangkaian sandi rumit. Sebuah folder tersembunyi terbuka.
Ribuan file muncul. Foto, video singkat, hingga rekaman suara.
Mata Ezzvaro yang tajam kini meredup, digantikan oleh kabut gairah yang menyakitkan. Ia mengklik sebuah foto yang diambil di apartemen lama mereka di London. Di sana, Gabriel sedang berbaring di atas seprai sutra abu-abu, rambut cokelatnya tersebar berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang memerah setelah percintaan mereka yang panjang.
Ada banyak foto lain; juga foto selfie di cermin di mana Ezzvaro memeluk pinggang Gabriel yang polos, sementara wanita itu tertawa kecil sambil memegang kamera. Di foto itu, mereka terlihat seperti dua manusia paling bahagia, tidak sadar bahwa badai kecurigaan akan menghancurkan segalanya.
Ezzvaro menyentuh layar laptopnya, tepat di bibir Gabriel yang tersenyum dalam foto itu.
"Kau pikir aku bisa melupakannya, Gaby?" bisiknya, suaranya kini berubah menjadi geraman rendah yang berbahaya.
Panggilan sayang itu—Gaby—terasa asing sekaligus menyakitkan saat diucapkan di dalam mansion ayahnya.
Ia mengklik sebuah video pendek berdurasi sepuluh detik. Tidak ada gambar yang jelas, hanya kegelapan dan suara napas yang beradu. Namun di detik kelima, terdengar suara desahan halus yang memanggil namanya dengan nada memohon yang hancur.
"Ahh Vavo... please... Vavo..."
Ezzvaro memejamkan mata rapat-rapat saat mendengar suara itu. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan keras. Panggilan itu—Vavo—adalah identitas rahasianya. Hanya Gabriel yang berhak memanggilnya begitu di saat-saat paling intim mereka, saat ego Manafe-nya luruh dan ia hanya menjadi pria milik Gabriel.
"Aku merindukan desahanmu, Gaby," desis Ezzvaro pada layar yang bercahaya di kegelapan kamar. "Aku merindukan cara kau memanggil namaku saat kau kehilangan kendali di bawah tubuhku."
Ia mengepalkan tangannya di atas meja hingga sendi-sendinya memutih.
Ingatannya kembali pada malam-malam panas di mana mereka berbagi keringat dan jiwa, jauh sebelum status 'saudara' ini menjadi belenggu.
"Vavo-mu sangat merindukanmu," gumamnya gila, senyum miring yang gelap muncul di wajahnya.
"Vavo-mu ini ingin menelan mu hidup-hidup, Gaby. Aku ingin merobek gaun mahalmu itu dan mengingatkanmu bahwa tidak peduli berapa kali kau memanggilku 'Kakak' di depan Ayah, kau tetap milikku."
Ezzvaro menatap folder itu dengan pandangan predator. Ia tahu ini adalah penyakit. Ia tahu menyimpan kenangan ini adalah cara paling efektif untuk menghancurkan kewarasannya sendiri.
Namun, ia tidak bisa berhenti. Baginya, rasa sakit dari kenangan ini jauh lebih baik daripada kekosongan yang ia rasakan selama tiga tahun terakhir.
"Kau menuduhku berselingkuh karena kau takut kehilangan kendali atas diriku, kan?" Ezzvaro tertawa kecil, suara tawa yang kering dan hampa.
"Lihat diriku sekarang, Gaby. Aku tidak pernah berpaling. Aku terjebak di dalam dirimu, bahkan saat kau sudah menjadi racun bagi hidupku."
Ia menutup laptopnya dengan kasar saat menyadari napasnya sudah terlalu memburu. Ruangan itu terasa terlalu sempit. Ezzvaro berdiri dan berjalan menuju balkon, membiarkan hujan London membasahi wajahnya yang panas.
Di seberang dinding, ia tahu Gabriel ada di sana. Mungkin sedang menangis, mungkin sedang merencanakan kehancurannya. Ezzvaro tidak peduli. Karena di bawah langit London yang kelabu ini, hanya ada satu kebenaran yang tersisa bagi mereka: mereka adalah dua orang asing yang terikat oleh dosa masa lalu, yang kini dipaksa menjadi keluarga, sementara iblis di dalam diri mereka terus berteriak meminta penyatuan kembali.
"Selamat tidur, Gaby," bisik Ezzvaro ke arah dinding kamar sebelah. "Mimpikan Vavo-mu malam ini. Karena besok, aku tidak akan memberikanmu ruang untuk bernapas."
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰