NovelToon NovelToon
Detektif Kacau Balau

Detektif Kacau Balau

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mata-mata/Agen / Persahabatan / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Timotius Safari

Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Soto dan Bayang-Bayang

Fajar baru saja menghapus jejak malam ketika cahaya merah muda mulai menodai langit timur. Suara adzan dari masjid kampung memanggil orang-orang untuk bangun dan memulai hari, sementara ayam jantan bersahut-sahutan. Hawa dingin masih terasa menusuk, memaksa mereka membungkus tubuh dengan jaket lusuh. Ruangan kecil tempat Mereka berteduh di rumah Profesor Dimas masih diselimuti aroma kopi yang tersisa dari malam sebelumnya. Halaman rumah basah oleh embun, rumput-rumput kecil berkilau terkena sinar matahari yang malu-malu.

Tento duduk di kursi dengan ponsel di tangan, membuka berita lokal. Matahari naik perlahan, menyoroti garis-garis lelah di wajahnya. Headline yang muncul di layar membuatnya menggeram: “Warga Tiba-tiba Kejang di Pasar, Diduga Keracunan Makanan.” Artikel itu menyebutkan korban mengalami kejang tiba-tiba, namun segera disimpulkan sebagai keracunan makanan. Tidak ada kata tentang pabrik atau suntikan misterius. “Mereka memutarbalikkan fakta,” desisnya, suara serak. “Lihat, mereka menutup-nutupi.”

Perikus menyalakan kompor kecil, memasak air untuk teh. “Sudah kuduga mereka akan memutar hal seperti ini,” katanya sambil mengaduk. “Kita harus cari cara untuk menyebarkan informasi tanpa mereka bisa menyangkal. Semua media arus utama sudah dikendalikan.” Ia menuangkan air panas ke dalam gelas, menaburkan teh tubruk, dan aroma khas teh jawa mengisi ruangan.

Profesor Dimas masuk dari kamar belakang, membawa setumpuk kertas. “Saya baru mendapat data dari sampel lain,” katanya sambil menaruh kertas di meja. “Gen B16 ini memiliki urutan protein yang dapat meningkatkan respons agresif. Ini menjelaskan kenapa beberapa korban mengamuk. Tetapi, lebih jauh lagi, perusahaan mungkin berusaha menciptakan pekerja tanpa empati. Kita harus mengungkap ini secepatnya. Dalam waktu dekat, mereka mungkin akan melakukan distribusi besar-besaran ke kota lain.”

Tento menatap profesor. “Berbicara tentang distribusi, kami perlu mencari Pakde Selam. Kami khawatir mereka menargetkan dia. Pak Mulyono bilang Pakde pergi ke Blitar untuk berlindung. Mungkin dia punya informasi penting. Kami akan pergi ke sana hari ini,” katanya. Ia mengangkat ransel, memasukkan kamera jam dan beberapa baterai cadangan.

Profesor mengangguk. “Baik. Hati-hati di jalan. Saya akan terus bekerja di lab dan menghubungi teman-teman saya di lembaga kesehatan. Saya juga akan memantau apakah drone kembali. Jika kalian butuh bantuan, kirim kode,” jawabnya. Ia menepuk bahu mereka satu per satu, memberi kekuatan. “Dan satu hal lagi, sebelum kalian pergi, aku terima kabar: seorang perawat dari klinik perusahaan ingin bertemu. Dia punya data tentang suntikan B16. Aku akan mengatur pertemuan dengan dia besok sore di perpustakaan kota. Pastikan kalian kembali tepat waktu.”

Mereka berpamitan, menyalakan motor yang terparkir di halaman. Suara mesin 2-tak Perikus berisik, namun telah menjadi musik latar petualangan mereka. Udara pagi menusuk wajah, aroma tanah basah bercampur sedikit bau knalpot. Mereka melintasi jalan sempit di kota, menembus kerumunan pasar pagi, melintasi truk sayur, tukang bakso keliling, dan ibu-ibu yang menjual bumbu pecel. Sinar matahari mulai memanaskan helm mereka, butir keringat kecil meluncur di belakang leher.

Perjalanan ke Blitar membutuhkan waktu sekitar dua jam dengan motor. Mereka melintasi jalan raya, melihat sawah-sawah hijau memanjang seperti karpet, kerbau-kerbau sedang mandi di kubangan, dan petani yang menunduk di antara padi. Pohon-pohon besar di pinggir jalan melambai seolah mengucapkan selamat pagi. Perjalanan ini memberi mereka waktu untuk berbicara tentang hal-hal kecil yang menenangkan, seperti kenangan sekolah, makanan favorit, dan film komedi yang pernah mereka tonton. Candaan Perikus tentang motor tua mereka yang tiba-tiba batuk-batuk setiap menanjak membuat suasana lebih ringan.

Setiba di Blitar, mereka mencari alamat kampung yang diberikan Pak Mulyono. Kampung itu terletak di tepian kota, rumah-rumahnya berderet rapi dengan pagar bambu. Para ibu menyapu halaman, anak-anak bermain sepak bola di tanah lapang. Mereka bertanya kepada seorang pria tua yang sedang memotong rumput di pekarangan. “Maaf, Pak. Apakah Bapak tahu rumah Pakde Selam? Pemilik warung soto ayam dari Malang?”

Pria itu menatap mereka dengan mata keriput, lalu tersenyum. “Oh, Pakde Selam. Dia saudaraku. Dia tiba tadi malam. Dia ketakutan. Ada dua orang mencari dia, katanya. Ayo, saya antar,” katanya. Ia meletakkan sabitnya, menuntun mereka melewati beberapa rumah. Aroma tempe goreng dan daun pandan dari dapur-dapur terbuka membuat perut mereka bergolak. Mereka tiba di rumah yang sedikit lebih besar dengan halaman ditumbuhi tanaman obat.

Pakde Selam duduk di kursi kayu di teras, memegang tas kecil. Pakaiannya sederhana, rambutnya tersisir rapi, tetapi wajahnya tampak lelah. Ketika melihat mereka, matanya berkaca-kaca. “Mas Tento! Mas Perikus, kalian datang!” serunya, berdiri lalu memeluk mereka bergantian. “Aku kira aku tidak akan melihat kalian lagi. Aku takut sekali.”

Mereka duduk bersama di teras. Pakde menceritakan apa yang terjadi. “Malam itu, setelah kalian pergi, dua orang laki-laki datang memakai jas hitam, mengaku dari dinas kesehatan. Mereka tanya tentang kalian. Mereka tanya apakah ada dua pria berkacamata dan gemuk yang sering makan di warung saya. Aku bilang tidak tahu. Mereka tidak percaya. Mereka tanya lagi, apa aku dengar apapun tentang pabrik. Aku bilang, aku cuma jualan soto. Salah satu dari mereka menepuk meja, mengancam. ‘Kalau kamu bohong, warungmu akan jadi abu,’ katanya. Aku ketakutan. Aku tutup warung besoknya, kabur ke sini,” jelasnya. Suaranya gemetar. “Tapi sebelum pergi, aku sempat mendengar mereka bicara ketika menelpon seseorang. Mereka berkata ‘Pengiriman B16 harus dipindah ke pelabuhan Tanjung Perak minggu depan. Kita harus percepat.’ Itu saja. Aku takut, jadi aku catat di kertas dan simpan.”

Tento dan Perikus saling menatap. Pelabuhan Tanjung Perak. Informasi ini bisa menjadi kunci. “Pakde, apa ada orang lain yang tahu tentang ini?” tanya Tento, memastikan.

Pakde menggeleng. “Tidak ada. Aku hanya menulisnya dalam catatan. Aku pikir kalau aku mati, setidaknya kalian tahu. Aku bahkan tidak tahu apa itu B16. Tapi kalian mungkin tahu,” katanya, menatap mereka dengan kepercayaan.

“Kami tahu, Pakde. B16 itu cairan yang disuntikkan ke karyawan dan membuat mereka jadi agresif dan tidak berempati,” jawab Perikus singkat, memegang tangan Pakde. “Pakde aman di sini. Tapi jangan kembali ke Malang dulu. Kami akan memastikan Pakde aman. Dan kami akan membawa catatan itu ke jurnalis.”

Pakde mengangguk. “Aku percaya kalian. Aku tidak bisa bantu banyak, tapi aku bisa memasak soto di sini. Aku sudah bilang ke warga kampung, soto gratis untuk setiap orang. Biar kampung ini bahagia, meski dunia luar kacau,” katanya, tersenyum kecil. Mereka tertawa, sejenak melupakan kegelapan.

Setelah makan siang dengan soto buatan Pakde (diikuti obrolan ringan tentang resep keluarga dan resep rahasia yang selalu ditambahkan Pakde, yaitu daun salam yang dibakar sebentar untuk aroma), mereka berangkat ke Malang. Mereka membawa catatan Pakde berisi informasi tentang pengiriman ke pelabuhan. Perjalanan pulang penuh diskusi. “Pelabuhan Tanjung Perak itu di Surabaya. Itu pelabuhan internasional. Mungkin mereka akan mengirim B16 ke luar negeri,” ujar Tento, mencoba merangkai puzzle. “Atau ke pulau lain. Kita harus hubungi profesor. Mungkin jurnalis Mas Jati punya kontak di Surabaya.”

Ketika mereka sampai di kota, matahari sudah mulai condong ke barat. Mereka berhenti di sebuah warung makan kecil untuk minum es teh. Waktu sudah mendekati pertemuan dengan perawat di perpustakaan kota. Mereka memutuskan untuk langsung menuju perpustakaan. Perpustakaan Malang terletak di dekat alun-alun. Gedungnya tua, dindingnya dari batu bata merah, jendela-jendela tinggi dengan bingkai kayu. Udara di dalam sejuk karena banyaknya tanaman. Aroma buku lama dan kayu memenuhi ruangan. Rak-rak buku berjajar, pengunjung berbicara pelan, menghormati keheningan.

Mereka berjalan melewati rak-rak, mencari tempat bertemu yang disepakati: pojok ruangan referensi, dekat rak buku sains. Di sana, seorang perempuan muda duduk, mengenakan jilbab biru muda, memegang buku tebal. Wajahnya pucat, mata cemas. Tangan kirinya memegang tas kain. Ketika melihat mereka, ia mengangguk. “Mas Tanto dan Mas Perik, ya?” bisiknya. Ia salah menyebut nama, namun mereka memaklumi. Mereka duduk di depannya, menjaga jarak.

“Nama saya Rina,” katanya. “Saya perawat di klinik perusahaan. Saya tidak tahan lagi. Saya sudah melihat terlalu banyak. Mereka menyuntikkan cairan B16 ke karyawan dengan alasan vaksin. Banyak yang mengalami halusinasi, agresi, bahkan mati. Kami diminta tutup mulut. Jika kami bicara, kami dipecat atau lebih buruk. Saya berhasil menyalin beberapa data ke flashdisk ini.” Ia mengeluarkan flashdisk kecil dari tas, meletakkannya di atas meja. “Ini rekap catatan medis karyawan yang disuntik, gejala, dosis, dan nama dokter yang memberi suntikan.”

Tento menatap flashdisk itu seakan menatap emas. “Terima kasih, Mbak Rina. Ini sangat berharga,” kata Tento pelan. “Apa Mbak aman? Apakah Mbak curiga ada yang mengawasi?”

Rina melirik sekeliling. “Mungkin ada. Saya merasa diikuti beberapa hari ini. Saya berhenti kerja kemarin. Saya takut jika saya pulang, saya hilang. Itulah sebabnya saya membawa anak saya ke rumah ibu saya di desa. Saya tidak akan kembali ke kota. Saya hanya ingin kebenaran terungkap,” kata Rina. Suaranya bergetar, tangannya menggenggam tas.

“Kami bisa membawa Mbak ke tempat aman, sama seperti keluarga Agus,” kata Perikus. “Ada rumah di desa yang dijaga. Kami bisa mengantar Mbak setelah ini, jika Mbak mau.” Rina menimbang, kemudian mengangguk. “Baik. Saya akan ikut. Saya tidak bisa tinggal di kota lagi.”

Mereka mengambil flashdisk, memasukkan ke saku dalam jaket. Tidak ingin menarik perhatian, mereka berpencar. Perpustakaan tetap sunyi. Namun saat mereka melangkah keluar, sesuatu aneh terjadi. Di seberang jalan, sebuah van hitam berhenti. Seorang pria berkacamata hitam keluar, memandang sekitar, memegang ponsel. Rasanya tidak nyaman, seolah-olah udara berubah menjadi lebih berat. “Itu mereka,” bisik Rina dengan wajah pucat. “Orang itu pernah ke klinik.”

Mereka harus cepat. Mereka berjalan cepat menyeberang jalan, menembus kerumunan di pasar buku bekas yang sedang ramai. Bau kertas, tinta, dan kerumunan manusia campur aduk. Mereka masuk ke gang kecil di samping toko buku, berharap van itu tidak mengikuti. Namun, terdengar suara langkah cepat di belakang. Mereka menoleh; dua pria berjalan mengikuti, mata mereka tajam. Tidak ada waktu untuk berpikir. Mereka berbelok lagi ke gang yang lebih sempit, melewati rumah-rumah padat, suara ibu-ibu mengepel lantai, anak kecil bermain layangan, aroma lauk ikan asin dimasak di dapur-dapur terbuka. Mereka harus mencari cara untuk meloloskan diri tanpa membuat kehebohan.

Tiba-tiba, suara musik keras terdengar dari ujung gang. Mereka mendekat; sebuah karnaval kecil sedang berlangsung. Ada panggung dangdut sederhana, penonton menari, pedagang balon berwarna-warni, dan penjual es campur. “Ayo, kita masuk,” kata Perikus, sambil tersenyum kecut. Mereka menembus kerumunan, bergabung dengan penonton yang bertepuk tangan mengikuti irama. Lampu warna-warni berputar, menyorot wajah-wajah bahagia. Mereka menari sedikit, menyesuaikan langkah. Rina ikut di belakang, berusaha tersenyum, meski takut. Orang-orang di belakang mereka kebingungan, kehilangan jejak. Pria-pria berkacamata hitam terlihat bingung di luar kerumunan, tidak yakin siapa yang harus diikuti.

Sementara band dangdut menyanyikan lagu terkenal dengan irama cepat, Perikus menarik tangan Tento ke samping panggung, di belakang layar. Mereka menemukan jalan keluar lain melalui lorong sempit di belakang rumah-rumah. Mereka berlari pelan, napas tersengal. Rina memegang kain jilbabnya agar tidak terjerat. Mereka keluar dari gang ke jalan lain yang lebih lebar, memanggil ojek online melalui aplikasi ponsel burner yang mereka miliki. Ojek datang cepat, seorang pria muda dengan jaket hijau. “Tolong, antar kami ke terminal bus. Kita harus pergi ke luar kota,” kata Tento. Tanpa banyak tanya, pengemudi mengangguk.

Perjalanan ke terminal bus penuh ketegangan. Mereka melihat ke belakang sesekali, memastikan tidak ada van hitam mengikuti. Rina terus memegangi tasnya. Sesampainya di terminal, mereka menaiki bus jurusan Kediri, desa tempat rumah aman Pak Mahmud berada di jalur itu. Bus penuh penumpang: ibu-ibu membawa keranjang belanja, anak-anak tidur di pangkuan, pedagang kaki lima memanggil. Aroma kerupuk udang dan kacang rebus memenuhi udara. Mereka duduk, menarik napas dalam-dalam.

Dalam perjalanan, mereka berbicara pelan dengan Rina. “Saya senang bisa membantu,” kata Rina, menatap keluar jendela. Sawah-sawah berlalu, gunung jadi latar. “Suami saya meninggal dua tahun lalu. Saya tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicintai. Saya tidak ingin orang lain mengalaminya.”

Perikus meletakkan tangan di pundak Rina. “Terima kasih, Mbak. Keberanian Mbak membuat perbedaan besar,” katanya. Bus bergoyang, mengeluarkan suara khas suspensi tua. Mereka merasa aman, meski sejenak.

Sesampainya di kediri, mereka berjalan kaki ke rumah Pak Mahmud. Malam mulai turun, lampu-lampu jalan menyala, suara jangkrik kembali terdengar. Rumah Pak Mahmud menyambut dengan cahaya hangat. Ia membuka pintu, terkejut melihat mereka datang dengan tamu baru. “Ini Mbak Rina, Pak. Dia butuh perlindungan,” kata Tento.

Pak Mahmud tersenyum, mempersilakan Rina masuk. “Rumah ini tempat aman bagi siapa saja yang butuh pertolongan,” katanya. Ia mengantar mereka ke kamar tamu yang sudah disiapkan. Rina tersenyum, sedikit menangis karena lega. “Terima kasih,” katanya.

Setelah memastikan Rina nyaman, Mereka duduk di teras dengan Pak Mahmud. Mereka menceritakan pertemuan mereka, pengejaran, karnaval, dan catatan Pakde. Pak Mahmud mendengarkan dengan saksama, mengelus jenggotnya. “Kalian benar-benar menjalani hidup yang luar biasa,” katanya sambil tertawa kecil. “Aku hanya orang desa yang mengurus padi dan kambing. Tapi mendengar cerita kalian membuat aku sadar, hidup di desa juga bisa terkena dampak orang jahat di kota.”

Mereka tertawa kecil. Namun, dalam tawa itu, ada ketegangan yang tak bisa lepas. Mereka tahu, besok akan ada babak baru: menghubungi jurnalis, mengirim data Rina, menganalisis catatan pengiriman B16, dan mungkin merencanakan langkah ke pelabuhan Tanjung Perak. Mereka juga tahu bahwa musuh mereka kini makin waspada. Drone dan van hitam bukan lagi hantu, tetapi ancaman nyata. Namun, di sisi lain, jaringan mereka semakin kuat. Warga desa, perawat, mantan karyawan, profesor, jurnalis; mereka seperti aliran sungai kecil yang bergabung, membentuk arus besar.

Malam itu, mereka tidur di rumah Pak Mahmud. Angin malam bertiup lembut, membawa aroma bunga melati dari taman. Suara kodok bersahut-sahutan, membuat simfoni alam. Mereka tidur dengan kepuasan kecil karena berhasil menyelamatkan Rina, melindungi Pakde, dan membawa informasi baru. Namun, mereka juga tahu besok mungkin mereka harus menghadapi petualangan yang lebih menegangkan. Mereka menutup mata, berdoa dalam hati, berharap hari esok membawa cahaya baru di tengah bayang-bayang B16 yang membayangi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!