" menikahlah dengan ku dan jadilah ibu untuk putriku, apa kamu mau ?"
" apa om meminta ku hanya untuk menjadi ibu untuk anak om bukan istri om ?"
Apa jadinya jika di lamar secara mendadak oleh duda dingin yang bahkan baru Mala temui dimana bukan menjadi istrinya tapi hanya menjadi ibu dari anaknya ?
Apakah Mala akan menerima pinangan duda dingin itu ?
Dan apakah cinta itu akan tumbuh saat keduanya masih memiliki luka yang di sebabkan karena cinta orang di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R-kha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Terduga
Hanya lima belas menit waktu yang Mala butuhkan untuk bisa mencari apa yang Mala ingin ambil dari rumah ini dan itu hanya beberapa berkas dan juga selembar Poto yang ternyata Poto ibunya yang terlihat usang yang Mala peluk dengan sangat erat bahkan pak Darmo tak pernah tau jika Mala memiliki Poto itu.
" dari mana kamu mendapat Poto itu ?" tanya pak Darmo yang juga sempat mencari Poto itu tapi pak Darmo tak bisa menemukannya.
" tanya pada istri yang begitu anda cintai selama ini dimana iya membuang Poto ini " ucap Mala yang tak lagi menyebut ayahnya dengan gelar ayah.
" saya mengambil apa yang menjadi hak saya di rumah ini, ingat itu saya hanya mengambil apa yang menjadi hak saya di rumah ini !" ucap Mala yang entah memiliki keberanian dari Mala saat melakukan semua itu.
" hak apa yang kamu miliki ?" tanya Okta karena menurut Okta dirinya lah yang memiliki hak lebih banyak dari Mala terutama di rumah ini.
" Mala memperlihatkan sekilas apa yang iya bawa dan hal itu membuat pak Darmo, Bu Reva dan Okta saling tatap tapi tak lama Bu Reva dan Okta mencoba merebut apa yang Mala pegang.
" itu milik kami " ucap Bu Reva sambil berusaha meraih sertifikat rumah yang saat ini mereka pijak.
" entah kalian mau mengakuinya atau tidak di sertifikat ini jelas tertulis nama ibu ku dan aku anak satu satunya dari ibu ku jadi hanya aku yang berhak atas rumah ini " ucap Mala sambil berjalan mundur dan berdiri tepat di belakang Darrel seolah mencari perlindungan dari Darrel yang akan menjadi calon suaminya.
" biarkan saja, biarkan Mala mengambil milik mendiang ibunya " ucap pak Darmo yang kini benar benar kalah karena apa yang iya lakukan selama ini benar benar membuatnya dan Mala jauh hingga tak ada lagi jarak yang bisa mereka raih satu sama lain dan tak ada lagi yang bisa mereka perbaiki saat ini setidaknya itu menurut versi pak Darmo.
" jika dia mengambil sertifikat rumah ini lalu dimana kita akan tinggal yah ?" tanya Bu Reva yang benar benar mencintai pak Darmo hanya saja tak bisa menerima Mala untuk menjadi putri sambung nya.
" kalian akan tetap tinggal di rumah ini karena bagaimanapun kalian lah yang sudah merawat Mala selama ini " ucap Darrel yang yakin jika Mala tak akan sekejam itu mengusir ayah dan ibu tirinya ke jalanan.
" terima kasih dan saya bersedia menjadi wali di pernikahan Mala " ucap pak Darmo dengan suara lemahnya.
" beritahu saja kapan waktunya saya pasti akan datang " ucap pak Darmo lagi.
" baiklah, jika seperti itu kami pamit " ucap Darrel yang merasa semuanya sudah selesai.
" tunggu " ucap Okta membuka suaranya setelah sejak tadi diam karena cukup terkejut dengan keberanian Mala mengambil apa yang seharusnya menjadi hak ibunya.
" apa kamu yakin akan menikahi Mala ?"
" dia sudah tidak suci lagi "
" kesuciannya sudah berkali kali aku nikmati " ucap Okta dengan sangat lantang tapi bukan reaksi dari Mala ataupun Darrel yang iya dapat tapi reaksi dari orang yang bahkan tidak pernah Okta sangka sangka.
Plakkk
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi kanan Okta dan itu pun dari ayah yang tak pernah sekalipun menggunakan tangannya untuk mendidik anaknya terutama dirinya.
" yah !!"
" apa yang ayah lakukan pada Okta " ucap Bu Reva yang tak terima jika putra kandung nya di tampar oleh pak Darmo yang hanya ayah sambungnya.
" jangan mengatakan hal yang bahkan tak pernah terjadi di antara kalian dan aku sangat yakin pada putriku " ucap pak Darmo sambil menatap putrinya yang hanya memberikan tatapan dingin padanya karena dirinya lah yang membuat tatapan hangat itu menjadi tatapan dingin yang menusuk hatinya yang paling dalam.
" anda tak perlu khawatir, saya tau siapa wanita yang saya nikahi, jadi jangan mencoba memfitnah Mala atau anda akan menyesali perbuatan anda ini di balik jeruji besi " ucap Darrel dingin.
" saya dan Kemala pamit " ucap Darrel yang dengan sengaja merangkul pinggang Mala tepat di hadapan Okta yang terlihat tak terima saat tau Mala adik tiri sekaligus adik yang selalu iya incar kesuciannya sudah bisa menemukan orang yang akan bisa menjaganya.
Sadar Darrel merangkul pinggang nya Mala hanya bisa membiarkan apa yang Darrel lakukan karena Mala yakin Darrel hanya ingin melindunginya dan ingin menunjukkan pada ayah dan juga Abang iparnya jika mereka saling mencintai.
" masuk lah " ucap Darrel setelah membukakan pintu untuk Mala, Mala pun masuk ke dalam mobil setelah mengucapkan terima kasih baru setelah itu Darrel masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah yang pernah menjadi neraka untuk Mala selama ini.
" maaf karena aku sudah menyentuh mu tanpa izin " ucap Darrel sambil mengemudikan mobilnya.
" saya tau kenapa om melakukan itu " ucap Mala sambil terus memeluk apa yang iya bawa dan hal itu di sadari oleh Darrel.
" aku tidak mengerti kenapa kamu harus mengambil sertifikat rumah yang bahkan masih di tempati ayah mu sendiri ?"
" ok lah jika itu hanya Poto mendiang ibu mu tapi untuk apa sertifikat itu ?"
" apa kamu ingin membalas apa yang pernah mereka lakukan padamu ?" tanya Darrel sambil tetap fokus mengemudi mobilnya.
" saya hanya ingin mengaman kan apa yang menjadi milik ibu ku karena om tak tau siapa ibu dan Abang tiri ku " ucap Mala sambil terus menatap ke jalan yang sedang mereka lewati.
" baiklah, tapi aku harap kamu tidak akan pernah melakukan apa yang bisa menyakiti hati ayah mu karena bagaimanapun dia ayah mu, ayah kandung mu dan kamu harus tetap menghormati dan menyayangi nya apapun alasannya dan bagaimana pun perlakuan nya pada mu selama ini " ucap Darrel mengingatkan.
Berbeda dengan yang terjadi di rumah pak Darmo setelah Mala dan Darrel pergi dengan membawa sertifikat yang selama ini Bu Reva cari.
" kenapa ayah membiarkan Mala membawa sertifikat itu !" ucap Bu Reva kesal pada suaminya yang tak bisa bersikap tegas pada anak gadisnya.
" rumah ini memang milik mendiang ibunya Mala jadi apa salahnya jika Mala mengambil apa yang sudah menjadi haknya " ucap pak Darmo sambil duduk di ruang keluarga karena saat ini iya baru merasakan kehampaan yang tak bisa iya jelaskan dengan kata kata.
" apa maksud ayah ?"
" hak mana yang ayah bicarakan ?" tanya Okta yang tetap tak terima Mala pergi dari rumah ini apalagi dengan membawa sertifikat rumah yang mereka tempati selama ini.
" jika berbicara soal hak, Okta jauh lebih berhak atas rumah ini apapun alasannya " ucap Okta tak terima.
" Okta benar, bagaimana bisa anak perempuan mendapatkan hak waris lebih besar dari pada anak laki laki " ucap Bu Reva membela putranya.
" karena rumah ini di beli menggunakan uang mendiang ibu Kemala jadi hanya Kemala yang berhak atas rumah ini, titik "
" aauuhhh, sakit " ucap pak Darmo lirih sambil memegangi dada bagian kirinya.
" ngga usah pura pura pak, pokoknya Okta tetap ingin hak atas rumah ini dan bapak harus mengambil sertifikat itu dari Kemala !!"
" bu, tolong Bu sakit dada bapak " ucap pak Darmo sambil menyandar lemah ke sandaran kursi.
" bapak kenapa pak ?" tanya Bu Reva panik
✍️✍️✍️ apa pak Darmo akan baik baik saja ? Dan apa yang akan terjadi saat Mala tau kondisi bapaknya saat ini ?
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Love you moreee 😘😘😘
terus si Reva dan si Okta diusir dari rumah itu😏