satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadi Di culik
Saat sampai di Rumah Oyot di kaliawi, Baron memang sudah menunggu mereka
" Bagaimana?" tanya Baron singkat
" Tadi kami mengawasi rumah itu hanya anak ini yang terlihat beberapa kali keluar masuk dengan motornya" Sahut sangkut sambil memperlihatkan foto Bimo di hpnya
Baron mengambil hp Sangkut dan memperhatikan , Tubuh Bimo yang tinggi besar dan tampak bugar, membuat Baron menyangka jika Bimo yang melumpuhkan Oyot
" Bisa jadi dia yang melumpuhkan oyot, postur tubuhnya seperti orang yang bisa bela diri" gumam Baron pelan
" Terus gmana bos, apa kita sergap saja dia beramai ramai" tanya Pulung
" Jangan, jika dia bisa beladiri kita yang akan di rugikan" jawab Baron mencegah
" Baiknya gmana Bos?" tanya Sangkut
" Kita pancing dia," sahut Baron sambil tersenyum licik
" Caranya?"
" Kita manfaatkan Hadi, besok sepertinya dia akan mulai kuliah, kita culik dan ancam anak itu, kalau dia tak mau kita akan bunuh Hadi" ucap Baron
" Ok kalau begitu kita tunggu di tempat parkiran mobil saja nanti biar anak anak yang lain mengawasi" Pulung berkata setuju
" terus tempatnya di mana?" tanya Sangkut,
" kita cari tempat yang sepi dan jauh dari warga, kalian ada saran?" tanya Baron
" aku punya rumah kosong di gang PU kita kesana saja" usul Pulung
" yakin sepi!?" tanya Baron memastikan
" sepi bos, soalnya dekat kuburan" jawab Pulung
" ok Kalau begitu tempat itu saja" putus Baron
Pagi itu Hadi memang mulai kuliah lagi, kakinya sudah sembuh jadi ia memutuskan kembali kuliah agar tak jauh tertinggal mata kulaihnya
dengan Mobil avanzanya Hadi berangkat ke kampus, ia tak tahu jika bahaya telah mengintai
Di Parkiran Mobil khusus untuk para mahasiswa, Sangkut, Pulung dan Jaya telah menunggu di dalam mobil, semua tempat parkiran sudah mereka atur menyisakan satu tempat kosong bersebelahan dengan mobil Baron
HAdi yang baru sampai tanpa curiga memarkirkan mobilnya , ia turun dan berjalan ke arah kampus, di mobil Baron, Sangkut turun dengan cepat di susul oleh Jaya dan Pulung, mereka langsung bergerak menyerang Hadi
Wuut
bugh
Egh
Hadi melenguh dan pingsan saat pukulan Sangkut mengenai tengkuknya
" Cepat bawa ke mobil!" seru Sangkut pada Pulung dan Jaya, mereka mengangguk dan menggotong Hadi yang pingsan ke dalam mobil Baron
Setelah melihat kondisi aman mobil itu keluar dari parkiran dan pergi meninggalakan kampus
Baron yang melihar dari kejauhan tersenyum lalu dengan menggunakan sepeda motor Matic milik temannya ia menyusul mobil itu
Saat sampai di rumah kosong milik Pulung, mereka membawa Hadi yang masih pingsan, lalu mengikat nya di bangku
tak lama Baron datang, ia mengambil hp hadi, hp itu dalam kondisi terkunci , dengan menggunakan telunjuk Hadi Baron membuka hp Hadi dan memfoto Hadi yang pingsan dan dalam keadaan terikat,
" Kalian tahu siapa nama orang itu?" tanya Baron
" kalau ga salah Bimo bos" sahut Pulung , Baron mencari nama Bimo di kontak
" Nah ketemu, bener ini no nya" ucap Baron saat melihat kontak nama Bimo dan Dp nya sama persis dengan yang di foto Sangkut, ia segera mengirim pesan singkat pada Bimo di sertai foto Hadi yang terikat" Bimo, Hadi di tangan gw, dateng ke rumah kosong di Gang PU, setelah kuburan, datang sendiri dan jangan coba coba melapor polisi kalau tidak besok akan ku kirim mayat Hadi!" setelah selesai mengetik Baron mengirimkan pesan itu
" sudah beres, tinggal nunggu orangnya datang nanti malam" Ucap Baron sambil melemparkan Hp Hadi ke meja
Saat itu Bimo baru saja bangun, ia turun dan dudk di samping Satria yang sedang ngopi
" Hadi kemana?" tanya Bimo melihat Satria sendirian
" Udah berangkat ngampus" jawab Satria sambil menyerput kopinya
" Drrrrrrt"
baru saja ia akan berbicara , hp nya bergetar, ia mengeluakan hpnya dari kantung celananya
" Satria ngechat gw ada apa?" gumam Bimo , ia membuka pesan itu dan kaget
" Sat Loe lihat" Bimo segera memperlihatkan foto yang ia terima
" kurang ajar Gumam Satria marah , melihat sahabatnya di ikat di kursi dan dalam keadaan pingsan
" Gmana ini sat!?" tanya Bimo cemas
" Ssst, jangan bilang ke tante dulu nanti syok" bisik Satria pelan, Bimo mengangguk
" Nanti biar gw yang kesana, loe sementara jangan keluar dulu" tegas Satria pada Bimo agar tak keluar
Bimo mengangguk, walau ia tak tahu Satria akan memakai cara apa tapi ia percaya Satria mampu
Satria kembali ke kamarnya, ia duduk termenung di ranjang
" Mereka mengira Bimo yang melumpuhkan Oyot," Gumam Satria dalam hati, ia harus segera menghukum mereka karena jika di teruskan bisa jadi nanti orang orang terdekatnya dalam bahaya
Tiba tiba matanya mencorong , tangannya mengepal
" Kalian akan ku buat sengsara malam ini" geram Satria
Ia ingat ada topeng separuh muka di dinding kamar Hadi, ia segera ke kamar hadi dan mengambil topeng itu lalu menyimpannya di gelang Candrakirana miliknya. karena Bimo yang di kira oleh mereka , maka Satria tak bisa datang dengan wajah aslinya makanya ia membutuhkan penutup muka, dan topeng milik Hadi sangat cocok untuk menyamar, bentuk tubuh dia dan Bimo tak jauh beda , jika wajahnya di tutupi maka para preman itu tentunya tak akan mengenali jika yang datang bukan Bimo
Malam harinya tepat pukul delapan Satria sudah tiba di rumah tua Di Gang PU, rumah itu sepi dan gelap, di sekitarnya kuburan tua , namun mata tajam Satria masih bisa melihat ada cahaya kecil dari dalam rumah itu, mungkin lilin atau lampu teplok
Satria melangkah tenang memasuki rumah itu, Topeng tengkorak yang ia pakai membuatnya terlihat menyeramkan
" Ha ha ha, akhirnya kau datang juga Jagoan!" Baru melangkah beberapa langkah, suara Baron terdengar
" Kau sendiri?" tanya Baron sambil melihat ke sekitar jika saja ada orang lain yang datang bersama Satria yang sedang menyamar menjadi Bimo
" Memang kalian hanya berani keroyokan" dengus Satria , matanya melirik ke beberapa tempat, ada lima orang semuanya termasuk Baron
" Kurang Ajar! Seraaaaang dia " Baron yang tersinggung meyuruh preman preman anak buahnya menyerang Satria
Wuuut
wuuut
Sangkut dan Jaya menyerang dari kiri dan kanan dengan cepat, namun bagi Satria sangat lambat, ia dengan mudah menghindar lalu memberi serangan balasan
Wuut
bugh
Egh
Sangkut melenguh saat perutnya terkena tendangan Satria , perutnya kontan mules membuat ia jatuh terduduk dengan memegangi perutnya
" serang bareng bareng" Baron yang melihat itu segera memerintahkan menyerang serempak, ia sendiri bergerak hendak meninju Satria
Wuuut
Plaaaak
Plaaaak
Plaaaak
belum juga sampai serangan mereka , Satria bergerak dan menyerang mereka
" Aduuuuh"
ketiganya terduduk , tubuh mereka yang terkena pukulan Satria terasa patah, kini tinggal Baron yang masih berdiri. Satria dengan langkah pelan mendekati Baron
" jangan mendekat!" teria Baron ketakutan
" Tadi jago banget , sekarang takut" ejek Satria, kakinya tetap melangkah mendekat
" Loe udah berkali kali nyakitin teman gw hanya karena urusan cewek, gw mau lihat kalau burung mprit loe ga bisa bangun apa masih rebutan cewek" ucap Satria membuat Baron semakin ketakutan
" Ampuun bang" Baron segera berlutut meminta ampun, Satria tersenyum meremehkan, bagaimana dia bisa mengampuni orang yang hampir membuat sahabatnya kehilangan nyawa
Tapi sayang kalau Satria jika dipecat dari kerjanya, soalnya kerjanya sudah mantap tuh, santai dan lingkungannya sangat mendukung untuk latihan²nya... 😁