Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Hantu
Hujan malam di kedalaman Pegunungan Kabut Beracun perlahan berhenti, menyisakan keheningan yang mencekam di lembah batu tersebut. Di antara bangkai raksasa Beruang Zirah Batu dan mayat Tetua Luar Shen Zheng, Shen Yuan duduk bersila bagaikan patung dewa iblis yang sedang tertidur.
Di telapak tangan kirinya, Inti Binatang Lapisan Kedelapan memancarkan cahaya kuning keemasan yang redup. Sementara telapak tangan kanannya menempel erat pada dada mayat Shen Zheng.
Sutra Penelan Surga, Putaran Ganda!
Hawa murni merah kehitaman meledak dari Dantian Shen Yuan, membelah diri menjadi dua aliran pusaran yang sangat rakus. Aliran pertama menyedot esensi darah murni dari mayat ahli Lapisan Kedelapan, mengubahnya menjadi sungai kekuatan yang mendidih. Aliran kedua menggiling Inti Binatang unsur tanah, mengekstrak sari pati keras bagai karang untuk memperkuat fondasi Tubuh Emas Gelap-nya.
"Ugh...!"
Shen Yuan mengernyitkan dahinya. Tubuhnya bergetar hebat. Menyerap dua jenis kekuatan yang sangat melimpah secara bersamaan membawa beban yang luar biasa pada jalur nadinya. Jika ia tidak merendam tubuhnya di Cairan Sumsum Bumi sebelumnya, Nadi Iblis Penelan Surga miliknya mungkin bisa menahan energi ini, namun daging fananya pasti sudah meledak berkeping-keping.
"Tahan dan kendalikan! Jangan biarkan energi liar itu menguasai pikiranmu!" seru Leluhur Darah, memantau dari dalam lautan kesadarannya. "Giring hawa murni unsur tanah untuk melapisi tulangmu, dan gunakan esensi darah untuk mendobrak gerbang kultivasimu!"
Shen Yuan menggertakkan giginya. Ia memandu arus kekuatan itu sesuai petunjuk Leluhur Darah. Hawa kekuningan dari Inti Binatang meresap ke dalam sumsumnya, membuat kilau emas gelap di bawah kulitnya semakin pekat. Sementara itu, esensi darah Shen Zheng berubah menjadi naga merah yang mengamuk di dalam Dantian-nya, terus membentur dinding penghalang menuju Ranah Penempaan Raga Lapisan Ketujuh.
BENTURAN PERTAMA!
Napas Shen Yuan menderu, pori-porinya mengeluarkan uap panas.
BENTURAN KEDUA!
Retakan mulai muncul di dinding penghalang Dantian. Darah segar menetes dari sudut bibir Shen Yuan.
"Hancur untukku!" raung Shen Yuan di dalam batinnya. Ia memeras setiap tetes terakhir dari Inti Binatang itu hingga batu kristal tersebut hancur menjadi debu kelabu di telapak tangannya.
BENTURAN KETIGA—BUM!
Sebuah suara dentuman yang hanya bisa didengar oleh Shen Yuan meledak di dalam tubuhnya. Penghalang itu hancur tanpa sisa!
Lautan hawa murni di Dantian-nya meluas hingga dua kali lipat. Kekuatan yang mengalir di nadinya kini tidak lagi terasa seperti aliran air, melainkan aliran air raksa yang berat dan mematikan. Gelombang kejut meletus dari tubuhnya, menyapu bebatuan kapur di sekitarnya hingga menjadi debu, dan meniup mayat Shen Zheng sejauh beberapa tombak.
Ranah Penempaan Raga Lapisan Ketujuh!
Shen Yuan membuka matanya. Sepasang pupilnya menyala merah darah di tengah kegelapan malam, memancarkan aura penindasan yang membuat hewan-hewan berbisa di sekitar lembah meniarap ketakutan. Ia telah resmi melangkah ke tahap akhir dari Ranah Penempaan Raga.
"Kekuatan ini..." Shen Yuan berdiri perlahan. Ia mengayunkan tinjunya ke udara kosong.
Baaam!
Udara meledak hanya karena kecepatan dan kekuatan murni dari kepalan tangannya, menciptakan riak angin tajam yang memotong dahan pohon di kejauhan. Dengan Tubuh Emas Gelap dan kekuatan Lapisan Ketujuh, Shen Yuan yakin ia bisa meremukkan senjata fana tingkat tinggi dengan tangan kosong tanpa sedikit pun kesulitan.
"Sangat bagus," puji Leluhur Darah dengan tawa serak. "Fondasi fisikmu sekarang bisa disejajarkan dengan para jenius pilihan di alam atas. Sekarang, jangan buang waktu. Buka gulungan perkamen itu. Kekuatan pukulan yang besar tidak akan berguna jika kau tidak bisa menyentuh musuhmu."
Shen Yuan mengangguk. Ia merogoh jubah hitamnya dan mengeluarkan gulungan Langkah Bayangan Hantu. Di bawah cahaya bulan yang pucat, ia membaca deretan aksara kuno yang mencatat rahasia teknik pergerakan tersebut.
Intisari dari Langkah Bayangan Hantu bukanlah kecepatan berlari yang kasar, melainkan cara mengendalikan hawa murni ke titik-titik nadi tertentu di telapak kaki, menciptakan tipuan mata, dan meninggalkan bayangan sisa yang terlihat sangat nyata.
Hanya butuh waktu setengah batang dupa bagi Shen Yuan dengan Nadi Iblisnya yang tak tertandingi untuk memahami jalur aliran hawa murni teknik tersebut.
Ia memejamkan mata, mengalirkan hawa murni ke kakinya, lalu melangkah ke depan.
Wussshhh!
Tubuhnya seolah lenyap tertiup angin. Di tempat ia berdiri sebelumnya, masih tersisa bayangan hitam Shen Yuan yang perlahan memudar setelah satu tarikan napas. Sementara itu, sosok aslinya telah muncul di atas batu karang berjarak sepuluh tombak dari titik awal!
"Luar biasa..." gumam Shen Yuan, takjub dengan kemampuan teknik tersebut. "Ini jauh lebih menghemat tenaga daripada Jurus Pelarian Darah Iblis yang harus merusak fondasiku."
Ia mulai berlatih dengan liar. Bagaikan hantu yang menari di tengah kabut ungu, Shen Yuan terus melesat dari satu pohon ke pohon lain. Tiga bayangan tertinggal... lima bayangan tertinggal... Dalam waktu kurang dari dua batang dupa, ia telah mencapai tahap dasar dari teknik tersebut, sanggup menciptakan ilusi pergerakan yang akan membuat musuh membuang serangan mereka ke ruang kosong.
Semburat cahaya keemasan mulai membelah ufuk timur. Fajar telah menyingsing, mengusir kabut malam yang pekat.
Shen Yuan berhenti berlatih. Napasnya stabil. Ia mengikat kembali jubah Pasukan Bayangan Darah di tubuhnya, menutupi wajahnya dengan tudung. Saatnya untuk mengakhiri perburuan ini. Masih ada puluhan anggota Pasukan Bayangan Darah yang berkeliaran mencari jejaknya di sekitar perbatasan pegunungan.
Ia membalikkan badan dan melesat ke arah luar hutan.
...
Di tepi Hutan Kabut Beracun, sekitar tiga puluh anggota Pasukan Bayangan Darah yang tersisa berkumpul di sebuah tanah lapang dengan wajah cemas dan kelelahan. Hujan semalaman membuat mereka kedinginan, namun ketakutan di hati merekalah yang benar-benar membuat mereka menggigil.
"Ini tidak masuk akal! Kapten Shen Mo dan Tetua Luar Shen Zheng tidak kembali. Bahkan kembang api isyarat pun tidak ada yang menyala," ucap salah satu wakil kapten dengan suara bergetar.
"Apakah... apakah mereka semua telah dimangsa oleh siluman buas di dalam sana?" sahut anggota lainnya, mencengkeram tombaknya erat-erat.
"Atau mungkin... anak haram itu benar-benar iblis yang kembali dari neraka untuk menuntut nyawa kita," bisik seorang pria tua, membuat suasana semakin suram.
"Tutup mulut kalian!" bentak sang wakil kapten. "Kita adalah pasukan inti Keluarga Shen! Jika Tetua Agung mendengar kita ketakutan oleh seorang anak berumur lima belas tahun, leher kita akan dipenggal! Ayo kita bentuk barisan merapat dan telusuri perlahan—"
Wussshhh!
Sebuah hembusan angin dingin menyapu tanah lapang itu. Daun-daun kering berputar di udara.
Di atas sebuah dahan pohon ek raksasa tepat di atas mereka, sesosok manusia berjubah hitam muncul tanpa suara.
"Kalian tidak perlu menelusuri hutan lagi," sebuah suara datar dan sedingin es purbakala jatuh dari langit, membekukan darah setiap orang yang mendengarnya.
Tiga puluh pasang mata mendongak ke atas secara bersamaan. Di balik tudung jubah hitam bersulam awan darah itu, sepasang mata merah menyala menatap mereka seolah menatap sekumpulan semut yang siap diinjak.
"S-Shen Yuan! Dia memakai jubah kelompok kita!" teriak sang wakil kapten dengan panik. "Barisan pertahanan! Panah dia!"
Namun, sebelum busur sempat ditarik, sosok berjubah hitam itu melompat turun.
Langkah Bayangan Hantu!
Saat kaki Shen Yuan menyentuh tanah, tubuhnya mendadak pecah menjadi lima bayangan hitam yang melesat ke arah yang berbeda. Para pemanah yang kebingungan melepaskan anak panah mereka, hanya untuk menembus bayangan kosong yang memudar menjadi asap.
Sosok asli Shen Yuan muncul tepat di tengah-tengah barisan mereka.
"Pembantaian dimulai."
Shen Yuan tidak menggunakan senjata. Ia hanya menggunakan kedua tangannya yang sekeras emas gelap. Ia melangkah maju dengan kelincahan hantu, membelah barisan musuh bagaikan pedang tajam membelah bambu kering.
Baaam! Krek!
Satu tinju menghancurkan dada seorang penjaga Lapisan Keempat hingga amblas. Satu ayunan kaki mematahkan tulang leher dua penjaga sekaligus. Darah menyembur bagai air mancur di pagi hari. Jeritan keputusasaan memecah keheningan hutan.
"Iblis! Dia bukan manusia! Lari!"
Semangat tempur pasukan itu hancur seketika dalam waktu sepuluh tarikan napas. Mereka melempar senjata mereka dan berusaha melarikan diri ke segala arah. Namun, di hadapan Langkah Bayangan Hantu, usaha mereka tak lebih dari lelucon.
Bagaikan malaikat maut yang sedang memanen nyawa, Shen Yuan mengejar mereka satu per satu. Ia tidak menahan diri. Niat membunuhnya telah mengunci setiap jiwa di tempat itu. Telapak tangannya menghantam punggung, memecahkan tengkorak, dan mencabut nyawa tanpa sedikit pun belas kasihan.
Setengah batang dupa kemudian, tanah lapang itu sunyi kembali.
Tiga puluh mayat bergelimpangan dalam posisi yang mengerikan. Darah mengalir membentuk sungai-sungai kecil di atas rumput basah. Di tengah lautan mayat tersebut, Shen Yuan berdiri dengan jubah hitam yang kini berwarna merah pekat oleh darah musuh-musuhnya.
Ia tidak menggunakan Sutra Penelan Surga untuk menghisap mereka. Menelan esensi pendekar tingkat rendah di Lapisan Ketiga atau Keempat tidak akan lagi memberikan peningkatan yang berarti bagi Dantian-nya yang kini berada di Lapisan Ketujuh.
Shen Yuan berjalan ke arah sebuah batu besar yang menghadap ke jalan keluar pegunungan. Ia mencelupkan dua jarinya ke genangan darah, lalu menulis sederet aksara besar di permukaan batu tersebut dengan tenaga hawa murni yang menembus ke dalam batu.
"CUCI LEHERMU, TETUA AGUNG. AKU KEMBALI."
Pemuda itu membuang tudung kepalanya, membiarkan cahaya matahari pagi menyinari wajahnya yang dingin dan tegas. Ia melangkah melewati perbatasan Pegunungan Kabut Beracun, meninggalkan neraka hutan di belakangnya, dan mulai melangkah menuju Kota Debu Merah.
Pembalasan dendam yang sesungguhnya akhirnya tiba.