NovelToon NovelToon
Terjebak Perjodohan

Terjebak Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mamoruuu

Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.

Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.

Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Baru

Sinar matahari berwarna kuning keemasan masuk melalui celah tirai jendela yang sedikit terbuka. Perlahan, Rara membuka mata yang masih terasa berat. Ia beranjak dari tempat tidur dan memperhatikan sekeliling. Mata yang tadinya terasa berat, seketika membulat sempurna. "Astaga?! Jadi semua ini bukanlah mimpi?"

Mata Rara begerak kesegala arah, ia masih tidak percaya akan berada di kamar semegah ini. Dinding berwarna putih dengan kombinasi berwarna emas, beberapa bunga imitasi tersusun rapi di sudut ruang, serta beberapa furnitur mewah yang berukuran serba besar di kamar itu. Berada disana sendirian membuat ia lebih leluasa untuk memanjakan matanya.Tapi, dimana dia? Benak Rara mempertanyakan keberadaan Aksara.

Rara berjalan ke arah cermin besar yang menempel pada dinding pojok kamar, setelah berada di sana ia baru menyadari baju yang ia kenakan sebelumnya sudah berubah menjadi set piyama berwarna merah muda, dengan bahan yang sangat lembut di kulit.

"Aaa!!! Siapa yang menggantinya? Selelap itukah aku tidur sampai tidak menyadari?" Teriak Rara panik.

Rara duduk di tepi ranjang dengan pikiran berkecamuk. Lalu terdengar suara derit pintu yang terbuka, pandangan Rara segera tertuju pada sosok laki-laki yang sudah tidak asing di matanya.

"Ka—kamu?" Ucap Rara dengan raut wajah curiga. Ia lantas mendekati Aksara yang kebingungan.

"Apa kamu yang mengganti bajuku?" Tanya Rara dengan wajah memerah, keningnya mengkerut hingga membentuk segitiga. Ekspresi marah terpampang sangat jelas. Tapi badannya yang pendek justru terlihat menggemaskan dimata Aksara.

Melihat Rara dan mendengar pertanyaan gadis itu Aksara hanya tersenyum. Di matanya saat itu Rara seperti sebuah—mochi—yang sangat ingin ia makan.

"Kenapa kamu malah senyum-senyum? Apa ada yang lucu? Lucu karena kamu sudah melihat semua yang ada pada diriku? Dasar mesum!" Rara semakin menatap curiga.

Aksara mengangkat dagu Rara dengan lembut menggunakan ujung jari telunjuknya serta mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu, "Memangnya kenapa? Kan aku suamimu?" Ucap Aksara lembut namun terdengar seperti menggoda.

Mendengar kata—suami—membuat tubuh Rara bergetar. Ia menepis jari Aksara dan membalikkan badannya. Ia menyembunyikan jantungnya yang berdebar sangat kencang. Wajah merahnya itu entah karena marah atau karena yang lain—seperti ada perasaan yang sulit dijelaskan.

"Bagiku pernikahan itu belum sah." Jawab Rara ketus.

Aksara tidak menyerah, kali ini ia melingkarkan tangannya pada pinggang Rara yang membuat gadis itu semakin salah tingkah, tubuhnya bergetar hebat karena untuk pertama kali ia bersentuhan seperti itu dengan seorang lelaki. "Heh? Apa iniii???"

"Lepaskan! Tidak sopan!" Rara memberontak berusaha melepaskan tangan Aksara yang semakin erat memeluk dirinya. Sudah berusaha, tapi apalah daya, ia justru kalah tenaga dengan lelaki itu.

"Aku cuma mau bilang, bukan aku yang mengganti bajumu. Di sini banyak pekerja, tentu mereka yang melakukannya." Bisik Aksara lembut. Nafasnya yang hangat terasa menjalar di leher Rara yang semakin membuat jantungnya seakan mau lepas.

Mendengar hal itu membuat Rara lega. Tapi, dirinya yang sekarang berada dipelukan Aksara tidaklah membuatnya merasa tenang.

"Aku tidak akan pernah memaksamu, apalagi melakukannya secara diam-diam, karena aku ingin kamu yang menyerah atas kemauanmu sendiri dan tentu karena kamu cinta."

"Bagaimana aku akan mencintai jika kamu bersikap seperti ini?!" Rara membentak. "Jangan berharap lebih, itu tidak akan terjadi." sambungnya terkesan meremehkan.

"Ini hanyalah permulaan. Aku pastikan aku bisa membuatmu jatuh cinta pada ku." Ucap Aksara lembut tapi penuh dengan keyakinan. Kemudian ia berjalan keluar dari kamar itu meninggalkan Rara yang diam terpaku dengan detak jantung yang masih bergejolak.

Aksara menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Rara, "Oh iya. Tidurmu sangat nyenyak. Aku seperti di temani seekor harimau manis yang dengkurannya terdengar seperti ingin menerkam." Aksara tersenyum lucu dan kemudian benar-benar meninggalkan kamar itu.

Wajah Rara kali ini lebih merah dari sebelumnya. "Menyebalkaaan!!!"

Rara terduduk di tepi ranjang. Ia mengatur nafas yang tidak beraturan. Lalu pintu kembali berderit, Rara tersentak dan segera memasang sikap siaga.

"Kalau kamu memeluk aku lagi, aku tonjok kamu!!!" Ucap Rara yang bersiap dengan pose ala petinju handal.

Michi yang baru saja masuk terperangah melihat Rara. Wanita itu terdiam seperti patung. "No—nona?" Ucapnya terbata.

Rara seketika salah tingkah. Ia berlari ke arah Michi dengan senyum tidak enak hati. "Aduh! Maaf, ya. Aku pikir kamu dia lagi."

"Ti—tidak apa-apa, Nona. Saya hanya terkejut." Balas Michi.

Rara kembali duduk, ia mengambil nafas dalam. "Astaga! Malunyaaa~"

"Saya kesini mengantarkan baju untuk Nona pakai hari ini. Tuan bilang, kami harus melayani Nona dengan baik. Kalau ada yang Nona butuhkan jangan sungkan untuk memberitahu kami." Ucap Michi, nada bicara wanita itu selalu saja terdengar sangat lembut sesuai dengan wajahnya yang teduh dan tenang.

"Ha—haruskah?"

"Iya, Nona. Dan sekarang waktunya Nona mandi, setelah itu sarapan. Tuan sudah menunggu di meja makan."

Beberapa pelayan yang lain mulai masuk ke kamar, mereka segera melakukan tugas masing-masing. Ada yang menyiapkan air hangat di bathup, menyiapkan aromaterapi untuk memberikan kenyamanan saat Rara berendam di sana ada juga yang menyiapkan beberapa sabun dan wewangian yang akan digunakan Rara nanti.

Melihat semua itu hati Rara menjadi gelisah, ia merasa semua ini terlalu berlebihan untuk dirinya yang merupakan orang biasa dari desa, ia merasa tidak pantas diperlakukan seperti ini.

"Maaf, Michi. Aku rasa... kalian tidak perlu melayani aku seperti ini." Ucap Rara sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Michi tertawa kecil, "Apa yang Nona bicarakan? Semua ini sudah menjadi tugas kami,"

"Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Aku hanya tidak terbiasa dengan semua ini."

"Kami hanya melakukan sesuai perintah Tuan, Nona. Kalau kami tidak melakukan tugas kami bisa-bisa kami dipecat. Jadi mohon kerjasamanya, Nona."

Rara mendengus, setiap kali ia mendengar kata 'Tuan' ubun-ubunya terasa panas.

"Yasudahlah. Mau gimana lagi." Rara hanya bisa pasrah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!