Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Cahaya yang Tak Padam
27 Oktober 1930. Pukul 20.15 waktu Batavia.
Belakang Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng.
Hujan deras mengguyur Batavia, mengubah tanah di sekitar gardu listrik menjadi kubangan lumpur pekat. Arya berjongkok di balik semak-semak perdu, napasnya tertahan. Air hujan merembes masuk ke balik jasnya, membuat tubuhnya menggigil kedinginan, tetapi keringat dingin ketakutan justru membanjiri punggungnya.
Tiga orang pria bertubuh kekar sedang mengendap-endap menuju panel listrik utama di dinding belakang gedung. Mereka tidak memakai seragam marsose, melainkan pakaian preman pasar—tukang pukul bayaran Van Heutz. Di tangan mereka, kilatan golok dan tang pemotong besi terlihat samar tersambar petir.
"Potong kabel utamanya," perintah salah satu pria itu dengan suara parau. "Biar mereka rapat dalam gelap. Biar bubar sekalian."
Arya mencengkeram linggis besi di tangannya. Dia bukan petarung. Dia penulis. Tangannya terbiasa menekan tombol mesin tik, bukan menghantamkan besi ke kepala orang.
Tapi di dalam gedung itu, ratusan pemuda sedang berkumpul. Di sana ada Yamin, ada Sugondo, ada Amir Sjarifuddin. Jika lampu mati dan kepanikan terjadi, polisi bisa dengan mudah masuk dan membubarkan paksa kongres dengan alasan keamanan. Sejarah akan gagal sebelum dimulai.
"Demi Alina," bisik Arya, menjadikan nama itu mantra keberaniannya.
Saat preman itu menempelkan tang pemotong ke kabel induk yang tebal, Arya melompat keluar dari persembunyiannya.
"HOI! MALING!" teriak Arya sekeras-kerasnya, mencoba memancing perhatian penjaga gedung di sisi depan.
Ketiga preman itu kaget. Arya tidak memberi mereka waktu berpikir. Dia mengayunkan linggisnya, memukul tangan preman pemegang tang.
KRAK!
"AARGH!" Tang itu terlepas jatuh. Preman itu meraung memegangi pergelangan tangannya yang patah.
Dua preman lainnya langsung mencabut golok.
"Bangsat! Habisi dia!"
Arya mundur, terpeleset di lumpur. Dia mengayunkan linggisnya secara liar untuk menjaga jarak.
"Mundur! Polisi sedang menuju ke sini!" gertak Arya.
"Bohong! Polisi yang bayar kita!" sergah preman kedua, menerjang maju.
Arya menangkis sabetan golok dengan linggisnya. Bunyi TRANG logam beradu nyaring di tengah hujan. Getarannya membuat tangan Arya kebas.
Tapi dia kalah jumlah dan kalah tenaga.
Preman ketiga bergerak memutar ke samping, lalu menyabetkan goloknya ke arah lengan kiri Arya.
SRASH!
Arya menjerit tertahan. Rasa panas menyengat lengan atasnya. Darah segar menyembur, bercampur dengan air hujan. Jas putihnya seketika berubah merah.
Arya jatuh berlutut. Preman itu mengangkat goloknya lagi untuk serangan penghabisan.
Namun, di saat kritis itu, pintu belakang gedung KJB terbuka. Sekelompok pandu (anggota kepanduan/pramuka) yang bertugas menjaga keamanan berlari keluar karena mendengar teriakan Arya.
"Ada serangan! Serbu!" teriak pemimpin pandu.
Melihat belasan pemuda berseragam datang membawa tongkat, nyali para preman itu ciut. Mereka tahu misi sabotase gagal.
"Kabur! Kabur!"
Para preman itu lari tunggang langgang melompati pagar tembok, meninggalkan Arya yang terkapar di lumpur sambil memegangi lengannya yang menganga.
Di dalam gedung, lampu-lampu kristal gantung tiba-tiba menyala terang benderang. Listrik aman. Rapat Sesi Pertama Kongres Pemuda II resmi dimulai.
Arya mendongak, melihat cahaya kuning hangat memancar dari jendela gedung. Dia tersenyum lemah di tengah guyuran hujan, meski pandangannya mulai kabur karena kehilangan darah.
"Nyala..." bisiknya. "Sejarah... aman."
27 Oktober 2024. Pukul 21.00 WIB.
KM 88 Tol Cipularang.
Di masa depan, Alina sedang bertaruh nyawa dengan cara yang berbeda.
Mobil city car kecilnya dipacu hingga 120 km/jam di lajur kanan. Hujan lebat membuat jalanan licin dan pandangan terbatas. Di belakangnya, sedan hitam milik anak buah De Vries menempel ketat, hanya berjarak satu meter dari bumper belakangnya.
Mereka menyalakan lampu dim berkali-kali, membutakan spion Alina.
"Pergi! Pergi!" teriak Alina panik, mencengkeram setir dengan tangan gemetar.
Sedan itu tiba-tiba menyodok ke samping, mencoba menghimpit mobil Alina ke pembatas beton jalan tol.
SCREECH!
Bodi mobil mereka bergesekan, memercikkan api. Alina menjerit saat mobilnya oleng. Dia membanting setir ke kiri untuk menyeimbangkan, nyaris menabrak truk kontainer di lajur lambat.
Alina melihat sebuah Rest Area 1 KM lagi di depan. Tapi dia tahu jika dia berhenti, mereka akan menangkapnya. Dia harus menghilangkan jejak.
Otak sejarawannya bekerja. Dia ingat peta jalan lama. Di KM 90-an, ada jalan keluar darurat proyek yang sering tidak dijaga.
"Oke. Nekat atau mati," desis Alina.
Dia membiarkan sedan hitam itu menyusul di sisi kanannya, bersiap menghimpitnya lagi.
Tepat saat sedan itu mensejajarkan diri, Alina menginjak rem dalam-dalam.
CITTT!
Mobil Alina melambat drastis. Sedan hitam yang melaju kencang itu kebablasan ke depan, kaget dengan manuver Alina.
Dalam hitungan detik, Alina membanting setir ke kiri, memotong jalur truk (yang membunyikan klakson panjang penuh amarah), dan meluncur masuk ke jalan keluar darurat yang gelap dan berbatu.
Mobilnya terguncang hebat, tapi dia berhasil keluar dari jalan tol utama.
Alina mematikan lampu mobilnya. Dia bersembunyi di balik rimbunnya pohon bambu di pinggir jalan kampung itu, napasnya memburu seperti orang habis lari maraton.
Dia melihat ke arah jalan tol di atas sana. Sedan hitam itu melaju terus, kehilangan targetnya.
Alina memukul setir, menangis histeris karena lega.
"Arya..." isaknya. "Aku selamat. Kamu gimana?"
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
menjalani hidup semestinya, dari berbagai peristiwa yang mendebarkan, heroik ,penuh welas asih kepada musuh bebuyutannya.
Legowo melepas rasa yang tak mungkin untuk bisa bersatu.
semoga takdir bisa mempertemukan ikatan kasih inu meski di keabadian kelak.
terimakasih thor, telah berkenan memberi suguhan novel yang begitu apik, memompa semangat, menderaikan airmata, senyum kelegaan dan keikhlasan , apa lagi yang mau di pinta : melihat yang tersayang hidup bahagia itu sdh cukup.
maturnuwun sanget thor
mengajarkan arti cinta tanpa keegoisan🙏
Datang2 bawa dendam, mari kita pulang dalam kekalahan
semoga keadaan menjadi lebih baik ,setelah van heutz tiada.
semoga ambisi cucu nya juga terkubur bersama kabar sang kakek yang telah tiada.
selanjutnya menata babak baru dalam kehidupan yang semoga saja lebih damai, aman dan tentram.
aamiin
satu untuk mengalahkan dan satu nya harus di kalahkan.
Memelihara rasa benci dan kesumat itu berat tuan heutz, semoga jiwamu nanti tenang disana.
ntah siapa yang akan menghembuskan nafas terakhirnya duluan,semoga dendam juga ikut terkubur bersama jasad masuk liang lahat.
"Legowo"
suasana kacau ,mencekam ,genting begitu nyata terbaca.
sukses selalu dengan karya mu thor.
kali ini adegan demi adegan yang detail memacu adrenalin pembaca, ikut larut dalam suasana yang lebih mendebarkan,betapa mereka ketakutan tapi semangat juang tetap membara dengan satu tujuan.
semoga bung miko ketika sampai Yogyakarta ,bisa selamat dari musuh bebuyutannya.
kegembiraan membuncah dalam dada...
haru biru serasa dalam hangat dekap mu.
airmata bahagia memuncak berderai seperti air terjun.
tangis bahagia ,dibingkai pertemuan.
andai suatu masa bisa bertemu sungguhan