Rania adalah seorang janda muda dengan satu anak. Meski hidupnya tidak mudah, kecantikannya yang mempesona dan sifatnya yang lembut membuat banyak pria terpikat padanya.
Di tengah usahanya membesarkan anaknya sendirian, dua pria muda tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Arga, pria brondong yang ceria dan berani, selalu terang-terangan menggoda dan mendekati Rania. Sementara itu ada Damar, pria muda yang dingin, tampan, dan diam-diam selalu memperhatikan Rania dari jauh.
Dua pria.
Satu wanita.
Siapa yang akhirnya akan memenangkan hati janda cantik itu?
Di antara masa lalu yang belum sepenuhnya hilang, tanggung jawab sebagai seorang ibu, dan godaan cinta dari dua pria yang lebih muda…
Akankah Rania membuka kembali pintu hatinya?
Atau justru cinta baru itu akan mengubah hidupnya selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan yang Tidak Bisa Dihindari
Malam di pasar malam terasa semakin ramai.
Lampu warna-warni menggantung di sepanjang jalan, suara musik dari wahana permainan bercampur dengan tawa pengunjung yang datang bersama keluarga dan teman-teman.
Rafa terlihat menjadi orang yang paling bahagia malam itu.
Anak kecil itu berlari kecil di depan mereka sambil membawa balon berbentuk panda yang baru saja dimenangkan Arga dari permainan lempar bola.
“Bunda lihat!”
Rafa mengangkat balon itu tinggi-tinggi.
“Lucu sekali!”
Rania tertawa kecil.
“Iya, sangat lucu.”
Arga berjalan di samping Rafa dengan senyum puas.
“Tentu saja. Aku yang menangin.”
Rafa langsung memeluknya.
“Arga hebat!”
Arga pura-pura menyombongkan diri.
“Memang.”
Tidak jauh dari mereka, Damar berjalan dengan langkah tenang.
Pria itu tidak banyak bicara, tetapi matanya terus mengawasi Rafa agar anak kecil itu tidak terlalu jauh.
Rania memperhatikan itu.
Damar selalu seperti itu.
Diam.
Namun perhatian yang ia berikan sangat nyata.
Beberapa saat kemudian mereka berhenti di sebuah gerobak makanan.
Aroma jagung bakar memenuhi udara.
“Bunda, Rafa mau itu!”
Rafa menunjuk dengan semangat.
Arga langsung berkata.
“Aku yang beli.”
Namun Damar sudah lebih dulu berjalan menuju penjual.
“Aku juga.”
Arga mengangkat alis.
“Kamu tidak mau kalah ya.”
Damar menjawab santai.
“Tidak.”
Rania hanya bisa menggeleng sambil tersenyum kecil.
Kadang-kadang mereka benar-benar seperti anak kecil yang saling bersaing.
Beberapa menit kemudian mereka duduk di kursi panjang sambil menikmati makanan.
Rafa makan jagung bakarnya dengan wajah penuh kebahagiaan.
“Enak sekali!”
Arga tertawa.
“Makan pelan-pelan.”
Rania memperhatikan mereka.
Hatinya terasa hangat melihat Rafa tertawa seperti itu.
Sudah lama sekali ia tidak melihat anaknya sebahagia ini.
Setelah makan, mereka berjalan lagi di sekitar pasar malam.
Rafa melihat sebuah wahana komidi putar kecil.
Matanya langsung berbinar.
“Bunda… Rafa mau naik itu!”
Arga langsung berkata.
“Ayo!”
Namun Rafa menggeleng.
“Bunda juga!”
Rania terkejut.
“Bunda?”
Arga tertawa kecil.
“Naik saja.”
Namun Rania merasa sedikit malu.
“Tidak usah…”
Damar akhirnya berkata pelan.
“Pergilah bersama Rafa.”
Rania ragu sejenak.
Namun melihat wajah penuh harap Rafa, ia akhirnya mengangguk.
Beberapa menit kemudian komidi putar mulai berputar perlahan.
Rafa tertawa keras sambil memegang kuda mainannya.
Rania duduk di sebelahnya.
Dari luar, Arga dan Damar berdiri memperhatikan mereka.
Arga menyilangkan tangan sambil tersenyum.
“Mereka terlihat seperti keluarga kecil.”
Damar tidak langsung menjawab.
Namun beberapa detik kemudian ia berkata pelan.
“Ya.”
Arga meliriknya.
“Kamu serius menyukai Rania, kan?”
Damar menatap komidi putar yang terus berputar.
“Iya.”
Jawabannya sangat singkat.
Namun sangat jelas.
Arga tersenyum tipis.
“Aku juga.”
Untuk pertama kalinya, mereka mengakuinya secara langsung di depan satu sama lain.
Tidak ada lagi yang disembunyikan.
Beberapa menit kemudian komidi putar berhenti.
Rafa langsung berlari kembali ke arah mereka.
“Seru sekali!”
Arga mengacak rambutnya.
“Bagus.”
Rania turun dari wahana dengan wajah sedikit memerah.
“Sudah lama aku tidak melakukan itu.”
Arga tersenyum.
“Kadang-kadang menjadi seperti anak kecil tidak apa-apa.”
Mereka kemudian berjalan kembali menuju jalan utama pasar malam.
Namun tiba-tiba Rafa melihat sebuah permainan menembak target dengan hadiah boneka besar.
“Bunda! Rafa mau boneka itu!”
Ia menunjuk boneka panda besar yang tergantung di atas.
Arga langsung berkata.
“Tenang saja.”
Ia berjalan menuju permainan itu.
Damar juga ikut mendekat.
Arga mengambil senapan mainan dan mulai menembak target.
Beberapa kali ia hampir berhasil.
Namun target itu ternyata tidak mudah.
Damar kemudian mengambil giliran.
Ia menembak dengan tenang.
Dan tepat mengenai target terakhir.
Bel berbunyi.
Penjual permainan itu tersenyum.
“Selamat, kamu menang.”
Ia memberikan boneka panda besar itu.
Rafa langsung melompat kegirangan.
“Om Damar hebat!”
Damar memberikan boneka itu pada Rafa dengan senyum tipis.
Rafa langsung memeluknya erat.
Rania melihat pemandangan itu dengan hati yang hangat.
Namun Arga tertawa kecil.
“Aku kalah.”
Damar menatapnya.
“Lain kali.”
Malam semakin larut.
Pasar malam mulai sedikit sepi.
Rafa terlihat mulai mengantuk.
Rania menggendongnya dengan hati-hati.
Arga langsung berkata.
“Biar aku saja.”
Namun Damar sudah lebih dulu mengambil Rafa dengan lembut.
“Aku bisa.”
Rafa yang setengah tertidur memeluk boneka panda besarnya.
Mereka berjalan kembali menuju mobil Damar.
Suasana malam terasa lebih tenang sekarang.
Angin malam berhembus lembut.
Rania berjalan di antara Arga dan Damar.
Tidak ada yang berbicara.
Namun suasana itu terasa nyaman.
Sangat nyaman.
Sampai akhirnya Arga berkata pelan.
“Malam ini menyenangkan.”
Rania mengangguk.
“Iya.”
Damar membuka pintu mobil.
Rafa langsung dibaringkan di kursi belakang.
Anak kecil itu tertidur dengan sangat pulas.
Rania melihatnya dengan senyum lembut.
Kemudian ia menoleh ke arah Arga dan Damar.
“Terima kasih.”
Arga tersenyum.
“Untuk apa?”
“Untuk hari ini.”
Damar berkata pelan.
“Kamu tidak perlu berterima kasih.”
Namun Rania tahu.
Malam ini bukan hanya tentang pasar malam.
Bukan hanya tentang Rafa yang bahagia.
Ada sesuatu yang berubah.
Sesuatu yang semakin jelas.
Perasaan di antara mereka bertiga…
Sudah tidak bisa lagi dianggap sekadar kebetulan.
Dan di dalam hatinya…
Rania mulai menyadari satu hal.
Ia mungkin tidak akan bisa terus menghindari perasaan itu.