Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERKATAAN WARDA YANG MENYAKITKAN HATI
Benar kata Rendy di dalam ruang meeting pun Mikhaela tidak mengenal beberapa orang yang mengikuti rapat hari ini.
Yang paling mengejutkan Mikhaela, ada Ira juga di ruangan itu. Duduk tepat di samping Warda dan Nania. Entah apa kepentingan wanita itu mengikuti meeting.
"Ibu silahkan duduk di sini", ucap Rendy membuka kursi buat Mikha.
"Terimakasih Rendy", jawab Mikhaela tersenyum hangat.
Nyatanya hanya Rendy seorang yang menyapa Mikhaela. Sementara yang lain menatap ia dengan tatapan sinis, tidak suka mereka atas kehadiran Mikha di sana. Terlihat jelas mereka tidak menganggap kehadirannya sebagai pemegang saham tertinggi di perusahaan.
*
"Saya akan memperkenalkan pemegang saham yang baru di perusahaan ini. Ibu Ira Susanti. Beliau istri mendiang kakak saya Dion Sadewa", ucap Tio memberitahu pada semua orang yang ada di ruang meeting.
"Saat ini juga ibu Ira sudah memiliki sepuluh persen saham di perusahaan, artinya ia memiliki hak yang sama dengan pemegang saham yang lainnya termasuk menerima laporan rutin dan menghadiri meeting seperti saat ini".
Kalau mau jujur, Mikhaela kaget mendengar pengumuman yang di sampaikan langsung Tio sebagai pimpinan rapat. Mikhaela sama sekali tidak mengetahui perubahan di perusahaan yang tadinya sangat dekat dengannya saat Dion masih ada. Kini suasana memang benar-benar telah berubah.
"Saya rasa sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan ini, saya berhak mengetahui semua aktivitas maupun perubahan yang terjadi di perusahaan. Seharusnya saya di beritahu jika ada pemegang saham baru di perusahaan". Dengan tegas Mikhaela melontarkan kata-katanya. Sebagai bentuk protes pada manajemen yang dipimpin Tio, karena Mikha anggap tidak berkompeten memimpin perusahaan.
Interupsi Mikhaela seketika membuat ruang rapat hening. Sesaat yang terdengar hanya helaan nafas.
"Apa hak harus menerima semua laporan dari perusahaan yang suamiku dirikan. Kau memang benar-benar wanita serakah Mikhaela!!". Warda menghunuskan tatapan tajam matanya pada Mikha.
"Sebagai pemilik saham terbesar, tentu saja aku berhak tahu. Kalian suka atau tidak!!", balas Mikhaela tak gentar sedikitpun meskipun sebagian besar orang-orang di ruangan itu adalah orang-orang Warda. Ternyata Tio hanya sebagai tameng Warda saja menggantikan Dion.
Melihat situasi memanas seperti itu, Tio bahkan tidak bisa bertindak mendinginkan suasana rapat.
Mikhaela berdiri, menatap satu persatu orang-orang. "Aku pastikan akan mengambil alih pimpinan perusahaan kalau kalian tidak memberikan informasi apapun pada ku sebelum mengambil keputusan penting untuk kemajuan perusahaan. Termasuk memutuskan kedudukan wanita ini di perusahaan!!".
Mikhaela membalas tatapan tajam Ira, yang sejak tadi menghunuskan sorot mata kebencian padanya. Ternyata penilaian Mikha pada Ira benar. Wanita itu hanya menginginkan harta.
Mikhaela memutuskan keluar ruangan. Meski meeting masih berlangsung belum di tutup.
"Mbak... sebaiknya kita selesaikan dulu rapatnya. Semua bisa kita bicarakan lagi–"
"Sudahlah Tio, ngapain kamu membujuknya. Biar saja dia pergi dari perusahaan papa kita!!".
"Nania bener Tio. Perusahaan ini tidak membutuhkan wanita angkuh seperti dia. Kakak mu sudah tidak ada, tidak ada lagi urusan keluarga kita dengan dia. Dia pergi, Ira dan Salfa ada sebagai penggantinya. Dion pasti setuju dengan mama", ketus Warda dengan suara meninggi, bernada sinis.
Mikhaela menghentikan langkahnya.
"Aku tidak akan membiarkan wanita pilihan mu menguasai perusahaan yang telah mas Dion bangun hingga berkembang seperti sekarang!" balas Mikhaela dengan suara bergetar, menahan amarah yang membuncah.
Warda dan Nania hanya tertawa meremehkan mendengar perkataan Mikhaela.
"Terserah apa katamu, Mikha. Tapi Dion, suamimu sendiri, sudah setuju dengan putusan ku. Buktinya ia mau menikah dengan pilihan ku. Tentu saja aku di pihak Ira, dan kamu..?".
"Kamu hanya menantu yang tidak diinginkan di sini!!." Hardik Warda di sertai tawa sinis.
Terlihat senyum bahagia dari sudut bibir Ira yang merasa di atas angin. Pun yang lainnya menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapan Warda. Hanya Rendy seorang yang menggelengkan kepalanya seraya menunduk.
Mikhaela mengepalkan tangannya. Ia tidak menyangka harus melalui semua ini. Perbuatan Dion yang selama ini dianggapnya sebagai pelindung justru di ketahui berkhianat setelah ia tiada, membuatnya harus berhadapan dengan keluarga Dion yang kini berubah seratus delapan puluh derajat.
"Heh...Jangan lupa, aku pemilik saham terbesar di sini. Aku pastikan saham itu akan selalu menjadi milik ku dan anak ku", tegas Mikha sambil mengusap perutnya. "Silahkan lakukan sesuka kalian, tapi sampai kapan pun aku akan menjadi penghalang keinginan mu. Sampai jumpa di pemilihan direktur yang baru. Aku pastikan akan mengambil bagian!!".
Dengan langkah cepat Mikha melanjutkan langkahnya keluar ruangan. Sekuat tenaga menahan tangisannya. Mikha bertahan, jangan sampai orang-orang itu melihatnya menangis. Ia harus kuat. Harus tegar.
Hingga ia berada di luar menuju mobil, air mata yang telah menganak sejak tadi tertahan tumpah juga. Mengalir deras menyentuh wajahnya.
Langkah kaki Mikha terasa berat, seolah-olah ada beban ribuan ton yang mengikat pergelangan kakinya.
Hatinya harus kembali hancur berkeping-keping, setelah bertemu lagi dengan keluarga Dion. Lagi-lagi ucapan Warda menyakitkan.
Di depan mobil sedan hitam miliknya yang menjadi saksi bisu yang kini terasa asing.
Dengan tangan gemetaran, Mikha menyentuh pintu mobil. Pertahanan yang sejak tadi ia pendam akhirnya runtuh total. Air mata yang tertahan rapat di pelupuk mata akhirnya tumpah juga, mengalir deras membasahi pipi, membawa serta sisa-sisa harapan yang sempat ia gantungkan pada mendiang suaminya.
Mikhaela terisak, bahunya bergetar hebat. Bayangan kenangan manis bersama suaminya yang dulu dianggap suci kini berubah menjadi pisau yang menyayat dada.
"Kenapa, Mas? Kenapa harus seperti ini di akhir ceritamu? Akhir cerita kita?", rintihnya dalam hati.
Mikhaela membuka pintu mobil duduk di belakang setir. Kedua tangannya menggenggam kuat setir itu. Menempelkan keningnya di sana, ia meraung, melepaskan sesak yang menghimpit dada. Mikha menyandarkan kepala di setir, membiarkan air mata menetes mengenai pakaiannya.
"Mas...Pengkhianatan mu terlalu berat bagi ku hingga saat ini mas. Kamu yang dulu aku anggap sebagai pelindung, ternyata selama ini memiliki kehidupan ganda yang begitu keji".
Sesaat Mikha menyeka air mata yang tak kunjung berhenti, ia menatap cermin tengah. Tatapannya kosong, namun perlahan berubah menjadi tatapan dingin.
Ia menyalakan mesin mobil. Raungan mesin mengalahkan suara isaknya. Air matanya memang mengalir, tapi bibirnya mulai terkatup rapat. Ia bersumpah pada dirinya sendiri, di dalam mobil yang kini terasa dingin, bahwa ia tidak akan membiarkan dirinya hancur bersama rahasia kotor mendiang suaminya.
Ia memutar setir, meninggalkan perusahaan yang menjadi kenangan bersama Dion, pergi menuju hidup baru. Hidup yang kini harus ia jalani sendirian, tanpa pengkhianat di sisinya.
"Aku harus kuat demi anak yang sebentar lagi akan hadir di dunia. Mama sangat menyayangi mu. Sekuat tenaga, akan membuat mu bahagia sayang", ujar Mikhaela sambil mengusap lembut perutnya.
...***...
To be continue
Thor jgn ada drama tiba-tiba dion msh hidup y. Asli dah biasa bgt kayak gitu 😂 btw visualnya selalu pas👍 Nania tuh sesuai dg karakter yg di gambarkan. Sadis😂