Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Terbuka
Kabut tipis mulai turun di hutan Arclight setelah pertarungan besar itu berakhir. Pepohonan patah berserakan di tanah, dan bekas ledakan sihir masih terlihat di berbagai tempat. Tanah yang retak dan hangus menjadi bukti betapa dahsyatnya benturan kekuatan yang baru saja terjadi.
Ren masih berdiri dengan napas berat. Tubuhnya terasa lelah seperti setelah berlari sangat jauh. Energi gelap yang tadi berputar liar di sekelilingnya kini perlahan mereda, kembali masuk ke dalam tubuhnya seperti ombak yang kembali ke laut.
Mira masih memegang bahunya dengan khawatir.
“Ren, kamu benar-benar baik-baik saja?”
Ren mengangguk pelan.
“Aku hanya kehabisan energi.”
Lilia berjalan mendekat sambil memperhatikan bekas pertarungan di tanah.
“Kalau pertarungan tadi berlangsung lebih lama sedikit saja, kemungkinan besar seluruh hutan ini akan hancur.”
Nyra menyeringai kecil sambil menendang potongan kayu yang hangus.
“Harus kuakui… itu pertarungan yang cukup menyenangkan untuk ditonton.”
Mira memutar matanya.
“Hanya kamu yang bisa menyebut hampir mati sebagai hiburan.”
Nyra hanya tertawa kecil.
Sementara itu, Selene berdiri sedikit terpisah dari yang lain. Matanya masih melihat ke arah tempat Kael menghilang beberapa menit yang lalu.
Ekspresinya terlihat berpikir.
Ren akhirnya berjalan mendekatinya.
“Kamu tahu dia akan datang, bukan?”
Selene tidak langsung menjawab.
Ia menoleh pelan ke arah Ren.
“Aku hanya menduga.”
Ren menyilangkan tangan.
“Kamu tahu lebih banyak dari yang kamu katakan.”
Selene menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas kecil.
“Ya.”
Mira langsung menoleh.
“Akhirnya kamu mengaku juga.”
Selene kembali melihat ke arah hutan yang gelap.
“Kael adalah anggota organisasi lama yang dulu memburu kekuatan keluargamu.”
Ren mengernyit.
“Organisasi apa?”
Selene menjawab dengan suara tenang.
“Nama mereka adalah Ordo Umbra.”
Nama itu terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi cara Selene mengucapkannya membuat suasana terasa lebih berat.
Lilia juga terlihat sedikit serius.
“Aku pernah membaca nama itu di arsip akademi.”
Nyra memiringkan kepalanya.
“Kelompok penyihir gelap, kan?”
Lilia mengangguk.
“Ya. Mereka terkenal karena mencoba menciptakan atau menguasai kekuatan terlarang.”
Ren memikirkan kata-kata itu.
“Dan mereka mengejar keluargaku?”
Selene mengangguk pelan.
“Karena keluargamu memiliki sesuatu yang mereka inginkan.”
Ren menatap tangannya sendiri lagi.
“Kekuatan ini?”
Selene tidak menjawab langsung, tetapi tatapannya sudah cukup jelas.
Angin malam berhembus melalui pepohonan yang rusak, membuat suasana terasa lebih sunyi.
Mira akhirnya berkata pelan.
“Jadi Kael… adalah salah satu dari mereka?”
Selene menjawab singkat.
“Ya.”
Ren mengingat kembali kata-kata Kael sebelumnya.
Malam ketika keluargamu dihancurkan.
Dadanya terasa sedikit berat.
“Dia bilang dia ada di sana malam itu.”
Selene menatapnya dengan serius.
“Besar kemungkinan itu benar.”
Ren menghela napas panjang.
Berarti orang yang baru saja ia lawan… mungkin adalah salah satu orang yang bertanggung jawab atas masa lalunya yang hilang.
Nyra menyilangkan tangan.
“Kalau begitu, kenapa dia tidak membunuh Ren tadi?”
Selene menjawab tanpa ragu.
“Karena dia belum bisa.”
Semua orang menoleh padanya.
Selene melanjutkan dengan tenang.
“Kael datang malam ini hanya untuk memastikan satu hal.”
Ren berkata pelan.
“Bahwa kekuatan itu benar-benar ada.”
Selene mengangguk.
“Dan sekarang dia sudah mendapatkan jawabannya.”
Mira terlihat kesal.
“Bagus sekali. Jadi sekarang kita punya penyihir gelap gila yang tahu Ren punya kekuatan super.”
Nyra tertawa kecil.
“Cerita ini semakin menarik.”
Lilia menatap ke arah akademi yang terlihat jauh di antara pepohonan.
“Kita harus kembali sebelum para instruktur menyadari kita pergi.”
Ren mengangguk setuju.
Namun sebelum mereka pergi, Selene berkata pelan.
“Ren.”
Ren menoleh.
Selene menatapnya dengan ekspresi serius.
“Mulai sekarang, semuanya akan berubah.”
Ren mengangkat alis.
“Maksudmu?”
Selene menjawab dengan suara rendah.
“Kael bukan satu-satunya anggota Ordo Umbra yang masih hidup.”
Angin malam kembali berhembus.
“Jika mereka tahu kamu ada di sini…”
tatapannya menjadi lebih tajam.
“…mereka semua akan datang.”
Mira langsung menghela napas panjang.
“Hebat. Sekarang kita punya lebih banyak musuh.”
Nyra menyeringai.
“Setidaknya hidup tidak akan membosankan.”
Lilia menggeleng kecil.
“Kamu benar-benar aneh.”
Beberapa menit kemudian mereka mulai berjalan kembali menuju akademi melalui jalur hutan yang gelap.
Langkah mereka terdengar pelan di antara daun-daun kering.
Ren berjalan di depan sambil memikirkan semua yang baru saja ia pelajari.
Ordo Umbra.
Keluarganya.
Dan kekuatan yang ada di dalam dirinya.
Semua itu terasa seperti bagian dari teka-teki besar yang baru saja mulai terbuka.
Ketika mereka akhirnya sampai di dekat tembok luar akademi, mereka bisa melihat cahaya lampu sihir yang terang dari menara utama.
Beberapa instruktur masih terlihat bergerak di area halaman, tampaknya sedang memperbaiki penghalang sihir yang rusak.
Untungnya mereka berhasil masuk kembali tanpa menarik terlalu banyak perhatian.
Saat mereka melewati taman akademi, Mira tiba-tiba berkata.
“Ngomong-ngomong…”
Semua orang menoleh padanya.
Mira menyeringai.
“Turnamen belum selesai.”
Ren sempat lupa tentang itu.
Lilia juga terlihat mengingatnya kembali.
“Benar.”
Nyra tertawa kecil.
“Besok kemungkinan besar kita akan saling bertarung.”
Ren menatap mereka satu per satu.
“Setelah semua yang terjadi malam ini… kita masih harus bertarung di arena?”
Nyra mengangkat bahu santai.
“Turnamen tetap turnamen.”
Selene berkata pelan.
“Dan mungkin itu juga ujian berikutnya untukmu.”
Ren menghela napas kecil.
Ia baru saja menghadapi penyihir gelap yang hampir membunuhnya…
Dan besok ia harus kembali ke arena seperti tidak terjadi apa-apa.
Mira menepuk bahunya dengan senyum lebar.
“Ayo lihat sisi baiknya.”
Ren menoleh.
“Sisi baik apa?”
Mira menyeringai.
“Besok kamu mungkin harus melawan kami.”
Nyra tertawa.
“Dan setelah melihat pertarungan tadi…”
matanya bersinar penuh tantangan.
“…aku benar-benar ingin mencobanya.”
Ren tidak bisa menahan senyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, suasana terasa sedikit lebih ringan.
Namun jauh di luar wilayah akademi…
Di sebuah reruntuhan menara tua yang tersembunyi di pegunungan gelap…
Kabut hitam muncul di tengah ruangan besar yang gelap.
Kael keluar dari kabut itu perlahan.
Di depannya, beberapa sosok berjubah hitam sudah menunggu.
Salah satu dari mereka berkata dengan suara dingin.
“Apakah itu benar?”
Kael tersenyum lebar.
“Ya.”
Matanya bersinar merah.
“Pewarisnya masih hidup.”
Ruangan itu langsung menjadi sunyi.
Kemudian sosok di kursi batu besar di ujung ruangan berbicara.
“Bagus.”
Suara itu terdengar tua tetapi penuh kekuatan.
“Kalau begitu… permainan akhirnya bisa dimulai.”
Kael menundukkan kepalanya sedikit.
Senyumnya tidak pernah hilang.
Sementara jauh di Akademi Arclight…
Ren masih belum menyadari bahwa musuh yang jauh lebih besar…
Sudah mulai bergerak menuju dirinya.