INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Mobil kembali melaju menuju ke Masjid An-Nur, di kaca spion Gus Ali melihat kilatan lampu biru dan merah.
Hatinya bergetar, karena beberapa hari terakhir berita tentang mafia yang diringkus dan baku tembak makin sering di beritakan.
Kini Gus Ali menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya, teringat di pikirannya kembali wajah perempuan yang berdarah di betis dan tangannya.
Saat bertemu di trotoar saat mau berjalan ke arah masjid, teringat kembali wajah perempuan yang dirinya tolong.
Gus Ali memejamkan mata sejenak, dan mengusap dadanya.
"Ya allah...lindungi negeri ini dari kerusakan," batinnya dalam hati.
Sementara itu, di sudut kota.
Sisa geng jekbla yang berhasil kabur dan menyusun langkah untuk membalas aparat, tanpa mereka tahu bahwa aksi brutal tadi siang itu baru saja mempersempit ruang gerak geng jekbla.
"Kenapa aku merasa gadis ini membutuhkan bimbinganku," batin Ali dalam hatinya.
Tak berapa lama, Hendra membuat lamunan Ali terbuyar.
"Gus..Gus..Afwan, kita sudah sampai," ucap Hendra.
"Eh iyaa," ujar Gus Ali yang terbuyar dari lamunannya.
Gus Ali terbuyar dari lamunannya menatap santrinya, "kita sudah sampai Gus."
Gus Ali menganggukkan kepalanya turun dari mobil sementara santrinya akan memarkirkan mobilnya.
Hendra nanti menyusul Gus Ali, setelah memarkirkan mobilnya.
Aula masjid besar An-Nur siang itu telah dipenuhi jamaah sejak sebelum zuhur.
Undangan ceramah Gus Ali Mahendra rupanya menyedot perhatian banyak orang---karena Gus Ali terkenal tampan.
Itu karena video ceramahnya yang tersebar di internet, Gus Ali secara pribadi tak memiliki akun sosial media kecuali nomer whaatsaap.
Untuk menghubungi ceramah bisa mengirim pesan pada website dan akun instagram resmi Pondok Pesantren Darul Mahendra.
Karpet merah di gelar rapi dengan kipas angin blower berputar di langit-langit dan spanduk bertuliskan “Tabligh Akbar: Menjaga Negeri dengan Iman dan Akhlak” terbentang di belakang mimbar.
Para ibu-ibu duduk di sisi kanan juga para remaja yang melihat bagaimana ketampanan Gus Ali.
Sementara jamaah laki-laki memenuhi sisi kiri, para remaja pria menatap iri dengan ketampanan Gus Ali dan tak sedikit yang kagum dengan beliau.
Remaja pria yang memang anak majelis sibuk mengatur sound system, Panitia sesekali melirik Jam dengan cemas.
Tanpa sadar Gus Ali sudah di depan Masjid.
Gus Ali masuk wajahnya tetap tenang meski beberapa jam sebelumnya menyaksikan ledakan dan baku tembak.
Setelah memastikan korban yang di tolong di tangani rumah sakit barulah Gus Ali melanjutkan perjalanan ceramah.
Panitia segera menyambut Gus Ali Mahendra dengan lega.
“Alhamdulillah, Gus sampai juga. Kami sempat khawatir,” ujar ketua panitia.
“InsyaAllah semua dalam lindungan Allah,” jawab Gus Ali lembut.
Kaki Gus Ali melangkah menuju ruang transit kecil di samping aula.
Di sana duduk sejenak memejamkan matanya, karena bayangan gadis mafia yang belum di ketahui namanya masih terlintas di pikirannya.
Di tambah tadi Gus Ali melihat bagaimana para mafia menyerang aparat sekaligus anggota ormas secara brutal.
Jeritan warga dan darah di aspal, masih menggema di pikiran Gus Ali.
Gus Ali menarik napas panjang, sebelum masuk ke pengajian.
Beberapa menit kemudian, MC memanggil nama Gus Ali.
Karena tadi Gus Ali mengatakan akan datang terlambat, karena serangan mafia yang terjadi.
“Marilah kita sambut penceramah kita, Guru kami Gus Ali Mahendra…”
Takbir menggema dari para umat.
“Allahu Akbar!” ucap mereka semua berulang namun serempak.
Gus Ali melangkah naik ke mimbar kayu, wajahnya teduh dengan banyak rekaman ponsel dari para remaja putri.
Remaja putri yang amat mengidolakan Gus Ali, yang tampan.
"Gus Ali lebih ganteng ya dari yang di sosmed," bisik salah satu jamaah.
"Iya katanya dia belum nikah loh."
"Ihh, mau dong jadi calon istrinya."
"SSSSTT," ucap ibu-ibu yang berusaha menegur para remaja putri yang ngobrol.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab jamaah serempak.
Matanya memandang lautan wajah di hadapannya, orang tua, remaja, anak-anak, wajah yang hanya ingin hidup tenang.
"Hari ini saya menyaksikan sendiri bagaimana kekerasan bisa terjadi di tengah jalan. Ledakan, tembakan, ketakutan.”
Jamaah mulai berbisik-bisik pelan, berita itu memang sudah banyak senter di televisi dan sosial media.
“Dan saya bertanya dalam hati… kenapa manusia bisa sampai pada titik itu?” ujar Gus Ali suasana mendadak hening.
“Islam tidak pernah mengajarkan kita merusak. Bahkan dalam perang sekalipun, ada aturan. Tidak boleh menyakiti anak-anak, tidak boleh membunuh orang yang tidak bersalah, tidak boleh merusak tempat ibadah.”
"Seperti perang Badar," lanjutnya.
Beberapa jamaah mengangguk pelan, karena seperti realita dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita hidup di zaman di mana amarah lebih cepat daripada akal. Dendam lebih lantang daripada nurani.”
Gus Ali seolah tanpa sadar menceritakan yang dialami Nayla Malika, gadis itu masuk dunia mafia karena dendam.
Dendam pada ayah biologisnya.
Dendam pada warga kampung.
Dan dendam pada agamanya sendiri.
Menurut Nayla, justru menyalahkan semuanya pada agama, karena orang-orang beragamalah yang menghakimi dirinya.
Kata-katanya mengalir tanpa teks, apa yang disampaikan bukan sekedar materi dalam ceramah.
“Kalau kezaliman dibalas dengan kezaliman, maka lingkaran itu tidak akan pernah putus. Akan ada terus kejahatan yang terjadi,” lanjutnya.
Seorang bapak di barisan depan menunduk dalam-dalam.
“Negeri ini tidak akan hancur hanya karena musuh dari luar. Tapi bisa runtuh karena hati manusianya gelap.”
Hening semakin terasa.
"Kezaliman yang terjadi manusia karena hawa nafsu, dan hawa nafsu datangnya dari iblis."
Gus Ali menatap jamaah dengan sorot mata yang lebih dalam.
"Allah Subhanahu wa ta'ala, tak suka dengan kehancuran oleh karena itu Islam di turunkan sebagai agama penyempurna. Islam artinya damai," lanjut Gus Ali.
Gus Ali terus berceramah, sampai waktu yang di tentukan, memikirkan Nayla yang sebenarnya belum di ketahui namanya.
Gus Ali ingin sekali bertemu Nayla, karena terlihat gadis itu sedang butuh arah dan bimbingan dalam hal agama.
Nayla Malika seorang gadis yang malang, dirinya harus terus terjebak dalam dunia mafia ini.
Mau tak mau, harus melihat banyak korban---tapi Mafia marah karena bisnis mereka di ganggu oleh aparat dan pejabat yang menginginkan komisi.
Jadi baku tembak tak terelakan, sudah banyak aparat yang gugur karena baku tembak.
*