"Pe-periksa Hadiah Aktivasi Sistem…" kata Liam dengan sedikit keraguan dalam suaranya.
Ding!
[Selamat telah berhasil memperoleh Sistem Tamparan Wajah. Berikut adalah hadiah aktivasi satu kali]
[1.000.000 Dolar (Silakan periksa sakumu untuk detailnya)]
Liam, seorang mahasiswa miskin yang hidup sederhana dan sering dipandang rendah oleh orang lain. Hidupnya berubah drastis setelah ia dikhianati oleh pacarnya, Bella, yang memilih pria kaya dan berkuasa. Dalam kondisi hancur dan putus asa, Liam tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem misterius yang memberinya kekuatan untuk membalas hinaan orang lain dengan cara mempermalukan mereka.
Dengan bantuan sistem tersebut, Liam memperoleh kekayaan, kekuatan, dan berbagai kemampuan luar biasa. Dari seorang pemuda lemah yang diremehkan, ia perlahan bangkit menjadi sosok yang percaya diri, kuat, dan bertekad untuk mengubah nasibnya serta membalas semua orang yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Mulai Memasak
Richy terkejut setelah menyadari bahwa majikan barunya sebenarnya masih sangat muda. Dia memiliki salah satu Mansion termewah di seluruh Port City dan para pekerjanya yang lain, meskipun Richy tidak mengenal mereka, dia bisa memastikan bahwa mereka bukan orang biasa, terutama kepela pelayan pria dan kepala pelayan wanita.
Kali ini, Richy hendak membuat makan siang terlambat untuk tuan barunya karena tampaknya mereka sibuk memproses beberapa dokumen hingga tanpa sengaja lupa menyiapkan makan siang.
Karena itu memang pekerjaannya, Richy tidak memiliki masalah dengan hal tersebut. Dia segera masuk ke mode kerja saat dia memutuskan untuk membuat hidangan ini sebaik mungkin agar mendapatkan kesan baik dari tuan barunya ketika tiba-tiba dia mendengar pintu dapur terbuka.
Richy segera menoleh dan melihat tuan barunya, Liam dan kepala pelayan John datang.
Richy menghentikan gerakannya karena tiba-tiba merasa gugup. Dua orang yang masuk itu adalah orang dengan aura yang luar biasa. Dia mengira mereka datang untuk melihat dan mengamati dirinya memasak.
Namun, apa yang dikatakan oleh kepala pelayan selanjutnya membuatnya mengernyit dan mengerutkan alisnya.
"Tuan John, dan Tuan Liam, aku tidak bermaksud merendahkan tetapi tidakkah menurutmu lebih baik dapur ini diserahkan kepada para profesional?" Meskipun nadanya tenang, terlihat jelas bahwa Richy sedikit tidak puas dengan permintaan mereka.
Membiarkan Liam, sang tuan, memasak dan mencoba resep barunya?
Hal yang paling dibenci Richy adalah orang yang sok tahu. Itu juga alasan kenapa dia mengundurkan diri dari posisinya sebelumnya karena bos restoran itu terus berpura-pura tahu sesuatu meskipun sebenarnya tidak.
Yang lebih menjengkelkan lagi adalah bos itu juga mencoba mengubah resepnya, dengan alasan itu akan lebih baik.
Sebagai seorang koki terkenal, Richy bangga dengan resep-resepnya. Jika seseorang tidak menghargainya dan memaksakan perubahan demi kesenangan mereka sendiri, dia tidak akan tinggal diam bahkan jika itu berarti dia akan kehilangan pekerjaannya.
"Tuan Richy, kau terlalu banyak berpikir. Aku disini hanya ingin mencoba resep baruku, itu saja. Aku tidak bermaksud merendahkanmu," jelas Liam sambil tersenyum.
"Tuan Liam, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Richy tidak langsung menyetujui kata-kata Liam.
"Tentu," Liam mengangguk.
"Apakah kau seorang koki?"
"Tidak?"
"Lalu, apakah kau sedang belajar untuk menjadi seorang koki?"
"Tidak?"
"Kalau begitu sudah jelas, Tuan Liam, serahkan saja dapur kepada orang-orang sepertiku," Richy tidak lagi bertele-tele dan langsung menyuruhnya pergi.
Dia benci ketika orang mencoba ikut campur di dapur yang dia anggap sebagai wilayahnya. Dia juga memiliki kesan pertama yang baik terhadap Liam, jadi dia belum ingin meninggalkan mansion itu.
"Tuan Richy, seperti yang aku katakan, kau terlalu banyak berpikir. Aku hanya ingin mencoba resep baru, itu saja."
'Tuan Liam, justru itu masalahnya. Kalau saja kau datang ke sini hanya untuk melihat, aku tidak akan keberatan, namun kalau kau ingin mencoba 'resep yang kau buat sendiri' padahal kau bukan koki dan tidak sedang belajar menjadi koki, bagaimana aku bisa membiarkanmu melakukan itu semua? Bagiku, dapur adalah tempat suci, aku tidak bisa membiarkanmu mengotori tempat suciku begitu saja, bukan?' Richy hanya bisa menangis dalam diam.
Dalam pikirannya, dia sudah mempertimbangkan untuk mengundurkan diri lagi. Dengan bos yang sekeras kepala ini, dia tahu bahwa hidupnya di dapur akan menjadi neraka mulai sekarang.
Dengan itu, Richy hanya menghela napas dan memutuskan untuk tidak lagi memperdulikan Liam. Meski begitu, dia sebenarnya diam-diam mengamati setiap gerakannya.
Di sisi lain, setelah membuat Richy menjauh, Liam akhirnya punya waktu untuk melihat peralatan yang tersebar di dapur. Jika sebelumnya, dia pasti tidak tahu nama alat-alat itu, namun setelah membeli Keterampilan Memasak, setiap alat, nama, serta kegunaannya kini sudah terukir dalam pikirannya.
Dengan itu, Liam tidak membuang waktu lagi. Dia mengenakan apron dan mulai menyiapkan bahan satu per satu.
Dia memotong seekor ayam utuh menjadi beberapa bagian dengan gerakan yang halus. Bumbu-bumbu dipotong menjadi bagian sangat kecil yang tampak seolah-olah dipotong secara merata oleh mesin.
Melihat gerakan yang halus itu, bukan hanya Richy, bahkan kepala pelayan John juga membuka mata mereka lebar-lebar karena terkejut dan kagum.
Mata Richy terutama tertarik pada cara Liam memotong bahan-bahan tersebut. Seolah-olah pisau itu adalah dirinya dan dia adalah pisau itu.
Pisau itu menjadi bagian dari tangannya dan dia mengendalikannya dengan keahlian yang luar biasa. Bahkan Richy mengakui bahwa kemampuan memotong Liam lebih unggul darinya.
Pada saat itu, sebuah notifikasi Sistem terdengar di dalam pikiran Liam.
Namun, dia memilih untuk mengabaikannya dan fokus pada tugasnya saat ini.
Mencampurkan banyak bumbu dan rempah ke dalam tepung serbaguna, Liam membuat campurannya sendiri untuk melapisi potongan ayam nanti.
Setelah membuat campuran tepung, Liam mengambil wajan besar yang sudah dia siapkan sebelumnya. Dia memanaskannya di atas kompor sambil mulai melapisi potongan ayam satu per satu.
Tak lama kemudian, Liam menuangkan banyak minyak goreng ke dalam wajan sambil membuat campuran tepung lain untuk saus saat minyak sedang dipanaskan.
Tak lama setelah itu, Liam memastikan bahwa minyak sudah cukup panas. Dia tidak membuang waktu lagi dan langsung menggoreng ayam dalam minyak panas yang mendidih.
Sambil menunggu ayam matang, dia akhirnya memanaskan wajan lain untuk memasak saus.
Saat dia selesai memasak saus, itu juga saat yang tepat ketika ayam sudah matang.
Setelah mengangkatnya dari wajan, ayam goreng berwarna keemasan langsung menarik perhatian Richy dan kepala pelayan John.
Aromanya sudah tercium dari wajan sejak tadi, John dan Richy sampai menelan air liur karena menantikan hasilnya. Ayam goreng berwarna emas itu semakin membuat mereka lapar.
Perut mereka berbunyi saat Liam menyusun ayam bersama saus dengan sangat ahli.
"Ayo, coba resep baruku ini," kata Liam dengan penuh percaya diri.