Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Jembatan
Malam itu, hening menyelimuti kediaman yang megah, namun di salah satu sudutnya, cahaya lampu meja masih berpendar terang. Melvin masih terkubur di balik tumpukan sketsa dan lembaran kertas yang berserakan. Sebuah kekacauan yang teratur.
Jemarinya menari lincah, menggoreskan garis demi garis dengan intensitas yang seolah mampu memutus hubungannya dengan realitas di luar pintu ruang kerja pribadinya.
Namun, di belahan lain rumah itu, suasana terasa jauh lebih mistis.
Gaby telah lama terlelap di balik selimutnya. Napasnya teratur, menandakan ia berada di palung tidur yang sangat dalam. Ia sama sekali tidak menyadari kehadiran "tamu" tak diundang yang masuk melalui celah udara.
Seekor kupu-kupu bersayap putih bersih, namun memancarkan pendar biru elektrik yang lembut, terbang rendah mengitari ranjang.
Cahayanya berpendar di dinding kamar yang gelap sebelum akhirnya makhluk mungil itu mendarat dengan gerakan sehalus sutra tepat di atas pipi Gaby.
Sebuah pertanda, atau mungkin sebuah jembatan menuju takdir yang baru.
.
.
.
------
Fajar menyingsing, membawa semburat jingga yang menembus tirai tipis. Emrys perlahan terjaga. Kesadaran pertamanya adalah rasa hangat yang melingkupi lengannya. Kamar Gaby masih menjadi tempat pelariannya dari rasa sepi. Ia sering kali berakhir tertidur di sana, membiarkan aroma vanila khas gadis itu menenangkan sarafnya yang tegang.
Ia mengira dirinya sedang mendekap guling yang nyaman, namun saat kelopak matanya terbuka sepenuhnya, dunianya seakan berhenti berputar. Tepat di depannya, terpampang wajah yang sangat ia rindukan.
Emrys mengerjap. Sebuah tawa sinis yang getir lolos dari bibirnya. "Aku bermimpi lagi," bisiknya parau, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan pagi.
Ia mengulurkan tangan, jemarinya gemetar saat menyentuh surai lembut yang menutupi dahi gadis itu. Ya, itu Gaby. Gadis kesayangannya, adiknya, sepupu dengan kecantikan yang tak lekang oleh waktu.
Gabriella Queensa Vanessa.
Sosok yang bagi Emrys selalu terasa sehangat pendar cahaya lentera di tengah badai.
Emrys memejamkan mata, mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil itu. Ia rela tidak bangun selamanya jika ini memang hanya proyeksi dari kerinduannya yang teramat dalam.
Namun, Gaby mulai menggeliat.
Sentuhan erat yang hangat itu menembus alam bawah sadarnya, memaksanya untuk kembali ke permukaan. Ada sensasi yang berbeda pagi ini. Bukan aroma dingin maskulin yang biasa ia rasakan dari Melvin, melainkan sesuatu yang lebih akrab dan emosional. Gaby perlahan membuka mata, berekspektasi akan disambut oleh wajah pucat Melvin yang tampan dengan rambut putih berantakannya yang khas.
Detik berikutnya, napas Gaby tertahan. Matanya membelalak sempurna melihat sosok yang kini menatapnya dengan pandangan sayu.
"Hai, Gaby. Aku bermimpi lagi tentangmu," bisik Emrys dengan suara serak khas baru bangun tidur, sebuah nada yang terdengar begitu rapuh sekaligus memuja.
Bibir Gaby bergetar. Dunianya seolah jungkir balik. "K-Kakak... Kakak?" suaranya pecah, nyaris tak terdengar. Dengan ragu, ia mengangkat tangannya, menyentuh rahang kokoh Emrys untuk memastikan apakah pria ini terbuat dari daging dan darah, atau hanya udara kosong.
Emrys tertegun. Sentuhan telapak tangan Gaby yang hangat menjalar di kulitnya, mengirimkan kejutan listrik yang nyata ke seluruh sarafnya. Ia tidak menghilang. Ia tidak buyar seperti kabut. Emrys justru semakin membenamkan wajahnya pada telapak tangan itu, bergelayut pada satu-satunya kenyataan yang terasa benar di dunia ini.
Tanpa peringatan, pertahanan Gaby runtuh. Air mata mulai menggenang dan meluncur jatuh membasahi bantal. Kepanikan seketika menyambar Emrys. "Gaby? Kenapa menangis?" tanyanya cemas, ia segera beranjak duduk, menarik tubuh Gaby bersamanya.
Berat tubuh gadis itu terasa begitu nyata dalam dekapannya. Emrys membawa Gaby ke dalam pangkuannya, membiarkan gadis itu bersandar sepenuhnya pada dadanya yang bidang. Isak tangis Gaby pecah, menjadi melodi yang menyayat hati di pagi yang sunyi itu. Ia memeluk Emrys dengan kekuatan yang luar biasa, seolah takut jika ia melepas sedikit saja, pria itu akan menguap kembali menjadi mimpi.
"Gaby?" lirih Emrys lagi.
Pikirannya masih bergelut dengan logika. Biasanya, ia hanya bisa menatap Gaby dari kejauhan di tengah hamparan air yang tenang atau mendekap bayangannya di atas ranjang putih yang luas dalam tidurnya. Namun sekarang, ia bisa mendengar detak jantung gadis itu. Ia bisa merasakan air matanya yang hangat membasahi kausnya. Dan yang paling penting, ia mendengar suara Gaby yang memanggilnya "Kakak" dengan nada penuh kerinduan.
Emrys menarik napas panjang, mencoba menahan emosinya sendiri. Ia mengusap puncak kepala Gaby dengan gerakan yang sangat lembut dan protektif, memberikan perlindungan yang selama ini Gaby butuhkan. Di dalam kamar yang disinari cahaya pagi itu, mereka berdua seolah terputus dari dunia luar, hanya ada detak jantung yang saling bersahutan dan janji bisu yang tak perlu diucapkan.