NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh!!

Menikah Dengan Musuh!!

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: NaNa/ji-eun

not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,

cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska

ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Saat Ayana bersiap untuk tidur, Al tiba-tiba menghampiri.

"Sini, biar aku yang ambil alih," kata Al sambil mengulurkan tangan.

Ayana mengangkat alis, sedikit menantang. "Hmm, ya kalau dia mau."

Namun, begitu Reva berpindah ke dekapan Al, keajaiban yang menyesakkan terjadi: tidak ada tangisan. Ayana hanya bisa terpaku, menyaksikan pemandangan yang tak biasa itu dengan kening berkerut

Begitu Al merebahkan Reva di ranjang, gadis kecil itu masih terlelap. Al kemudian memiringkan tubuh Reva menghadap Ayana agar aroma ayana tetap menenangkannya.

 Ayana hanya bisa terpana; kagum melihat betapa lihai Al menangani situasi itu.

Ting!

Bunyi notifikasi dari ponsel Ayana sontak mengalihkan perhatian mereka berdua. Ayana segera meraih ponselnya dan melihat pesan dari Ibunya.

Ibu: "Ayana, besok Alin mau ke sana buat ketemu kamu.

Ayana: "Oh, ya sudah, Bu."

Ibu: "Besok siang Ibu antar dia ke sana, ya.

 Nanti biar Ibu jemput lagi pas malam."

Ayana: "Oke, siap."

"Huft, capek banget..." keluh Ayana sambil menyandarkan tubuhnya yang lunglai.

Al yang memperhatikan sejak tadi akhirnya bersuara, "Ayana, saya sarankan kamu kuliah online saja."

Sebenarnya, Al pun ikut lelah melihat Ayana harus pontang-panting mengurus keponakannya. Jujur saja, Al enggan berurusan dengan bayi itu. Jika bukan karena rasa iba yang terselip di hatinya, ia tidak akan sudi ikut campur.

"Gak!" tolak Ayana cepat.

"Ini demi kebaikan kamu. Saya yang akan urus semuanus kalau kamu setuju," desak Al tenang namun tegas.

"Masa gue nggak ketemu bestie gue di kampus? Kasihan, nanti dia nyariin gue" bantah Ayana, mencoba mencari alasan.

Al menaikkan sebelah alisnya. "Suruh saja dia main ke rumah. Apa susahnya?"

Ayana terdiam. Ia sangat keberatan jika harus kuliah daring karena ia akan kehilangan momen seru bersama teman-temannya. Namun di sisi lain, ia sadar fisiknya mulai mencapai batas; memaksakan diri hanya akan membuatnya jatuh sakit.

Dengan berat hati, Ayana akhirnya menyerah pada tawaran itu. "Ya sudahlah, terserah lo aja."

Tanpa membuang waktu atau menunggu jawaban lebih lanjut, Al langsung menghubungi salah satu bodyguard-nya untuk mengurus perpindahan sistem kuliah Ayana saat itu juga.

*Gini ya rasanya kalau sudah punya anak di masa kuliah* batin Ayana getir

Ada saat di mana Ayana ingin menyerah dengan keadaan ini. Namun, setiap kali melihat wajah mungil itu, ia sadar bahwa ia sudah menganggap Reva seperti darah dagingnya sendiri. Ia akan memperjuangkan Reva, apa pun taruhannya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Begitu melangkah masuk ke rumah Al, atensi Alin langsung tersita sepenuhnya oleh sosok mungil di dekapan kakaknya. Matanya membulat, tampak sangat terkejut.

"Kak, itu anakmu ya?" tanya Alin tanpa basa-basi.

Mendengar pertanyaan polos itu, Ayana spontan menoleh. Bukannya tersinggung, ia justru memberikan tatapan yang sangat lembut—jenis tatapan yang hanya muncul sejak ada Reva di hidupnya.

"Bukan, ini keponakan Kakak," jawab Ayana sabar.

"Oooo..." Alin mengangguk-angguk cepat dengan wajah sok tahu. Padahal, ia sama sekali tidak paham apa itu 'keponakan'. Di pikirannya yang sederhana, ia tetap menyimpulkan kalau bayi itu adalah anak Ayana.

"Kak, boleh nggak aku yang gendong?" pinta Alin antusias.

"Boleh, tapi hati-hati ya. Reva lagi aktif-aktifnya karena sudah mulai belajar merangkak," ujar Ayana sambil menyerahkan bayi itu dengan sangat telaten. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Alin merasakan betapa berat dan hangatnya menggendong seorang bayi.

"Kak, dia umurnya berapa?" tanya Alin lagi, matanya tak lepas dari wajah lucu Reva.

"Baru empat bulan. Tapi percuma Kakak kasih tahu, kamu juga nggak bakal paham hitungan umur bayi," sahut Ayana bernada meledek.

Alin mengerucutkan bibirnya, kesal karena diremehkan. "Ih, kan aku nanyanya sama Kak Al, bukan sama kamu!"

Al yang sedari tadi hanya menyimak, menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis. Melihat pertengkaran kecil kakak-beradik itu membuatnya teringat masa kecilnya saat berusia tujuh tahun. Dulu, ia dan kakaknya, Alya, juga tidak pernah akur.

Namun sekarang, suasana rumahnya terasa sepi. Alya sudah bekerja di luar kota dengan jadwal yang sangat padat. Jika pulang pun, kakaknya hanya sempat tinggal selama dua hari sebelum harus kembali lembur.

"Sudah, sini balikin Revanya. Nanti dia nangis gara-gara kamu," sela Ayana sambil mengulurkan tangan.

"Mana ada! Dia nggak bakal nangis karena dia tahu aku ini orang baik," balas Alin, memeluk Reva sedikit lebih erat dengan gaya protektif.

Ayana memutar bola matanya. "Terserah kamu deh, dasar tukang khayal."

"Biarin! Yang penting aku masih disayang Ibu sama Ayah!" seru Alin bangga, merasa menang.

Ayana menyeringai nakal. Naluri jahilnya sebagai kakak langsung bangkit. "Yakin disayang? Kamu tuh sebenarnya anak yang dulu ditemukan Ibu di tong sampah, tahu. Ibu kasihan, makanya dibawa pulang dan dijagain sampai sekarang."

Wajah Alin langsung berubah drastis. Bibirnya mulai gemetar dan matanya berkaca-kaca, persis seperti bom waktu yang siap meledak. "Halah... bohong banget sih! Kakak bohong, kan?!"

Ayana justru tertawa renyah melihat ekspresi adiknya yang sudah di ujung tangis itu. Menjahili Alin memang selalu menjadi obat lelah yang paling ampuh baginya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan harinya, rasa bosan mulai menyelimuti Ayana. Ia sebenarnya sangat ingin membantu di dapur untuk mengusir jenuh, namun tanggung jawab menjaga Reva membuatnya harus tetap di kamar. Dengan sabar, Ayana membimbing Reva belajar merangkak. Bayi mungil itu tampak antusias, mengikuti setiap instruksi Ayana dengan patuh.

"Apa gue bawa Reva ke taman belakang aja ya? Di sana kan udaranya lebih segar, banyak bunga dan mainan juga," gumam Ayana.

Ayana pun memboyong Reva ke taman belakang yang asri, penuh dengan deretan bunga warna-warni dan pepohonan buah. Ia membentangkan karpet di atas rerumputan hijau yang tertata rapi. Mereka duduk bersantai menikmati semilir angin, sampai tiba-tiba Al datang menghampiri.

Tanpa ragu, Al memposisikan dirinya duduk tepat di dekat Ayana. Ada pemandangan yang tak biasa hari itu; Ayana sama sekali tidak menghindar. Biasanya, ia akan langsung menjaga jarak jika Al mendekat. Perubahan sikap ini menyisakan tanya besar—apakah benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Ayana? Tidak ada yang tahu pasti.

"Al, ambilin buah-buahan dong. Atau kamu jagain Reva aja deh, biar gue yang petik buahnya," ujar Ayana.

Saat Ayana hendak berdiri, tangan Al menahannya dengan lembut. "Biar saya saja," ucap Al singkat namun tegas. Al kemudian beranjak mengambil wadah dari dapur dan mulai memetik buah yang sudah ranum di taman.

"Mungkin ada yang sedikit asam, soalnya belum semuanya matang sempurna," kata Al sambil menyerahkan buahnya.

Sambil menyuapi Reva, Ayana mulai mengajari bayi itu mengenal sekeliling. "Reva, ini namanya anggur. Manis, kan?" ucapnya lembut. Ayana memang gemar mengajak Reva berbicara, meski ia tahu Reva masih terlalu kecil untuk membalas kata-katanya.

"Kalau ini..." Ayana menarik pelan lengan Al agar mendekat ke arah Reva. "...ini Om Al. Oke? Eh Al, lo punya foto mama sama papanya Reva nggak?"

"Punya," jawab Al singkat. Ia merogoh ponselnya dan memperlihatkan foto Alya dan Rezky kepada Reva. Ayana ingin Reva tetap mengenali wajah orang tua kandungnya; ia tak mau membiarkan memori itu hilang ditelan waktu.

"Kak Alya kapan pulangnya? Reva udah lama banget loh ditinggal," tanya Ayana, suaranya sedikit merendah karena merasa iba. Ia juga diam-diam merasa takut jika nantinya Reva justru lebih menganggapnya sebagai ibu kandung daripada Alya.

"Saya tidak tahu pasti. Dia hanya akan pulang kalau sedang libur kerja," jawab Al datar.

Ayana terdiam. Ia tahu Alya dan Rezky adalah pekerja keras, tapi di sudut hatinya ia bertanya-tanya: apakah pekerjaan memang harus lebih penting daripada melihat tumbuh kembang anak sendiri?

...----------------...

Tak terasa hari mulai gelap. "Sudah sangat sore, ayo masuk. Udara mulai dingin," ajak Al

.

"Hm, oke."

Mereka kembali ke dalam rumah. Sebelum ke kamar, Ayana menyempatkan diri mengambil beberapa mainan tambahan di ruang bermain agar Reva tidak bosan.

"Al, jagain Reva bentar ya. Gue mau ambil paket di bawah," pinta Ayana.

"Ya, pergilah."

Ayana bergegas menuruni tangga menuju pos satpam. "Halo Pak! Ada paket atas nama aku nggak?" serunya semangat.

"Halo Non Ayana. Ada dong, banyak banget ini Non. Mari saya bantu bawakan sampai ke atas," tawar Pak Satpam ramah.

"Nggak usah Pak, santai aja. Lagian kayaknya ringan semua kok," tolak Ayana halus.

"Mana ada ringan, Non? Ini tumpukannya tinggi dan lumayan berat loh."

"Udah, tenang aja Pak. Saya kuat kok!" Ayana memaksakan senyum. Sebenarnya ia agak kewalahan membawa lima kotak besar dan tiga kotak kecil sekaligus, tapi ia pantang merepotkan orang lain.

Dengan langkah yang agak berat dan nafas tersengal, ia menaiki anak tangga satu per satu dengan hati-hati.

Untungnya, ia sampai di kamar dengan selamat. Tanpa membuang waktu, Ayana langsung membongkar paket-paket itu di depan Al dan Reva.

"Lo... nggak marah kan paket gue sebanyak ini?" tanya Ayana ragu. Ia teringat cerita-cerita tentang suami yang marah jika istrinya terlalu boros.

Al menatap tumpukan kardus itu datar. "Buat apa saya marah?"

"Gak sih, nanya doang." Ayana merasa lega.

 Saat dibuka, ternyata 98% isi paket itu adalah keperluan untuk Reva. Mulai dari perlengkapan makan hingga mainan edukasi.

Namun, paket terakhir adalah yang paling spesial. Mata Ayana berbinar saat mengeluarkan isinya. "Reva, lihat! Aku beli baju couple buat kita!"

Ia menoleh ke arah Al dengan cengiran lebar. "Dan tenang aja, ada satu buat Om Al juga. Jadi nanti kita bisa couple-an bertiga!"

Al sempat terpaku. Ia mengira Ayana hanya berbelanja untuk dirinya sendiri dan bayi itu, namun tak disangka, Ayana juga memikirkannya. Ada kehangatan kecil yang menyusup di hati Al saat melihat antusiasme gadis itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!