Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Penjara tanpa dinding
Aluna terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya. Sinar matahari yang menembus celah gorden kamarnya seolah membawa harapan baru.
Ia segera menoleh ke pergelangan tangan kirinya, di mana gelang emas putih dengan inisial 'B' itu melingkar cantik. Kilauan berliannya menangkap cahaya pagi, memantulkan pelangi kecil di dinding kamarnya.
"Cantik sekali," bisik Aluna sambil mengusap permukaan dingin gelang itu.
Ia teringat betapa lembutnya tatapan Bram semalam saat mengunci gelang ini.
Baginya, ini adalah bukti cinta yang paling nyata. Bram memercayainya. Bram memberinya kebebasan untuk kembali ke kampus tanpa penjagaan Anwar yang mencekik di depan pintu kelas. Aluna merasa seperti putri yang baru saja memenangkan hati sang raja.
Dengan semangat, ia memilih pakaian terbaiknya: sebuah gaun floral musim panas yang feminin dengan potongan leher sedikit rendah—sengaja, agar gelang itu terlihat jelas oleh siapa pun.
Ia ingin menunjukkan bahwa ia dimiliki oleh seseorang yang luar biasa. Saat menuruni tangga, Aluna melihat Bram sudah menunggu di ruang makan, asyik menyesap kopi hitamnya.
Aluna tidak langsung duduk. Ia menghambur ke pelukan Bram dari belakang, melingkarkan kedua lengannya di leher pria itu, membiarkan gelangnya menyentuh dada bidang Bram.
"Selamat pagi, Daddy!" seru Aluna ceria, mencium pipi Bram dengan manja.
Bram meletakkan cangkirnya. Tangannya yang besar dan hangat segera menangkap pergelangan tangan Aluna, menariknya hingga Aluna terpaksa berputar dan duduk di pangkuannya.
Mata elang Bram menatap gelang itu dengan kepuasan yang tak tersembunyi.
"Tidurnya nyenyak, Sayang?" tanya Bram. Suaranya rendah, bergetar di dada Aluna.
"Sangat nyenyak. Aku mimpi Daddy tidak lagi galak soal penjagaan," goda Aluna sambil memainkan kancing kemeja Bram.
Bram terkekeh, sebuah suara yang sangat disukai Aluna karena terasa sangat eksklusif.
"Aku tidak pernah galak, Aluna. Aku hanya... berhati-hati. Tapi hari ini, sesuai janjiku, Anwar hanya akan mengantarmu sampai gerbang kampus. Selebihnya, kau bebas."
"Benar ya? Janji?" Aluna mengacungkan jari kelingkingnya dengan gaya kekanak-kanakan.
Bram menautkan kelingkingnya yang besar pada kelingking mungil Aluna.
"Janji. Tapi ingat, jangan membuatku kecewa. Pulang tepat waktu, dan jangan biarkan pria mana pun menyentuh kulitmu. Kau mengerti?"
Aluna mengangguk antusias. Ia memberikan satu kecupan manis di bibir Bram sebelum melompat turun.
"Aku pergi dulu! Sampai jumpa jam lima sore, Daddy!"
Bram menatap punggung Aluna yang menjauh dengan langkah riang. Begitu pintu tertutup, Bram meraih tablet miliknya dari meja.
Ia memasang earpiece nirkabel di telinganya. Seketika, suara langkah kaki Aluna yang beradu dengan lantai marmer, suara pintu mobil yang tertutup, hingga suara mesin Bentley yang menyala, terdengar sangat jernih di telinganya.
"Kebebasanmu dimulai sekarang, Aluna," gumam Bram dengan senyum yang tidak sampai ke mata.
"Dan aku tidak akan melewatkan satu kata pun dari bibirmu."
______________
Di kampus, Aluna merasa seperti menghirup oksigen murni untuk pertama kalinya. Anwar benar-benar hanya menurunkannya di gerbang depan dan tetap berada di dalam mobil.
Tidak ada lagi bayangan hitam yang mengikutinya ke perpustakaan atau kafetaria.
"Luna! Ya ampun, kau terlihat segar sekali hari ini!" seru Sarah saat mereka bertemu di lobi fakultas.
"Dan lihat itu! Gelang baru? Dari 'Daddy' Bram lagi?"
Aluna memamerkan gelangnya dengan bangga.
"Iya, hadiah karena aku jadi anak baik kemarin. Bagus, kan?"
"Bagus? Itu luar biasa mewah, Luna! Tapi tunggu... kok tidak ada pengaitnya? Bagaimana cara melepasnya?" Sarah mencoba memegang pergelangan tangan Aluna untuk melihat lebih dekat.
"Hanya Daddy yang punya kuncinya. Dia bilang agar tidak hilang," jawab Aluna sambil tertawa kecil.
Di ruang kerjanya yang kedap suara, Bram menyandarkan tubuh di kursi kulitnya. Ia bisa mendengar suara Sarah dengan sangat jelas.
Ia mendengar tawa Aluna. Setiap kali Sarah menyentuh tangan Aluna, Bram mengetukkan jarinya di meja dengan tidak sabar. Hanya aku yang boleh menyentuhnya, batinnya dingin.
Sepanjang kuliah, Aluna merasa sangat percaya diri. Ia aktif bertanya dan berdiskusi. Ia merasa "normal" kembali.
Namun, di setiap sela waktu, ia selalu menyempatkan diri mengirim pesan singkat kepada Bram: "Daddy, aku sedang di kelas manajemen sekarang. Dosennya membosankan, aku merindukanmu." atau "Daddy, aku mau makan siang dengan Sarah di kafetaria ya?"
Bram membalas setiap pesan itu dengan kata-kata manis yang membuat Aluna semakin terbuai.
Aluna merasa Bram telah berubah menjadi jauh lebih pengertian. Ia tidak tahu bahwa setiap pesan itu sebenarnya tidak diperlukan, karena Bram sudah tahu bahkan sebelum Aluna mengetiknya.
____________________________________________
Istirahat siang tiba. Aluna dan Sarah sedang duduk di sudut kafetaria yang agak tenang. Tiba-tiba, sosok yang paling tidak diinginkan Bram muncul. Rio berjalan mendekat dengan senyum ramahnya.
"Aluna, hey. Aku cari kau di perpustakaan tadi tapi tidak ada," sapa Rio. Ia menarik kursi di depan Aluna tanpa permisi.
Aluna sedikit terkejut. "Oh, hey Rio. Aku sedang makan siang dengan Sarah."
Bram yang sedang mendengarkan dari kejauhan seketika menegang. Tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Suara Rio yang berat terdengar sangat mengganggu di telinganya.
"Aku cuma mau tanya, apa kau sudah baca bab tentang risk management yang kemarin aku tunjukkan?" tanya Rio. Suaranya terdengar sangat dekat, kemungkinan besar pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Aluna.
"Sudah, itu sangat membantu. Terima kasih, Rio," jawab Aluna sopan. Ia berusaha menjaga jarak, teringat pesan Bram.
"Sama-sama. Oh ya, minggu depan ada seminar nasional di aula pusat.
Pembicaranya CEO terkenal. Aku punya tiket lebih, kau mau ikut?" Rio merendahkan suaranya, memberikan kesan ajakan yang lebih personal.
Aluna ragu. Di satu sisi, ia sangat ingin ikut. Di sisi lain, ia tahu Bram tidak akan suka.
"Aku tidak tahu, Rio. Jadwalku agak ketat."
"Ayolah, Luna. Hanya dua jam. Lagipula, kau butuh melihat dunia luar, bukan cuma rumah dan kampus saja," Rio sedikit tertawa, tangannya secara tidak sengaja—atau sengaja—menyentuh meja, sangat dekat dengan tangan Aluna yang memakai gelang.
Klik.
Bram menekan tombol rekam di monitornya. Matanya berkilat penuh amarah. Ia mendengar setiap getaran suara Rio. Ia mendengar keraguan di suara Aluna.
"Bram tidak akan suka kalau kau ikut, Rio," bisik Sarah mencoba memperingatkan.
"Bram siapa? Daddy-nya? Dia kan cuma walinya, bukan suaminya. Aluna punya hak untuk berkembang," balas Rio sedikit sinis.
Mendengar kalimat itu, Bram melemparkan pulpennya ke arah monitor.
"Berani sekali kau," desis Bram parau. Ia segera meraih ponselnya dan menelepon Anwar.
"Anwar. Jemput dia sekarang. Katakan ada keadaan darurat di rumah," perintah Bram dengan nada bicara yang tidak menerima bantahan.
Di kafetaria, ponsel Aluna tiba-tiba berdering. Ia melihat nama 'Anwar' di layar.
"Halo, Pak Anwar? Ada apa? Ini masih jam dua siang."
"Maaf, Nona Aluna. Tuan Besar menginstruksikan saya untuk menjemput Nona sekarang juga. Ada keadaan darurat di rumah dan Tuan Besar meminta Anda segera pulang."
Wajah Aluna seketika pucat pasi. "Darurat? Apa Daddy sakit? Apa terjadi sesuatu?"
"Saya tidak tahu detailnya, Nona. Saya sudah di depan lobi. Tolong segera."
Aluna berdiri dengan panik, mengabaikan Rio dan Sarah yang kebingungan.
"Maaf, Rio! Sarah! Aku harus pergi! Ada urusan keluarga!"
Aluna berlari sekencang mungkin menuju lobi. Pikirannya hanya tertuju pada Bram. Apakah pria itu mengalami kecelakaan? Apakah dia sakit jantung? Rasa sayangnya yang mendalam membuat Aluna tidak memikirkan hal lain selain keselamatan "Daddy"-nya.
Begitu ia masuk ke mobil, Anwar melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Sepanjang jalan Aluna mencoba menelepon Bram, tapi tidak diangkat.
Tangisnya mulai pecah. Ia meremas gelang di tangannya, memohon dalam hati agar pria itu baik-baik saja.
Begitu sampai di rumah, Aluna langsung menghambur masuk.
"Daddy! Daddy di mana?!" teriaknya sambil berlari menuju ruang kerja.
Ia membuka pintu ruang kerja dengan kasar, dan di sana, Bram sedang duduk dengan tenang di kursi kebesarannya, menyesap wiski seolah tidak terjadi apa pun.
Tidak ada tanda-tanda sakit, tidak ada keadaan darurat.
"Daddy? Kau... kau tidak apa-apa?" Aluna terengah-engah, air matanya masih mengalir.
Bram menoleh perlahan.
Ia meletakkan gelasnya dan berjalan mendekati Aluna. Ia menghapus air mata di pipi Aluna dengan ibu jarinya yang dingin.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Hanya saja... aku merindukanmu. Dan aku tidak suka kau terlalu lama bicara dengan pria bernama Rio itu."
Aluna mematung.
"Hanya karena itu? Kau bilang ada keadaan darurat dan membuatku ketakutan setengah mati?!"
Bram menarik pinggang Aluna, memeluknya dengan sangat erat hingga Aluna sulit bernapas.
"Bagiku, kau bicara dengan pria lain adalah keadaan darurat, Aluna. Itu mengancam ketenanganku."
Bram mencium puncak kepala Aluna dengan sangat posesif. Aluna merasa sangat marah, namun saat Bram memeluknya seperti ini, kemarahannya seolah luntur oleh rasa aman yang manipulatif.
Ia merasa begitu "diinginkan" hingga menganggap kecemburuan gila ini sebagai bentuk cinta yang luar biasa.
"Maafkan aku, Daddy... jangan buat aku takut lagi," bisik Aluna sambil membalas pelukan Bram.
Bram tersenyum menang. Ia melirik ke arah pergelangan tangan Aluna, ke arah gelang yang masih setia mengirimkan setiap isakan dan detak jantung Aluna ke sistemnya.
"Aku tidak akan membuatmu takut, Sayang. Selama kau tetap di sini, di bawah kuasaku." Ujar Bram dalam hati.