Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Bab 4
“Tunggu! Kalian ini siapa? Kemana kalian mau bawa aku?” Bumi meronta ketika pasukan perempuan itu menariknya dan membawanya ke sebuah hutan.
Hutan itu tidak seperti hutan yang terlihat dari luar. Berada di kaki gunung. Ternyata hutan itu melindungi sebuah pemukiman yang jauh lebih modern dari pada kota yang sudah runtuh tempat Bumi tadi mendaratkan kapsulnya.
Mereka membawa Bumi ke sebuah bangunan paling moderan dan tinggi di dalam hutan itu. Karena bentuknya seperti gunung dan terbuat dari batu granit. Kalau dari udara, bangunan itu terlihat sebagai tebing bagian dari gunung.
Setelah naik entah berapa lantai dengan lift yang terbuat dari batu. Bumi di lempar ke tengah aula yang lantainya terbuat dari granit. Ia melihat ke arah lift. Tidak ada lampu lift di pintu. Pintunya juga terbuat dari batu. Bumi berpikir keras, bagaimana bisa lift yang terbuat dari batu itu bisa terbang dengan cepat membawanya ke lantai atas seperti ini. Atau apakah ini lantai bawah. Bumi melihat sekeliling, tidak ada jendela.
Seorang perempuan berpakaian kulit serba ketat, menutupi seluruh tubuhnya sampai ke leher. Rambutnya pirang dan wajahnya terlihat muda, mungkin sekitar dua puluhan akhir. Datang mendekati Bumi.
“Kamu orang asia?” tanyanya dalam bahasa Spanyol.
Bumi tidak mengerti apa yang dibicarakannya.
Perempuan itu, lalu menoleh ke perempuan lainnya yang sepertinya umurnya tidak jauh berbeda. Perempuan itu lalu membawakan segelas air minum dan memberikannya pada Bumi.
“Apa ini?” Bumi menjauhkan kepalanya, tidak mau meminumnya.
Tapi perempuan itu tidak menjawab dan mengambil pipi Bumi agar mau membuka mulut dan meminumnya.
Bumi tersedak batuk, tapi berhasil minum dua teguk dari air yang gelasnya seperti bau comberan, tapi airnya rasanya manis sekali.
“Itu air menetral saraf komunikasi,” kata perempuan berambut pirang.
“Oh, aku bisa ngerti kamu ngomong apa!” kata Bumi tampak senang.
“Iya, makanya aku kasih itu. Namaku Shopia. Aku pemimpin di sini. Kami semua di sini keturunan suku Maya. Kamu pasti tahu kan?”
“I… ya,” Bumi tidak mau cerita kalau ia sebenarnya dari masa lalu. Jadi ia terpaksa berbohong.
“Sudah lama tidak ada pria yang melintas. Kami semua butuh pria!”
Bumi menatap sekelilingnya. Semuanya perempuan. Dan cantik!
Apakah ini berarti impianku punya istri banyak tercapai? Akhirnya aku tidak usah bermimpi jadi playboy lagi! kata Bumi dalam hati. Senyum di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
“Ayo, aku antar kamu melihat kota,” Shopia mengulurkan tangan lalu menggandeng Bumi untuk jalan bergandegan dengannya.
Kota itu dulu namanya Puebla, tapi kini penduduk sekitar menjebutnya dengan nama kota wanita. Karena yang bertahan di sana seratus persen perempuan.
“Bagaimana bisa nambah keturunan kalau tidak ada laki-laki,” tanya Bumi bingung.
“Tidak ada. Kami tidak nambah keturunan. Ya segini aja. Makanya untung ada kamu!” katanya sambil mengedipkan mata.
Sebagai lelaki normal, Bumi tentu saja terbesit getaran gairah di antara kedua kakinya. Hal itu membuatnya tidak bisa berpikir, bagaimana bisa penduduk yang cuma segitu saja, tapi umurnya rata-rata di dua puluhan dan cantik semua. Tidak ada orang yang tuanya sama sekali. Ia mau menanyakannya, tapi Shophia menjamunya dengan makanan yang enak sekali. Seperti belum makan selama sebulan, Bumi makan dengan lahap.
Setelah itu, para ajudan Shopia mengantarkan Bumi ke tempat pemandian yang luas. Ada air terjun di dalam gua di sebuah gunung. Di mana airnya berwarna biru muda dan wangi bunga.
“Ayo mandi!” kata Shopia sambil membuka bajunya tanpa malu, membuat Bumi harus memalingkan wajahnya. “Ayo, masuk lah!” Shopia kini ada di dalam kolam air itu.
Bumi malu-malu membuka baju, tapi ia tidak berani membuka celana dalamnya. Ia masuk ke dalam kolam.
“Aku bercita-cita ingin membuat keturunan Maya bangkit dan menguasai bumi lagi,” kata Shopia sambil melihat ke langit-langit. “Kamu mau membantuku?”
“Gimana caranya?”
“Kamu harus bisa membuat hamil kami semua,” Shopia melihat ke arah para ajudannya yang berdiri di sekitar kolam. Ada yang berambut hitam, pirang, coklat, dan merah. Semuanya cantik-cantik.
“Oh,” Bumi tidak sadar wajahnya memerah.
“Kamu tahu. Suku kami itu yang paling kuat. Koloni jahat di bumi ini pasti kalah. Memang kami tidak punya teknologi yang hebat. Tapi melihat kamu datang dengan pesawat hebat itu, pasti kamu bisa membuat lebih banyak lagi.”
“i.. iya sih,” Bumi tidak yakin.
“Tenang saja, aku tidak akan membuat kamu bekerja sekarang juga. Sekarang kamu tidur dulu. Biar segar dulu, besok kita akan bikin rencana sesuai yang kamu butuhkan. Kamu mau tidur dengan siapa atau kamu mau bikin pesawat dulu, terserah kamu,” Shopia keluar dari kolam, membuat Bumi tidak sengaja melihat badan perempuan itu.
Selesai mandi dan makan, Bumi yang kini berpakaian kulit serba ketat sampai ke leher, diantar ke sebuah kamar. Sudah ada baju dan rompi lamanya di sana. Ia merebahkan diri di kasur. Ternyata tahun 6026, tidak seburuk yang dipikirkannya. Di kepalanya ada banyak skenario yang akan ia lakukan besok. Tapi kemudian ia ingat, ia masih perjaka.
Kalau besok aku nggak bisa bikin orang hamil, gimana? Katanya dalam hati.
Ia duduk di pinggir kasur, melihat ke sekeliling. Tidak ada jendela. Lagi-lagi ruangan yang tidak ada jendela. Bumi melangkah ke pintu. Ternyata pintu tidak bisa dibuka.
“Halo!” Bumi mulai panik, takut kalau ia ternyata dikunci dari luar. Bumi menggedor-gedor pintu untuk membukanya, tapi tidak bisa. “Halooo!”
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Salah satu ajudannya Shopia, perempuan berambut coklat, tampak heran, “Ada apa?”
“Aku dikunci?”
“Hah. Nggak.”
“Tinggal di dorong saja,” ajudannya Shopia mencontohkannya. Ia lalu menutupnya dari dalam, dan menyuruh Bumi membukanya, “Coba buka.”
“Gini?” Bumi mendorong pintu dan terbuka. “Oh, iya terbuka.”
Ajudannya Shopia keluar dari kamar Bumi, “Emang kamu mau ke mana?”
“Toilet. Ada di mana?”
“Tuh!” ajudan Shopia menunjuk ke arah barat. “Lurus saja, sebelah kanan.”
Bumi berjalan ke arah yang ditunjuk. Meski tidak ingin ke toilet, tapi ia harus pura-pura pipis, biar nggak di curigai. Lagi-lagi toilet itu tidak ada jendelanya. Ia masuk ke dalam toilet, lalu duduk di salah satu kubikal. Ia mengusap rambutnya yang lurus dan berponi pendek, bingung lalu bergumam pelan, “Aku harus ke mana?”
“Kabur dari sini!” terdengar suara perempuan.
Bumi melihat sekeliling, tapi tidak ada suara.
“Aku di sini!”
Bumi melihat ke atas, ternyata seorang nenek-nenek tua. Bumi teriak kaget, lalu keluar dari toilet, “Aaaaah!”
Ajudannya Shopia datang menghampiri, “Ada apa?”
“Ada hantu!”
Perempuan berambut coklat itu tertawa terbahak-bahak. “Nggak ada hantu jaman sekarang. Sudah keburu mati kena wabah!”
Bumi kembali ke kamarnya, semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan nenek-nenek yang ada di lubang ventilasi di atas kubikal toilet itu.